Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 183 Kehormatan kami


__ADS_3

Mendengar ucapan ayahnya, Almira meletakkan piring yang dipegangnya kemudian memeluk erat tubuh sang ayah tercinta.


Hal yang sama pun di lakukan oleh Rena, sebagai istri ia berusaha untuk tetap menjaga keharmonisan rumah tangganya yang mungkin tidak sebahagia orang lain.


Namun, Rena menganggap semua itu hanyalah ujian yang harus ia hadapi sebelum mereka mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Pi, Kami juga merasa sangat beruntung memiliki papi, bagi kami papi adalah sumber kehormatan yang akan selalu kami junjung tinggi." ucap Almira menyahuti ucapan ayahnya.


"Ya, kami juga merasakan bahwa kau adalah suatu anugerah yang dikirimkan Tuhan untuk memberikan warna di dalam kehidupan kami. " Rena pun ikut memberikan semangat untuk suaminya.


"Jujur selama kau kehilangan penglihatanmu, kami tidak pernah mengalami kekurangan apapun, walau kau tidak bisa lagi menafkahi kami sekalipun, kami tidak pernah merasa tidak tercukupi." Rena melanjutkan ucapannya.


Reyhan merasa terharu dengan ucapan dari istri dan putrinya yang seakan mereka tidak pernah lelah untuk memberikan motivasi semangat kepada dirinya.


"Terimakasih kalian berdua adalah lentera di setiap hariku, kalian telah menerangi jalanku yang tidak terarah." ucap Reyhan dengan berlinang air mata., kemudian jatuh menetes di kedua pipinya.


"Pi, jangan menangis," Almira pun ikut meneteskan air mata.


Kedua tangannya mengusap kedua mata ayahnya yang telah di basahi oleh air mata dengan lembut.


"Sayang, kau harus kuat, yakinlah semua pasti ada hikmahnya." Rena masih sama seperti yang dulu, masih memanggil suaminya dengan kata-kata sayang.


"Bagaimana perkembangan resto kita?" tanya Reyhan kemudian.


Reyhan mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri, agar tidak terlalu lemah di mata anak dan isterinya.


"Semua berjalan dengan lancar, resto kita semakin maju dan penghasilan kita semakin bertambah." jawab Rena, karena memang dirinyalah yang mengelola restoran tersebut.


Ya, memang selama ini Rena dan Almira tidak pernah merasa kekurangan apapun, di karenakan Family cafe tidak pernah sepi pengunjung.


Dan, dari sanalah mereka mendapatkan uang untuk memenuhi segala kebutuhan mereka. Di tambah lagi, Arjuna tidak pernah lupa setiap bulan mentransfer sejumlah uang untuk mereka sekeluarga, karena Arjuna mengetahui kondisi adiknya yang tidak memungkinkan untuk bekerja.


Namun, uang dari kakak iparnya tidak pernah Rena pakai. Ia hanya menyimpannya saja di dalam kartu ATM.


"Mi, bagaimana kalau papi kita bawa ke rumah sakit, siapa tahu di sana ada metode pengobatan lain." Almira tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide.


"Segala pengobatan telah di lakukan Re, tapi tidak seorang dokter pun yang berhasil menyembuhkan papi mu." Rena menyahuti gagasan putrinya.


Memang dua puluh tahun yang lalu, segala pengobatan telah di lakukan. Bahkan, operasi mata di luar negeri pun telah dilakukan. Namun, tidak satu pun yang berhasil, di karenakan retina mata Reyhan telah rusak secara permanen.


"Oh," desah Almira dengan raut wajah sedih.


"Sudahlah nak, mungkin ini memang sudah menjadi ketentuan yang di atas, hidup papi harus seperti ini." sahut Reyhan ketika mendengar suara sedih keluar dari mulut putrinya.


"Apapun keadaannya kita harus bersyukur, agar hidup kita terasa lebih nikmat." ucap Rena mengajari putrinya agar menjadi manusia yang selalu bersyukur.

__ADS_1


Almira pun mengangguk, mengiyakan ucapan ibunya. Akhirnya, mereka bertiga saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.


DREET....


DREET...


DREET...


Ponsel Almira berdering, menampakkan nama Dia di layar berandanya.


"Ya, hallo." Almira mengangkat panggilan dari Diana.


"Bagaimana kabarmu dan keluarga?" tanya Dia terdengar cemas.


Rupanya Dia merasa khawatir dengan sahabat + sepupunya itu. Di karenakan Almira tidak menghubunginya sama sekali.


"Kabar kami baik-baik saja." jawab Almira dengan santai.


"Oh, syukurlah. " ucap Dia lega.


"Kau dimana?" tanya Almira saat mendengar suara seorang pria.


"Di rumah Uda,"


"Tidak juga, ada Aunty Puri disini." sahut Dia dengan cepat dan membuat Almira melongo.


Sedangkan dari luar pagar rumah yang menjulang tinggi, tampak lah seorang pria sedang mengamati ketiganya.


Pria tampan yang telah terbangun dari tidurnya, dan menjadi lebih tenang ketika telah meminum obat penenang.


Siapa lagi kalau bukan Ans, pria yang telah terbakar amarah sebelumnya karena misi pertamanya gagal. Dan membuat dirinya ingin mencari hiburan dengan mendatangi rumah Almira.


"Re, siapa yang di sana?" tanya Rena ketika melihat Ans berdiri di depan pintu gerbang yang tertutup.


Mendengar pertanyaan dari ibunya, Almira menoleh ke arah pintu gerbang. Dan benar saja, seorang pria sedang melambaikan tangan kepadanya.


"Apakah itu Ans?" pikir Almira.


"Mi, pi, aku kesana dulu ya, mau lihat siapa yang datang." Almira pamit kepada kedua orang tuanya.


"Ya, suruh masuk saja, kasihan kalau dibiarkan di luar." pesan Rena kepada putrinya yang langsung di angguki oleh Almira.


Setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya, Almira bangkit lalu melangkah kan kakinya menuju ke arah pintu gerbang.


Karena hari telah remang-remang menjelang malam, membuat Almira tidak begitu jelas melihat wajah Ans.

__ADS_1


"Kau kah Ans?" tanya Almira dengan suara agak ragu.


Almira memicingkan matanya, dan ia tersenyum setelah mendengar suara pria yang baru saja di kenalnya.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Almira setelah Ans menyahut dan mengatakan kalau itu memang dirinya.


"Ingin mengajakmu jalan." jawab Ans to the poin.


"Untuk apa?"


"Mencari angin segar!"


Almira terdiam mematung di depan pintu gerbang tanpa membukanya terlebih dahulu. Sedangkan Ans, berdiri dengan menatap wanita cantik di depannya.


"Re, suruh masuk saja temanmu!" Terdengar suara Rena berteriak dari arah halaman rumah, tempat mereka duduk bertiga sebelumnya.


"Baik mi!" jawab Almira kemudian membuka pintu gerbang.


Tanpa di suruh kembali Ans menyelonong memasuki halaman rumah mewah itu.


"Hei, aku kan belum menyuruhmu masuk!" teriak Almira.


"Sudah." jawab Ans singkat.


Ans berjalan bergegas menuju ke arah kedua orang tua Almira. Sementara Almira hanya bisa mengikutinya dari belakang.


"Malam tante, malam om." sapa Ans dengan ramah.


Ans sengaja melakukan hal itu, agar kedua orang tua Almira bisa menerimanya dengan baik.


"Malam dengan siapa ya?" Rena bertanya balik.


"Kenalkan nama ku Ans, om, tante." jawab Ans dengan mengulurkan sebelah tangannya.


Rena menyambut uluran tangan Ans. kemudian Ans mengulurkan tangannya ke arah Reyhan. Ans bingung mengapa pria itu tidak menyambut uluran tangannya.


Melihat hal itu, Rena segera meraih tangan suaminya, lalu menjabat tangan. Ans.


"Rupanya dia tidak bisa melihat," gumam Ans dengan pelan hampir tidak terdengar.


"Re, ajak temanmu masuk!" perintah Rena kepada putrinya.


Sebelum Dhita menjawab, Ans telah terlebih dahulu menjawab nya.


"Tidak perlu tante, sebenarnya aku ke sini untuk bertemu dengan Almira dan ingin mengajaknya keluar malam ini." jawab Ans.

__ADS_1


__ADS_2