Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 151 Ansel Abraham


__ADS_3

Sedangkan di ruang tengah, dimana Fanny sedang bersama dengan pria tua yang bernama Jason.


Fanny membuka kedua mata setelah pria tua itu menghentikan cumbu-rayunya.


" Ada apa?" Fanny menatap wajah Jason yang telah berkerut karena keriput. Tidak biasanya pria ini bertingkah seperti itu. Sedangkan rasa hangat telah menjalar di seluruh tubuh Fanny.


" Untuk apa kau membawa bayi itu ke rumah ini?" tanya Jason menunjukkan raut wajah tidak suka dengan kehadiran baby boy.


Mendengar pertanyaan dari Jason membuat Fanny tersenyum tipis.


" Kau masih ingat dengan pria yang telah mencampakkan diriku?" tanya Fanny berusaha mengingatkan suatu peristiwa beberapa tahun yang lalu.


" Ya, aku masih sangat mengingatnya!" jawab Jason membalas tatapan mata Fanny.


" Dan bayi itu adalah jantung hatinya," ucap Fanny kembali.


" Bagaimana bisa dia berada di sini?" tanya Jason.


" Aku menculik nya!!" jawab Fanny.


Sebuah senyum mengerikan terpampang di bibirnya.


" Untuk apa kau repot-repot menculiknya ?" Jason bertanya kembali.


" Kau tahu? aku masih sangat dendam dengannya dan aku tidak akan pernah tenang jika belum bisa membalaskan sakit hatiku padanya!!" jawab Fanny dengan penuh emosi.


" Kalau begitu, kau besarkan dia dengan penuh rasa benci kepada keluarganya sendiri." Jason mulai memahami arah pemikiran Fanny, si wanita simpanannya.


" Tentu saja, akan ku jadikan dia manusia yang tidak memiliki rasa cinta ataupun kasih sayang." Fanny mulai berkhayal tentang masa depan baby boy.


" Apa kau telah memberinya nama?" tanya Jason lagi, kini semua cerita tentang baby boy sangat menarik di pikirannya.


" Belum, bagaimana kalau Ansel Abraham !" Fanny meminta pendapat dari Jason, si pria tua.


"Bagus, nama yang unik, pasti mereka tidak akan pernah tahu kalau buah hati mereka berada di sini!" ucap Jason tertawa senang.


" Tapi, dengan adanya dia disini, maka akan semakin bertambah pengeluaran keuangan ku!" keluh Fanny.


" Kau tenang saja, aku akan berikan jatah bulanan khusus untuknya !" ucap Jason yang langsung mendapat respon mengejutkan dari Fanny.


Sebuah ciuman mendarat di bibirnya.

__ADS_1


" Tapi dengan satu syarat, kelak jika dia dewasa maka dia akan menjadi kaki tangan ku!" Jason bernegoisasi.


" Setuju!" jawab Fanny, ia merasa senang.


Bukan karena apa-apa melainkan karena di setiap bulannya ia akan mendapatkan tips dobel dari seorang Jason dan tentunya dalam jumlah yang tidak sedikit.


Jason mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.


Sebuah kartu debit.


lalu Jason memberikannya kepada Fanny.


" Tapi ingat uang di dalamnya hanya untuk Ansel Abraham, untuk membeli semua kebutuhannya, karena aku tidak ingin anak ini mengalami hambatan dalam pertumbuhannya!" seru Jason mengingatkan kepada Fanny.


" Kau tenang saja, bulanan darimu belum bisa ku habiskan dalam sebulan." jawab Fanny.


" Aku hanya ingin dia tumbuh menjadi anak yang pintar, cerdas dan kuat, agar bisa menjalankan seluruh misi yang kuberikan nanti." lanjut Jason penuh minat terhadap baby boy.


" Baiklah, kau tunggu saja dua puluh tahun kedepan!" ucap Fanny kemudian berlalu meninggalkan Jason yang menatapnya dengan tatapan penuh hasrat.


Fanny pergi melangkah memasuki kamarnya, karena ia ingin meletakkan kartu debit itu di dalam tasnya.


Sementara itu, bi Murni yang telah selesai memberikan susu formula kepada Baby boy, segera menidurkan bayi itu di atas tempat tidurnya.


Bi Murni menepuk-nepuk punggung baby boy, tampak bayi itu sedang mengerjap-ngerjap kan kedua matanya seraya menikmati tangan bi Murni yang menepuk-nepuk punggungnya.


Tak lama kemudian baby boy pun terlelap, dan bi murni memandang baby boy dengan perasaan iba.


" Kau masih kecil nak, tapi kau telah dipaksa untuk menjalani kehidupan yang sangat kejam, bahkan kau di adopsi oleh seorang wanita yang tidak waras." gumam bi Murni mengiba.


Ya, selain gila harta, Fanny juga merupakan wanita yang terganggu akal sehatnya, ia selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai impiannya.


Tidak perduli apakah akibat dari perbuatannya itu merugikan orang lain atau tidak. Yang terpenting baginya adalah seluruh impian dan keinginannya terpenuhi.


Lalu bagaimana dengan nasib baby boy? apakah dia akan tumbuh dewasa menjadi orang baik seperti kedua orang tuanya? ataukah ia akan dewasa dengan pengaruh buruk dari Fanny yang membuatnya menjadi manusia dingin yang tak berperasaan?.


Sedangkan baby boy, mendengkur karena terlalu nikmat terbuai ke alam mimpi.


Seraya menjaga baby boy, bi Murni mengemasi semua barang-barang milik bayi itu. Pakaian yang ia ambil dari gudang kemudian ia letakkan di dalam lemari bersama dengan pakaian miliknya.


Jika baby boy yang telah bernama Ansel Abraham, hidup dengan belas kasihan dari BI Murni, maka lain halnya dengan Diana Pratiwi Dharmendra, saudara kembarnya yang hidup di dalam kemewahan dan di penuhi kasih sayang.

__ADS_1


Seluruh cinta kasih dari keluarganya hanya tercurah untuk Diana.


*


*


*


Keesokan harinya.


Saat itu Dhita yang telah kembali pulih, di perbolehkan pulang hari itu juga.


Seorang perawat membantu Dhita berkemas, sementara Arjuna sedang mengurus Administrasi.


" Apakah ada informasi tentang bayi saya yang hilang sus?" tanya Dhita kepada seorang suster yang sedang berdiri di sampingnya, mengemasi barang-barang miliknya.


" Tidak ada nyonya! tapi yakinlah nyonya semoga bayi anda saat ini bersama dengan orang-orang baik seperti anda!" ucap perawat itu, berusaha menghibur Dhita.


Mendengar jawaban dari si perawat tidak membuat Dhita berhenti berharap, ia selalu berdoa agar putra nya di beri keselamatan serta kesehatan hingga mereka bertemu nanti.


Dhita mengusap air matanya, perlahan ia melangkah kan kakinya berjalan melewati koridor rumah sakit, berharap ia akan dipertemukan dengan sang buah hatinya.


Tiba-tiba indera pendengaran Dhita menangkap suatu suara yang tak asing lagi olehnya.


Dhita terkesiap lalu berjalan mencari arah dimana suara itu berasal.


" Ardhi~putra ku!" seru Dhita dengan suaranya yang serak, karena terlalu sering menangis.


Sontak membuat Dhita ingin meraih bayi mungil itu yang sedang berada di dalam kereta dorong.


Namun, sebelum sampai tangannya menyentuh tubuh bayi mungil itu, tiba-tiba saja sebuah tangan menghentikan gerakannya.


" Maaf, anda siapa?" tanya wanita itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Fanny, Ya Fanny Karisma.


" I~ini!" lirih Dhita menunjuk ke arah baby boy.


" Maaf, dia putra saya, Ansel Abraham!" ucap Fanny, di hatinya ia mulai cemas. Semoga saja wanita ini tidak mengenali putranya, harap Fanny.


Fanny terpaksa membawa Ansel Abraham ke rumah sakit, di karenakan sejak semalam baby boy menangis terus karena perutnya yang kembung. Jadi pagi ini Fanny bermaksud untuk memeriksakan baby boy.


" Tidak, anda jangan mengaku-ngaku, dia Ardhi putra ku!!" teriak Dhita dengan emosi yang tidak terkontrol.

__ADS_1


__ADS_2