Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 147 Baby Twins


__ADS_3

" Aku?" tanya Citra yang terkejut tapi merasa sangat bahagia.


" Yes!" bisik Citra namun hanya dalam hati.


Entah mengapa ia merasa bahagia mendengar pernyataan dari Bastian sedangkan saat ini dirinya sedang menjadi istri orang.


" Kenapa harus aku? aku wanita yang memiliki suami!" sergah Citra berpura-pura tersinggung meskipun jauh di dalam hatinya, ia merasakan kebahagiaan. Ada rasa hangat yang menjalar di ulu hatinya.


Apakah ini yang di namakan Cinta?.


" Aku akan menceraikan mu!" Arjuna yang merasa ada kesempatan untuk terlepas dari belenggu pernikahan, yang membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman, tidak ingin menyia-nyiakan waktu.


" Cerai?" Citra berpura-pura shock, meski di dalam hatinya ia merasa senang tidak mungkin baginya bersorak kegirangan.


" Ya, dia akan menceraikan mu, dan akulah yang akan mengangkat derajat mu, menjadi satu-satunya istri di dalam hidupku!" sahut Bastian bersungguh-sungguh.


Sedangkan Dhita dan semua orang yang berada di dalam ruangan itu, seketika tersenyum melihat insiden membuang dan memungut.


Ya, jika Arjuna yang membuang Citra, maka Bastian lah yang akan memungutnya, dan akan di jadikan satu-satunya ratu di dalam hidupnya.


Dan pastinya bu Devina tidak akan menolak dikarenakan kekayaan Bastian dan Arjuna sama rata.


Suasana yang semula di selubungi penuh duka, kini berubah lebih berwarna. Rasa bahagia mulai terpancar di wajah mereka masing-masing.


" Tapi...!" Citra masih saja jual mahal.


" Jangan lewatkan kesempatan baik ini, karena kesempatan baik tidak akan datang dua kali!" ucap Bu Safitri, ia merasa sedikit kesal karena sikap Citra yang seolah ingin menolak, padahal di dalam hatinya jelas-jelas ia merasa sangat bahagia.


" Maaf nyonya Dhita harus di periksa terlebih dahulu, jadi saya mohon semuanya untuk keluar!" ucap dokter Alya, yang baru saja kembali ke ruangan itu. Karena setelah Dhita kembali mendapatkan nyawanya, ia terpaksa pergi karena harus mengurus pasien lain.


" Silahkan dok!" jawab pak Setyo seraya pergi keluar dari ruangan itu mengikuti yang lain.


Sementara kedua bayinya di tempatkan di ruangan khusus bayi.


Setelah semua pergi, kecuali Arjuna. Ia tidak ingin pergi meninggalkan istrinya walau hanya sedetik pun.


" Apa yang nyonya rasakan?" tanya dokter Alya, mengingat pasiennya ini baru sada terbangun dari yang namanya mati suri.


" Semuanya baik dok, hanya saja saya merasakan perut saya sangat longgar." jawab Dhita pelan, karena ia merasa sakit pada bagian perutnya, akibat operasi caesar.

__ADS_1


" Ya, itu biasa terjadi pada setiap orang yang baru saja melahirkan," jawab Dokter Alya.


" Tuan, setelah operasi ini, mohon untuk selalu menjaga kondisi ibu Dhita, jangan sampai dia melaukan aktifitas yang terlalu berat!" lanjut dokter Alya.


Dokter Alya menyuntikkan cairan obat untuk memulihkan kondisi Dhita melalui Blood set.


Sedangkan Dhita merasa sangat mengantuk setelah beberapa detik reaksi dari obat itu. Rupanya obat yang di suntikkan itu mengandung obat tidur, guna agar Dhita lebih cepat beristirahat. Mengingat hari telah sangat larut.


Tak lama kemudian, Dhita pun tertidur pulas.


Setelah beberapa lama perawat memindahkan Dhita ke ruang perawatan, untuk memulihkan kondisinya. Sedangkan Arjuna masih setia mendampingi sang istri di sisinya.


Sementara itu, Citra yang berada di ruangan inkubator mengamati bayi-bayi lucu nan menggemaskan di sana.


Bayi-bayi itu bergerak sesuai kemampuan masing-masing, ada yang aktif, ada yang lamban, dan ada yang diam saja, hanya kepalanya yang menoleh ke kanan dan ke kiri.


Citra tersenyum melihat tingkah lucu para bayi itu. Apalagi melihat bayi kembar Arjuna, ia merasa semakin kuat untuk memiliki keluarga yang seutuhnya dan memiliki bayi-bayi lucu seperti mereka.


" Ya Tuhan, lucu sekali mereka!" gumam Citra, seulas senyum terbit di bibirnya.


" Andaikan saja aku bisa memilikinya," gumamnya kembali.


" Kau??" Citra terperangah ketika membalik badannya dan melihat Bastian berada tepat di belakang tubuhnya.


Jarak diantara mereka hanya beberapa jengkal saja.


" Ya, bukankah kau ingin memiliki Bayi seperti mereka?" Bastian bertanya mengulang perkataan Citra sendiri.


Citra terdiam, namun di dalam hatinya ia mengatakan ' iya '


" Apa kau serius?" tanya Citra memberanikan diri menatap wajah tampan di depannya.


Ya, Bastian memang terlihat tampan meski tak setampan Arjuna. Namun yang menjadi poin pentingnya adalah, dia bukanlah pria beristri.


Mendapat pertanyaan yang mengisyaratkan kalau wanita itu mulai tertarik kepadanya, membuat Bastian semakin ingin mendekatinya.


" Ya, aku serius! bahkan lebih dari sekedar serius!!" jawab Bastian bersungguh-sungguh.


" Tapi... apa kau bisa menerima diriku? sedangkan aku telah menjadi bekas orang?" tanya Citra berbohong, ia sengaja melakukan hal itu untuk mengetahui apakah Bastian benar-benar bisa menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


Bastian yang telah mengetahui notabene Citra yang sebenarnya dari Bu Safitri, ia hanya tersenyum.


" Kenapa tersenyum?" tanya Citra semakin menatap Bastian dengan lekat.


" Kau cantik!" jawab Bastian keceplosan.


" Dhita yang lebih cantik!" ucap Citra, bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu, di karenakan ia yang telah lama mengetahui bahwa Bastian sangat mencintai Dhita, sebelum ia mengetahui kalau wanita itu adalah saudara sepupunya.


" Kenapa membahas Dhita?" Bastian mengerutkan kening.


" Dia sedang istirahat pasca persalinan, jangan di sebut-sebut nanti dia bisa bersin-bersin." lanjut Bastian.


Citra tersenyum mendengar gurauan dari Bastian. Mereka yang sebelumnya merasa canggung, kini menjadi lebih akrab.


Kemudian mereka berdua sama-sama memandang kedua bayi kembar itu dengan penuh rasa bahagia.


" Baby twins, keponakan ku!" gumam Bastian, dan itu langsung membuat Citra memandang lekat wajah Bastian.


Citra menatap tubuh Bastian dari atas hingga bawah. Membuat ia berpikir.


" Dia terlihat lebih dewasa saat di lihat dari dekat." batin Citra.


Tanpa di sadari oleh Citra bahwa ia saat ini semakin mengagumi sosok Bastian, hingga membuat rasa cintanya terhadap Arjuna semakin berkurang dan mungkin nanti akan hilang dengan sendirinya tanpa jejak.


Citra sedang berusaha untuk mengubah haluan hidupnya, agar menjadi pribadi yang lebih baik.


Dan satu hal yang pasti, ia ingin mengubah pandangan masyarakat akan dirinya yang selalu menyebut dirinya sebagai pelakor.


Citra ingin menunjukkan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa Citra adalah wanita baik-baik bukan pengganggu rumah tangga orang lain.


" Kenapa termenung?" tanya Bastian ketika ia melihat wanita yang berdiri di sampingnya melamun menatap lurus ke depan.


" Oh!" Citra terkejut mendengar sapaan dari Bastian.


Melihat Citra yang terkejut, membuat Bastian tertawa terkekeh.


" Tertawa! memangnya ada yang lucu?" Citra melirik kesal ke arah Bastian karena merasa di tertawakan.


" Ya, wajahmu, lucu sekali!" jawab Bastian masih dengan tawanya yang sedikit cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2