
" Tidak pernah menyangka Bu Devina bisa bermuka dua," ucap Bellinda lirih seperti sedang bergumam.
" Ya, saya juga tidak habis pikir, bagaimana bisa dulu saya sangat percaya kepadanya, bahkan kami pernah berencana untuk menjodohkan putraku dengan putrinya." sahut mommy Rita.
" Ya, pada akhirnya mereka menikah kan Tante." celetuk Andrian, dari nada suaranya ia terkesan tidak senang.
" Itu benar, tapi itu semua karena Dhita sendiri yang memaksa!" jawab mommy Rita, jujur ia merasa tidak enak hati.
" Beruntung sekali putra Tante memiliki istri yang baik Sholehah pula." Andrian menatap jauh ke depan.
Masih lekat di ingatannya masa-masa ketika dulu dirinya masih sedang menjalani asmara dengan wanita itu. Namun semua itu hanyalah bayangan masa lalu yang tidak akan pernah bisa di ulang kembali.
Beruntung ia masih bisa menganggap Dhita sebagai adik angkatnya.
Bellinda melirik Andrian yang sedang termenung, seakan ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Suaminya.
Mommy Rita yang melihat reaksi dari kedua orang yang duduk di depannya. Ia pun ikut merasakan apa yang berada di dalam pikiran mereka.
" Saya berjanji akan membuat menantuku itu bahagia," ucap mommy Rita penuh kesungguhan.
" Ya benar Tante, kami juga dari sana tadi." jawab Bellinda, ia ingin mengalihkan pikiran Andrian.
Terus terang Bellinda merasa cemburu, namun di depan mommy Rita ia masih bisa menahannya.
" Lalu, bagaimana keadaannya ?" mommy Rita ingin mengetahui perkembangan kondisi menantunya saat ini.
" Keadaannya baik Tante, tadi juga telah minum obat." jawab Bellinda, Karena memang dirinya yang telah memberikan obat itu kepada Dhita.
Sedangkan Andrian hanya menyimak percakapan antara mommy Rita dan istrinya.
" Baiklah kalau begitu saya pamit dulu, dan langsung ke rumah sakit." ucap mommy Rita.
" Dan ingat pesan saya, berhati-hati lah kepada Bu Devina, tapi Kalian harus tetap bersikap baik bila bertemu dengannya dan berpura-pura saja kalian tidak tahu apapun." mommy Rita mengingatkan.
" Baik Tante, terimakasih untuk segalanya." ucap Bellinda, ia merasa beruntung mommy Rita mau berbagi informasi dengannya.
" Ya, itu semua telah menjadi kewajiban kita untuk sama-sama saling mengingatkan." jawab mommy Rita sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah Andrian.
Kemudian ia pun pergi meninggalkan rumah itu.
" Glen dimana?" tanya Andrian, saat itu ia baru menyadari kalau buah hatinya itu tidak terlihat di manapun.
" Glen sedang tidur di kamarnya." jawab Bellinda dengan ketus, lalu beranjak pergi meninggalkan suaminya.
__ADS_1
Mendengar nada suara yang berbeda dari sebelumnya, membuat Andrian merasa heran. Sambil menatapi kepergian istrinya, ia berpikir.
" Ternyata wanita adalah makhluk Tuhan yang paling membingungkan."
Lalu Andrian menyusul Bellinda dengan sedikit berlari menaiki tangga. Andrian menuju ke dalam kamarnya, dimana di sana tampak seorang wanita yang sedang merajuk, meraih sebuah bantal hendak pergi dari kamar itu.
" Akan pergi kemana?" tanya Andrian kepada istrinya saat mereka sedang berpapasan.
" Aku akan tidur bersama Glen." jawab Bellinda tanpa menatap wajah suaminya.
Rupanya ia masih seorang pencemburu.
" Kau kenapa?" Andrian bertanya kembali.
" Tidak apa-apa !" Bellinda bergegas pergi
SREEET.
Sebuah tangan mencengkeram lengan Bellinda, membuat ia terpaksa menghentikan langkahnya.
" Katakan ada apa?" Andrian masih kekeh pada pendiriannya.
" Lepaskan!" Bellinda meronta-ronta.
Seketika Andrian langsung menarik lengan istrinya hingga membuat tubuh wanita itu membentur dada bidang mjliknya.
" Katakan sayang, ada apa? maaf jika aku ada salah!" ucap Andrian dengan lembut,dan mau tak mau Bellinda yang merasa sangat bahagia mendapat perlakuan selembut itu, membuatnya mengalirkan air mata.
Andrian yang mengerti dengan sikap istrinya bahwa istrinya sedang cemburu kepadanya, segera memeluk nya dengan penuh kasih.
" Maafkan aku telah menyakiti hatimu!" bisik Andrian dengan lirih.
" Aku berjanji hanya kaulah satu-satunya yang bertahta di dalam hatiku!" Andrian kembali berbisik di telinga istrinya.
Dan Bellinda merasa sangat bahagia.
" Aku mohon jangan buat aku kecewa dengan semua perlakuan mu!" Bellinda berbisik dengan lirih.
Arjuna mengangguk.
" Aku berjanji !" Janji Andrian yang langsung mendapat balasan pelukan erat dari sang istri.
Ya, Bellinda sangat lah mencintai Andrian, hingga ia tidak pernah rela jika pria itu sampai memikirkan wanita lain, selain dirinya.
__ADS_1
Begitupun dengan Andrian, ia telah berjanji tidak akan pernah memikirkan wanita lain selain istrinya. Istri yabg telah rela meninggalkan kedua orang tuanya hanya demi menikah dengan dirinya.
" Terima kasih untuk semua cinta yang telah kau berikan padaku!" Andrian berbisik kembali kepada istrinya.
Bellinda tidak mampu lagi untuk menjawab, hanya terdengar isakan tangisnya yang ia redam di dalam pelukan suaminya.
" Kau istriku, kau ibu dari anak-anakku, bagaimana bisa kau akan tergantikan!" gumam Andrian.
" Anak-anak ?" Bellinda yang sedang terisak bertanya ketika ia mendengar kata anak-anak.
" Ya, anak-anak !" jawab Andrian singkat.
" Bukankah anak kita hanya satu? dan itu cukup menggunakan satu kata anak!"
" Ya, kau benar, saat ini memang masih ada satu, tapi nanti aku pastikan ada dua kata Anak yang harus di ucapkan!" Andrian.
" Kau bisa saja !" Bellinda tersipu malu mendengar ucapan itu dari mulut suaminya.
" Hei kau mau apa?" Bellinda terkejut saat Andrian tiba-tiba menggendong tubuhnya.
Bellinda merasa seperti berada di udara. Melayang dan terbuai.
" Mari kita buat Glen yang kedua !" Andrian terus berjalan membawa istrinya menuju ke atas ranjang.
" Kau bisa saja!" Bellinda tersipu malu untuk yang kedua kalinya.
Tanpa memperdulikan ucapan dari istrinya, Andrian terus saja berjalan dan kemudian merebahkan diri istrinya ke atas ranjang dengan lembut.
Mendapat kan perlakuan seperti itu, membuat Bellinda merasa nyaman. Bellinda hanya terdiam membiarkan Andrian bebas melakukan apapun atas dirinya.
Sementara itu, Glen yabg telah terbangun dari tidurnya, bermaksud mencari keberadaan ibunya. Glen yang tertidur setelah selesai makan siang, kini ia merasakan dirinya lebih bugar.
Bukan apa-apa ia mencari ibunya, melainkan ada PR yang harus ia tanyakan. Bibi asisten yang secara kebetulan lewat di depan kamar tuan mudanya, segera menghampiri putra dari majikannya itu.
" Aden, ada apa? ada yang bisa bibi bantu?" sapa bibi asisten.
" Mama mana bi?" Glen berbalik bertanya.
" Mungkin di kamarnya den," jawab bibi asisten.
" Mari saya temani den," ucap bibi asisten kepada Glen, yang langsung di angguki oleh bocah kecil itu.
Glen berjalan di depan, sementara bibi asisten mengikuti dari belakang. Mereka berjalan menuju ke kamar utama, kamar yang di tempati oleh Andrian dan Bellinda.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu kamar kedua orangtuanya, Glen berdecak kesal ketika mendapati pintu kamar yang terkunci.
" CK, kebiasaan !" gumam Glen.