Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 102 Tinggal Dirumah Abang.


__ADS_3

Bellinda mengajak Dhita menaiki tangga, lalu membawanya ke dalam sebuah kamar yang tampak bersih dan rapi.


" kau bisa tinggal di sini." ucap Bellinda seraya meletakkan koper yang di bawanya.


" Indah sekali kamarnya, makasih ya Bell." ucap Dhita terharu dengan perlakuan Bellinda yang sangat baik kepadanya.


" jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri." Bellinda membelai kepala Dhita, mendapat belaian lembut dari istri kakak angkatnya membuat Dhita tidak bisa menahan tangis.


Dhita memeluk erat Bellinda yang sedang membelai rambutnya, wanita cantik yang notabenenya adalah istri dari kakak angkatnya ini sangat baik dan perhatian.


Namun di dalam hati Bellinda bertentangan dengan sikap dan perilakunya kepada Dhita.


" Bagaimana bisa aku menjaga suamiku, jika wanita ini tinggal disini, semoga saja apa yang aku takutkan tidak terjadi." batin Bellinda seraya membalas pelukan Dhita.


Ya, Bellinda merasa takut jikalau Andrian akan menaruh hati kembali kepada Dhita. Mengingat mereka adalah mantan sepasang kekasih. Ditambah lagi dengan pernikahan Dhita yang tidak bahagia.


Namun Bellinda berusaha untuk menyembunyikan semua itu.


" Boleh aku panggil kau kakak?" tanya Dhita kepada Bellinda.


" Boleh, adikku."


Mendapat panggilan adik dari Bellinda, membuat sejuk di dalam hati Dhita yang sedang gersang saat ini.


" Kakak," lirih Dhita.


Bellinda dan Dhita saling berpelukan.


Andrian yang sedari tadi berdiri di balik pintu, merasa sangat bahagia melihat Bellinda dan Dhita saling berpelukan. Ia berharap Dhita bisa menemukan kembali kebahagiaannya.


Diam-diam Andrian menghubungi Arjuna, ia tidak ingin di salahkan kembali seperti waktu dulu, ia yang pernah babak belur di tangan Arjuna.


" Hallo Ar, Dhita berada di rumahku, dia dalam keadaan baik-baik saja, tapi biarkan dia tenang dulu,"


Andrian mengirim pesan suara kepada Arjuna. Karena telah berkali-kali ia menghubunginya, namun tak juga di angkat.


" Aku senang kalian akur," Andrian mengejutkan kedua wanita itu yang sedang saling berpelukan.


" Andrian,"


" Abang,"


Seru keduanya hampir bersamaan.


" Oh ya, kami belum takziyah ke rumah Reyhan." ucap Andrian tiba-tiba.


" Nanti saja, tunggu Glenn bangun," jawab Bellinda."


Mendengar pembicaraan Abang dan istrinya,


membuat Dhita ikut bicara.


" Sudah bang, kalian pergi saja, Glenn nanti biar aku yang urus." celetuk Dhita menengahi Andrian dan Bellinda.

__ADS_1


" Baiklah, terima kasih ya!" Bellinda tersenyum senang, kembali ia memeluk Dhita.


" Aku akan bersiap-siap!"papar Bellinda melerai pelukannya, kemudian pergi dari kamar itu untuk menghias diri.


Andrian pun mengekor di belakang Bellinda.


Karena ia tidak ingin jika berlama-lama bersama Dhita, ia khawatir istrinya akan merasa cemburu.


Sementara itu Dhita segera mengemasi pakaiannya dan menaruhnya di dalam lemari yang telah tersedia di kamar itu.


Kemudian ia bergegas pergi ke kamar Glen yang telah di ceritakan oleh Bellinda.


Dhita membuka pintu kamar Glen, tampak terlihat olehnya bayi kecil mungil tengah tertidur pulas. Dhita menghampiri Glen yang tertidur di dalam box bayi.


Perlahan Dhita menyentuh pipi mungil Glen, mengusapnya dengan lembut.


CUP.


Dhita mengecup kening Glen dengan penuh kasih sayang. Tak terasa air matanya menetes.


" Andai saja nak, andai saja aku bisa memiliki putra selucu dirimu." gumam Dhita lirih.


Mungkin dengan kehadiran Glen di dalam hidupnya, akan membuat Dhita berubah pikiran.


" OOEEEKKKK.. OOEEEKKKK..." Glen yang tertidur langsung menangis.


" Eh, sayang kenapa nangis, ngompol ya...!" Dhita berusaha meneliti apa yang membuat bayi itu menangis.


" Oh, kau ngompol, sini biar Aunty yang beresin." Dhita berbicara dengan sangat akrab kepada bayi itu.


Sementara Glen hanya menggeliat di tempat tidurnya.


" Eeaakk, eaakk...!" suara Glen meliukkan tubuhnya kekanan dan kekiri saat Dhita mengusap pantatnya dengan tisu basah.


" Dah, selesai!" seru Dhita dengan senang.


Kemudian ia segera meraih tubuh mungil Glen dan memangkunya dengan penuh kasih sayang.


" Glen sayang, papa dan mama akan pergi, Glen disini ya sama Aunty." ucap Dhita berkali-kali mencium bayi mungil Glen.


" Eeaakk, eaakk !" suara Glen seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Aunty nya.


Hati Dhita sedikit terobati dengan kehadiran Glen di sisinya. Senyum mulai mengembang di bibir manisnya.


Sedangkan di balik pintu Bellinda dan Andrian yang telah siap untuk pergi, memandang Dhita dengan penuh harapan.


Mereka berharap Dhita akan segera melupakan semua kemarahannya agar secepatnya bisa kembali bersama suaminya.


Sebelumnya Andrian dan Bellinda menerima panggilan ponsel dari Arjuna. Rupanya Arjuna yang telah menerima pesan suara dari Andrian segera menghubunginya.


Arjuna menceritakan semua kesalah pahaman di antara mereka. Andrian mengerti


dan ia berharap agar Secepatnya mereka segera bertemu.

__ADS_1


" Eh Glen putra mama, sudah bangun rupanya!" seru Bellinda yang saat ini telah berpenampilan cantik.


Dengan memakai dress panjang di lengkapi Hijab yang menutupi kepalanya, membuat Bellinda terlihat sangat cantik dan Anggun.


" Mama, Glen ngompol ma!" ucap Dhita seolah suara itu berasal dari Glen.


Mendengar hal itu, Bellinda pun tertawa.


" Tidak apa-apa Dhi, jika kami menitipkan Glen ke kamu?" tanya Bellinda merasa tak enak hati jika harus meninggalkan putranya bersama Dhita.


" Benar, tidak apa-apa, lagi pula Glen sangat anteng dari tadi." jawab Dhita dengan senyum yang mengembang.


" Lagi pula Glen sangat senang dengan Aunty ya kan Glen." ucap Dhita kepada bayi itu yang hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.


" Eeaakk, eeaaakk.!" suara Glen lagi. Seolah menjawab ucapan Dhita.


" Tuh kan dia aja mau sama Aunty nya." ucap Dhita meyakinkan Bellinda.


" Baiklah, jika itu maumu, aku janji kami akan sebentar saja."


Dhita mengangguk


" Dan jika kau butuh sesuatu minta saja pada bibj." lanjut Bellinda


Setelah yakin kalau putranya tidak akan ikut,


Andrian dan Bellinda segera pergi ke rumah Reyhan untuk sekedar mengucapkan belasungkawa.


*


*


Di rumah Reyhan.


Suasana berkabung masih menyelimuti rumah kediaman Reyhan.


Masih ada beberapa orang yang hilir mudik di rumah itu, mungkin mereka sanak famili yang tinggal jauh.


Andrian dan Bellinda memasuki rumah Reyhan yang langsung di sambut oleh Rena.


" Maaf, kami tidak bisa menghadiri pemakaman almarhum pak Teddy, karena aku baru saja pulang dari luar kota." ucap Andrian menjelaskan kedatangannya.


" Ya, kami juga turut berduka atas meninggalnya pak Teddy, semoga beliau Khusnul khotimah." Bellinda menimpali.


" Tidak apa-apa, mungkin sudah takdir papa harus segera pergi." jawab Reyhan sambil menerima uluran tangan Andrian, yang kemudian membuat keduanya berpelukan.


" Silahkan duduk dulu," ucap Rena karena sejak dari tadi tamunya hanya berdiri.


" Ya trerimakasih." ucap Belinda.


Andrian dan Reyhan yang telah melerai pelukannya, juga ikut duduk di sofa.


Seorang pembantu datang dengan membawa makanan dan minuman di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2