Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 101 Menjalani Hubungan LDR


__ADS_3

Dhita yang telah kembali terluka hatinya, bagai teriris seribu sembilu. Rasa sabar dan rasa tabah yang selama ini ia terapkan di dalam kehidupannya, ternyata tidak menjamin kebahagiaan dalam hidupnya.


Ketika hati telah terluka, maka mental pun bisa berubah. Dhita seorang wanita Sholehah dan penurut, kini ia bertekad di dalam hatinya bahwa ia tidak akan pernah mengalah lagi.


" Sudah cukup selama ini aku bersabar, sudah cukup selama ini aku mengalah, tapi kini tidak akan lagi, aku tidak akan pernah mengalah lagi." hati Dhita membatin.


Dengan hati penuh luka, Dhita memutuskan untuk pergi dari mansion mewah itu, karena ia merasa kehadirannya telah tak di harapkan lagi.


" Percuma aku disini, percuma aku bertahan jika suamiku tak percaya lagi kepadaku, mungkin lebih baik aku pergi!" gumam Dhita lirih, sambil mengemasi beberapa pakaian yang di perlukan.


Tak terasa air mata pun mengalir dari sudut matanya.


Tepat di depan mansion, Arjuna yang baru saja tiba terkejut ketika melihat istrinya tengah berjalan keluar dari mansion dengan membawa sebuah koper.


Arjuna segera berlari menyongsong sang istri.


" Sayang, kau mau kemana?" tanya Arjuna ketika ia telah berada di depan istrinya.


Dhita lebih memilih untuk tidak menjawabnya.


" Hei, sayang kau mau kemana?" Arjuna mengulangi pertanyaannya.


Namun Dhita tidak memiliki keinginan untuk menjawabnya.


Perlakuan Arjuna yang tiba-tiba lembut dan penuh kasih semakin membuat dirinya muak.


Ia telah bertekad untuk tidak lagi bertindak lemah. Bersikap sabar hanya akan membuat harga dirinya di tindas.


Karena merasa tak di hiraukan oleh Dhita, Arjuna kembali mendekati istrinya.


" Aku tahu aku salah, tapi aku mohon beri aku kesempatan." Arjuna berjongkok berharap wanita di depannya akan memaafkan dirinya.


" Kau tidak pernah salah mas, kau selalu saja benar, dan aku telah memahami semua itu." Dhita hendak melanjutkan langkahnya, namun tertahan oleh Arjuna.


" Kau mau kemana?" Arjuna meraih tangan Dhita.


" Biarkan aku pergi, biar kita sadari kesalahan masing-masing, bukankah kau selalu menganggap ku istri yang tak setia?" Dhita menatap Arjuna dengan tatapan sangar.


" Aku telah mengetahui semuanya, dokter Eina telah memberi tahuku kalau hasil itu salah, jadi ku mohon tetaplah bersamaku." Arjuna membawa tangan Dhita menyentuh dadanya.


" Jadi jika semua itu benar, kau tidak akan perduli lagi kepadaku mas?" Dhita melepaskan tangannya, menariknya dengan cepat.


" Lebih baik kita sama-sama introspeksi diri mas, mungkin untuk sementara kita tidak bersama dulu, menurutku itu lebih baik."


" Kau ingin kita menjalani hubungan LDR?" Arjuna terkejut mendengar keinginan istrinya.

__ADS_1


" Ya, sampai kau benar-benar bisa menerima diriku apa adanya." jawab Dhita lalu melangkah pergi melewati Arjuna yang masih berjongkok di depannya.


Ya, mungkin menjalani hubungan secara LDR lebih baik, dari pada bersama namun saling menyakiti.


Mommy Rita yang melihat menantunya akan pergi dari mansion segera menghampirinya.


Apalagi ia juga melihat putranya diam saja, melihat istrinya akan pergi.


" Dhita, kau ingin pergi, Kemana?" tanya mommy Rita seraya hendak menyentuh gagang koper yang di pegang nya.


Ia berniat mengambil koper itu agar menantunya tidak jadi pergi. Namun Dhita segera menggeser kopernya hingga tak tersentuh oleh ibu mertuanya.


" Mom, aku pamit!" ucap Dhita seraya meraih tangan ibu mertuanya.


Walau semarah apapun ia terhadap Arjuna, baginya ia harus tetap bersikap sopan kepada ibu mertuanya, sebab wanita itu tidak mengetahui apapun masalah diantara mereka.


" Kau mau kemana Dhi?" tanya mommy Rita dengan bingung.


" Aku akan pergi ke tempat dimana aku bisa mendapatkan ketenangan ma, aku pamit." Dhita berlalu dengan langkah terburu-buru karena ia khawatir Arjuna akan menghalanginya.


Kemudian Dhita menghambur masuk ke dalam taxi online yang telah di pesannya.


Tangis Dhita kembali pecah ketika ia telah berada di dalam taxi. Sebenarnya Dhita juga bingung akan pergi kemana ia harus membawa luka di hatinya.


Dhita juga tidak ingin ayah dan ibunya mengetahui tentang masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


" Sebentar pak!" jawab Dhita sambil berpikir kemana ia akan pergi.


TRING


TRING


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Pesan itu ternyata dari Andrian, tersirat ia begitu khawatir, rupanya ia juga merasakan apa yang sedang di rasakan Dhita.


" Antarkan aku ke alamat ini pak!" Dhita menyerahkan sebuah kartu nama yang pernah di berikan Andrian kepadanya.


Sopir taxi menerima kartu nama itu lalu mengangguk mengerti.


Setelah melewati beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah yang pernah Dhita datangi sebelumnya.


Untuk yang kedua kalinya, ia memasuki rumah kediaman Andrian.


Saat itu Andrian sedang mengotak-atik ponselnya, ia sedang menunggu jawaban dari adik angkatnya.

__ADS_1


Memang, Dhita lupa untuk membalas pesan dari Andrian.


Terdengar suara bel pintu berbunyi.


Karena tidak ada siapa-siapa di ruangan itu, Andrian bangkit untuk membuka pintu.


" Dhita!" seru Andrian sumringah, namun senyum itu tiba-tiba pudar saat ia melihat sebuah koper tergeletak di samping adik angkatnya.


Andrian melayangkan pandangannya ke sekitar halaman rumah, namun ia tidak dapat menemukan apa yang ia cari.


" Dimana suami mu?" tanya Andrian lagi.


" Di rumah bang." jawab Dhita lirih, suaranya terdengar serak.


Melihat dari kondisi adik angkatnya yang lesu tanpa senyum di wajahnya, Andrian pun mengerti apa yang telah terjadi.


" Pasti ada masalah lagi, kalian bertengkar lagi?" Andrian bertanya menelisik.


Dhita tidak menjawab ia hanya diam saja mendengar pertanyaan dari kakak angkatnya.


" Ayo masuk!" ajak Andrian setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban dari adiknya.


Andrian meraih koper dari tangan Dhita. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


" Dhita!" terdengar suara dari atas, rupanya Bellinda yang baru saja selesai menidurkan putranya.


Bellinda menuruni tangga, ia terlihat terburu-buru. Kemudian ia menghampiri Dhita yang saat itu sedang duduk di ruang tamu.


Bellinda menatap Dhita dan Andrian secara bergantian. Lalu ia bertanya.


" Ada apa ini?"


Namun Dhita hanya terdiam.


Melihat Dhita yang terdiam Andrian angkat bicara.


" Dhita akan tinggal di sini untuk sementara waktu." jawab Andrian menatap istrinya, seolah meminta persetujuan.


" Baiklah, ku rasa dia bisa membantuku untuk menjaga Glen, di saat aku sedang sibuk," ucap Bellinda.


Sebenarnya Bellinda ingin menanyakan mengapa Dhita tiba-tiba datang berkunjung kerumahnya, namun di urungkannya Karena ia merasa tidak enak hati.


" Ayo ku antar ke kamarmu!" ajak Bellinda penuh perhatian.


" Maaf ya, aku merepotkan kalian," ucap Dhita.

__ADS_1


" Just relax!" ucap Bellinda dan Andrian hampir bersamaan.


__ADS_2