
" Tentu..." ucap arjuna.
Andrian meraih tangan dhita dan arjuna, ia menyatukan kedua tangan itu layaknya seorang kakak yang telah merestui hubungan adiknya dengan pria yang di cintainya.
" Maafkan aku andrian, aku salah mengira dirimu ..." ucap arjuna menyesali perbuatannya yang telah menyerang andrian tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
" Gak masalah anggap saja itu tanda perkenalan kita ." andrian tersenyum, arjuna pun ikut tersenyum. Keduanya berpelukan, sekali lagi dhita menang, ia mampu menyatukan dua orang yang saling berseteru dengan cinta dan kasih sayangnya.
Dhita merasa sangatlah beruntung, selain memiliki kekasih yang tampan ia juga memiliki kakak yang baik, ya walaupun sebelumnya andrian adalah mantan kekasihnya tapi itu tidak lah masalah baginya yang terpenting sekarang hidup mereka rukun dan damai.
" Sekarang kita kerumah sakit. !" ucap arjuna ketika melihat darah yang masih saja mengucur dari lutut kekasihnya.
" Gak usah mas, nanti di kasih betadine aja pasti dah sembuh kok." jawab dhita menolak.
" Za, ambilkan kotak obat di mobil." perintah arjuna pada sahabatnya.
Eza mengambil kotak obat P3K yang di maksud arjuna, kotak itu selalu di bawa kemanapun arjuna pergi.
Arjuna membopong dhita menuju sebuah kursi panjang di pinggir kolam.
" Mas... kamu mau ngapain ?" dhita tersentak ketika kedua tangan kekar arjuna menggendong tubuhnya ke depan dada.
" Kita obati lukamu." jawab arjuna, ia tersenyum senang melakukan hal itu.
" Mas, jangan,turunkan aku... aku bisa jalan sendiri mas..." dhita meronta-ronta tapi tak di gubris oleh arjuna, ia terus saja berjalan.
" Kamu kok gitu sih mas, mentang-mentang jadi bos, bertingkah seenaknya aja, aku kan malu mas di liatin mereka." Dhita melirik ke arah anak buah arjuna dan ketiga anak buah andrian yang memandangi mereka sambil tersenyum-senyum yang mereka sembunyikan karna takut sang bos marah.
" Mulai sekarang aku gak akan biarkan kamu merasa kesusahan lagi, aku akan selalu jaga kamu, melindungimu hingga akhir hayatku.." ucap arjuna dengan nada serius.
" Jangan ngomongin akhir hayat dong mas.. aku kan jadi takut.." dhita merasa takut kehilangan arjuna, tak masalah baginya jika ia harus kehilangan cinta pertamanya, tapi arjuna adalah cinta terakhir baginya. Dhita tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Arjuna meraih kotak P3K yang di sodorkan oleh eza. ia mengambil obat merah untuk mengobati luka di lutut dhita.
Arjuna menyingsingkan ujung dress yang di pakai dhita, namun tangan dhita menahannya.
" Gak usah mas.." ucap nya
__ADS_1
" Kenapa? "
Dhita melirik ke arah eza yang masih berdiri tak jauh dari mereka. arjuna pun mengerti kalau kekasihnya tengah merasa risih.
" Za, tolong antarkan andrian pulang dan suruh anak buah kita kembali ke markas." arjuna sengaja memberikan perintah itu agar ia bisa leluasa bersama dengan kekasihnya dan dhita tak lagi merasa risih karna kehadiran mereka.
Eza mengangguk, ia pun berlalu pergi. kecuali jonny, bobby dan roy mereka kembali ke tempat masing-masing, karna tugas mereka menjaga dhita. Majikan barunya.
" Sekarang mereka sudah pergi, mari aku obati." arjuna kembali menyingsingkan ujung dress milik dhita, hingga terpampang jelas olehnya kulit betis kekasihnya, putih mulus tak ternoda sedikitpun.
" Awwhh ... hhh. " dhita mendesis, terasa perih ketika arjuna membubuhkan obat merah di lukanya, reflek arjuna meniup perlahan-lahan agar rasa perih yang di rasakan kekasihnya agak berkurang.
" Makasih ya mas, aku beruntung menjadi kekasihmu mas ." ucap dhita saat arjuna telah selesai mengobati lukanya.
" Aku juga beruntung memiliki mu, wanita yang sangat tangguh, sholehah pula."
" Tapi..." Arjuna memalingkan wajahnya, kemudian berdiri membelakangi dhita.
" Ada apa mas... mas Ar... ada apa?" tanya dhita penasaran, mengapa kekasihnya tiba-tiba berubah sikap.
Arjuna menghela napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Dengan wajah sendu ia mengatakan.
Dhita berdiri berusaha menahan rasa sakitnya, melangkah perlahan menghampiri sang kekasih.
Ia menatap lekat wajah arjuna.
" Apa yang kau pikirkan mas, katakan lah...aku akan mendengarkannya.." dhita menyentuh kedua pipi kekasihnya.
Mereka saling bertatapan, seakan-akan berbicara melalui netra mereka.
" Apa kau siap menerima kenyataan?" tanya arjuna mulai ragu, ia takut gadis impiannya merasa kecewa.
Dhita mengangguk.
" Katakankah mas... apapun itu...aku siap." jawab dhita meyakinkan.
" Aku... aku seorang duda, pernikahan ku kandas karena sebuah perselingkuhan." ucap arjuna berterus terang, baginya lebih baik kekasihnya tau kenyataan itu dari dirinya sendiri dari pada mengetahuinya dari orang lain.
__ADS_1
Dhita tertegun, kemudian ia tersenyum.
" Mas... Perawan atau perjaka, Janda ataupun duda itu hanyalah status di masyarakat, sedangkan di hadapan tuhan kita semua sama, Hanya saja amal ibadah kita nanti yang akan membedakan." dhita mengatakan dengan penuh keyakinan.
" Aku tidak pernah berharap orang yang menjadi pendamping hidupku seorang perjaka, tapi aku sangat berharap calon pendamping hidupku adalah seorang pria yang sholeh, yang bertanggung jawab atas diriku, mencintai ku sepenuhnya dan juga menyayangi orang tua ku mas." lanjutnya.
Bukan main bahagianya hati arjuna, ia tak pernah mengira bahwa pemikiran gadis impiannya sangatlah luas. Tidak hanya sikap dan penampilannya saja yang mengagumkan, tapi juga daya pikirnya sangatlah bijak.
" Aku tak salah memilihmu..." ucap arjuna, matanya berkaca-kaca.
" Mungkin udah takdir jodoh kita mas, masa lalu kita pun tak jauh berbeda." ucap dhita menatap wajah tampan kekasihnya.
" Aku mencintaimu mas..."
" Berjanjilah akan selalu setia padaku ?" arjuna meraih tangan dhita dan mengecupnya.
" Pasti mas, I will always love you forever ( Aku akan selalu mencintai mu selamanya )." dhita kembali memeluk sang kekasih seakan hilang semua duka yang ia alami selama ini. Rasa bahagia pun merasuk kedalam sanubarinya.
" Thank you, beib." arjuna membalas pelukan kekasihnya. Pelukan yang begitu hangat dan menenangkan.
Kini kedua insan yang saling mencintai telah menyatukan cinta kasih mereka, alam semesta menjadi saksi perjalanan cinta mereka, perjalanan asmara indah nan membara.
Arjuna menatap sekeliling, melihat-lihat setiap sudut Villa.
" Ini villa milik andrian ?" tanya arjuna.
" Iya mas, bang andrian memberikan villa ini untukku." jawab dhita singkat.
" Untuk mu ?" arjuna mengulangi lagi ucapan dhita.
" Sebagai bukti permintaan maaf nya padaku sebenarnya aku ingin menolak, tapi bang andrian memaksaku."
" Jadi kau akan tinggal disini ?"
" Gak mas, aku udah kangen banget sama sahabat-sahabat ku, pengen tinggal sama mereka aja."
Arjuna melirik kaki dhita.
__ADS_1
" Tapi kaki mu masih sakit, malam ini kita bermalam di sini aja ya, besok pagi-pagi kita balik." Arjuna merasa tak tega bila harus membawa pulang sang kekasih saat itu. Apalagi perjalanan dari villa ke apartement rena sangatlah jauh, membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai kesana.
Dhita menurut saja, karna ia juga masih ingin berduaan dengan kekasihnya.