
Mendengar suara ibunya, Citra langsung beranjak menuju ke ruang depan, setelah ia menyerahkan pekerjaannya yang selangkah lagi selesai kepada Bellinda.
" Mama!" seru Citra memanggil ibunya yang sedang duduk berdampingan dengan ibu mertuanya.
" Sayang!" Bu Devina membalas panggilan putrinya.
" Mana papa ?" tanya Citra yang tidak melihat sosok ayahnya bersama dengan ibunya.
" Itu!" tunjuk Bu Devina di antara kerumunan para pria yang tak lain adalah Arjuna, Andrian, Bastian, dan pak Aditya.
Citra tersenyum, namun bukan karena ia melihat keberadaan ayahnya, melainkan karena ia memandang seorang pria yang duduk di samping Arjuna.
Menurut Citra pria itu sangat cool, dan tampan.
Namun ia merasa heran, ketika pria itu berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar.
" Pergi kemana dia?" tanya Dhita dalam hati.
Akan tetapi, rasa heran itu hilang ketika ia melihat pria itu masuk kembali bersama kedua orang tua Dhita.
" Citra, tolong kau panggil Dhita!" ucap mommy Rita, ketika ia melihat dari kejauhan kehadiran kedua besannya.
" Baik ma!" jawab Citra tanpa berbasa basi ia pun pergi menemui Dhita.
Sesampainya di kamar Dhita, ia melihat wanita itu sedang tertidur pulas.
" Hust, ssssttt !" Rena yang sedang menggendong putrinya memberikan isyarat kepada Citra yang hendak membangunkan Dhita.
" Jangan di bangunkan, dia baru saja tertidur !" lanjut Rena.
" Tapi, mommy menyuruhku untuk membawanya ke bawah, orang tuanya sudah datang!" jawab Citra.
" Nanti saja, biar aku yang memberitahukannya, sekarang biarkan dia istirahat dulu!" ucap Rena, ia merasa khawatir jika terburu-buru di bangunkan kondisi Dhita akan drop kembali.
" Terserahlah!" sahut Citra lalu pergi keluar dari kamar itu.
Sedangkan Rena menatap sahabatnya dengan penuh iba. Sejak masa kehamilannya, Dhita tidak pernah merasakan nyamannya hidup, selalu ada saja hal-hal yang membuat kondisinya drop.
Dan Rena berharap semoga mulai saat ini kondisi sahabatnya itu selalu membaik.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Dhita menggeliat perlahan, kemudian ia membuka kedua matanya.
" Kau sudah bangun?" tanya Rena ketika ia melihat sahabat + kakak iparnya itu sedang berusaha untuk duduk.
" Hmm!" jawab Dhita.
" Tadi kau di panggil mommy, paman dan bibi sudah datang!" ucap Rena memberitahukan.
" Oh ya, mengapa kau tidak membangunkan ku?" Dhita bertanya seraya menatap Rena, bukannya membangunkan dirinya malah membiarkannya tidur.
" Kau sangat pulas, aku tidak tega !" jawab Rena.
" Ya sudah, aku turun sekarang !" ucap Dhita hendak beranjak dari tempat tidurnya.
Namun Rena mencegahnya untuk turun sendiri karena ia khawatir jika sahabatnya itu akan terjatuh.
" Tenang saja, aku bisa jaga diri !" ucap Dhita seraya pergi keluar dari kamar itu.
TAP
TAP
TAP
Puri yang sedang duduk bersama mommy Rita dan yang lainnya, segera menyongsong kedatangan sahabatnya, apalagi saat Dhita hendak menuruni tangga, Puri sangat khawatir sahabatnya akan terjatuh.
" Hati-hati !" seru Puri seraya menggandeng lengan Dhita.
" Hei, aku ini hanya sedang hamil, bukannya sakit-sakitan !" ucap Dhita agak kesal karena ruang geraknya sangat terbatas, semua orang terlalu mengkhawatirkannya.
" Bukan begitu, aku hanya ingin memanjakan calon keponakanku saja," jawab Puri seraya tersenyum melihat sahabatnya yabg sedang mendengus kesal.
" Dan, jika mereka telah lahir nanti, aku pastikan perhatianku hanya untuk mereka berdua saja," lanjut Puri.
" Dan aku?" Dhita menunjuk dirinya sendiri, mendengar ucapan sahabatnya.
" Minta perhatian saja pada Arjuna!" jawab Puri seraya melirik ke arah Arjuna yang sedang berbincang dengan kedua ayah mertuanya.
Mendengar ucapan sahabatnya, Dhita kembali mendengus yang di sertai dengan mengerucutkan bibirnya, hingga menyerupai sebuah bentuk kerucut yang lancip.
Dan pada akhirnya keduanya sama-sama tertawa, bukan hanya mereka saja, bahkan semua orang yang hadir di ruangan itu pun ikut tertawa mendengar candaan kedua sahabat itu.
__ADS_1
" Ibu, sudah dari tadi?" tanya Dhita lalu menyalami tangan ibu yang sangat di rindukannya.
" Ya, Citra bilang kau sedang tidur, oleh karna itu, ayah dan ibu memutuskan untuk berbincang-bincang saja di sini." jawab Bu Safitri.
Sambil tersenyum Dhita melirik ke arah Citra, apakah kedua orang tuanya telah mengetahui bahwa Citra adalah istri kedua dari suaminya?
Dhita tidak tahu harus menjawab apa, jika sampai mereka mengetahui tentang kebenaran ini, jujur dirinya memang sengaja menyembunyikan semua ini dari orang tuanya.
Namun semua ke khawatiran itu kian bertambah ketika ibunya membisikkan sesuatu di telinganya.
" Wanita ini cantik, sepertinya dia telah benar-benar berubah!" bisik Bu Safitri seraya melirik ke arah Citra, namun hal itu ia lakukan secara samar.
" Maksud ibu?" Dhita bertambah khawatir.
" Jodohkan dia dengan kakak sepupumu, kasihan kakak mu belum laku!" dan jawaban ini memebuat Dhita semakin terkejut.
" Apa?" sontak kata itu terloncat begitu di mulut Dhita.
Namun belum selesai ia berbicara, ibu mertuanya telah memerintahkan kepadanya untuk segera melakukan ritual mandi tujuh bulanan, yabg di sebut mitoni.
Pak Setyo sebagai orang tertua dan juga yang lebih memiliki ilmu agama yang lebih luas, memimpin acara yang di mulai dari mengaji bersama hingga doa sebagai penutup. Dan semua itu hanya di tujukan kepada Dhita dan kedua jabang bayinya, dengan harapan akan memperoleh keselamatan dan ketenangan ketika tiba saatnya melahirkan nanti.
Tak hanya itu, setelah doa selesai di panjatkan lanjut ke acara tingkeban, dan acara ini hanya di adakan khusus untuk calon anak pertama.
Bu Safitri yang memimpin acara tingkeban ini, Karena ia telah terbiasa melakukannya di kampung.
Tampak Dhita duduk bersama Arjuna di halaman mansion. Dengan di tutupi kain tujuh rupa, Mereka duduk bersanding berdua.
Semua yang menyaksikan tersenyum bahagia penuh haru, hingga tidak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata saat memulai acara penyiraman tingkeban.
Dhita memegang buah kelapa di tangannya, sedangkan Arjuna memegang seekor anak ayam.
Bu Safitri yang memulai penyiraman pertama dengan di ikuti oleh yang lainnya secara bergantian, dan mommy Rita yang paling terakhir karena ia yang akan menerima buah kelapa yang di berikan Dhita kepadanya.
Mommy Rita menerima buah kelapa itu layaknya menggendong seorang bayi, yang langsung di bawa olehnya masuk ke dalam rumah. Sedangkan anak ayam yang di pegang oleh Arjuna di lepaskan begitu saja, dan dibiarkan berkeliaran.
Setelah selesai, Dhita dan Arjuna yang telah basah kuyup dan menggigil kedinginan segera masuk menuju ke bathroom untuk segera berganti.
Tak lama kemudian, semua anggota keluarga dan kerabat dekat berkumpul di ruang tengah untuk melanjutkan acara yang terakhir, yaitu makan-makan.
" Saya do'a kan semoga persalinan Dhita lancar dan selamat ibu dan kedua bayinya." ucap Bellinda mewakili yang lain.
__ADS_1
" Ya, terimakasih doa nya kk." jawab Dhita merasa senang sekali karena semua orang ternyata sangat sayang kepadanya.