Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 107 Sepiring Berdua


__ADS_3

Arjuna segera turun ke bawah untuk menemui para pelayannya, dimana di saat itu mereka sedang bekerja dengan tugas masing-masing.


" Setelah selesai memasak, kalian hidangkan di kamar saja." perintah Arjuna kepada para pelayannya.


" Karena nyonya kalian akan sarapan di kamar hari ini." lanjut nya.


Mendengar perintah dari tuannya, para pelayan langsung mengangguk, tidak seorang pun diantara mereka yang berani bertanya mengapa nyonya mereka tidak turun saja ke bawah, seperti biasanya.


" Kira-kira apa yang telah dilakukan tuan Arjuna kepada nyonya Dhita?" tanya salah seorang pelayan yang kebetulan kemarin mereka menyaksikan tuannya sedang memikul istrinya layaknya karung beras.


Bahkan sejak saat itu mereka tidak lagi melihat kedua majikannya keluar dari kamarnya.


Namun pelayan itu berani bertanya setelah majikan mereka, Arjuna telah meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.


" Hust, Jangan bertanya seperti itu, nanti kalau tuan Arjuna mendengar bisa di pecat kita." ucap kepala pelayan yang mendengar pertanyaan dari salah satu pelayan tadi.


" Maaf!" kemudian pelayan yang di tegur itu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya para pelayan pun datang untuk menyediakan makanan di kamar majikannya itu.


Sebuah meja berukuran besar, telah di letakkan di kamar tersebut. Kemudian para pelayan yang lain, menata menu makanan yang mereka masak hari ini.


" Makanan telah siap tuan," kepala pelayan menginformasikan kepada Arjuna yang sedang duduk bersama Dhita di balkon kamar.


" Baiklah, kalian boleh pergi!" sahut Arjuna, kemudian beberapa pelayan itu pun pergi.


" Ayo kita makan!" ajak Arjuna kepada Dhita yang masih menikmati suasana pagi yang santai.


" Aku belum lapar mas!" jawab Dhita menolak, sambil terus memandang ke arah halaman mansion yang begitu luas.


" Bagaimana kau tidak lapar, sejak kemarin kau hanya makan di rumah Andrian." Arjuna tahu betul, sejak pulang dari rumah Andrian, Dhita tidak keluar kamar walau hanya sebentar, jadi mana mungkin ia bisa mengatakan kalau dirinya tidak lapar.


" Kau makan dulu saja mas, nanti aku nyusul!" ucap Dhita.


Arjuna tidak kehilangan akal, ia mengerti mengapa istrinya itu menolak. Arjuna segera menggotong tubuh mungil sang istri membawanya ke meja makan.


Sedangkan Dhita hanya diam saja di perlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri.


" Sekarang kita makan!" ucap Arjuna setelah mendudukkan istrinya di kursi.


Lalu ia mengambil piring yang kemudian di isi nasi dan lauknya.


" Seharusnya aku yang melayani mu mas!" seru Dhita ketika Arjuna menaruh piring di depannya. Ia merasa tidak enak hati di perlakukan semanis itu oleh suaminya.

__ADS_1


" Sudahlah, selama ini kau yang selalu memanjakan diriku, jadi sekarang giliran ku untuk memanjakan dirimu." jawab Arjuna membelai mesra rambut istrinya.


" Terimakasih mas, terimakasih telah mencintai diriku." ucap Dhita, ia merasa sangat bersyukur berada di dalam sebuah keluarga yang begitu baik.


" Apakah setiap hari kau akan mengatakan terimakasih, hey aku ini suamimu, jadi berhentilah mengucapkan terimakasih atau aku akan tolakkasih!"


" Tolakkasih?" Dhita mengerutkan keningnya, baru kali ini ia mendengar kata-kata itu.


" Bukankah lawan kata terima adalah tolak?" Arjuna yakin gurauannya mampu membuat istrinya penasaran.


" Oh, kirain apa mas? kau ini ada-ada saja!" Dhita mengerucut karena merasa di Buli oleh suaminya sendiri.


Karena istrinya tetap cemberut, Arjuna segera meraih sendok yang telah berisi makanan lalu menyuapi istrinya dengan mesra.


" Sekarang gantian mas, aku yang akan menyuapi mu." ucap Dhita, kemudian mengambil alih sendok ditangan Arjuna lalu menyuapi nya.


Jadilah mereka makan sepiring berdua, sambil menikmati makanan yang lezat sesekali diiringi suara canda tawa mereka.


Sungguh pemandangan yang indah bukan.


Pelayan yang bertugas untuk membereskan meja makan setelah majikannya selesai, hanya menarik napas panjang melihat kemesraan kedua majikannya.


Tak lama kemudian, terdengar suara pelayan memanggil dari arah pintu. Pelayan itu melaporkan kalau di bawah sedang ada tamu.


Pelayan yang menyaksikan semua itu hanya bisa gigit jari, melihat kemesraan kedua majikan mereka. Di dalam hati mereka berdoa agar kehidupan majikannya selalu bahagia.


Setelah selesai makan, Arjuna turun ke bawah bersama Dhita yang sengaja ia gotong. Arjuna tidak sampai hati untuk meninggalkan istrinya sendirian di kamar. Apalagi tamunya adalah Eza dan Puri, jadi Arjuna merasa tidak ada salahnya untuk membawa Dhita bersamanya.


" Loh, kamu kenapa Dhi?" tanya Puri sempat khawatir melihat sahabatnya di gotong seperti itu.


" Tidak apa-apa, hanya saja kakinya terkilir." namun bukan Dhita yang menjawab melainkan Arjuna. Kemudian ia mendudukkan istrinya di samping nya.


" Oh, terkilir dimana? sebelah mana yang sakit?" Puri mulai cemas.


Namun tidak dengan Eza, pria ini bisa memahami kalau Arjuna sedang berbohong.


Ditambah lagi keadaan Dhita yang baik-baik saja, Eza semakin yakin kalau sahabatnya sedang berbohong.


" Sudah lah sahabatmu tidak apa-apa, dia baik-baik saja." Eza berusaha menenangkan istrinya agar tidak terlalu khawatir.


Terlalu banyak pikiran tidak baik bagi ibu hamil


" Duh, romantis sekali kalian!" ledek Puri setelah yakin kalau sahabatnya baik-baik saja.

__ADS_1


" Seperti pengantin baru saja, padahal telah lama menikah." sambung Eza berseloroh.


" Selain romantis, apa kalian telah makan sepiring berdua?" Puri sengaja meledek sahabatnya.


" Ya sudah lah!" jawab Arjuna dan Dhita serempak.


" Wow, kalian kompak sekali ternyata!" Eza tersenyum geli mendengar kekompakan sahabatnya.


" Aku kesini untuk melihat keadaan mu Dhi." ucap Puri, ia masih teringat Dhita yang kemaren menangis di pusara ayah mertuanya.


" Jangan khawatir, aku baik-baik saja." jawab Dhita dengan senyum bahagia.


" Syukurlah,"


" Ya, karena suamiku sangat mencintaiku." ucap Dhita sembari menatap wajah suaminya.


" Uh, sok mesra kemarin saja nangis-nangis."


Puri segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ketika ia menyadari dirinya yang keceplosan.


Mendengar perkataan dari Puri, Arjuna segera bertanya.


" Memang Dhita menangis?" Arjuna melirik ke arah istrinya, yang tersipu malu.


" Ya, semuanya benar karena kau selalu menyakiti ku!" jawab Dhita dengan tersenyum malu.


Tak lama kemudian, terdengar suara salam dari luar.


Arjuna bergegas membuka pintu, namun apa yang terlihat oleh Arjuna, hingga membuat ia begitu tercengang.


" Ibu, ayah, silahkan masuk!" seru Arjuna dengan ramah.


" Terima kasih nak!" jawab pak Setyo.


Kemudian mereka masuk kedalam mansion itu, dengan mengikuti Arjuna dari belakang.


" Ibu, ayah!" seru Dhita dengan sumringah.


" Apa kabar nak?" tanya Bu Safitri, ketika mereka telah duduk bersama."


" Baik Bu, oh iya ayah apa kabar hari ini?" tanya Dhita ketika melihat pak Setyo berjalan mengikuti istrinya dari belakang.


" Kami kemari untuk menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya pak Teddy.

__ADS_1


__ADS_2