
Mendengar ucapan Mbah Ijah, Arjuna dan Dhita saling berpandangan.
Begitu pun dengan pak Setyo dan Bu Safitri, mereka terlihat sangat khawatir mendengar ucapan Mbah Ijah, dikarenakan setiap ucapan Mbah Ijah bukan tanpa alasan, Mbah Ijah memiliki kemampuan menerawang jauh ke masa depan, dan setiap perkataannya pasti akan menjadi kenyataan.
" Lalu bagaimana cara mengatasinya mbah?" tanya Bu Safitri penuh ke khawatiran.
" Cinta, dan ketakwaan kepada yang maha kuasa!" jawab Mbah Ijah dengan penuh keyakinan.
" Nak Dhita, sekarang pejamkan kedua matamu," perintah Mbah Ijah.
Dhita pun menurut, ia memejamkan kedua matanya dan membiarkan Mbah Ijah yang memegang ubun-ubun nya, sambil bibirnya komat-kamit.
Entah apa yang ia baca, yang jelas Dhita merasa aneh dengan bacaan itu mungkin ini yang di sebut MANTRA.
Lalu kemudian Mbah Ijah beranjak dari tempat itu, dan kembali lagi dengan membawa sebuah kendi dan sehelai kain putih di tangannya.
" Mari ikut Mbah," Mbah Ijah berjalan dengan memegang tongkatnya.
Dhita dan yang lain mengikuti dari belakang.
Mereka berjalan menyusuri kegelapan, namun bagi Mbah Ijah itu tidak menjadi masalah baginya.
Terbukti walaupun ia telah sangat tua, ia mampu berjalan dengan cepat jauh di depan. Sementara Dhita dan Arjuna berjalan sambil bergandengan tangan. Pak Setyo dan Bu Safitri berjalan di belakang mereka.
Rupanya Mbah Ijah berjalan menuju ke arah sungai, terdengar dari kejauhan suara aliran air sungai yang begitu keras, menandakan sungai itu sangat dalam dan deras.
" Pakailah!" seru Mbah Ijah seraya memberikan sehelai kain putih yang ia bawa.
" Untuk apa mbah?" tanya Dhita merasa aneh.
" Untuk apa berganti pakaian di sini?" batin Dhita agak ragu.
" Untuk mandi, di dalam sungai itu!" Mbah Ijah menjawab pertanyaan Dhita, rupanya Mbah IJah mampu membaca pikiran orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.
Mendengar ucapan Mbah Ijah, Dhita pun menurut.
Ia mengganti pakaiannya di tempat yang telah di sediakan, sebuah gubuk kuno yang beratapkan daun kelapa.
Dengan di temani Mbah Ijah, Dhita masuk kedalam sungai, air sungai yang begitu dingin langsung menyentuh kulitnya.
Namun keanehan terjadi, Dhita sama sekali tidak merasa kedinginan, justru sebaliknya ia merasa sangat nyaman dan tenang berada di dalam sungai tersebut.
Sedangkan Arjuna dan kedua orang tua Dhita, menunggu di tepi sungai, karena Mbah Ijah tidak mengijinkan mereka untuk masuk kedalam sungai.
Dengan membaca do'a, Mbah Ijah mengisi kendi yang di pegangnya. Kemudian menyiramkan air kendi itu ke arah ubun-ubun Dhita.
__ADS_1
" Minumlah!" seru Mbah Ijah seraya menyodorkan kendi tersebut.
Tanpa bertanya apapun, Dhita menurut saja dan apa yang ia rasakan setelah meminum air kendi tersebut.
Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi bugar kembali, dan rasa nyeri yang biasanya mendera tubuhnya, kini benar-benar hilang.
Seolah ia tidak pernah mengalami hal itu.
" Apa yang kau rasakan?" tanya mbah Ijah.
" Seluruh badan ku seperti segar bugar rasanya Mbah, dan tidak ada lagi rasa nyeri seperti yang sering aku alami." jawab Dhita.
" Sekarang kau pikirkan suamimu!" perintah Mbah Ijah lagi.
Dhita memejamkan kedua matanya, mencoba untuk membayangkan wajah Arjuna di dalam ingatannya.
" Bayangkan saat ini dia sedang berada di sini, suamimu sedang memelukmu, dan dia meminta sesuatu dari mu!" ucap Mbah Ijah lagi.
Dan apa yang terjadi?.
Tubuh Dhita langsung lunglai tak berdaya, beruntung Mbah Ijah mampu menopangnya. Mbah Ijah merangkul Dhita sambil melambaikan tangan nya meminta bantuan.
Melihat hal itu, Arjuna dengan sigap segera masuk ke dalam air menyusul Dhita dan Mbah Ijah.
" Baik mbah!" jawab Arjuna, tanpa berpikir panjang Arjuna langsung mendekap tubuh
Dhita dengan penuh kasih sayang.
Sesampainya di dalam gubuk, Arjuna segera mengganti pakaian istrinya.
Glek.
Susah payah Arjuna menelan salivanya, saat ia melihat tubuh istrinya tanpa tertutup sehelai benang pun.
Sebagai pria normal, Arjuna sangat tergoda melihatnya. Namun sesuai janji ia tidak akan pernah melakukan hal itu tanpa izin dari istrinya.
Cepat-cepat Arjuna mengganti pakaian Dhita, lalu membawa istrinya keluar dari gubuk itu.
" Apa yang terjadi?" tanya Pak Setyo begitu khawatir melihat putrinya tiba-tiba pingsan.
" Tidak apa-apa hanya reaksi kecil yang di berikan dhohirnya." jawab Mbah Ijah dengan tenang.
Kata Dhohir sama dengan kata fisik.
" Ayo cepat bawa dia ke rumah Mbah." perintah Mbah Ijah.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun lagi, mereka membawa Dhita kembali ke rumah tua milik Mbah Ijah.
Sesampainya di sana, Dhita segera di baringkan di atas lantai, Mbah Ijah mengambil dupa dan membakarnya, lalu ia berdo'a memohon untuk kesembuhan Dhita.
Beberapa menit kemudian Dhita membuka matanya, rupanya ia telah sadar dari pingsannya.
Mbah Ijah segera menyodorkan segelas ramuan herbal buatannya sendiri.
" Jamu apa ini mbah?" tanya Dhita ketika mencium aroma yang menyengat dari ramuan itu.
" Minumlah, ini hanya ramuan untuk mengembalikan spirit tubuhmu." jawab Mbah Ijah.
" Demi kesembuhan mu, segeralah minum!" perintah Mbah Ijah.
" Minumlah nak, ini semua untuk kesembuhan mu, bukankah kau ingin secepatnya sembuh," timpal bu Safitri memberi dukungan kepada putrinya.
Mendengar ucapan dari ibunya, dengan perlahan Dhita segera meminum ramuan herbal tersebut.
Rasanya memang pahit menggetirkan lidah, namun ramuan itu memiliki banyak khasiat yang ampuh.
Selain untuk mengembalikan daya tahan tubuh, ramuan itu juga berguna untuk memperbaiki sel-sel yang rusak didalam tubuh bahkan secara perlahan mampu mengembalikan rasa peka yang selama ini mulai hilang dari diri Dhita.
" Berikan dia semangat, selalu dukung apa yang menjadi keinginannya, dan jangan pernah membuat dia kecewa, apalagi terluka fisik maupun batin." Mbah Ijah memberikan nasehat, ia memahami betapa berat beban hidup yang di tanggung Dhita selama ini, hingga membuatnya harus mengalami semua ini.
" Apakah putri kami bisa sembuh Mbah?" tanya Bu Safitri penuh harap.
" Secepatnya putri kalian akan sembuh seperti semula." jawab Mbah Ijah membuat semua orang termasuk Arjuna tersenyum bahagia.
Bu Safitri mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, ia berharap secepatnya putri mereka bisa menjalankan amanah sebagai seorang istri yang seutuhnya.
" Ambil ini," ucap Mbah Ijah sembari menyodorkan dua bungkusan kecil di tangannya.
" Apa ini mbah?" tanya Pak Setyo, kebetulan ia yang menerima bungkusan itu.
" Ini gula, minumkan dua kali sehari,dan ini dupa bakarlah setiap sore sebelum menjelang Maghrib dengan memohon ridho dari yang maha kuasa." jawab Mbah Ijah menjelaskan dua bungkusan kecil tersebut.
Mendengar penuturan Mbah Ijah, pak Setyo dan Bu Safitri mengangguk kan kepala, tanda mereka mengerti.
Sedangkan Arjuna yang tidak bisa memahami, hanya ikut menganggukkan kepala.
Setelah selesai dan kondisi Dhita telah pulih, akhirnya mereka berpamitan.
Arjuna memberikan sebuah amplop yang lumayan tebal. Namun Mbah Ijah menolak, ia tidak menerima bayaran berupa apapun, niatnya tulus untuk membantu sesama yang membutuhkan bantuannya.
Arjuna, pak Setyo dan bu Safitri mengucapkan banyak-banyak terimakasih, sebelum mereka meninggalkan tempat itu.
__ADS_1