
" Sorry Za, tadi aku sedang ngobrol dengan Dhita," jawab Arjuna tenang.
" Kenapa tidak langsung menghubungiku Za,?" tanya Arjuna kemudian.
" Tidak menghubungimu, coba lihat ponselmu berapa kali panggilan ku yang tidak kau jawab?" Eza balik bertanya sambil menekuk mukanya.
Arjuna segera merogoh kantong nya mengambil ponsel miliknya. Kedua mata Arjuna terbelalak saat melihat betapa banyaknya panggilan tak terjawab, panggilan itu sebanyak lima puluh kali.
" Maaf Za," ucap Arjuna lalu duduk di samping Eza.
"Maaf, maaf kamu sih enak Ar, lah aku, disini kedinginan belum lagi istriku sakit dirumah." bantah Eza mengingat istrinya yang ia tinggal sendirian di rumah, karena ia ingin membantu sahabatnya meluruskan masalah.
" Makanya kalau ingin bertindak di pikir-pikir dulu jangan gegabah, kau yang bertindak aku yang nelangsa!" ucap Eza masih dengan kejengkelannya. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya tangannya yang mulai bergerak menyetir mobilnya.
" Oke, nanti sebagai gantinya aku akan jadikan kau sebagai saksi janji suci kami di depan penghulu, tapi sekarang kita ke kampung Dhita dulu untuk menjemput orang tuanya." ucap Arjuna berbinar, tapi tidak dengan Eza, ia justru semakin menunjukkan kedongkolannya.
Tetapi setelah mendengar cerita dari sahabatnya, Eza kemudian tersenyum mengingat begitu lama mereka menderita walau saling mencintai. Oleh karena itu Eza rela jika harus menemani sahabatnya berjuang memenangkan tantangan dari Dhita.
i ini tidak ada lagi rintangan yang melintang di antara hubungan mereka.
" Kau kan sahabat sejati ku Za, berkorban lah sedikit untuk sahabatnya ini." ucap Arjuna.
" Tanpa kau minta pun, aku pasti akan membantumu Ar, karena kau bos ku, jika tidak maka kau pasti akan memecat diriku." ucap Eza sambil tertawa geli.
Bagaimana tidak akan geli beberapa saat yang lalu ia melihat Arjuna yang acak-acakan karena ulah Citra, tapi kini malah Arjuna ingin melamar Dhita pada kedua orang tuanya.
Tiba-tiba Eza teringat sesuatu membuat ia terpaksa menghentikan mobilnya.
" Kok berhenti Za?" tanya Arjuna heran.
" Aku ingin tanya?" Eza menatap wajah sahabatnya.
" Apa?" Arjuna balik bertanya.
" Kau sudah tau alamatnya Ar?" tanya Eza tiba-tiba teringat alamat yang akan mereka tuju, namun sayangnya Eza sendiri tidak tau.
Mendengar pertanyaan dari sahabatnya, Arjuna menepuk jidat.
" Oh my God, karena terlalu bersemangat aku jadi lupa," gumam Arjuna.
__ADS_1
" Bagaimana ini Za, aku bahkan tidak tau alamat nya sama sekali?" Arjuna meminta pendapat kepada Eza yang juga sedang dalam kebingungan.
Tiba-tiba saja Eza teringat sesuatu.
" Aha, aku tau siapa yang bisa membantu kita," ucap Eza dengan senyum sumringah di bibirnya.
" Siapa?" tanya Arjuna penasaran, namun ia juga ikut tersenyum.
" Adikmu, Reyhan." jawab Eza, mengingat pria itu adalah calon suami Rena sahabatnya Dhita yang juga berasal dari satu kampung.
" Hmmm, kenapa tidak ku ingat dari tadi ya!" gumam Arjuna dengan senyum lebar di bibirnya, Arjuna merasa lega.
Arjuna segera menghubungi adiknya yaitu Reyhan, dia menanyakan alamat rumah Dhita secara detail dan lengkap. Tak lupa juga RT/RW nya.
" Sebenarnya aku juga belum pernah ke sana kak, cuma Rena pernah bilang kalau rumah nya dan rumah Dhita letaknya berdekatan." jawab Reyhan, suaranya terdengar jelas dari ponsel.
" Kalau tidak salah nama ayah nya pak Setyo dan ibunya Safitri." ucap Reyhan lagi melanjutkan informasi menurut yang ia ketahui.
" Terima kasih Rey," ucap Arjuna.
" Selamat berjuang kak, hati-hati di jalan!" ucap Reyhan lalu memutuskan sambungan ponselnya.
Karena saat itu telah larut malam, dan suasana jalan raya yang begitu sepi, Eza menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mengingat mereka harus sampai di tempat tujuan secepatnya, agar tidak terlambat menghadiri pesta pernikahan Reyhan dan Rena esok paginya.
*
*
*
Kulon Progo itulah nama desa yang akan di datangi oleh Arjuna dan Eza, terlebih Arjuna yang merasa kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada apa yang ada di desa tersebut.
Bagaimana pun caranya Arjuna harus berhasil menjemput kedua orang tua Dhita sekaligus melamar putrinya.
Tepat jam 02:00 wib, Arjuna dan Eza tiba di desa Kulon Progo. Arjuna dan Eza segera mencari nama pak Setyo dan ibu Safitri, namun karena waktu telah dini hari, membuat mereka kesulitan untuk menemui orang yang bisa di tanya.
" Sepi amat Ar, desa ini seperti tidak ada penghuninya," ucap Eza yang merasakan bulu kuduknya merinding.
Mobil mereka parkir agak jauh dari perkampungan karena kondisi jalan yang sangat sempit. Akhirnya mereka terpaksa berjalan kaki
__ADS_1
" Lihat waktu Za, ini sudah jam 02 dini hari mana ada orang yang lewat jam segini, kalaupun ada itu pasti....HANTU!" teriak Arjuna mengagetkan Eza yang langsung menggelayut di sampingnya.
" Ha...ha....ha...!" Arjuna tertawa puas berhasil menakut-nakuti sahabatnya.
" Sudah Ar, aku menyerah lebih baik aku adu jotos saja dengan para preman dari pada aku harus menahan takut di sini." Eza mulai pucat pasi karena ketakutan, seluruh tubuhnya pun gemetar.
Di saat mereka sedang berjalan tiba-tiba di kejutkan oleh sesuatu yang tampak jelas di depan mereka.
" Za, apa menurutmu itu orang atau..."
" Sudah Ar, jangan tanya itu lagi padaku." Eza memotong ucapan Arjuna bukan apa-apa melainkan karena Eza tidak ingin bertambah takut lagi, bisa-bisa ia kencing di celana.
Sesosok bayangan berbalut kain putih, berjalan perlahan semakin lama semakin dekat ke arah mereka.
Jantung Arjuna dan Eza berdegup kencang.
Deg Deg.
Deg Deg.
Suara detak jantung Arjuna dan Eza seakan sedang berlomba sama-sama ingin terdengar.
Namun pada akhirnya mereka bernapas lega karena yang sedang mereka lihat adalah seorang lelaki paruh baya, yang entah hendak kemana.
" Assalamualaikum !" Lelaki tadi mengucapkan salam setelah jarak mereka agak dekat. Kebetulan lelaki itu hendak pergi ke masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat itu.
" Waalaikumsalam." jawab Arjuna dan Eza serempak.
" Anak muda ini mau kemana?" tanya lelaki itu. Menatap Eza dan Arjuna secara bergantian.
" Sepertinya kalian bukan warga disini?" tanya lelaki tadi.
" Ya pak, kami memang bukan warga desa ini!" jawab Arjuna.
" Ada keperluan apa kalian kemari?" tanya pak pak Setyo lagi.
" Sebenarnya kami kesini ingin menemui pak Setyo !" jawab Arjuna.
" Wah kebetulan saya sendiri, nama saya pak Setyo, ucap lelaki itu dengan senyum sumringah.
__ADS_1
" Kalau begitu kebetulan, saya sendiri sedang mencari anda." ucap Arjuna dengan penuh harapan.