Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 34 Infeksi


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur mengakhiri malam yang begitu panjang. Di dalam sebuah kamar sepasang pengantin masih terlelap setelah menghabiskan malam panjang mereka.


" Beib... bangun... udah subuh ." puri berbisik membangunkan sang suami.


Eza menggeliat, tangannya meraih tubuh sang istri lalu membawanya dalam dekapan hangat.


" Beib.. bangun dong."


Eza membuka kedua matanya.


Memandang wajah sang istri.


" Aku masih.... mau ini..." eza menunjuk arah bawah sang istri dengan mengisyaratkan ke dua bola matanya.


" Jangan dulu ya..." puri menghentikan gerakan eza yang hendak melakukannya dengan kedua tangannya.


" Kenapa ?" eza bertanya mengapa aksinya di hentikan.


" Ini... masih sakit." puri menunjuk *****nya yang telah ***** oleh suaminya.


" Habis semalam kamu nafsu banget."


Mau tak mau eza mengurungkan niatnya, ia tidak ingin menyakiti istrinya.


Apalagi saat ia melihat puri yang susah-payah berusaha menahan rasa sakitnya, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Membuat dirinya sungguh tidak tega.


" Apa yang telah kamu lakukan za, harusnya kamu bisa tahan ." eza merutuki dirinya sendiri.


Masih teringat jelas bagaimana dirinya ******* habis tubuh sang istri yang hanya bisa pasrah, karena semua itu adalah kewajibannya.


*


*


Beberapa menit kemudian mereka berdua telah selesai dengan rutinitas pagi nya.


" Good morning, pengantin baru !" seru citra begitu melihat keduanya keluar dari kamar hotel.


" Good morning too little sister ." jawab puri tersenyum pada adik ipar sepupunya.


" Ada apa ? ngapain di sini ?" eza dengan sikap datarnya.


" Pagi-pagi udah marah-marah." citra menggelengkan kepala nya.


" Beib .... jangan kasar gitu dong, dia kan sepupu kamu." puri mengingatkan suaminya.


" Ya, dia sepupu yang serba nyebelin." jawab eza.


Entah mengapa setiap melihat citra, emosi eza selalu terpancing meskipun citra tidak membuat masalah dengannya.


" Nih, aku cuma di suruh tante nganter ini ." citra melempar dua tiket pada eza.


" Tiket? untuk apa?" eza bertanya.


" Tiket itu untuk kalian honey moon, tante sama om udah gak sabar pengen punya cucu katanya." jawab citra sambil berlalu pergi.

__ADS_1


" Honey moon? kenapa gak kepikiran ya.." bisik eza pada dirinya sendiri.


" Ya udah lah beib... kita turutin aja kemauan mama - papa ." ucap puri.


Akhirnya hari itu juga mereka berdua berangkat ke bali seperti yang telah tertera pada isi tiket tersebut.


*


*


*


Di apartement.


" Citra " ucap dhita ketika membuka pintu.


" Aku kesini mau jemput kamu, yuk berangkat bareng." ajak citra pada dhita yang terlihat sedang kebingungan.


" Tapi ... aku masih belum siap-siap." ucap dhita mengingat saat itu masih sangat pagi.


" Gak apa-apa, aku tungguin " ucap citra.


" Tapi... "


Citra menyelonong masuk.


" Siapa yang.... ?" terdengar sebuah suara dari dalam.


" Arjuna.." mata citra terbelalak ketika ia melihat seaorang pria sedang tiduran di sofa dengan masih berbalut selimut.


" Jadi hubungan kalian udah sejauh ini ?" citra hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di pikirannya pasti mereka sudah*****.


" Ooohhh." hanya itu yang keluar dari mulut citra.


Sebenarnya tujuan citra datang ke apartement tersebut untuk mencari tau keberadaan arjuna, karna sebelumnya ia mendapat info dari mommy Rita bahwa putranya tidak pulang semalam.


Citra duduk di samping arjuna yang masih tiduran di sofa.


" badan kamu panas." citra menempelkan telapak tangannya di kening arjuna.


" Kita ke rumah sakit sekarang, kamu harus segera di periksa ." ucap citra kemudian


" Gak perlu, aku juga udah mau pulang kok." arjuna menolak ajakan citra.


" Kamu ada perlu sama dhita ?" tanya arjuna, ia merasa heran karna tak biasanya citra datang ke tempat dhita dan mungkin ini untuk yang pertama kalinya.


" Iya, aku pengen jemput dia karna ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya mengenai toko buku, dan aku rasa dhita adalah orang yang tepat untuk menanganinya." jawab dhita panjang lebar.


" Tapi dhita akan berangkat bersama ku, jadi sekarang lebih baik kamu duluan." ucap arjuna.


Belum sempat citra menjawab dhita keluar dengan membawa dua gelas minuman teh hangat.


" Kok repot-repot sih, aku kan cuma sebentar." ucap citra sekedar berbasa-basi.


" Nggak repot kok cuma teh hangat doang." dhita meletakkan dua gelas tersebut di atas meja.

__ADS_1


" Silahkan di minum." lanjutnya kemudian.


" Makasih." citra meneguk teh hangat di tangannya. " Mmm... enak banget, teh buatan mama kurasa udah enak tapi ini lebih enak ." gumam citra dalam hati memuji teh hangat yang dhita suguhkan.


Tanpa terasa citra meneguk habis teh itu.


" Kurang ? aku ambilin ya... di dalam masih banyak kok." dhita menawarkan.


" Nggak usah ini udah cukup, arjuna bilang kamu akan berangkat bareng dia, aku duluan ya..." ucap citra ia tak ingin jika sampai arjuna nencurigainya, ia tak ingin berkesan memaksa.


Dhita memandang arjuna.


Secepatnya arjuna mengangguk.


" Ya udah sampai ketemu di toko ya...hati-hati." ucap dhita ketika melihat citra melangkah pergi.


Citra menganggukkan kepala sekilas ia tersenyum. Sebuah senyuman palsu.


Di balik pintu citra menghubungi mommy Rita. Memberitahukan keberadaan arjuna.


Setelah kepergian citra, dhita menghampiri arjuna yang sedang duduk di sofa dengan wajah lesu dan pucat.


" Gimana keadaan kamu mas ?" tanya dhita, ia mengusap keringat dingin di kening arjuna.


" Rasanya di bagian ini sakit sekali." arjuna menunjukkan bagian belakang tubuhnya, bekas operasi sum-sum tulang belakang waktu itu.


" Aku lihat ya mas ?" dhita meminta persetujuan arjuna untuk mengecek kondisi lukanya.


Arjuna mengangguk. Kemudian berbalik membelakangi dhita.


" Hati-hati ya..." pesan arjuna saat dhita mulai menyingsingkan bajunya di bagian belakang. Rasanya sakit sekali.


" Astaghfirullaah mas... " pekik dhita saat melihat luka nya sudah membengkak kebiruan.


" Kenapa ?" tanya arjuna gelisah mendengar kekasihnya berteriak.


" Kayaknya luka kamu infeksi deh mas." jawab dhita, melihat luka yang membengkak membuat dhita seakan ikut merasakan ngilu di sekujur tubuhnya.


" Kita kerumah sakit mas, luka mu harus segera di obati." ucap dhita kemudian.


Memang arjuna kurang memperhatikan bekas luka operasinya, di karenakan ia sangat sibuk. Untuk minum obatnya saja terkadang ia suka telat atau malah tidak meminumnya sama sekali.


" Sakit sekali ya mas ?" dhita bertanya penuh perhatian.


" Iya sakit, tapi kalo ada kamu di sini, aku jadi gak sakit lagi, sakitnya hilang."


" Ih.. kamu ada-ada aja deh mas, tadi aja masih sakit." bibir dhita mengkerucut, mencibir kekasihnya.


Kemudian dhita bergegas ke dalam menuju arah dapur, ia ingin mengambil air hangat untuk mengkompres bagian punggungnya yang terluka.


" Awwhh.... pelan-pelan dong.." ucap arjuna meringis kesakitan ketika sebuah handuk kecil menyentuh permukaan lukanya. Handuk tersebut telah di basahi dengan air hangat terlebih dahulu.


" Tahan dong mas..." ucap dhita, sambil terus mengompres lukanya dengan lembut.


Tak sampai 5 menit pekerjaan itu pun selesai.

__ADS_1


" Aku siap-siap dulu mas, bentar ya...." ucap dhita beranjak dari duduknya.


Arjuna hanya diam tak menyahut, rasa sakitnya berangsur-angsur mereda.


__ADS_2