
Yuk Readers ikut Author kondangan jangan lupa amplopnya di isi ya...✉.😍.
Tiga hari kemudian.
Pagi itu suasana hari sangatlah cerah, langit biru menghampar luas melingkup bumi, awan tipis bergerak perlahan menghiasi sang jagad raya.
Hotel Tentrem jogjakarta, hotel yang menjadi tempat dimana akan berlangsung sebuah acara sakral, acara yang akan merubah status puri dan eza menjadi pasangan suami-istri. Yang di harapkan mereka hanyalah Ridho dari sang Ilahi.
Hotel itu berada di Jl.p. Mangkubumi no 72A .
Disanalah ketiga gadis berada bersama pasangan masing-masing.
Puri pengantin wanita terlihat cantik dan anggun dengan mengenakan pakaian pengantinnya, dari raut wajahnya terpancar suatu kebahagiaan.
Bapak dan ibunya juga hadir untuk memberikan restu pada sang putri tercinta.
Mereka di jemput sore kemarin oleh seorang sopir yang bekerja pada keluarga eza.
Orang tua puri duduk berdampingan dengan orang tua eza, mereka terlihat begitu bahagia.
Tak kalah bahagia juga kedua sahabatnya yang juga duduk di belakang kedua orang tua pasangan pengantin. Sesekali mereka saling berbisik.
Hanya dhita yang terdiam sedari tadi, sesekali ia tersenyum untuk menutupi kegelisahan dalam hatinya. Apalagi saat ia melihat citra selalu berapat pada arjuna. Membuat dhita merasa insecure.
Puri tertunduk malu saat duduk bersanding dengan sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Mereka duduk di depan penghulu.
HHHHhhhhHhhhHhhh.......
Suara napas eza memburu ia merasa gugup sekaligus cemas, baru kali ini ia berada dalam situasi seperti ini. Dimana ia menjadi pusat perhatian semua orang.
" Ya tuhan, sungguh aku lebih baik beradu dengan seratus preman sekaligus dari pada harus ada dalam situasi seperti ini." eza membatin namun ia tak dapat berbuat apa-apa.
Acara pun dimulai.
Semua yang hadir terdiam membisu menyaksikan acara tersebut.
" Bagaimana saudara eza sudah siap?" tanya pak penghulu mengulurkan tangannya.
" Saya siap pak." jawab eza membalas uluran tangan pak penghulu.
Mereka saling berjabat tangan. Bersiap mengucapkan ijab kabul.
" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Eza afriansyah bin johan dengan Puri saraswati binti salim dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai." ucap penghulu.
Dengan suara gemetar eza menjawab.
" Sa..ya.. terima.. nikah dan..kawinnya...puri.. saraswati.. binti..sa..lim dengan mas kawin ...tersebut di bayar tunai."
Keringat dingin membasahi kemeja yang di kenakannya.
" Bagaimana para saksi ... Sah.?"
Semua menjawab dengan serempak.
" SAH."
" Alhamdulillaah..." ucap pak penghulu.
Eza menghela napas lega, kini dirinya dan kekasihnya telah sah menjadi pasangan suami-istri.
Pak penghulu membaca do'a semua yang hadir ikut mengaminkan.
Setelah pembacaan do'a selesai Eza dan puri saling bertukar cincin yang telah mereka persiapkan sebelumnya.
Puri mencium tangan suaminya, eza membalas mencium kening istrinya. Setelah itu keduanya bergantian memeluk orang tua masing-masing.
__ADS_1
Pak penghulu undur diri karna masih banyak tugas yang harus di selesaikan.
" Selamat ya.... puri..eza..." Ucap rena dengan penuh semangat.
" Iya.. makasih ya..udah sempetin datang, oh iya keadaan reyhan gimana? udah sembuh bener?" puri teringat kondisi reyhan.
" Iya.. udah sembuh kok, tapi kadang-kadang masih terasa sakit." jawab reyhan setelah mengucapkan selamat pada eza.
" Kapan kalian rencananya?" tanya eza.
" Rencana apa?" reyhan terlihat bingung.
" Ya.. pernikahan kalian lah."
" Sabar... nunggu dianya sembuh total dulu." rena menjawab dengan tersenyum jahil.
" Oh, iya...ya..." eza garuk-garuk kepala.
Saat itu mereka tidak mengundang banyak tamu hanya kerabat dekat dan sahabatnya saja.
Acara resepsinya masih akan di gelar malam nanti.
" Za emang kamu kemarin-kemarin gak belajar ucapan ijab kabul ?" tanya arjuna, nyaris saja ia tertawa tadi saat menyaksikan sahabatnya gugup mengucapkan ijab kabul.
" Aku belajar kok ar, dan udah hafal banget eh, pas kesini buyar deh semua." jawab eza jujur.
" Emang dulu kamu waktu nikah sama fanny gak gugup apa?" lanjutnya.
" Gugup? hah, yang ada aku kesal banget pengen cepat-cepat pergi." jawab arjuna.
" Pantesan waktu itu kamu cepet banget ngucapinnya." ucap eza geleng-geleng kepala.
Arjuna hanya tersenyum simpul. Malas banget mengingat masa lalunya.
" Tapi tunggu ar, kalo ijab kabul sama dhita kamu pasti bakalan ngerasain apa yang aku rasakan. ucap eza namun dalam hati.
Citra menatap arjuna dari kejauhan. Melihat arjuna dari kejauhan membuat dirinya semakin terpesona. Rasa gatal mulai menggerayangi kakinya untuk melangkah mendekati arjuna.
Degh.
Arjuna terkejut mendengar pertanyaan citra. Ia menilik wajah citra penuh tanya. Namun citra mengerti oleh karna itu ia berpura-pura seolah-olah ia tidak memiliki perasaan apapun.
" Suatu saat nanti, tentunya dengan wanita yang ku cintai." jawab arjuna. Tetap memandang wajah citra ingin melihat ekspresinya.
" Wah, aku tunggu ya.... undangannya..." ucap citra dengan senyum sumringah. Senyum polos seolah ia tidak memiliki perasaan apapun.
Arjuna mulai berpikir, " *Ternyata mommy salah me*ngira citra, dia tidak memiliki perasaan apapun padaku."
Secara diam-diam dhita memperhatikan sikap citra dan arjuna, namun ia kembali tenang ketika melihat keduanya biasa saja.
" Ndok ibu sama bapak pulang dulu ya...kasihan adikmu di rumah sendirian !" ucap bu ningsih pada puri.
Putra nya, mamat tidak bisa ikut karena mengikuti ujian nasional di sekolahnya, sebentar lagi ia akan lulus sekolah dasar.
Oleh karena itu ibu ningsih memutuskan untuk segera pulang, kasihan putranya mereka menitipkannya pada tetangga di dekat rumah. Maklumlah saudara ibu ningsih dan pak kasim berada jauh di desa yang berbeda.
" Apa nggak sebaiknya bapak dan ibu tetap disini, nanti malam acara resepsi masa' kalian akan pulang !" puri terlihat sedih berat rasanya ia berpisah dengan kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan.
" Ndok, kalau kami di sini terus ya kasihan adikmu, bapak dan ibu telah berjanji akan segera pulang, saat ini mamat pasti sedang menunggu kepulangan kami !" pak kasim menjawab perkataan putrinya.
Puri terdiam.
" Jaga diri kamu baik-baik ya ndok !" ucap ibu ningsih mengelus kepala putrinya.
Puri mengangguk.
" Nak eza, kami titip putri kami jaga dia baik-baik !" pak kasim memasrahkan puri pada suaminya.
__ADS_1
" Pasti pak, pasti akan selalu saya jaga bapak dan ibu tenang saja." eza menjawab dengan penuh keyakinan membuat pak kasim dan ibu ningsih merasa lega dan tenang meninggalkan putri mereka.
" Iya kami pasti akan jaga putri kalian dengan baik, karna kami telah menganggap nya sebagai putri kami sendiri." pak johan juga ikut nimbrung setelah mengetahui bahwa besannya akan segera pulang.
" Terima kasih banyak, putri kami sangat beruntung berada di antara orang-orang baik seperti kalian." pak kasim.
" Itu sudah menjadi kewajiban kami pak, bu ningsih." ibu eza juga ikut meyakinkan kedua orang tua menantu mereka.
" Bapak sama ibu hati-hati di jalan " ucap puri kemudian. Ia mencium tangan kedua orang tuanya lalu memeluk mereka secara bergantian.
" Iya nak." jawab ibu ningsih. Kembali air matanya menitik seperti waktu itu, seperti saat puri meninggalkan nya untuk pergi ke kota.
Akhirnya mereka berpisah, kedua orang tua puri di antar kembali oleh sopir keluarga eza, merek hanya ingin memastikan keselamatan keduanya.
Puri terdiam wajahnya menunduk tersirat suatu kesedihan.
" Bestie ... aku akan selalu di sini bersamamu, jangan sedih ya...." dhita berusaha menghibur sahabatnya.
" Iya makasih ya..." ucap puri memeluk dhita menumpahkan segala sesak di dadanya, ia menangis.
" Tapi maafin aku ya.... aku gak bisa terus di sini sama kamu, reyhan masih belum benar-benar sembuh, mungkin nanti malam aku juga gak akan datang." ucap rena dengan pancaran aura kesedihan.
" Iya gak apa-apa, aku juga ngerti kok." puri mencoba tersenyum.
Sementara itu tampak reyhan tengah duduk bersandar pada sebuah kursi yang berada di tempat itu. Ia merasakan rasa sakit ditubuhnya akibat kecelakaan. Reyhan berusaha menahannya. Wajahnya pucat menahan rasa sakit.
" Aku antar kamu pulang !" ucap arjuna ketika melihat adiknya kesakitan. Ia merasa tidak tega membiarkan sang adik berlama-lama di tempat itu, walau bagaimanapun reyhan harus banyak beristirahat.
" Tapi.... " reyhan melirik rena yang sedang bersama kedua sahabatnya.
" Nanti akan ku katakan padanya, sekarang kita ke mobil." arjuna memapah adiknya dengan penuh kasih sayang.
" Kakak se sayang ini padaku ?" tanya reyhan tiba-tiba.
" Kita kan terlahir dari ibu yang berbeda ?" lanjutnya masih dengan bertanya.
" Itu karna di dalam tubuhmu mengalir darah orang yang sama denganku." jawab arjuna. Tangannya menepuk jidat adiknya dengan gemas.
Reyhan pun tertawa, ia merasa begitu bahagia memiliki seorang kakak yang penuh kasih sayang.
" Sudah kamu duduk di sini dulu, aku akan panggil wanita mu itu." ucap arjuna ketika mereka telah sampai di parkiran. Reyhan menurut, ia masuk ke dalam mobil.
Sementara itu arjuna membalikkan badannya, berniat memanggil rena. Namun di hentikannya ketika melihat rena tengah berjalan menuju ke arahnya.
Rupanya rena melihat semua itu, hingga ia memutuskan untuk pulang menemani kekasihnya.
" Mari aku antar " ucap arjuna.
" Gak usah biar kami pulang di antar sopir aja." jawab rena.
" Baiklah... hati-hati !" arjuna melambaikan tangan memandang Kepergian mobil mewah berwarna hitam yang membawa keberadaan adiknya. Hingga mobil tersebut menghilang di sebuah tikungan di ujung jalan.
Arjuna kembali masuk menemui sahabatnya.Terlihat olehnya wajah gusar sang sahabat. " Rupanya dia udah mulai gak sabar nih." pikir arjuna, terlintas di benaknya untuk menjahili sahabatnya itu.
Arjuna berbisik di telinga sahabatnya.
" Kamu yakin za, istrimu ini wanita tulen ?"
Kedua netra eza langsung terbelalak. Ia terkejut dengan ucapan sahabatnya yang tiba-tiba.
" Maksud mu apa ?" eza tersulut emosi.
" Ya .. kali aja, secara dia kan tomboy siapa tau aja.." arjuna menghentikan ucapannya membuat eza semakin penasaran.
" Tau apa ?" eza mulai termakan ucapan arjuna yang hanya ingin menggodanya.
" Udah gak jadi ah.." arjuna merasa tidak tega untuk menggoda sahabatnya. Namun eza sudah terlanjur emosi.
__ADS_1
" Maksud mu jeruk makan jeruk ?" eza benar-benar emosi. Kedua netranya melotot. Tapi dengan suara yang sangat rendah ia tak ingin orang lain mendengar percakapan mereka yang benar-benar memancing emosinya.
Arjuna tersenyum tidak menjawab. Di hatinya ia bersorak kegirangan, membuat sahabatnya Insecure.