
" Berikan perhatian lebih kepada istrimu, ibu hamil lebih rentan stress, dan itu akan berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janinnya," papar mommy Rita menasehati putranya.
Sedangkan Arjuna hanya diam membisu seribu bahasa. Wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan.
" Kenapa Ar, sepertinya kau tidak bahagia mendengar istrimu hamil?" tanya mommy Rita merasa aneh dengan sikap putranya.
" Atau jangan-jangan, kau tipe pria yang tidak ingin memiliki keturunan, karena kau tidak ingin cinta istrimu terbagi dua?" mendengar pertanyaan ibunya, Arjuna terkejut.
" A~aku, tidak bukan seperti itu mom, Arjuna bahagia kok mom, hanya saja aku sedang banyak pikiran." jawab Arjuna terbata karena ia harus mencari kata-kata yang tepat, agar tidak membuat ibunya curiga.
" Ya, syukurlah kalau begitu," gumam mommy Rita.
Arjuna menghembuskan napasnya dengan kasar.
" Baiklah, sekarang sudah malam, lebih baik kau segera istirahat." ucap mommy Rita, kemudian pergi ke kamarnya.
Walaupun hari telah malam, Arjuna tidak merasakan lelah sedikitpun. Hanya bayang-bayang tentang perselingkuhan istrinya yang selalu menari-nari di kepalanya.
" Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan," bisik Arjuna, memejamkan kedua matanya.
Kepalanya bersandar pada senderan sofa.
Betapa pun ia mencoba untuk menghilangkan semua unek-unek nya, tetap saja semua terngiang-ngiang di telinganya.
" Lebih baik aku tidur di sini saja." gumam Arjuna kemudian berbaring, membenarkan posisi nya.
Sementara itu Dhita tidak bisa memejamkan matanya, sedari tadi ia menunggu Arjuna, berharap pria itu akan kembali ke kamarnya.
Namun lama ia menunggu Arjuna tetap tidak datang juga.
Akhirnya Dhita memutuskan untuk mencari pria itu.
" Mas!" panggil Dhita menyusuri seluruh ruangan di rumah itu.
Suasana yang gelap, karena lampu-lampu telah di padamkan, membuat Dhita kesulitan mencari suaminya.
" Mas!" kembali Dhita memanggil suaminya, namun tak ada jawaban.
Karena suasana yang gelap, Dhita tidak menyadari kalau ada botol minuman yang tergeletak di lantai.
PRAAAKKK.
Suara botol minuman terinjak oleh Dhita.
BRUUUKKK.
Karena terkejut, Dhita kehilangan keseimbangan. Membuat tubuhnya terjatuh
tepat di atas tubuh Arjuna.
Arjuna yang terbangun karena mendengar suara botol tadi, dengan reflek menopang tubuh istrinya.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka saling beradu pandang.
Tatapan bertemu dengan tatapan.
Setiap hembusan napas saling terasa.
" Hati-hati !" seru Arjuna pelan.
__ADS_1
Lalu membenarkan kembali posisi istrinya.
Dhita segera bangkit untuk berdiri.
" Makasih ya mas." ucap Dhita setelah kembali berdiri.
" Ayo mas!" ajak Dhita, ia bermaksud mengajak suaminya untuk tidur di kamar, namun tidak direspon oleh Arjuna.
Arjuna yang kembali berbaring, tetap memejamkan matanya walaupun ia mendengar ajakan istrinya.
Tidak mendapat respon dari suaminya, Dhita pun diam. Perlahan ia melangkah gontai menuju kamarnya.
Hatinya sangat perih mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
Tes.
Tes.
Tes.
Air mata mulai menetes, membasahi kedua pipi nya.
Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Sunyi, sepi tanpa adanya seorang kekasih yang menemaninya.
Walaupun kini mereka telah bersama, namun pada kenyataannya mereka tak dapat saling bersama. Di karenakan kesalahpahaman semata.
Malam pun semakin larut, membawa para manusia ke alam mimpi masing-masing.
Namun tidak halnya dengan Dhita dan Arjuna, walaupun berada ditempat yang berbeda namun, pikiran dan hati mereka tetap menyatu.
*
*
*
Pagi-pagi sekali, Bastian yang telah mengetahui dari paman dan bibinya yaitu, pak Setyo dan Bu Safitri tentang kepulangan Dhita yang di jemput oleh Arjuna, tiba di mansion mewah milik pria yang berstatus suami Dhita Pratiwi tersebut.
Bastian berdiri di depan pintu sambil berdecak pinggang, karena telah berulang kali ia menekan tombol bel pintu, namun tidak ada seorang pun yang membukanya.
" Kemana saja orang-orang di sini, apa mungkin di mansion semewah ini tidak ada pelayan satu pun." gerutu Bastian.
Sekali lagi Bastian hendak menekan kembali tombol bel pintu itu, namun di urungkan nya ketika terdengar sebuah suara pintu di buka.
" Permisi!" sapa Bastian dengan ramah kepada pelayan yang membuka pintu.
Pelayan itu tersenyum ramah ketika melihat Bastian, sebab pelayan itu pernah melihat Bastian sebelumnya, oleh karena itu, ia langsung mengenali Bastian.
" Ya, ada yang bisa saya bantu tuan, anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya pelayan itu dengan ramah dan sopan.
" Saya Bastian, sepupunya Dhita, saya ingin bertemu dengannya." Bastian yang awalnya merasa jengkel, perlahan menjadi kalem, setelah mendapat sapaan baik dan ramah dari pelayan itu.
" Mari masuk tuan, saya akan panggilkan nyonya Dhita."
Bastian pun masuk mengikuti langkah pelayan itu.
" Silahkan duduk tuan,"
Bastian mengangguk. Di dalam hati ia mengagumi keindahan mansion milik Arjuna.
__ADS_1
Pilar-pilar yang kokoh menjulang tinggi, serta tatanan aksesoris yang indah, semakin memanjakan mata..
Dhita turun dari tangga dengan santai, ia tersenyum melihat saudara sepupunya datang berkunjung.
" Apa kabar Dhi, mengapa tidak memberitahu ku kalau kau kembali ke jogja?"
Dhita yang baru saja duduk, menjawab pertanyaan Bastian dengan pelan.
" Iya maaf, aku lupa," Dhita seolah tidak bergairah, badannya terlihat lesu.
Bastian menatap sepupunya dengan tatapan menelisik. Ia memandang Dhita dari atas hingga bawah.
" Kau sakit?" Bastian menyentuh kening Dhita, namun tidak terasa panas.
" Aku baik-baik saja."
Mommy Rita yang kebetulan akan pergi ke kantor terkejut melihat Bastian yang sedang duduk bersama menantunya.
" Bastian!" sapa mommy Rita, membuat yang di tatapnya mendongakkan kepala.
" Apa kabar tante?"
" Baik," jawab mommy Rita..
Kemudian mommy Rita ikut duduk bersama mereka.
" Beruntung kau kemari, ada kabar baik untuk kita semua,"
" Kabar baik apa Tante?" Bastian terlihat penasaran.
" Sepupu mu Dhita, sedang hamil saat ini." mommy Rita menunjuk ke arah Dhita.
" Benarkah?" Bastian tersenyum lebar.
Mommy Rita mengangguk.
" Oh, aku benar-benar bahagia," ucap Bastian menatap Dhita.
" Paman dan bibi harus mengetahui berita ini ." Bastian teringat orang tua Dhita.
Mendengar ucapan Bastian, Dhita menatapnya dengan intens.
Ingin rasanya ia membungkam mulut Bastian.
Agar berita hoax ini tidak semakin meluas.
" Kau seharusnya bahagia, kau akan menjadi seorang ibu, mengapa kau malah bersedih." Bastian merasa aneh dengan sikap sepupunya.
Sedangkan Arjuna sedang mengawasi mereka dari atas balkon. Ia ingin mengetahui seberapa dekat hubungan mereka.
Arjuna mengepalkan tangannya saat melihat Bastian akan menyentuh perut istrinya. Yang langsung membuat Dhita risih.
Melihat kedekatan Bastian dan Dhita, Arjuna merasa yakin bahwa bayi yang sedang di kandung oleh istrinya, memang berasal dari benih pria itu.
Rasa cemburu kian membesar di hati Arjuna.
" Hai Arjuna!" sapa Bastian ketika melihat pria itu sedang menuruni anak tangga.
" Baik!" jawab Arjuna dengan sikap acuh.
__ADS_1
Ingin rasanya ia mematahkan leher Bastian.