Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 92 Musibah


__ADS_3

Di malam hari.


Eza tampak sibuk menghubungi seseorang, berkali-kali ia berusaha namun tetap saja tidak bisa terhubung.


Wajahnya menunjukkan kecemasan.


Sementara itu di waktu yang sama mommy Rita melakukan hal yang sama, berkali-kali namun tetap tidak bisa terhubung juga.


Mommy Rita mondar-mandir seraya bergumam seorang diri.


" Kebiasaan, dalam situasi genting seperti ini dia selalu saja tidak bisa di hubungi."


" Hallo!" mommy Rita menjawab panggilan ponsel dari Eza.


" Bagaimana tante?" tanya Eza dengan sangat khawatir.


" Tidak bisa di hubungi." jawab mommy Rita.


" Sama, aku juga tidak bisa menghubunginya Tante."


" Apa yang harus kita lakukan?" tanya mommy Rita tak kalah khawatir.


" Secepatnya kita harus ke Amrik Tante, ini urgent!" panggilan di tutup.


" Hallo, Eza...Eza...!" namun panggilan telah berakhir.


Karena panggilan ponselnya telah di tutup oleh Eza, akhirnya mommy Rita memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Arjuna.


" Apa yang dia lakukan, chat saja tidak di baca." gerutu mommy Rita.


*


*


Sementara itu Arjuna yang sedang bersama Dhita di kamarnya, tampak asyik mengobrol.


Sesekali terdengar canda tawa mereka sangat riang.


Arjuna membelai rambut istrinya yang tergerai panjang, terlihat cantik dan menggairahkan.


Mendapat perlakuan lembut dari suaminya membuat Dhita merasa nyaman.


Perlahan Arjuna mendekati wanitanya, semakin lama semakin dekat, semakin dekat.


Hingga jarak di antara mereka hanya beberapa inchi saja.


Dhita pun merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya, ia tidak lagi gemetar ataupun ketakutan saat Arjuna mendekatinya sedemikian rupa.


" Boleh aku....." Arjuna tidak meneruskan kata-katanya karena Dhita telah lebih dahulu mengalungkan kedua tangannya, menyentuh mesra lehernya.


" Aku milikmu, dan kau milikku!" ucap Dhita sedikit berbisik membuat Arjuna merasa yakin kalau istrinya telah sembuh.


" Akhirnya penantian panjang ku akan segera berakhir." gumam Arjuna namun hanya dalam hati.


Tanpa menunggu apapun lagi, Arjuna segera...


Tring.


Tring.

__ADS_1


Tring.


Bunyi notifikasi pesan masuk di beranda ponselnya.


Arjuna mengurungkan niatnya, ia segera meraih ponselnya yang berada di atas laci.


" Ini urgent, aku tunggu di perbatasan desa, kita harus segera ke Amrik, pabrik kebakaran."


Isi pesan dari Eza.


Tring.


Tring.


Tring.


Satu pesan lagi masuk, dari mommy.


" Ar, cepatlah pulang, pabrik kita di Amrik kebakaran."


Arjuna menghembuskan napasnya dengan kasar.


Kemudian ia duduk dengan memijat kepalanya yang tak sakit.


Melihat tingkah suaminya membuat Dhita bertanya-tanya.


" Mas, kenapa, ada apa?" tanya Dhita bertubi-tubi, karena tidak biasanya suaminya bersikap seperti ini.


" Aku harus ke Amrik, pabrik disana mengalami kebakaran." Tutur Arjuna dengan nada suara agak berat.


" Harus malam ini mas?" Dhita terkejut mendengar penuturan suaminya.


" Ya." jawab Arjuna pasrah.


Ya, Arjuna pasrah dengan keadaan yang selalu membuat dirinya berada di dalam dilema.


" Jika memang harus, aku ikhlas mas, aku ikhlas kau pergi kesana," tukas Dhita memberikan dukungan kepada suaminya, karena ia tahu Arjuna sedang merasa berat untuk meninggalkannya.


Walaupun Arjuna telah mendengar pernyataan dari istrinya yang tidak keberatan di tinggalkan olehnya, tetap saja ia merasa enggan untuk pergi dari sisi wanita yang sangat di cintainya.


" Aku akan siapkan pakaianmu mas." ucap Dhita seraya bangkit dari duduknya, ia merapikan kembali penampilannya yang sempat berantakan.


" Pakailah." Dhita menyodorkan setelan jas berwarna hitam yang biasa dipakai Arjuna ke kantor, beruntung Dhita sempat menyimpan pakaian itu di dalam kopernya sebelum mereka pulang kampung, walau sebenarnya Arjuna telah melarangnya.


Arjuna menerima pakaian dari istrinya, kemudian ia pun memakainya.


Dhita memalingkan wajahnya membelakangi Arjuna, ketika pria itu melepas satu persatu pakaian yang dikenakannya, dan menggantinya dengan setelan jas berwarna hitam.


Melihat tingkah istrinya, Arjuna tersenyum.


" Kemarilah!" panggil Arjuna kepada istrinya yang sedang membelakangi dirinya.


"Selesaikan dulu mas." tolak Dhita, ia merasa malu melihat suaminya, sebelum pria itu selesai memakai pakaiannya.


Karena Dhita tak kunjung menghampirinya, akhirnya Arjuna memutuskan untuk mendekati wanita itu.


" Kau tidak apa-apa aku tinggal sendiri?" tanya Arjuna dari arah belakang istrinya.


Arjuna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dhita yang terlihat ramping dan seksi.

__ADS_1


" Tidak apa-apa mas, aku ikhlas!" jawab Dhita.


" Benar?" Tanya Arjuna menggoda istrinya


Dhita mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


Kemudian ia membalikkan badannya, menatap wajah tampan Arjuna.


Wajah yang selalu ia kagumi, wajah yang selalu akan ia rindukan.


" Pergilah, nanti kau terlambat!" Dhita mengingatkan Arjuna, sebab kalau tidak pria ini pasti akan selalu menggodanya.


Sebuah panggilan masuk, rupanya dari Eza.


Namun Arjuna lebih memilih untuk tidak mengangkat panggilan itu, melainkan ia hanya mengirim sebuah pesan yang hanya berisyaratkan simbol-simbol.


Entah simbol apa yang ia tulis, yang jelas setelah itu Arjuna langsung pergi, tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada kedua mertuanya.


" Jaga dirimu baik-baik, jika kau butuh sesuatu hubungi saja mommy atau pak sopir." pesan Arjuna.


" Kau juga jaga dirimu baik-baik, untukku mas, aku tidak butuh apapun, yang ku butuhkan hanyalah kepulangan mu dengan selamat." jawab Dhita, seraya memeluk suaminya untuk yang terakhir kalinya.


Dengan berat hati mereka pun berpisah.


Air mata Dhita mengalir deras saat pria itu telah berlalu pergi meninggalkannya.


" Selamat jalan mas, semoga kau selamat sampai tujuan." lirih Dhita lalu ia memasuki rumahnya berjalan menuju kamarnya.


*


*


" Lama sekali Ar?" Arjuna langsung di sambut dengan pertanyaan oleh sahabatnya yang saat itu sedang duduk di dalam mobil nya.


" Sorry Za!" jawab Arjuna kemudian duduk di samping Eza.


" Pabrik di Amrik kebakaran, kerugian mencapai beberapa triliun, kita harus kesana untuk meninjaunya." papar Eza sambil melajukan mobilnya secepat mungkin.


Arjuna tidak menjawab, melainkan ia meraih ponselnya, berniat untuk menghubungi orang-orang kepercayaannya di sana.


Sedangkan pak sopir yang di perintah oleh Arjuna untuk kembali ke rumah istrinya, segera membanting setir menuju rumah istri majikannya.


Setelah tiba di bandara, Arjuna dan Eza segera menaiki pesawat pribadi yang hanya digunakan saat situasi sedang emergency seperti saat ini.


Pesawat tersebut segera terbang tinggi menembus heningnya malam, membawa kedua pria itu menuju negri Amrik.


Setelah beberapa waktu mereka berada di udara, akhirnya pesawat itu mendarat tepat di


bandara los angeles.


Bandara tersibuk di Amerika serikat.


" Ayo cepat Jagan buang-buang waktu lagi!" seru Arjuna kepada Eza, ia telah tidak sabar untuk melihat kondisi pabriknya setelah kebakaran.


Dengan mengendarai mobil yang telah di sediakan oleh anak buah Arjuna, mereka pergi meninggalkan bandara menuju pabrik.


Benar saja apa yang sedang dipikirkan Arjuna, pabrik yang ia bangun kini hanyalah tinggal nama, di karenakan kebakaran itu melahap habis seluruh bangunan pabrik beserta isinya.


Kerugian yang ia terima kemungkinan besar mencapai tiga triliun rupiah.

__ADS_1


Namun kerugian yang begitu besar tidak membuat Arjuna gentar, ia tetap berusaha untuk membangun kembali pabrik itu.


__ADS_2