Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 144 Operasi Caesar


__ADS_3

Malam itu hujan turun dengan derasnya, suara petir menyambar-nyambar, menggetarkan alam semesta. Di keheningan malam yang gelap gulita, angin yang berhembus kencang, menambah pekatnya suasana malam.


Di dalam sebuah mansion mewah, tampak seorang wanita tengah merintih kesakitan berguling-guling sendiri di dalam kamarnya.


Namun saat itu telah larut malam hingga tidak ada seorang pun yang bisa mendengarnya karena semua orang telah terlelap di alam mimpi masing-masing.


Dhita berusaha menjangkau ponselnya yang terletak di atas meja di samping ranjangnya.


Dengan tangan gemetar Dhita mencari nomor ponsel Arjuna yang saat itu sedang berada di kantornya. Di karenakan ada suatu masalah di kantor itu.


" Mas... please, angkat mas!" desah Dhita di antara rasa sakitnya.


Namun ponsel itu tetap berdering, tidak ada tanda-tanda orang mengangkat panggilannya.


Tak hanya sekali bahkan berkali-kali, Dhita tetap mencoba untuk menghubungi suaminya.


" Lebih baik ku hubungi mommy," gumam Dhita lirih karena rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi.


Namun sama seperti sebelumnya, tidak ada respon dari ibu mertuanya itu.


" Oh, mungkin mommy telah tertidur. Rena, ah ya.. aku akan hubungi Rena," Dengan tangan gemetar, Dhita mencoba untuk menghubungi Rena.


Tetap saja sama, Rena pun tidak mengangkat panggilan ponselnya. Dhita semakin panik.


" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, tolong aku ya, Allah," lirih Dhita mengiba, cucuran air mata telah mengalir membasahi pipinya.


Sakit kontraksi yang selama ini sering ia rasakan, namun tidak sesakit kali ini, rasa sakitnya benar-benar sangat menyakitkan.


Dhita yang saat itu akan melahirkan merasakan ada sesuatu yang mengalir di area bawahnya.


" Darah." lirih Dhita, seketika wajahnya pucat- pasi melihat darah yang mengalir di kakinya.


" Aku harus hubungi mas Ar," gumamnya seraya kembali berusaha menghubungi ponsel suaminya.


Namun masih tetap sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban.


Akhirnya Dhita memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada suaminya.


TRING.


TRING.


TRING.


Suara notifikasi di ponsel Arjuna.


Arjuna yang baru saja selesai mengatasi masalah di kantornya bersama Eza, segera membuka ponselnya.


Kedua mata Arjuna terbelalak ketika melihat puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya, dan lebih terkejutnya lagi, ketika ia membaca pesan singkat dari istrinya itu, yang berisi kalau saat ini Dhita sedang mengalami kontraksi tanda-tanda melahirkan.

__ADS_1


" Za, aku pulang terlebih dahulu, kau tetap di sini awasi setiap keadaan!" perintah Arjuna kepada Eza yang saat itu baru saja duduk di kursinya.


" Baiklah, tapi... ada apa? mengapa kau terlihat panik dan terburu-buru?" tanya Eza, tidak seperti biasanya sahabatnya itu bersikap demikian.


" Tidak ada apa-apa, lakukan saja perintah ku!" kemudian Arjuna pun pergi tanpa memperdulikan Eza yang menatapnya dengan heran.


Arjuna melangkah dengan terburu-buru menuju mobil, kemudian melajukan nya dengan cepat.


Hanya lima belas menit, akhirnya Arjuna sampai di mansion nya.


Setelah memarkir mobilnya Arjuna segera bergegas hendak masuk kedalam mansion, namun ia berdecak kesal sembari mengumpat karena pintu terkunci.


DORR


DORR


DORR


Arjuna menggedor-gedor pintu, setelah berkali-kali berteriak memanggil para pelayan dan semua orang yang berada di dalam mansion itu, namun tidak ada jawaban.


Refleks Arjuna langsung menerjang pintu itu.


Tendangan pertama gagal.


Namun Arjuna tidak berputus asa ia kembali berusaha menerjang nya kembali.


Security yang melihatnya segera menghampiri majikannyannya berniat membantunya.


" Baik tuan," jawab Security itu dan langsung ikut menerjang pintu itu dan....


GUBBRAAKK


Suara pintu terbuka.


Segera Arjuna masuk dan langsung menuju ke kamar dimana istrinya berada.


" Dhita...!!!" teriak Arjuna ketika melihat istrinya sedang terkapar di lantai.


Darah segar mengalir deras di area bawahnya memenuhi sebagian tubuhnya.


" Dhi...! bangun sayang, ada apa denganmu?" suara Arjuna terdengar bergetar.


Namun tubuh itu telah terlanjur lemah tidak berdaya, banyak darah nya yang terkuras habis karena mengalami pendarahan.


Melihat hal itu, Arjuna menjadi sangat panik, berbagai macam pikiran berkecamuk di otaknya. Hingga tanpa sadar ia berteriak.


" DHITAAAA !!!"


Dan membuat semua orang yang tertidur di dalam kamar masing-masing terbangun karena terkejut.

__ADS_1


Mommy Rita, Rena dan seluruh pelayan yang berada di dalam mansion tersebut keluar dari kamar masing-masing.


Dan mereka mendapati Arjuna yang sedang berjalan menuruni tangga dengan menggotong tubuh istrinya yang terkulai tak berdaya.


Mommy Rita dan Rena mengejar Arjuna yang telah berlari menuju mobil.


" Ar ! tunggu Ar !!" teriak mommy Rita yang juga ikut panik melihat putranya berlari sambil menggotong istrinya.


Namun Arjuna tetap tidak menghiraukan ibunya yang sedang memanggil.


" Ar, Dhita kenapa?" Rena pun ikut bertanya, walaupun suaranya mungkin tidak terdengar oleh Arjuna. Di karenakan Arjuna telah berada di dalam mobilnya, sedangkan istrinya yang sedang pingsan di dudukkan di sampingnya.


" Bertahanlah, aku yakin kau bisa melewati semua ini." ucap Arjuna berusaha memberi kekuatan kepada istrinya, walau sebenarnya Dhita tidak bisa mendengar ucapannya.


Sambil mengendarai mobilnya, tangan Arjuna mengelus perut Dhita.


" Dady Janji padamu sayang, kalian bertiga pasti akan selamat!" ucap Arjuna, tak terasa air matanya mulai berlinang di sudut matanya.


Hospital Bethesda Husada.


Dirumah sakit itulah Arjuna membawa istrinya untuk mendapatkan pertolongan.


Di ruang persalinan Dhita berbaring tak sadarkan diri. Arjuna mendampingi Dhita di ruangan itu.


" Maaf tuan, kami harus segera melakukan operasi Caesar, demi keselamatan ibu dan bayinya." ucap dokter Alya yang di dampingi oleh dokter Eina. Mengingat telah begitu banyak darah yang mengalir.


Dokter Alya sengaja meminta bantuan dari dokter Eina karena sebelumnya dokter Eina adalah dokter yang pernah menangani Dhita, sebagai pasiennya.


" Lakukan segala hal yang terbaik untuk istri dan anak-anak ku dok, lakukan dengan cepat!" Arjuna memberi perintah.


" Baik tuan, kami akan berusaha semampu kami, dan kami akan lakukan yang terbaik!" jawab Dokter Eina menyanggupi.


Tak lama kemudian, Dhita di bawa ke ruang operasi, karena sebentar lagi ia akan menjalani operasi Caesar.


GLEDEK...


GLEDEK...


GLEDEK...


Bunyi roda Brankar dorong, membawa Dhita keruang operasi.


Di dalam ruangan operasi, Arjuna mendampingi istrinya dengan setia. Dengan segenap jiwa ia berdoa memohon kepada yang maha kuasa agar istrinya di berikan keselamatan serta kemudahan dalam menjalani operasi Caesar.


Lampu operasi pun menyala, menandakan operasi akan segera berlangsung.


" Bismillah !" bisik Arjuna di telinga istrinya yang masih tidak sadarkan diri.


Para tim dokter bekerja keras melakukan kewajiban nya, sementara Arjuna terus berdoa dan berdoa sembari menatap lekat ke wajah istrinya yang terlihat pucat.

__ADS_1


Wajah yang selalu menampakkan senyum indah di bibirnya, kini hanya tersisa wajah yang datar dan pucat.


__ADS_2