
" HM, pup nya lumayan juga ya!" gumam Rena seraya meraih tisu basah yang di berikan mommy Rita kepadanya.
" Cucu Oma, kecil-kecil pup nya banyak juga!" mommy Rita menimpali, kemudian mereka sama-sama tertawa sambil membersihkan pup yang di keluarkan Rere.
Sedangkan bayi mungil itu hanya menggeliat seraya tangannya menggapai-gapai, karena kedua kakinya dipegang oleh ibunya.
Setelah selesai membersihkan pup putrinya Rena dan mommy Rita membawa Rere ke depan rumah, Rupanya mereka ingin berjemur, walaupun sebenarnya hari telah terlalu siang. Dan sinarnya terasa menyengat.
" Ini sudah terlalu siang, seharusnya pagi -pagi sekali Rere berjemur, karena cahaya matahari pagi itu sangat baik untuk kesehatan bayi." ucap mommy Rita menasehati Rena.
Mommy Rita mengurungkan niatnya untuk menemani cucunya berjemur, karena panas matahari terasa menyengat.
" Jadi setiap pagi usahakan untuk berjemur sekitar sepuluh menit saja, agar tubuh Rere tetap bugar." lanjut mommy Rita.
" Iya mom!" jawab Rena, sebenarnya ia ingin mengucapkan terimakasih tapi diurungkannya karena ia masih mengingat ucapan ibu mertuanya itu.
" Mommy senang sekali jika kau mau mendengarkan semua nasehat ku!" ucap mommy Rita yang merasa beruntung memiliki menantu-menantu yang baik dan selalu mendengarkan nasehatnya.
Biasanya anak muda zaman sekarang hanya ingin melakukan semaunya sendiri, tanpa perduli dengan nasehat-nasehat dari orang tuanya.
" Ren!" kali ini mommy Rita terlihat lebih serius.
" Ya mom,"
" Dua hari lagi acara tujuh bulanan untuk Dhita, mommy ingin kau dan Rere juga hadir di sana, kalau kau tidak keberatan, kau dan Rere boleh tinggal di sana sampai suamimu pulang." mommy Rita menatap lekat wajah Rena, berharap menantunya itu akan bersedia menerima ajakannya.
Rena mengangguk, membuat mommy Rita tersenyum lebar.
" Baik mom, aku ikut mommy saja, lagi pula Reyhan pasti tidak akan keberatan jika aku tinggal di sana." jawab Rena.
Justru ia merasa sangat senang karena akan lebih memiliki banyak waktu untuk bersama dengan sahabatnya. Jujur ia sangat merindukan saat-saat indah seperti dulu ketika mereka tinggal bersama dirumah kos-kos an.
*
*
Sang jagad merah mulai merangkak menuju keperaduannya, bias-bias cahaya tergurat indah mengukir langit. Sebagai pertanda malam telah tiba.
Malam pun semakin larut, namun Arjuna masih saja sibuk mengetik laptop di ruang kerjanya, tanpa memperdulikan wanita yang sedang duduk menunggu di sisinya.
__ADS_1
Citra yang sejak setengah jam yang lalu, berada di sana untuk menunggu sang suami.
Malam ini merupakan malam miliknya, yang berarti semalaman penuh ia akan bersama dengan suaminya.
Namun Arjuna seolah mengacuhkannya, ia masih sibuk memeriksa berkas-berkas laporan dari kantornya.
" Ar, sudah malam, lebih baik kau istirahat saja!" ucap Citra yang mulai merasa jenuh menunggu pria yang sangat di cintainya.
" Tanggung, biar aku selesaikan saja!" jawab Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Sebenarnya itu hanya alasan Arjuna saja, karena saat ini, ia tidak sedang bekerja, melainkan hanya mengotak Atik galeri laptopnya yang berisi foto-foto Dhita.
Ya, foto dari mulai pertama kali mereka bertemu hingga momen-momen yang paling berharga dan mengesankan.
Arjuna merasa tidak pernah bosan memandangi wajah cantik Dhita yang selalu membuat dirinya merasa rindu. Arjuna masih terus asyik mengedit foto Dhita tanpa memperdulikan Citra yang telah tertidur.
Degh.
Tiba-tiba Arjuna menghentikan gerakan tangannya yang mengotak atik laptop.
Setelah ia melihat Citra yang tertidur di sofa yang berada di sampingnya.
" Lebih baik aku pindahkan dia." gumam Arjuna lagi, sembari beranjak dari tempat duduknya. Lalu meraih tubuh Citra dan di gendongnya menuju ke atas ranjang.
" Rupanya dia berat juga!" gumam Arjuna, memang Postur tubuh Citra lebih besar dan lebih tinggi dari Dhita yang bertubuh mungil.
Arjuna segera merebahkan Citra yang masih tertidur pulas.
KREEKK.
Kimono Arjuna tersangkut di gelang Citra, hingga membuat kimono nya sedikit robek di bagian depan.
" Ya Tuhan, ada-ada saja!" gumam Arjuna sembari melepaskan kimono nya yang tersangkut.
Kemudian keluar dari kamar itu untuk menemui Dhita, entah mengapa ia merasa sangat merindukan wanita aneh itu.
TAP.
TAP.
__ADS_1
TAP.
Suara langkah kaki Arjuna bergemerisik menyentuh lantai. Namun baru saja Arjuna membuka pintu kamar Dhita, tapi ia tidak melihat istrinya itu ada di sana.
" Dimana dia?" ucap Arjuna bingung.
" Mungkin di bawah!" Arjuna teringat kalau Dhita sering turun ke bawah untuk mengambil air minum. Sebab istrinya itu sering merasa kehausan.
Namun baru saja Arjuna tiba di bawah, ia melihat Dhita sedang duduk mengobrol bersama Bu Devina.
" Hei, belum tidur? ini sudah malam tidak baik untuk kesehatan mu dan buah hati kita." ucap Arjuna yang saat itu telah berada di samping istrinya.
" Eh, mas Ar kok belum tidur mas? Citra mana?" Dhita berpura-pura tegar menanyakan hal itu kepada suaminya, walau pada kenyataan yang sebenarnya ia sangat merasakan sakit di hatinya.
Di tambah lagi ketika kedua matanya menangkap bagian kimono Arjuna yang sedikit robek, Karena masih lekat teringat di ingatannya kalau kimono itu tidak robek sebelumnya walau hanya sedikitpun.
" Citra telah tidur!" jawab Arjuna yang tidak begitu di dengar oleh Dhita karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada robekan kimono yang sedang di pakai oleh suaminya.
" Apakah mereka sudah melakukannya?
memang kenapa kalau mereka melakukan hal itu?
bukankah itu sudah menjadi hak mereka berdua?
Ayo Dhita tunjukkan kalau kau bisa!" batin Dhita berbagai macam pertanyaan bersarang di pikirannya.
Dhita menyemangati dirinya sendiri, ia pasti bisa melalui semua itu. Lagi pula bukankah ia sendiri yang menginginkan itu semua terjadi. Jadi, untuk apa ia menyesalinya.
" Ayo ku antar kau kekamar!" ajak Arjuna.
" Ma, aku rasa lebih baik kalau mama juga tidur, angin malam tidak baik untuk kesehatan!" lanjut Arjuna menyarankan agar ibu mertuanya itu juga tidur.
Kemudian Arjuna melangkah menggandeng Dhita menuju ke kamarnya. Kini Arjuna tak ubahnya seperti seorang bodyguard yang menjaga dua wanita sekaligus. Setelah mengurus Citra yang merupakan istri keduanya, kini ia juga harus mengurus Dhita, istri pertamanya.
Bu Devina yang juga melihat kimono menantunya yang sedikit robek, ia pun memahami apa yang telah terjadi. Di dalam hati ia merasa sangat senang, karena ia menduga kalau putri dan menantunya telah melakukan ***********.
" Mas, kembalilah ke kamarmu!" ucap Dhita saat ia telah berbaring di tempat tidurnya.
" Ke kamarku? memangnya ini bukan kamar ku?" Arjuna mengerutkan kening, mendengar ucapan istrinya yang aneh itu.
__ADS_1