
Usai pasca operasi kondisi Dhita semakin membaik, semua pihak keluarga merasa sangat bersyukur dan berharap Dhita kembali sehat seperti sedia kala.
" Alhamdulillaah Bu, putri kita telah selamat," ucap pak Setyo sambil terus membelai rambut putrinya.
Sedangkan keluarga yang lain sedang berada di luar, mereka bergantian untuk menjaga Dhita.
" Ya pak, ibu juga merasa sangat bersyukur akhirnya putri kita mendapatkan donor hati yang sesuai." jawab Bu Safitri yang sedang duduk di samping suaminya.
" Tapi... bukankah Citra itu yang....." Bu Safitri tidak meneruskan kata-katanya.
" Yang membuat keributan di acara pernikahan putri kita Bu," sahut pak Setyo meneruskan kata-kata istrinya.
" Ya pak benar, bagaimana bisa dia berubah secepat itu ya?" Bu Safitri seakan-akan bertanya kepada dirinya sendiri.
" Mungkin Allah telah membuka mata hatinya Bu, kita do'a kan saja semoga dia menjadi wanita yang Sholehah." saran pak Setyo kepada istrinya.
Bu Safitri pun mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
Tak lama kemudian pak Setyo merasakan tangan putrinya bergerak.
Jari jemari nya mulai bergerak.
Rupanya Dhita telah berhasil melewati masa koma.
" Dhita, putriku!" seru pak Setyo bahagia melihat putrinya mulai bisa menggerakkan tangannya.
Perlahan tapi pasti, Dhita mulai membuka kedua matanya.
Samar-samar ia melihat bayangan kedua orang tuanya.
" Pak, Bu....!" panggil Dhita lirih, suaranya terdengar samar karena mulut dan hidungnya tertutup oleh masker oksigen.
" Ya nak," jawab Pak Setyo dan Bu Safitri bersamaan seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Dhita.
" Mas...mas....A...r." ucap Dhita tersendat-sendat.
" Sebentar ayah panggilkan." sahut pak Setyo lalu keluar dari ruangan tersebut menemui Arjuna yang saat itu sedang tertidur dikursi panjang, yang terletak di koridor rumah sakit.
Kebetulan Arjuna sedang sendiri karena yang lain telah pulang setelah menjenguk Dhita sebentar pasca operasi.
" Sepertinya dia lelah sekali," gumam pak Setyo merasa tidak tega untuk membangunkan menantunya yang sedang tertidur.
Akhirnya pak Setyo memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
" Biar saja dia bangun sendiri nanti, kasihan dia," batin pak Setyo lalu beranjak pergi.
Hanya beberapa langkah pak Setyo berjalan, tiba-tiba terdengar suara Arjuna memanggilnya.
" Bapak!" panggil Arjuna ketika melihat ayah mertuanya hendak memasuki ruangan kamar Dhita.
__ADS_1
" Kau sudah bangun Ar,?" tanya pak Setyo membalikkan badannya ke belakang.
" Ya pak, maaf aku ketiduran." jawab Arjuna sambil memperbaiki posisi duduknya.
" Dhita, dia ingin bertemu denganmu!" ucap pak Setyo memberitahukan bahwa putrinya telah sadar.
" Istriku, dia sudah siuman pak?" tanya Arjuna dengan senyum sumringah.
" Ya, dia memanggil-manggil namamu." jawab pak Setyo meyakinkan.
Tanpa berbasa-basi Arjuna langsung memasuki ruang ICU, tanpa memperdulikan pak Setyo yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya itu.
Dan ketika Arjuna telah sampai di dalam ruangan itu, ia melihat istri tercintanya sedang melirik ke arahnya.
" Dhita, istriku!" seru Arjuna seraya mendekati Dhita.
Kemudian duduk di samping istrinya.
" Mas....." suara Dhita terdengar sangat lirih.
" Bagaimana keadaanmu mas, lukanya masih sakit?" walaupun baru tersadar dari komanya, Dhita masih mengingat tentang suaminya yang terluka akibat dari cambukan Bastian.
Dhita merentangkan tangannya hendak menyentuh wajah suaminya.
Sedangkan Bu Safitri merasa tidak enak hati jika berada bersama anak dan menantunya terlalu lama, ia pun memutuskan untuk keluar.
" Bagaimana keadaanmu, dimana yang sakit?" tanya Arjuna sambil mengamati sekujur tubuh istrinya yang tertutup selimut.
" Sakitnya di sini mas," jawab Dhita masih dengan suara lemah, tangannya menunjuk ke rongga bagian atas perutnya yang terdapat luka bekas operasi transplantasi liver.
" Aku kenapa mas?" tanya Dhita merasa aneh pada kondisi dirinya sendiri, sebab yang ia ingat hanya bagian punggungnya yang terluka tusukan pisau.
Namun ia juga merasakan sakit pada rongga bagian atas perutnya.
" Kau terkena penyakit gagal liver." jawab Arjuna sambil memegang tangan istrinya.
" Gagal liver?" Dhita mengulangi ucapan suaminya.
" Ya, dan beruntung Citra bersedia mendonorkan hatinya untukmu." papar Arjuna, menceritakan semua peristiwa yang di alami istrinya ketika sedang koma.
Di mulai dari pernyataan dokter tentang penyakit yang di idap Dhita hingga ia berhasil mendapatkan donor hati dari Citra.
" Citra mas, dimana dia sekarang?"
" Aku di sini!" jawaban dari arah pintu yang berasal dari Citra, ia sedang duduk di kursi roda bersama seorang perawat yang membantunya.
Seperti hari-hari sebelumnya, Dhita selalu tersenyum meskipun masih sedikit di paksakan, lantaran menahan rasa sakit di bagian punggung dan bagian atas perutnya.
" Citra, kemarilah!" Dhita melambaikan tangan nya walau masih lemah.
__ADS_1
Seorang perawat membantu Citra mendorong kursi rodanya menghampiri Dhita.
Citra tidak bisa berjalan sendiri karena kondisinya masih lemah namun tak selemah Dhita. Oleh karena itu ia menggunakan kursi roda untuk membantunya.
" Tolong tinggalkan kami." Citra berkata kepada suster tersebut.
Lalu kembali memandang ke arah Dhita yang masih terbaring lemah.
" Maafkan aku Dhi," ucap Citra lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
" Tidak Cit, tidak ada yang perlu di maafkan, justru aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu," Dhita berusaha bangkit namun kondisinya yang terlalu lemah tidak memungkinkan.
" Aww!" pekik Dhita ketika di rasakannya rasa sakit yang begitu hebat di tubuhnya.
Wajah Dhita meringis menahan rasa sakit.
Napasnya terengah-engah.
" Hati-hati sayang," ucap Arjuna dengan sigap membantu istrinya membenarkan posisi tubuh Dhita seperti semula.
" Kau masih terlalu lemah dhi, jangan di paksakan." Citra mendorong kursi rodanya sendiri lebih mendekat ke arah Dhita.
" Bagaimana keadaanmu?" Masih sempat Dhita menanyakan keadaan Citra, meskipun dirinya jauh lebih parah.
" Jangan pikirkan aku Dhi, aku baik-baik saja." jawab Dhita sambil memegang tangan Dhita yang sedari tadi berusaha mendekat ke arahnya.
" Kalau bukan karena mu, mungkin saat ini aku sudah...."
Citra meletakkan jari telunjuknya di bibir Dhita.
Sedangkan Arjuna mengawasi mereka dengan rasa bahagia, akhirnya Citra berubah menjadi lebih baik.
" Tidak Dhi, kau orang baik kau akan terus hidup untuk mengingatkan orang-orang yang jahat seperti aku." Citra menundukkan kepalanya.
" Kau wanita yang baik Cit, hanya saja Tuhan masih belum membukakan pintu hatimu waktu itu."
" Dan sekarang melihat kau berubah aku sangat bahagia," ucap Dhita tak henti-hentinya bibir itu menguraikan senyum.
" Jadi mulai sekarang kita semua harus hidup rukun, saling tolong menolong itu jauh lebih indah bukan," Arjuna yang sejak tadi hanya terdiam, kini angkat bicara.
Kebenciannya terhadap Citra seakan hilang begitu saja, sejak Citra mendonorkan hatinya untuk Dhita.
" Ya kau benar Ar," ucap Citra menatap Arjuna dengan lekat.
Seakan masih berharap dengan pria ini.
Mendapat tatapan lekat dari Citra, segera Arjuna mendekati Dhita lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu, hanya saja ia ingin mengingatkan kepada Citra bahwa dirinya hanyalah milik Dhita Pratiwi.
__ADS_1