Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 158 Ardhi / Ansel


__ADS_3

Melihat tekad istrinya yang begitu bulat, membuat Arjuna tidak akan tega untuk menolak dan itu akan membuat istrinya semakin down, dan Arjuna tidak ingin semua itu terjadi.


"Ayo mas!" Dhita menarik lengan suaminya.


Kemudian sama-sama melangkah keluar dari ruangan itu.


Dhita dan Arjuna berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tidak luput pula mereka memeriksa setiap ruangan kamar. Namun mereka tidak dapat menemukan keberadaan Ardhi, putra mereka yang hilang.


Tidak hanya sekali, Arjuna dan Dhita mendapat tatapan kesal dari para pasien dan keluarganya yang berada di rumah sakit itu, di karenakan mereka yang tiba-tiba masuk dan memeriksa hampir Setiap sudut ruangan itu.


"Bagaimana? hampir seluruh kamar di rumah sakit ini kita datangi, tapi kita tidak dapat menemukan keberadaan putra kita." ucap Arjuna sedikit kesal.


Dhita terdiam, jujur ia pun merasakan hal yang sama, namun hatinya berkata lain. Bahkan ia sendiri masih merasakan kalau Ardhi ada di sana.


"Mas, maafkan aku, karena diriku kau mendapat perlakuan tidak baik dari semua orang." ucap Dhita tertunduk.


Melihat istrinya yang bersedih, membuat Arjuna tidak tega, dan sampai kapanpun Arjuna tidak akan pernah tega melihat istrinya bersedih.


"Sudahlah, kau tidak perlu meminta maaf, Ardhi putra kita, jadi telah menjadi tugas ku untuk selalu mendampingi dirimu kemanapun kau pergi!" Arjuna membawa Dhita kedalam dekapannya.


Mungkin karena rasa kecewa karena tidak dapat menemukan keberadaan putranya membuat Dhita menolak di peluk oleh Arjuna.


Dhita berlari mengikuti langkah kaki kemana akan membawa dirinya, dengan air mata berderai Dhita terus saja berlari tanpa menghiraukan Arjuna yang mengejarnya dari belakang.


"Dhi! tunggu Dhi!" panggil Arjuna seraya mengejar istrinya.


Namun Dhita terus saja berlari, tanpa menghiraukan suaminya yang terus saja mengejar dirinya dari belakang.


"Ooeeekk ~ ooeeekk ~!"


Dhita menghentikan langkah nya ketika mendengar suara tangisan bayi dari salah satu kamar yang berada tepat di sampingnya.


Namun pintu yang tertutup menghalangi pandangannya.


"Ardhi!" bisik Dhita lirih.


"Mari kita pulang!" ajak Arjuna.


Namun Dhita masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Mari kita pulang!" ajak Arjuna sekali lagi.


"Mas, kau dengar suara tangisan bayi itu?" Dhita menunjuk ke arah suara tangisan seorang bayi yang berada di dalam kamar tepat di samping mereka.


"Mengapa?"


"Suaranya mirip Ardhi mas,"

__ADS_1


"Bukankah semua suara bayi itu sama? ayolah kita pulang saja, ini sudah siang nanti Diana bisa kehausan!" bujuk Arjuna.


Mengingat telah terlalu lama mereka berada di sana. Arjuna hanya khawatir putrinya di sana akan kehabisan ASI.


Arjuna meraih tangan Dhita dan hendak membawanya keluar dari rumah sakit itu.


Namun, Dhita menolak bahkan ia menghempaskan tangan suaminya.


Dhita berlari ke arah pintu dan membukanya.


Tampak seorang bayi laki-laki sedang menangis, dan seorang ibu-ibu sedang berusaha untuk menenangkannya.


Perlahan Dhita menghampiri bayi itu, dengan senyum Dhita menyapa bayi itu.


"Maaf, anda siapa?" tanya bi Murni, ia merasa heran mengapa tiba-tiba wanita ini masuk ke dalam ruangannya.


"Dia sakit?" tanya Dhita tanpa menjawab pertanyaan dari bi Murni, namun ia tetap berusaha setenang mungkin, agar tidak menimbulkan kerusuhan.


Sementara Arjuna hanya diam saja melihat istrinya berbincang-bincang dengan bi Murni.


Ia hanya mengawasinya dari belakang.


"Ya, tuan kecil sedang sakit perut karena terinfeksi bakteri." jawab Bi Murni menatap lekat wajah wanita yang berada di sampingnya.


Mendengar jawaban dari BI Murni membuat Dhita merasa terenyuh hatinya.


"Maaf, anda siapa?" tanya bi Murni lagi.


"Oh, Arjuna Calvin Dharmendra pengusaha sukses yang terkenal itu?" Bu Murni merasa senang.


"Ya!" jawab Dhita singkat saja.


"Boleh saya menggendong bayi Anda?" pinta Dhita dengan tatapan penuh iba.


"Boleh nyonya!" jawab Bu Murni yang sengaja memanggil Dhita dengan sebutan nyonya, sebagai tanda penghormatan kepada Dhita.


Tanpa berpikir panjang, Dhita langsing meraih tubuh kecil Ansel. Ada getaran di dalam hatinya, getaran yang mengatakan bahwa bayi itu adalah putra kandungnya.


Namun semua itu ditahannya, Dhita berusaha untuk setenang mungkin walau jauh di dalam hatinya, seakan ia ingin pergi membawa Ansel pergi jauh dari tempat itu.


Dhita mengamati Ansel dari kepala hingga ujung kaki.


"Bayi ini mirip seperti bayi beberapa hari yang lalu aku temui." gumam Dhita lirih.


"Ada apa nyonya?" tanya bi Murni sayup-sayup ia mendengar suara lirih yang keluar dari mulut Dhita.


"Oh, tidak maaf...!" Dhita merasa bingung harus memanggil siapa karena ia sendiri tidak tahu nama dari wanita paruh baya ini.

__ADS_1


"Panggil saja bi Murni, saya bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah majikan saya."


"Oh ya bi Murni, kalau boleh tahu kemana majikan anda? mengapa dia tidak menunggui putra mereka disini?" Dhita merasa sangat heran,


Ansel yang telah berada di dalam gendongan Dhita, mulai mencari-cari sesuatu dengan memiringkan kepalanya ke arah dada Dhita.


"Sepertinya dia haus." ucap Dhita memandang kearah bi Murni.


"Ya, nyonya tapi sejak tadi tuan kecil menolak di berikan susu formulanya."


"Mengapa susu formula? apakah ibunya tidak bisa memberikan ASI kepada nya?"


"Ya nyonya, majikan saya tidak bisa memberikan ASI karena sibuk bekerja!"


"Apakah boleh saya memberikan ASI saya kepada bayi ini?" tanya Dhita dan dia berharap kalau bi Murni akan mengijinkan dirinya memberikan ASI eksklusif kepada Ansel.


"Boleh nyonya!"


"Terimakasih!"


Kemudian Dhita mengambil posisi duduk agar lebih nyaman memberikan ASI kepada Ansel.


Arjuna hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang tidak pernah berubah.


Dhita mulai memberikan ASI nya kepada Ansel, dan bayi itu mulai menikmatinya dengan napas yang terengah-engah karena lahapnya.


"Namanya siapa bi?"


"Ansel Abraham nyonya!"


"Nama yang bagus!"


Dhita merasakan kebahagiaan tersendiri dengan memberikan ASI itu kepada Ansel. Dhita merasa rasa rindunya kepada Ardhi, sedikit terobati.


"Melihat Ansel, saya teringat putra saya yang hilang!" gumam Dhita entah kepada siapa.


Namun bi Murni yang mendengarnya langsung bertanya.


"Hilang? bagaimana bisa nyonya?"


"Ya, saya memiliki dua bayi kembar, laki-laki dan perempuan." Dhita menghela napas.


"Namun sayangnya bayi laki-laki saya hilang sehari setelah di lahirkan." lanjut Dhita dengan air mata yang mulai menetes.


"Saya ikut bersedih nyonya, semoga saja bayi anda segera ditemukan." ucap bi Murni.


"Terima kasih Bu Murni, semoga Ansel cepat sembuh!" ucap Dhita mendoakan Ansel.

__ADS_1


Hanya saja Dhita tidak mengetahui bahwa Ansel adalah putra kandungnya, namun ikatan batin antara ibu dan anak ini sangat kuat.


Dan itu terbukti saat Dhita menyudahi memberikan ASI kepada Ansel yang telah lebih dahulu menangis.


__ADS_2