
Keesokan harinya.
" Mommy harus kerumah Reyhan!" ucap mommy Rita saat itu mereka baru selesai makan.
" Iya mom, kasihan Rena dan Rere mereka pasti kesepian," jawab Arjuna menambahkan.
Mengingat di rumah itu tidak ada orang lagi kecuali Rena dan pembantunya, jika Reyhan pergi, maka suasana dirumah itu akan semakin sepi.
" Ya, kau benar, mommy harus pergi sekarang!" Mommy Rita beranjak dari tempat duduknya.
Namun hanya beberapa langkah kemudian ia kembali lagi menuju ke meja makan.
" Ar, jaga baik-baik istrimu Dhita, jangan sampa dia terlalu banyak pikiran!" mommy Rita mengingat kan.
Arjuna mengangguk.
" Tentu mom, tenang saja!" jawab Arjuna santai.
" Citra, bisa kan bantu menjaga Dhita?" tanya mommy Rita kepada Citra yang juga baru saja menghabiskan makanannya.
Meskipun sebenarnya Bu Devina meminta nya untuk menjaga Citra, akan tetapi menurut mommy Rita, Dhita jauh lebih membutuhkan pengawasan karena ia sedang hamil. Jadi mommy Rita merasa tidak ada salahnya meminta bantuan Citra untuk menjaga Dhita, lagi pula, kondisi Citra telah semakin membaik.
Ia mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya dengan normal.eea
" Iya mom, aku pasti akan menjaga Dhita!" jawab Citra seraya tersenyum.
Mendengar jawaban dari putra dan menantu keduanya mommy Rita merasa lega. Kemudian mommy Rita pun pergi menuju ke rumah Reyhan.
Sedangkan Dhita ia tidak terlihat di manapun, biasanya wanita itu tidak pernah absen melayani suaminya mulai dari meja makan, hingga Arjuna berangkat ke kantor. Namun kali ini ia tidak terlihat di sana.
" Ar !" panggil Citra ketika Arjuna hendak beranjak dari tempatnya.
" Ya, ada apa?" Arjuna menghentikan langkahnya.
Citra mendekati Arjuna dan ini membuat Arjuna merasa tidak nyaman. Ingin rasanya ia menghindar, namun ia teringat permintaan Dhita untuk memberikan Citra kesempatan menjadi istri yang baik.
" Dasi mu miring!" ucap Citra seraya memperbaiki letak dasi berbentuk pita di Krah kemeja suaminya.
Mendapat perlakuan sedekat itu, jujur membuat Arjuna tidak nyaman. Berdekatan dengan wanita lain selain Dhita, sungguh tidak pernah terlintas di dalam benaknya.
Sementara itu, Dhita yang melihat semua itu dari atas, hanya tersenyum. Ya, sebuah senyuman yang mengandung berbagai rasa. Dhita merasa senang melihat Arjuna yang tidak lagi menghindar ketika Citra berada di dekatnya, namun jauh di lubuk hati kecilnya ia juga merasa ada rasa cemburu.
" Maafkan aku mas, aku harus melakukan semua ini agar kau bisa lebih dekat dengan Citra, karena dia juga memiliki hak untuk menjadi istri yang baik mas!" gumam Dhita, tidak terasa air mata jatuh mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Sedangkan Citra merasa senang mendapatkan kesempatan untuk melayani suaminya, walaupun hanya sebatas memperbaiki letak dasi pria itu.
Dhita segera berhambur masuk ke kamarnya, ketika Arjuna berjalan ke arahnya.
Dhita berpura-pura tertidur.
KREEK....
Suara pintu terbuka. Arjuna mengerutkan keningnya melihat istri tercintanya masih tertidur lelap.
CUPP.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Dhita yang membuat wanita itu mau tidak mau harus membuka kedua matanya.
" Mas Ar?!" suara Dhita terdengar lirih, mungkin karena sebuah rasa sesak di dadanya hingga membuat suaranya sedikit tertahan.
" Kau sakit?" tanya Arjuna seraya mengelus perut istrinya.
Mengelus perut Dhita rupanya telah menjadi rutinitas Arjuna di setiap harinya.
Mendapat pertanyaan dari suaminya, Dhita segera menggelengkan kepala.
" Tidak mas, aku hanya ingin istirahat saja!" Dhita beralasan.
Dhita sadar jika suaminya curiga ia berbohong. oleh karena itu, ia memilih jawaban yang lebih tepat.
" Ibu hamil memang seperti itu mas, sulit di mengerti!"
Arjuna tersenyum mendengar jawaban dari istrinya.
" Ya, kau memang sulit di mengerti, hamil atau tidak kau sama saja, sama-sama membingungkan!" ucap Arjuna, tangannya kembali mengelus perut istrinya yang telah membuncit. Dan apa yang terjadi?.
Selanjutnya Arjuna mendapatkan dua kali tendangan dari dalam perut istrinya.
" Wah, baby-baby Dady, mulai aktif ya!" seru Arjuna bahagia bisa merasakan tendangan buah hatinya, walau mereka belum lahir ke dunia.
" Baby-baby kita ingin mengucapkan selamat pagi kepada Dadynya." jawab Dhita seraya berniat hendak duduk.
Arjuna pun membantu istrinya yang sedikit kerepotan untuk bangun dari tidurnya.
" Melihat mu seperti ini, aku menjadi tidak tega, kau selalu kerepotan untuk tidur, duduk dan berjalan!" ucap Arjuna seraya mendekap istrinya dari samping.
" Sudahlah, cepat berangkat ke kantor nanti kesiangan." ucap Dhita yang membuat pelukan Arjuna bertambah erat.
__ADS_1
Arjuna merasa tidak ingin meninggalkan istrinya walau sekejap saja, karena ia selalu khawatir jika istrinya tiba-tiba mengalami kontraksi kembali.
Sedangkan di sebelah luar pintu kamar, tampak Citra sedang diam-diam mengintip.
Citra merasa sangat ingin berada di posisi Dhita saat ini. Nalurinya sebagai wanita juga menginginkan hal yang sama. Memiliki suami yang mencintainya dan hidup bersama penuh kebahagiaan.
" Aku berangkat dulu!" Arjuna pamit sambil mengecup kening dan pipi istrinya kembali.
Tanpa sengaja Dhita melihat Citra yang bersembunyi di balik pintu.
" Ada apa?" tanya Arjuna ketika melihat Dhita menatap ke arah pintu.
" Ah, tidak!" jawab Dhita singkat, karena tidak mungkin baginya untuk mengatakan kalau sebenarnya Citra sedang mengawasi mereka saat ini.
Bukan tanpa alasan Dhita berbohong, melainkan karena ia tahu pasti Citra akan merasa sangat malu jika sampai Arjuna mengetahuinya.
Beruntung Arjuna mempercayainya, dan tidak banyak bertanya.
" Hati-hati di jalan!" pesan Dhita sebelum suaminya pergi.
" Ya, kau juga jaga dirimu baik-baik, oh ya mommy pergi ke rumah Reyhan dan mungkin akan tinggal di sana untuk beberapa hari, jika kau butuh sesuatu mintalah bantuan Citra." jelas Arjuna panjang lebar.
Dhita hanya mengangguk sembari tersenyum.
Pandangannya mengikuti langkah suaminya hingga benar-benar keluar dari kamar itu.
Sedangkan Citra yang telah turun ke bawah terlebih dahulu sebelum Arjuna keluar dari kamar Dhita. Kini sedang menunggu di ruang tengah dengan memegang sebuah rantang berisi makanan.
" Apa ini?" tanya Arjuna merasa heran ketika wanita yang notabenenya adalah istri keduanya menyodorkan rantang itu.
" Bekal untukmu, agar kau tidak kelaparan nanti!" jawab Citra dengan sebuah senyuman manis.
Arjuna menghela napas dengan berat.
" Baiklah, terimakasih!" ucap Arjuna seraya meraih rantang makanan yang di berikan Citra kepadanya.
" Ada-ada saja, tiap wanita memang berbeda-beda keanehan!" batin Arjuna menggerutu.
Selama ini ia telah sering di buat pusing oleh Dhita dan sekarang ia juga akan di buat malu oleh Citra.
Dengan menenteng rantang makanan ke kantor sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri.
Ya, karena selama ini tidak ada sejarah dalam kamus kehidupan Arjuna, seorang bos besar menenteng rantang makanan dari rumah.
__ADS_1