Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 168 Terpisah


__ADS_3

"Hallo sayang, Almira ayo makan dulu!" Dhita membujuk Almira dengan lembut, karena sejak di tinggal oleh ibunya anak itu tidak ingin menyentuh makanan apapun yang di berikan kepadanya.


Puri yang sengaja di minta oleh Dhita untuk menemaninya di mansion, segera datang bersama dengan Ednan, putranya.


"Hai kak Ednan, apa kabar?" sambut Dhita mengajari Almira yang juga memandang kedatangan Ednan dan ibunya.


"Kabal baik tante!" jawab Ednan dengan senyum lebar di bibirnya.


Walau bicaranya masih sedikit cadel, akan tetapi Ednan telah lancar dalam berbicara.


"Untung kau segera datang, aku sudah kewalahan membujuk Almira, sejak tadi dia tidak ingin makan apapun." keluh Dhita tentang pola makan Almira yang tidak beraturan.


"Dia sakit?" Puri bertanya ketika ia telah duduk di samping Almira.


Puri menempelkan punggung tangannya di kening Almira.


"Dia tidak panas," gumam Puri.


"Memang tidak panas, Almira kan tidak sakit!" protes Dhita.


"Mungkin, karena dia jauh dari orang tuanya kali," celetuk Puri.


"Mungkin saja."


Kini giliran Puri yang mencoba untuk membujuk Almira. Namun, tetap saja Almira menolaknya.


Mendapat respon tidak di sukai oleh Almira, Puri segera menyodorkan kembali piring nya kepada Dhita. Karena ia khawatir, Almira akan menangis dan semua akan kerepotan.


Sementara Itu, Ednan yang sedari tadi hanya diam mematung melihat Almira tidak ingin makan, segera mengalihkan perhatiannya kepada Diana yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Neng!" panggil Ednan kepada Diana yang sedang menggeliat menggapai-gapai tangan dan kakinya.


Sontak panggilan Ednan membuat Dhita dan Puri saling berpandangan, kemudian sama-sama tersenyum geli.


"Neng? dari mana dia belajar kata panggilan Neng?" tanya Dhita kepada Puri dengan masih menahan tawa gelinya.


"Aku juga tidak tahu dari mana dia belajar," jawab Puri yang juga merasa heran dengan ucapan putranya.


Tanpa berpikir panjang, Puri langsung bertanya kepada putranya.


"Sayang, dari mana kau belajar kata panggilan Neng?"


Ednan menoleh ke arah ibunya sebelum menjawab.


"Dari tetangga, sayang!" jawab Ednan dengan gayanya yang sok dewasa, dan itu membuat mata Puri terbelalak.


"Oh, ternyata putramu punya bakat meniru!" seru Dhita dengan tawa cekikikan, ia semakin bertambah geli melihat kelakuan anak dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Almira yang sedang bermain boneka pun ikut tertawa melihat Aunty nya tertawa.


"Eh, Almira tertawa." ucap Dhita seraya menyuapkan sesendok nasi kepada bocah itu.


Almira tidak dapat menolak, karena saat itu ia sedang membuka mulutnya lebar-lebar. Mau atau tidak, Almira harus mengunyah makanan itu dan menelannya.


Puri dan Dhita tersenyum melihat tingkah Almira yang seakan anti terhadap makanan tapi terpaksa menelannya.


Tiba-tiba terdengar bunyi mobil berhenti di depan mansion.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat.


"Sepertinya ada tamu!" seru Puri kepada Dhita.


"Bukan, itu bunyi mobil mas Ar." jawab Dhita, sebagai seorang istri tentunya Dhita mampu membedakan bunyi mobil suaminya dan orang lain.


"Oh," jawab Puri.


"Papa!" seru Ednan ketika melihat Eza memasuki ruang keluarga.


Sontak membuat Dhita dan Puri menoleh seketika.


"Hey Ednan, jagoan papa!"


Ednan berlari ke arah Eza yang telah merentangkan kedua tangannya. Ednan memeluk ayahnya dengan erat, memang telah lama mereka tidak bertemu, di karenakan Eza yang sibuk dengan tugasnya, yaitu mencari keberadaan Ardhi.


"Mas, sudah pulang?" tanya Dhita kepada Arjuna, seraya menyongsong kedatangan suaminya.


Kemudian mengalihkan pandangannya kepada Eza.


"Apakah terjadi suatu hal yang buruk atas Reyhan?" Dhita masih bertanya-tanya.


"Tidak, bukan Reyhan!" jawab Arjuna dengan suara sedikit berat.


"Lalu? ada apa?" Dhita terlihat bingung.


Seketika Arjuna berjongkok di depan istrinya memeluk kedua lutut yang sedang berdiri di depannya.


"Mas, apa yang kau lakukan? mengapa bersikap seperti ini?" Dhita terkejut dengan perbuatan suaminya.


Seketika Dhita memundurkan langkahnya, menjauhi Arjuna, hingga membuat pria itu melepaskan pelukan tangannya.


Puri yang melihatnya pun ikut terkejut dalam kebingungannya.


"Maafkan aku yang tidak pernah percaya kepadamu, bahkan aku melarang mu saat dirimu ingin menemui putra kita." jawab Arjuna tertunduk malu.


Masih teringat di benaknya, sehari sebelum acara pertunangan Bastian dan Citra. Istrinya meminta izin untuk menemui Ansel. Namun, Arjuna tetap melarangnya.

__ADS_1


"Putra? aku tidak mengerti mas."


"Ansel, dia putra kita, bayi yang kau lahirkan."


"Sudah ku duga, kalau begitu ayo mas, ayo kita temui dia di rumah sakit." kedua mata Dhita berbinar memancarkan kebahagiaan.


Senyum manis pun kembali mengembang di sudut bibirnya.


Namun langkahnya terhenti ketika Arjuna berkata.


"Dia sudah pergi!"


Dhita membalikkan badannya menatap wajah tampan suaminya seakan meminta penjelasan atas apa yang telah di ucapkannya.


"Apa maksudmu dia sudah pergi mas?" tampak kedua mata Dhita telah berkaca-kaca karena telah di genangi oleh air mata.


Arjuna kembali tertunduk, ia tidak kuasa melihat air mata di wajah Dhita akibat dari ulahnya.


"Mas!" Dhita mendekati suaminya lalu mengangkat dagu pria itu hingga membuat kedua wajah saling bertatapan.


Tidak ada ucapan ataupun kata penjelasan yang terdengar dari mulut keduanya, hanya air mata yang mengalir semakin lama semakin deras, di antara kedua pasang mata yang saling menatap.


"Jawab aku, apa maksud ucapanmu?"


"Maaf....," hanya kata itu yang terucap dari bibir Arjuna.


Lalu Arjuna memeluk Dhita dengan erat.


"Ansel pergi, mereka membawanya ke luar negri!" bisik Arjuna.


Dan.....


Seketika Dhita menghempaskan kedua tangan Arjuna yang sedang memeluk tubuhnya.


"Ardhi ku!" lirih Dhita.


"Ternyata apa yang aku katakan itu benar adanya," gumam Dhita di antara Isak tangisnya.


"Karena kebodohanku, kita kehilangan putra kita," ucap Arjuna menyesal.


"Ke negri mana mereka membawa Ardhi ku mas?"


"Aku tidak tahu ke mana mereka membawa putra kita."


Mendengar jawaban suaminya, membuat Dhita terdiam. Seakan ia ingin membungkam mulutnya sendiri.


Tidak ada lagi senyum yang terlihat di wajah cantiknya, hanya air mata yang terus saja mengalir membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


"Putraku!" lirihnya, dengan pandangan lurus ke depan.


Pandangan yang menembus hingga dua puluh tahun kemudian.


__ADS_2