Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 125 Payung Emas


__ADS_3

" MMM. Maksudku kamar kau dan Citra, aku tidak mau dia merasa aku yang merampas malam miliknya," Jawab Dhita, karena ia tahu benar kalau malam ini memang jatah wanita itu, jadi ia tidak boleh mengganggunya.


" Ha ha ha ha ha! merampas? kau merampas aku darinya? bukankah dia yang telah hadir di antara kita berdua? jadi menurutku dia harus bisa memahami kalau kita adalah pasangan suami istri yang selalu romantis." ucap Arjuna panjang lebar. Tertawanya terdengar sangat keras.


" Ssstt! jangan berisik sudah malam, cepat sana pergi!" Dhita mengibaskan-ngibaskan tangannya, menyuruh suaminya pergi.


" Kau berani mengusirku?!" Arjuna melotot mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya.


" Tidak mas, aku tidak pernah mengusirmu, tapi setidaknya jangan biarkan diriku merasa berdosa karena kau meninggalkannya sendiri di sana, ingat mas, kau bukan hanya suamiku saja, tapi kau juga suami nya," ucap Dhita dengan suara tersendat karena menahan tangisnya.


Bukan karena suaminya yang ia suruh untuk bersama wanita lain, melainkan karena suaminya yang melotot kepadanya dan sungguh itu membuat dirinya sangat sedih.


" Berikan aku payung emas dengan kau bersikap adil kepada ku dan dirinya, aku rela mas, aku ikhlas kau bersamanya!" Kemudian Dhita berbalik membelakangi Arjuna yang mulai merenungi setiap perkataannya.


Melihat sikap istrinya yang begitu serius, membuat Arjuna bersedia atau tidak, ia harus menurutinya. Karena jika tidak maka, wanita ini akan menyalahkan dirinya sendiri.


" Baiklah, aku pergi!" pamit Arjuna seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Setelah di rasa suaminya tidak ada di situ lagi, Dhita berbalik badan perlahan sambil menatap ke arah pintu yang telah tertutup rapat.


" Maafkan aku mas, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat mu marah!" bisik Dhita lirih.


Perlahan wajah itu telah Basah dengan air mata.


Sedangkan Arjuna yang baru saja memasuki kamar Citra, merasa bingung harus melakukan apa. Mungkin jika wanita yang sedang tidur itu adalah Dhita, ia tidak mungkin bersikap se canggung ini, akan tetapi dia adalah Citra, wanita yang sama sekali tidak di cintainya.


Arjuna menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya.


" Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Arjuna sambil mencari-cari dimana tempat yang cocok untuknya beristirahat.


SOFA.


Ya, di sofa lah tempat yang cocok untuknya beristirahat, untuk merenggangkan otot-otot yang telah kaku karena lelah bekerja seharian.


Dengan segera Arjuna merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Dan dalam detik berikutnya ia telah tertidur pulas. Suara dengkuran halus mulai terdengar sayup-sayup.


ZZZZZZZZZ....

__ADS_1


ZZZZZZZZZ.....


Bu Devina yang diam-diam mengintip dari balik pintu, merasa sangat puas ketika melihat Arjuna memasuki kamar putrinya kembali dan tidak keluar lagi.


Lewat tengah malam, Citra terbangun dari tidurnya. Ia merasa ada yang aneh, seingatnya ia yang sebelumnya tertidur di sofa, mengapa mendadak berada di atas ranjang.


" Siapa yang memindahkan aku kesini?" tanya Citra lirih.


Di dalam kebingungannya pandangan kedua matanya menangkap sesuatu.


Ia melihat seorang pria yang sedang tertidur pulas di sebuah sofa tidak jauh dari tempatnya.


" Arjuna!" bisik Citra hampir tak terdengar.


Sebuah senyum mengembang di wajah cantik Citra, senyum yang mengandung penuh makna.


Perlahan Citra turun dari ranjang dan melangkah menuju ke arah Arjuna.


" Terima kasih Ar telah peduli padaku, terima kasih atas semua kebaikan mu kepadaku, meski aku tahu aku tidak bisa memilikimu seutuhnya." ucap Citra perlahan hampir tak terdengar.


" Karena cinta dan kasihmu hanya untuk Dhita, Tapi malam ini kau telah memberikan diriku suatu kebahagiaan dengan tetap di sini." lanjutnya kembali.


Ya, setidaknya Arjuna tetap menjaga hati Citra dengan tetap bersamanya, didalam hati Citra merasa sangat bahagia.


Cukup bisa memandangnya saja telah mampu membuat Citra bahagia, satu atap dalam keheningan malam walaupun tidak ada yang istimewa yang terjadi malam itu.


Arjuna menggeliat menampakkan dada bidang nya yang kian menggoda, karena kimono yang dipakainya sengaja ia membuka kancingnya sebelum tidur, di sebabkan ia merasa gerah.


Dada bidang dengan sedikit berbulu, membuat Citra susah payah menelan Saliva nya.


" Ya Tuhan, sungguh ini godaan terberat yang aku rasakan!" gumam Citra.


Bukan tanpa alasan ia merasakan hal itu, sebab dulu ia pernah merasakan menyentuh dan membelai dada bidang itu. Hingga benar-benar membuat dirinya lupa diri.


Namun Citra yang kini telah berbeda dengan Citra yang lalu, Citra yang lebih mengutamakan nafsunya. Kini ia lebih bisa menahan diri walaupun dengan cara susah payah.


Arjuna yang merasakan ada pergerakan udara di sekitarnya, segera membuka kedua matanya.


" Citra! kau tidak tidur?" tanya Arjuna setengah terperanjat, melihat wanita itu sedang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


" Baru saja!" jawab Citra


" Tidurlah, hari masih malam." ucap Arjuna


" Ya"


Kembali Arjuna melanjutkan tidurnya tanpa memperdulikan Citra yang masih memandangnya.


Karena Arjuna kembali tertidur, Citra memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Tiba-tiba ia teringat akan Bu Devina yang makan itu menginap di situ.


" Ah, ya aku melupakan mama, apa kabarnya mama sekarang? apa dia sudah tidur?" Bisik Citra seraya bergegas untuk menemui ibunya.


Setibanya Citra di kamar ibunya, ternyata lampunya telah di matikan, suasana begitu hening.


Perlahan Citra mencoba untuk membuka pintu itu, dan tenyata ibunya telah tertidur.


" Ma!" panggil Citra.


" Hm!" sahut Bu Devina.


" Mama sudah tidur?" tanya Citra lagi dan berhasil membuat Bu Devina kesal.


" Memangnya kau lihat mama mu ini sedang apa?" Bu Devina yang telah sedikit kesal membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


" Mengapa kau disini ?" tanya Bu Devina yang merasa aneh pada putri nya itu.


" Bukankah kau seharusnya bersama dengan suamimu?" tanpa mendapat jawaban dari Citra Bu Devina terus saja berbicara.


" Ya, mama benar, tapi bukan karena apapun aku kemari, aku hanya ingin tahu keadaan mama saja!" jawab Citra seraya duduk di samping ibunya.


" Dimana suamimu? apa dia sedang bersama wanita itu?" tanya Bu Devina menelisik, seraya menatap putrinya dengan intens.


" Di kamar ma, Arjuna sedang tidur!"


" Mengapa kau kesini? harusnya kau temani suamimu!" Bu Devina benar-benar merasa kesal dengan sikap putrinya.


" Mama sudah makan?" Citra sengaja mengalihkan pembicaraan agar ibunya tidak terus menggerutu.


" Sudah, bersama Dhita!" sergah Bu Devina di dalam kekesalannya.

__ADS_1


" Apakah telah terjadi sesuatu kepada kalian malam ini?" Bu Devina sengaja bertanya seperti itu untuk memastikan.


" Maksud nama?" Kening Citra mengkerut, tanda ia tidak mengerti.


__ADS_2