
Diana tidak ingin di antar langsung ke mansion orangtuanya, melainkan ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Karena pulang dalam keadaan menangis hanya akan membuat ibunya merasa khawatir, dan yang lebih ditakutinya adalah, Ednan akan mengadukan dirinya karena telah berani berhubungan dengan pria lain. Walaupun sebenarnya tidak ada hubungan yang istimewa di antara mereka.
"Uda," panggil Dia dengan suara serak karena baru saja selesai menangis.
"Ya." jawab Ednan seraya tetap menyetir mobilnya.
"Kita jangan pulang dulu Uda," cegah Dia dan membuat Ednan kembali menghentikan mobilnya.
Sebab di depan telah terlihat mansion mewah milik orangtua Dia.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Ednan, kali ini suaranya terdengar lebih rendah.
Dia menatap wajah Ednan, lalu berkata.
"Uda, lihatlah, kedua mataku sembab hampir membengkak, mom pasti akan merasa sangat khawatir dan bertanya-tanya."
Ednan membalas menatap kedua mata Dia, wanita yang sangat di cintainya. Tampak terlihat oleh Ednan kedua mata indah yang terlihat sembab karena air mata.
Hati Ednan tersentuh melihat wanitanya, perlahan ia mendekati wajah Dia dan mengecup kening wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Entah apa yang di rasakan Dia, ia sama sekali tidak memiliki rasa untuk pria yang akan menjadi calon tunangannya itu.
Hanya karena tidak ingin mengecewakan ayahnya yang selama ini telah sangat memanjakan dirinya, membuat Dia Terpaksa menerima perjodohan ini.
Dan karena itulah, selama ini Dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang perjodohannya, karena memang ia tidak ingin orang lain mengetahuinya sebelum acara resmi itu di gelar.
"Sekarang lebih baik kita pulang ke rumahku dulu," ucap Ednan kembali menyetir mobilnya.
"Tapi Uda...,"
"Kenapa?" Ednan mengerutkan keningnya. Memotong ucapan Dia.
"Bukankah di rumahku kau bisa aman? Tante Dhita tidak akan khawatir kalau kau berada di rumahku." Ednan melanjutkan perkataannya.
"Tapi, bagaimana dengan ibumu?" Dia masih terlihat khawatir.
Walau bagaimanapun, ibu dari Ednan adalah sahabat ibunya, bahkan seperti saudara. Dia merasa khawatir kalau ibunya Ednan akan mengadukan keadaannya kepada ibunya.
"Tenang saja, aku akan bicara kepada mama." Ednan memberikan kepastian.
__ADS_1
Dia pun mengangguk, menyetujui ucapan Ednan.
Dengan senang hati Ednan membanting setirnya berbalik arah, menuju ke rumahnya.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Ednan. Puri, ibu dari Ednan menyambut kedatangan calon menantunya dengan senang hati.
"Nak Dia, mari masuk!" ajak Puri kepada Dia yang masih terlihat canggung.
Entah berapa kali ia datang ke rumah itu, rasanya sangat menyenangkan. Akan tetapi setelah ayahnya merencanakan perjodohan dirinya dengan Ednan, Dia menjadi canggung bahkan terkesan tidak betah.
"Iya Aunty," jawab Dia dengan sopan.
Puri tersenyum melihat tingkah Dia, yang tidak seperti biasanya.
"Jangan malu-malu, kamu kan sudah terbiasa Main kemari." ucap Puri mengelus rambut Dia. Tapi tangannya berhenti ketika Puri menatap kedua mata Dia.
"Kamu menangis, kenapa?" tanya Puri penuh perhatian.
"Atau kalian bertengkar!" Puri menatap Ednan dengan pandangan yang menghunus.
Mendapat tatapan intens dari ibunya, Ednan segera berkata.
"Mama Jangan sembarangan menuduh, kami sama sekali tidak bertengkar, tadi Dia menangis karena ada mahasiswa yang sengaja iseng!" sergah Ednan. Namun, tetap sopan.
Sontak membuat Dia terperangah. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa, selain menerima takdirnya.
"Ajak duduk dulu ma." tukas Ednan, Karena sejak awal Puri mengajak Dia mengobrol dengan berdiri saja.
"Oh, iya karena asyik mengobrol denganmu, Aunty jadi lupa."
Dia tersenyum, sebuah senyum yang ia paksakan.
Diana mengekor di belakang Puri, ibu dari Ednan. Kemudian duduk di sebuah sofa berwarna merah.
Ya, sejak mengetahui warna merah adalah warna kesukaan Dia, Ednan selalu membeli barang-barang yang berwarna merah. Bahkan di dalam kamarnya sendiri, hampir keseluruhannya Berwarna merah.
Seorang pelayan datang dengan membawa tiga buah cangkir teh manis, setelah Puri menyuruh pelayan itu sebelumnya.
"Silahkan di minum dulu nak Dia," ucap Puri dengan ramah.
"Iya Aunty." jawab Dia dengan sopan.
__ADS_1
Saat ini mereka sedang duduk berdampingan.
Puri memandang lekat wajah Dia, wajah yang hampir seratus persen mirip dengan Dhita, sahabatnya.
"Sejujurnya Aunty ingin sekali agar kalian secepatnya meresmikan hubungan kalian," dan perkataan ini membuat Dia semakin terkejut. Namun, tidak dengan Ednan. Pria itu seolah merasa sangat senang mendengar keinginan ibunya.
"Ma, jangan bahas itu dulu," tukas Ednan ketika melirik ke arah Dia dan melihat wajah wanita itu seperti tidak senang.
"Oh, maaf."
"Tidak apa-apa Aunty," ucap Dia berbohong, meski jauh di dalam hatinya ia merasa sangat tidak nyaman berada di situ.
"Ma, tolong jangan katakan kepada Tante Dhita kalau Dia menangis hari ini." pinta Ednan yang membuat ibunya mengerutkan kening.
"Kenapa, kenapa mama harus mengatakannya kepada Tante dhita?" tanya Puri heran.
"Karena aku tidak ingin mom akan merasa khawatir, Aunty."jawab Dia.
"Baiklah, kau tenang saja, Aunty tidak akan mengatakan keadaan mu yang sebenarnya, tapi maaf, Aunty harus mengabari ibumu terlebih dahulu, jika kau berada di sini."
Dia terdiam.
"Karena jika tidak, ibumu pasti lebih khawatir." jelas Puri kepada Dia.
Dia mengangguk membenarkan ucapan ibu dari calon tunangannya itu.
Puri bangkit dari duduknya lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja. Puri menghubungi Dhita, sahabatnya.
Walaupun usia mereka kian bertambah, namun persahabatan di antara ketiga wanita yang berasal dari desa ini, sangatlah kental. Tidak pernah berubah seperti saat mereka muda dulu.
"Hallo Dhi," sapa Puri kepada Dhita di seberang.
"Ya, hallo." jawab yang di seberang.
"Diana berada di sini, karena ada beberapa tugas kuliah yang tidak ia mengerti dan Dia ingin berdiskusi dengan Ednan." tutur Puri berbohong.
"Ya, tadi aku khawatir, karena sampai sekarang putriku tidak pulang, dan sekarang aku merasa lega, kalau Diana berada di sana." jawab Dhita.
Memang sebelumnya Dhita mendapat kabar dari Arjuna, kalau sopirnya tidak bisa menjemput Diana, di karenakan ia harus segera pergi ke luar negri saat itu juga karena ada urusan penting.
Dan Arjuna melimpahkan tanggung jawab untuk menjaga putrinya tercinta kepada Ednan yang memang bekerja di kantor Arjuna bersama ayahnya, yaitu Eza.
__ADS_1
"Sekarang mereka sedang berdua, aku senang sekali mereka bertambah dekat, dan semoga saja acara peresmian hubungan mereka akan segera di percepat." ujar Puri dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Aku juga ingin seperti itu, tapi...untuk masalah ini nanti kita bicarakan dengan mas Ar, setelah dia pulang dari luar negri." jawab Dhita, ia tidak bisa memutuskan segala sesuatu tanpa persetujuan dari suaminya terlebih dahulu.