Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 58 Sebuah Tantangan


__ADS_3

" Sebentar lagi Eza datang menjemputmu mas," ucap Dhita saat mereka telah bersama- sama duduk di ruang tamu. Tentunya setelah selesai berganti pakaian.


" Dhi!" panggil Arjuna dengan lembut.


" Ada apa mas?" tanya Dhita menoleh ke arah Arjuna, mereka duduk berdampingan namun dengan adanya jarak di antara mereka.


" Sekarang kamu tau kan kalau aku masih sangat mencintai kamu," ucap Arjuna memandang wajah Dhita dengan penuh rasa bersalah, Dhita yang sekarang tidak seperti dulu yang ia kenal. Dulu Dhita adalah wanita yang berpenampilan segar, tapi sekarang tubuh Dhita menjadi lebih kurus dan penampilannya pun agak lusuh. Hanya ketika saat akan pergi ke kantor Dhita berusaha untuk terlihat aktif dan energik agar tidak mengecewakan sang bos. Mengingat profesinya sebagai sekretaris.


" Entahlah," jawab Dhita enggan menjawab pertanyaan Arjuna.


" Aku serius Dhi..."


" Serius, dulu kamu bilang serius, sekarang kamu bilang serius bukan gak mungkin besok kamu juga bakal bilang serius mas, dan pada akhirnya kamu patahkan hati ku lagi." ucap Dhita dengan nada lebih tinggi, ia mulai tersinggung mengingat berkali-kali ia di sakiti.


" Berapa harga keseriusan kamu mas, hingga dengan mudah kamu buang aku, kamu campakkan aku, aku bukan barang yang bisa kamu buang dan kamu ambil lagi sesuka hati mu mas, maaf jika kamu mengajak kita balikan, maaf aku gak bisa!" lanjut Dhita panjang lebar.


Dhita beranjak dari duduknya berniat hendak pergi kekamar, bagi Dhita berdebat dengan Arjuna hanya akan membangkitkan lagi rasa luka di hatinya. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menghindar dari pria itu.


Greep.


Arjuna menahan Dhita dengan memegang tangan nya.


" Lepasin mas,"


" Tidak, tidak akan pernah." Arjuna mencengkram tangan Dhita.


" Kamu mau aku bahagia atau tidak mas?" tanya Dhita memandang lekat wajah pria yang telah menahannya tanpa mau melepaskan.


Mendengar pertanyaan dari Dhita, Arjuna semakin mempererat cengkraman tangannya.


" Hanya aku sumber kebahagiaanmu, hanya aku yang mampu membuat dirimu bahagia, bukan yang lain." ucap Arjuna. Bukan apa-apa ia berkata seperti itu, melainkan ia hanya ingin mengingatkan Dhita tentang kedekatannya dengan Bastian, dan Arjuna tidak akan pernah suka dengan semua itu.


" Kamu cemburu mas?" tanya Dhita, senyum tipis terulas di bibirnya. " Pria ini egois sekali, dia sendiri gak bermasalah bermesraan di depanku dengan Citra, tapi dia cemburu melihat ku bersama Bastian." pikir Dhita.

__ADS_1


" Aku amat sangat CEMBURU!" jawab Arjuna dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Dhita tertawa.


" Kok Tertawa, ada yang lucu?" tanya Arjuna dengan sedikit jengkel, orang sedang cemburu malah di tertawakan.


" Aku tau mas, walaupun di luar sana banyak wanita cantik menggoda kamu, tapi gak ada yang bisa merebut hati kamu dari aku,"


" Cuma,..."


" Cuma apa?" tanya Arjuna penasaran ketika Dhita memotong kalimatnya. Dengan wajah yang masih mengkerut.


" Cuma kita kesannya terlalu memaksakan diri, lebih baik kita akhiri saja semua ini, kita jalani semua sesuai takdir yang seharusnya." ucap Dhita.


" Tidak akan pernah aku berhenti berharap, aku akan berjuang untuk mendapatkan dirimu, kamu mau kan berjuang bersamaku?" Arjuna mengulang kembali permintaan Dhita tempo dulu, saat mereka masih sama-sama berjuang untuk mendapatkan restu mommy Rita.


" Aku lelah mas, aku capek dengan semua ini, jika kamu memang benar-benar serius sama aku, lamarlah aku pada kedua orang tuaku!" ucap Dhita, ia hanya ingin mengetahui sebesar apa kesungguhan Arjuna padanya.


" Tidak mas, jangan. Bukankah besok acara pernikahan Rena dan Reyhan, bagaimana mungkin kamu tidak hadir di saat pernikahan saudaramu!" Dhita melarang Arjuna untuk pergi menunaikan janjinya, mengingat besok adalah hari paling istimewa bagi Reyhan dan Rena.


" Lalu mau mu apa?" tanya Arjuna dengan sedikit jengkel, bagaimana mungkin Arjuna tidak akan jengkel, Dhita yang meminta di lamar dan ketika permintaannya akan di turuti malah di cegah untuk melamar.


" Baiklah, jika itu memang mau mu mas, aku tantang dirimu untuk membawa kedua orang tuaku ke kota ini, jika kamu berhasil berarti lamaran mu di terima." Dhita menguji keseriusan Arjuna dengan memberinya sebuah tantangan.


" Tapi ingat besok hari pernikahan saudaramu, kamu juga harus hadir di sana, jika kamu telat maka setuju atau tidak lamaran mu akan di tolak." ucap Dhita lagi, ia sengaja memberikan dua tantangan sekaligus untuk melihat seberapa lihai seorang pria yang selalu membuatnya dalam posisi tergantung. Maksudnya menggantung perasaannya.


" Tidak masalah, aku pastikan aku akan berhasil membawa kedua orang tua mu, dan tidak akan terlambat di pernikahan adikku." ucap Arjuna penuh percaya diri.


" Dan satu lagi, siapkan jawaban paling berkesan untukku." Arjuna menatap Dhita dengan tajam, namun seulas senyum terbit di bibirnya.


" Tenang saja, aku sudah mempersiapkan jawaban itu sejak dulu, tapi kau malah mengiklan hubungan kita dengan kehadiran Citra." ucap Dhita.


" Ya, aku minta maaf,"

__ADS_1


" Seperti biasa pintu maaf ku akan selalu terbuka untukmu mas," jawab Dhita.


Tiba-tiba Rena keluar dari kamarnya, rupanya ia menguping pembicaraan Dhita dan Arjuna.


" Cut...Cut....Cut...!" teriak Rena memotong obrolan sahabatnya.


Dhita dan Arjuna menoleh secara bersamaan.


" Rena apaan sih, Cut...cut...cut... emang ini syuting sinetron!" Dhita merasa jengkel dengan kelakuan sahabatnya.


" Hentikan dialog nya, ini sudah malam, Eza menunggumu di luar." ucap Rena yang di tujukan kepada Arjuna.


" Oh ya, kalau begitu, aku permisi dulu." ucap Arjuna berpamitan lalu melangkah pergi dari tempat itu, tempat yang menjadi perdebatan antara Dhita dan dirinya.


Sedangkan Dhita hanya memandang punggung pria itu dari belakang, yang kemudian menghilang di balik pintu.


Dhita tersenyum, sungguh hatinya kini terasa berbunga-bunga. Pria yang selama ini di dambakan nya akan segera melamar dirinya.


" Busyet, Dhi kamu gak kasian ngasih kakak iparku tantangan seberat itu?" tanya Rena yang merasa kasihan membayangkan perjuangan Arjuna.


" Aku rasa tantangan itu wajar-wajar saja, jika dia mau ya lakukan, dan jika tidak ya biarlah." jawab Dhita dengan tenang karena ia yakin Arjuna akan memperjuangkan cintanya walau rintangan menghadang.


Rena menghela napas panjang, mendengar ucapan sahabatnya.


Sementara itu Eza yang telah terlalu lama menunggu Arjuna hingga membuat dirinya sedikit mendongkol.


Eza hanya menatap layar ponselnya berharap sahabatnya itu akan segera menghubungi dirinya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu mobil di buka dari luar.


" Lama sekali Ar, apa saja yang kau lakukan di dalam sana?" tanya Eza sebelum Arjuna benar-benar masuk ke dalam mobil.


Eza yang sedang duduk di kursi pengemudi, menekuk wajahnya sehingga terlihat sekali jika ia sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2