Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 74 Persalinan Bellinda


__ADS_3

" Dhita, istriku," bisik Arjuna hendak menyentuh wajah Dhita yang di penuhi oleh selang pernafasan, tidak ada lagi senyum di wajah itu seperti hari-hari biasanya.


" Maaf tuan, kami harus segera membawa pasien keruang ICU." ucap perawat yang mendorong Brankar Dhita.


Arjuna dan keluarga yang lain hanya bisa memandangi Dhita yang sedang di bawa oleh perawat tersebut menuju ke ruang ICU.


" Pak putri kita pak," ucap Bu Safitri tak terasa air matanya mengalir lagi membasahi kedua pipinya.


" Sudah Bu, sabar tabah lah Bu." ucap pak Setyo, beliau mengerti perasaan seorang ibu yang tidak akan pernah tega melihat putrinya tersiksa seperti itu.


Sedangkan yang lain hanya bisa diam membisu.


" Maaf pak Bu, secepatnya pasien harus mendapat pendonor hati demi menyelamatkan hidupnya, jika pasien tidak segera mendapat transplantasi hati maka," Dokter Eina berhenti sejenak.


" Kondisi pasien akan semakin memburuk." lanjutnya lagi, kemudian dokter Eina pun pergi menyusul perawat yang membawa Dhita.


Saat ini Dhita sedang di rawat di ruang intensive.


*


*


*


Sedangkan Bastian yang sedang di kejar-kejar oleh polisi dan juga Andrian berlari sekuat-kuatnya.


Tap.


Tap.


Tap.


Suara sepatu saling berkejaran.


Bastian berlari memasuki sebuah gang, ia terus berlari menyusuri gang tersebut hingga akhirnya ia sampai di ujung gang yang ternyata buntu.


Bastian sempat panik, namun pada akhirnya ia berhasil memanjat dinding yang ada pada gang tersebut.


Bastian pun kembali berlari.


Namun di ujung jalan telah berdiri Andrian yang siap menghadangnya.


Tidak dapat di elak lagi, perkelahian pun terjadi antara Andrian dan Bastian.


" Dasar pengecut, jika kau benar-benar seorang lelaki pemberani serahkan dirimu kepada polisi." teriak Andrian. Ia sengaja berteriak untuk memancing para polisi datang ke tempat itu.


" Tidak semudah itu Andrian." jawab Bastian sambil terus menyerang Andrian.


Mendengar suara ribut-ribut polisi pun datang ke arah mereka.


Mengetahui akan kehadiran polisi tersebut, Andrian merebahkan dirinya, tertelungkup di tanah.


Dor


Dor


Dor


Tembak yang di bidikkan polisi tepat mengenai sasaran.


Akkkhhhh.


Suara Bastian mengerang ketika tiga buah peluru bersarang di betisnya.

__ADS_1


" Cepat ringkus dia!" perintah seorang kepala anggota polisi kepada bawahannya.


" Lepaskan!" teriak Bastian meronta.


" Sudahlah, tenangkan dirimu ayahmu telah menunggu di kantor polisi cepat temui dia." Andrian tersenyum sinis.


" Ingat, aku akan membuat perhitungan dengan kalian!" teriak Bastian penuh kebencian.


Namun tidak ada seorang pun yang mendengarkan teriakannya.


" Hallo Za, cepatlah ke kantor polisi Bastian berhasil di tangkap!" seru Andrian menghubungi Eza.


" Baiklah aku dan Arjuna akan segera kesana!" jawab Eza di seberang.


Tuuut.


Tuuut.


Tuuut.


Panggilan berakhir.


" Ada apa?" tanya Arjuna melirik ke arah Eza.


" Bastian telah di tangkap dan Andrian meminta kita ke kantor polisi sekarang." jawab Eza.


" Baiklah mom, pak, Bu aku ke kantor polisi dulu ya, titip istriku jaga baik-baik." ucap Arjuna yang saat itu mereka sedang berada di depan ruang ICU.


" Pasti nak!" jawab mommy Rita dan Bu Safitri serempak.


" Aku ikut kak," pinta Reyhan saat Arjuna hendak pergi bersama Eza.


" Tidak Rey, ini sudah malam lebih baik kau pulang katakan pada istrimu kami baik-baik saja, dia pasti khawatir." Arjuna menolak permintaan adiknya.


Malam semakin larut, namun bagi Arjuna tidak perduli siang ataupun malam yang terpenting adalah segera memberikan hukuman yang setimpal kepada Bastian dan anak buahnya, mengingat perbuatan mereka yang sungguh biadab.


Akhirnya mereka tiba di kantor polisi.


Melihat Bastian di kantor polisi membuat Arjuna tidak bisa mengontrol emosi, jika saja Eza dan Andrian tidak menghalanginya sudah di pastikan Arjuna akan mengamuk saat itu juga.


" Ingat Ar, ini kantor polisi jaga sikap mu." bisik Andrian yang melihat Arjuna hendak melayangkan tinjunya ke arah Bastian.


" Jangan mempersulit keadaan Ar." bisik Eza berharap sahabatnya akan mampu mengontrol emosinya.


Arjuna membenarkan ucapan Eza dan Andrian, perlahan ia mulai mengatur napasnya dan menahan emosi.


" Silahkan duduk!" perintah kepala polisi yang sedang bertugas menyelidiki kasus kriminal.


" Terimakasih pak." jawab Arjuna.


" Bisa anda informasikan kepada kami kronologis kejadiannya?" tanya kepala polisi tersebut.


" Dengan senang hati pak." jawab Arjuna, kemudian menceritakan kronologis peristiwa yang baru saja dialaminya.


Pak kepala polisi mencatat informasi yang menurutnya penting.


" Baiklah sampai di sini dulu, nanti akan kami infokan lagi jika ada perkembangan selanjutnya!" seru pak polisi sambil mengulurkan tangan ke arah Arjuna.


" Baik pak terimakasih." jawab Arjuna membalas uluran tangan kepala polisi tersebut.


" Senang bekerja sama dengan anda!"


" Sama-sama pak."

__ADS_1


Setelah berpamitan Arjuna, Eza dan Andrian pun pergi dari kantor polisi itu, setelah sebelumnya mereka melihat Bastian yang di papah oleh anggota polisi sebab kakinya pincang terkena peluru yang ditembakkan di kakinya.


" Thankyou And, kau memang orang yang hebat," ucap Arjuna sebelum mereka berpisah, karena Andrian memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena teringat istrinya yang sedang hamil tua.


" Sama-sama Ar, jaga Dhita baik-baik ya," jawab Andrian.


" Pasti." ucap Arjuna.


Akhirnya mereka pun berpisah.


*


*


*


Di rumah Andrian.


Bellinda sedang merintih kesakitan, ia merasakan kontraksi di sekitar perutnya yang semakin membuncit.


" Oh, ya Tuhan Help me." rintih Bellinda menahan rasa sakit yang cukup dahsyat, rasa sakit yang baru pertama kalinya ini ia rasakan.


Tak terasa air matanya bercucuran karena tidak tahan menahan rasa sakit.


Berkali-kali ia menghubungi Andrian, namun tak juga di angkat karena saat ini Andrian sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan Bellinda semakin tidak kuat menahan rasa sakit, perlahan ia melangkah keluar dari kamarnya sambil terus memegangi perutnya.


" Bi....bibi.... Help me!" teriak Bellinda berharap asisten rumah tangganya akan segera menolong dirinya.


" Iya nya...." jawab sang asisten sambil berlari menemui majikannya.


" Ya Tuhan, nyonya....!" asisten itu terkejut melihat air ketuban majikannya pecah.


" Help me bi." pinta Bellinda.


Saat ini ia tidak mampu lagi untuk berdiri rasa sakit di perutnya benar-benar membuat dirinya lemas.


Bellinda bersimpuh di lantai.


" Sepertinya nyonya akan melahirkan."


" Tolong lakukan sesuatu bi," pinta Bellinda yang mulai pasrah dengan keadaannya.


Kreeekkk .


Terdengar suara pintu terbuka.


" Bellinda!" teriak Andrian saat mendapati istrinya sedang tersiksa menahan rasa sakit karena akan segera melahirkan.


" Sepertinya nyonya akan melahirkan tuan." ucap asisten rumah tangga mereka.


" Cepat siapkan segala keperluannya bi, kita akan segera ke rumah sakit." Andrian memberi perintah kepada asisten rumah tangganya.


" Baik tuan!" cepat-cepat sang asisten berlari ke dalam kamar majikanya dan mengambil tas berukuran cukup besar yang telah di siapkan sebelumnya.


Karena tidak mampu lagi untuk berdiri, Andrian segera mengangkat tubuh istrinya menuju ke mobil.


Akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah sakit.


Selama perjalanan Bellinda tak henti-hentinya mengeluh karena rasa sakit yang sangat di deritanya.


" Tenanglah semua akan baik-baik saja," ucap Andrian sambil terus menyetir mobilnya yang sedang melaju kencang.

__ADS_1


" Aku benar-benar tidak tahan lagi, lebih cepatlah." pinta Bellinda yang saat itu duduk di belakang bersama asisten rumah tangganya.


__ADS_2