Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 88 Pergi Ke rumah Tabib


__ADS_3

Setelah selesai shalat isya' berjamaah di masjid, Arjuna, pak Setyo dan pak sopir kembali ke rumah.


Aroma masakan yang lezat menusuk indera penciuman mereka, semakin membuat perut berbunyi keroncongan.


" Assalamualaikum," pak Setyo mengucapkan salam seraya berjalan ke ruang tengah, ruangan yang dijadikan tempat makan sekaligus tempat berkumpul seluruh keluarga.


" Wa'alaikumsalam," jawab Dhita sembari berjalan menyambut kedatangan ayah dan suaminya.


" Ayah sudah pulang, Mas," Dhita meraih tangan Arjuna dan menciumnya lalu mencium tangan ayahnya.


Ya, setelah menikah seorang wanita akan mendahulukan suami dari pada orang tuanya.


" Hmmm, kalian masak apa malam ini? tanya pak Setyo berkali-kali menghirup udara yang beraroma sangat lezat.


" Rendang yah, ibu telah mempersiapkan semuanya di ruang tengah." jawab Dhita sambil memegang perutnya yang sedari tadi memang telah keroncongan.


KRUUCUUK, KRUUCUUK, KRUUCUUK......


" Lapar?" tanya Arjuna sembari tersenyum.


Mendapat pertanyaan itu Dhita tersipu malu.


" Ya, makanan ibu aromanya sangat enak, membuat perutku semakin kelaparan," jawab Dhita sambil mengulum senyum.


" Eh bapak, nak Arjuna sudah pulang?" tanya Bu Safitri yang baru saja selesai memasak.


" Ya Bu, baru saja." jawab Arjuna.


" Sekarang ayo kita makan bersama, mari pak sopir." ajak bu Safitri sambil melangkah pergi ke ruang tengah lalu di ikuti yang lainnya.


Di meja makan, menu makanan tersaji dengan sempurna.


Aromanya yang menggugah selera semakin mengaduk-aduk perut minta di isi.


Setelah berdoa mereka semua menikmati makanan dengan lahap.


Pak sopir juga ikut makan malam bersama, pak Setyo dan Bu Safitri tidak pernah membeda-bedakan sesama, baik itu kerabat, tetangga atau bahkan seorang sopir pun bagi mereka semua sama.


Mereka semua makan di meja yang sama.


" Sudah lama aku tidak makan masakan ibu!" seru Dhita sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, terlihat ia sangat lahap sekali.


" Sekarang makanlah sepuasmu." ujar Bu Safitri sembari menambahkan lauk-pauk di piring pak Setyo.


Arjuna yang merasa masakan itu luar biasa lezatnya, menambah nasi dan lauk-pauknya.


Arjuna merasa kalau saat ini ia sedang makan di restoran bintang lima.


Bu Safitri sangat senang melihat anak dan menantunya menyukai masakannya.

__ADS_1


" Kalau setiap hari makan seperti ini terus, maka dalam seminggu BB ku akan bertambah." gurau Arjuna sambil menyeka mulutnya dengan selembar tisu. Rupanya ia telah selesai makan.


" Ibu sangat senang kalian menyukai masakan ibu." ucap Bu Safitri sembari tersenyum.


" Selesai makan kita akan pergi ke rumah tabib." lanjut Bu Safitri membuat Dhita menatap ke arahnya dengan pandangan heran.


" Tabib, untuk apa?" Dhita bertanya setelah mulai menguasai rasa herannya.


Pak Setyo maupun Bu Safitri saling berpandangan, haruskah mereka mengatakan kalau mereka telah mengetahui semua kebenaran tentang kondisi putrinya, akan tetapi mereka khawatir akan membuat putrinya merasa malu.


Walau bagaimanapun mereka harus menjaga perasaan Dhita.


" Selain berobat ke dokter, kami ingin kau juga melakukan pengobatan secara alternatif nak, agar fisikmu cepat bugar kembali," Bu Safitri berusaha mencari kata-kata yang sesuai agar putrinya tidak merasa curiga kalau mereka telah mengetahui semuanya.


" Ya, ibu benar secepatnya aku ingin pulih seperti semula." Dhita menyetujui saran ibunya, membuat semua orang merasa lega.


Dhita memandang Arjuna dengan sebuah perasaan yang hanya ia yang tahu.


" Sabarlah mas, secepatnya aku akan mewujudkan impianmu, penantianmu tidak akan sia-sia," gumam Dhita namun hanya dalam hati.


Mendapat tatapan dari istrinya, Arjuna membelai kepala Dhita dengan penuh kasih sayang.


Melihat hal itu,membuat pak Setyo dan Bu Safitri sama-sama tersenyum.


*


*


*


Karena hari telah malam, Arjuna memutuskan agar mereka menggunakan mobil miliknya, mengingat jalan telah sepi dan gelap.


" Jauh rumahnya tuan?" tanya pak sopir yang sedang menyetir, karena jalanan berbatu di tambah lagi tidak adanya lampu membuat pak sopir harus menjalankan mobilnya dengan sangat lamban.


" Sedikit lagi pak sopir," jawab pak Setyo yang saat itu sedang duduk di belakang bersama istri dan putrinya.


Sedangkan Arjuna duduk didepan bersama pak sopir.


Beberapa hari yang lalu jalan di desa Kulon Progo di perlebar. Walaupun masih berbatu, setidaknya mobil bisa melintasi jalan tersebut.


Tidak seperti saat Arjuna pertama kali datang ke desa itu, jalan masih sempit. Membuat ia dan Eza harus memarkir mobilnya jauh di tepi jalan raya.


Jalan mulai berkelok dan semakin sepi, di kanan kiri jalan hanya terlihat pohon-pohon yang berjejer di tengah kegelapan.


Dari kejauhan tampak sebuah cahaya di tengah kegelapan.


" Nah, itu rumahnya pak sopir " tunjuk pak Setyo ke arah depan.


" Baik tuan," ucap pak sopir terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah seorang tabib yang mereka maksud.


Rumah tua yang telah usang, rumah itu tidak menggunakan lampu seperti rumah-rumah warga yang lain. Hanya sebuah lentera yang menerangi rumah itu.


" Assalamualaikum," ucap pak Setyo Sambil mengetuk pintu.


Namun tidak ada jawaban.


Sekali lagi pak Setyo mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.


Perlahan terdengar suara langkah kaki mendekat di sertai suara ketukan kayu.


Pintu pun terbuka menampilkan sosok seorang wanita tua yang memakai penutup kepala berwarna putih.


Sambil memegang tongkat wanita tua itu berjalan mendekat.


" Wa'alaikumsalam," jawab wanita tua itu yang ternyata adalah seorang tabib.


" Gadis ini,!" gumam tabib itu sambil memejamkan kedua matanya.


Kepalanya mengangguk-angguk entah apa yang ia pikirkan.


" Baiklah, mari masuk." ucap tabib itu kemudian, setelah membuka kedua matanya.


" Mbah!" seru Bu Safitri ia ingin menyampaikan perihal sesuatu yang sedang di alami oleh putrinya.


" Aku sudah tahu," ucap tabib itu.


Di dalam kebingungan, mereka semua memasuki rumah tua itu.


Mereka bingung karena tanpa mereka berkata sepatah katapun, tabib itu telah mengetahui segalanya.


" Mbah ini, tinggal sendiri?" Dhita memberanikan diri untuk bertanya, karena mereka tidak melihat siapapun selain tabib itu sendiri.


" Ya, panggil saja Mbah Ijah, puluhan tahun Mbah tinggal sendiri." jawab Tabib itu yang ternyata bernama Mbah Ijah.


Suaranya terdengar begitu bergetar.


" Cucu, bernama Dhita?" tanya mbah Ijah, setelah duduk bersila di samping Dhita, mereka saling berhadapan.


" Benar Mbah," jawab Dhita, menatap wajah tua di depannya.


" Pria ini suamimu?" tanya mbah Ijah lagi, kali ini ia menatap lekat ke arah Arjuna.


" Selalu cintai dan sayangi istrimu, maka hidup kalian akan menjadi berkah, kalian tidak akan mudah mendapatkan kebahagiaan, selalu dan selalu ada saja ujian, namun jika kalian bisa menghadapinya dengan rasa cinta yang tulus Karena ilahi maka kebahagiaan hanyalah milik kalian berdua." Tutur Mbah Ijah panjang dan lebar seperti rumus matematika.


" Kami baru saja melewati masa-masa itu Mbah," ucap Arjuna, mengingat betapa banyak rintangan yang ia hadapi bersama istrinya.


" Tidak! itu belum seberapa, setelah ini akan ada cobaan yang lebih berat lagi, bahkan lebih menyakitkan." Tutur Mbah Ijah lagi.

__ADS_1


__ADS_2