Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 143 Tidak Adakah Wanita Lain?


__ADS_3

Sedangkan Bu Devina yang telah tiba di rumahnya, merasa sangat kesal karena rencananya gagal total. Perang dunia ketiga yang telah ia rencanakan gagal ia nikmati.


Bu Devina datang ke acara itu bukan tulus untuk mengikuti acara mitoni tujuh bulanan, melainkan karena ia ingin menyaksikan bagaimana reaksi Bellinda terhadap Dhita, mengingat pesan yang ia sengaja ia kirim untuk mengkompori Bellinda ternyata tidak berpengaruh.


Justru ia sendiri menyaksikan sikap Bellinda yang sangat ramah kepada Dhita semakin membuat nya kesal. Namun apa dayanya memang semua tidak berjalan sesuai keinginannya.


" Bagaimana bisa Bellinda tidak merasa cemburu atau sakit hati sedikitpun kepada Dhita, jelas-jelas pesan yang ku kirim sangat mesra dan menggairahkan." gumam bu Devina dengan kesalnya.


Tanpa ia sadari ia telah menumpahkan minuman yang di pegang nya ke ponsel Dhita yang sengaja ia letakkan di atas meja.


" Oh, ya ampun, ceroboh sekali!" Bu Devina terkejut ketika menyadari keteledorannya.


Bu Devina meraih ponsel itu dan mencoba untuk menghidupkannya, namun tetap saja ponsel itu telah rusak.


" Ada apa ma?" tanya pak Aditya ketika melihat istrinya gelisah.


Mendengar suara suaminya dari arah belakang, segera Bu Devina menyembunyikan ponsel Dhita ke kolong meja, agar tidak terlihat oleh suaminya.


" Oh, tidak apa-apa pa!" jawab Bu Devina seraya membenahi letak duduknya, agar pak Aditya tidak curiga dengannya.Bu Devina berpura-pura tenang, meski di dalam hatinya ia merasa sangat gelisah.


*


*


*


Esok harinya pak Setyo dan Bu Safitri berniat untuk pergi ke rumah Bastian. Rencana mereka untuk pulang hari itu di urungkan, karena mereka berdua masih ingin menyelesaikan misi mereka. Khususnya Bu Safitri.


" Paman, bibi!" seru Bastian ketika membuka pintu dan melihat kedua orang itu sedang berdiri di depan nya.


Siapa lagi kalau bukan pak Setyo dan Bu Safitri.


" Mengapa tidak menghubungiku terlebih dahulu paman, bibi. Kan bisa ku jemput!" lanjut Bastian, ia merasa heran mengapa tiba-tiba paman dan bibinya bermain ke mansion miliknya. Karena biasanya mereka akan menolak walaupun telah di ajak mampir sekalipun.


" Apa seperti ini cara orang kaya menyambut tamunya?" tanya pak Setyo, karena tidak langsung di ajak masuk oleh Bastian.

__ADS_1


" Oh ya maaf paman, bibi, mari masuk !" ajak Bastian seraya tertawa terkekeh.


Dan juga membuat Pak Setyo dan Bu Safitri tertawa.


Bu Safitri melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia berdecak kagum melihat keindahan dan kemewahan mansion milik keponakannya.


" Kau sendirian tinggal disini?" tanya Bu Safitri sambil terus berdecak kagum.


" Memangnya harus dengan siapa bi? bukankah aku memang sendiri?" jawab Bastian tersenyum ramah.


" Silahkan duduk paman!" Bastian mempersilahkan pak Setyo untuk duduk.


" Apa kau masih belum punya calon?" Bu Safitri kembali menelisik. Setelah selesai mengintrogasi Citra, kini giliran Bastian.


Bu Safitri duduk di samping oak Setyo.


" Dulu pernah ada Bi, tapi mungkin bukan jodoh, dia lebih memilih pria lain dari pada diriku!" jawab Bastian.


" Oh ya, mengapa kau tidak pernah bercerita kepada bibj?" tanya Bu Safitri, karena seingatnya Bastian tidak pernah bercerita tentang kisah cintanya selama ini.


Jadi menurut Bastian lebih baik ia simpan sendiri saja semua kisah nya yang tak mungkin akan menjadi nyata. Karena wanita yang di cintainya kini telah hidup bahagia bersama orang yang di cintainya.


" Oh, jadi untuk saat ini apa kau telah menemukan wanita lain?" Kini pertanyaan Bu Safitri lebih mendalam, dan itu membuat Bastian menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


" Maksud bibi apa?" Bastian mulai bertanya balik.


" Begini nak Bastian!" Pak Setyo yang sedari tadi hanya diam, kini ikut berbicara.


" Maksud kedatangan kami ke mari, kami hanya ingin agar kau segera menikah. Kami ingin agar kau ada yang mengurus, karena ayahmu telah memberikan amanah kepada kami agar mencarikan nak Bastian seorang pendamping !" papar pak Setyo panjang lebar.


Ya, memang sebelum pergi ke Paris, David telah berpesan kepada Pak Setyo dan Bu Safitri agar segera mencarikan wanita yang baik sebagai calon pendamping hidup Bastian, dan Citra adalah wanita yang tepat untuk Bastian menurut pak Setyo dan Bu Safitri.


Mendengar pernyataan dari Pamannya, Bastian hanya diam saja. Melihat keponakannya yang hanya diam saja, membuat Bu Safitri mengutarakan maksudnya.


" Kedatangan kami kemari, kami hanya ingin mengatakan kalau kami ingin menjodohkan kau dengan Citra." ucap Bu Devina to the poin, ia tidak ingin berbasa-basi lagi.

__ADS_1


" Apa? apa tidak ada wanita lain bi, selain dia yang jelas-jelas telah menjadi istri orang?" sulit untuk percaya bagi Bastian dengan ucapan bibinya.


" Dengarkan kami baik-baik!" lanjut Bu Safitri.


" Citra menikah dengan Arjuna bukan di landasi dengan cinta, dan Arjuna juga terpaksa menikahinya karena permintaan Dhita." ucap Bu Safitri berusaha menjelaskan.


Namun tidak ada reaksi dari Bastian, wajahnya masih terlihat sama, datar dan dingin.


" Dan kami telah bertanya kepadanya." lanjut Bu Safitri.


" Bertanya apa bi?" tanya Bastian, sepertinya ia sedikit tertarik, namun masih di sembunyikannya.


" Bertanya tentang jika seandainya ada seseorang yang tulus ingin menjadikan dia istri satu-satunya, dan dia menjawab, entahlah, itu tandanya dia pasrah." jawab Bu Safitri.


" Mungkin dia lelah Bu harus menjadi yang kedua, apalagi setiap saat dia harus menjalani harinya seperti istri yang tak di anggap!" papar pak Setyo menambahkan.


Mendengar penjelasan dari bibi dan pamannya, susah bagi Bastian untuk percaya. Namun apa hendak dikata, karena semua itu memang benar.


" Bagaiman nak Bastian, apa kau merasa ada kecocokan dengannya?" Bu Safitri mulai mendesak Bastian.


Bastian tidak menjawab, ia merasa bingung harus menjawab apa, jika iya, dirinya tidak memiliki perasaan apapun dengan wanita itu, jangankan perasaan mengenalnya saja baru beberapa hari ini, ketika mereka bertemu di rumah sakit. Dan Jika tidak, pasti paman dan bibinya akan merasa sangat kecewa.


" Jangan terlalu lama hidup sendiri, itu tidak baik. Setidaknya jika kau memiliki pendamping di dalam hidupmu, kau tidak akan merasa kesepian, karena disetiap saat, kau ada yang selalu menemani!" tambah pak Setyo.


Bastian menghela napas panjang.


" Terserah bibi dan paman saja!" dan kata-kata itu membuat bu Safitri dan pak Setyo terperanjat, seulas senyum lebar terlukis di bibir mereka berdua.


Mereka merasa sangat senang mendengar jawaban dari Bastian yang seolah pasrah. Karena itu berarti secara tidak langsung Bastian menyetujuinya.


" Baiklah, kalau begitu bibi akan urus semuanya!" ucap Bu Safitri penuh kesungguhan.


" Apa yang akan bibi urus?" tanya Bastian merasa heran, mengapa tiba-tiba adik dari ayahnya ini akan mengurus semuanya.


" Kau diam saja, persiapkan dirimu untuk langkah selanjutnya." namun bukan bu Safitri yang menjawab melainkan pak Setyo.

__ADS_1


__ADS_2