SIMULATION

SIMULATION
COLONEL BREGO*


__ADS_3


Colonel Brego yang mendapatkan julukan manusia Singa karena rambutnya yang lebat dan berwarna merah, merasa tak keberatan di mana ia malah berterima kasih karena julukannya itu, ia menjadi dikenal di Great Ruler.


"Perang yang terjadi sekitar 30 tahun silam sungguh mengerikan. Somalia yang kalian tahu, memang berada di benua Afrika. Aku berasal dari Timur Tengah karena memang di sanalah aku lahir sebelum akhirnya pindah ke Somalia karena perang hebat yang terjadi di tempat kelahiranku. Negara-negara tetangga bergabung melawan negara-negara dari benua lain. Jujur, aku tak pernah melihat pembantaian brutal seperti itu sepanjang hidupku," ucap Brego dengan mata tertuju pada api unggun di hadapannya.


Semua orang mendengar serius menyimak.


"Maaf, Colonel. Bagaimana caranya Anda dan para pengungsi bisa kabur dari perang itu hingga akhirnya tiba di Great Ruler?" tanya Sandra memberanikan diri bertanya.


Semua orang ikut penasaran dengan kisah mencekam tersebut seakan mereka berada di sana.


"Aku dipercaya oleh pemimpinku untuk melindungi anggota keluarganya di bunker bawah istana, termasuk anggota keluarga dari petinggi pemerintah lainnya. Namun, setelah peperangan yang terjadi sehari semalam, pasukan kami terdesak. Akhirnya, aku diminta untuk mengungsikan orang-orang itu diam-diam. Pemimpinku menjanjikan akan melindungi kami sampai keluar dari medan pertempuran. Akhirnya, aku meninggalkan negaraku," jawab Brego dengan pandangan tertunduk seperti mengenang kisah tragis hidupnya.


"Berapa jumlah pengungsi yang Anda bawa saat itu, Colonel?" tanya Sam penasaran.


"250 orang. Namun ... aku gagal. Satu persatu dari mereka berguguran saat perjalanan di mana tiap negara yang kami kunjungi, menolak menerima kami karena hidup mereka juga sulit. Kami terus berjalan dari satu wilayah ke wilayah lain seperti tuna wisma, hingga akhirnya ... jumlah kami semakin sedikit," jawabnya sedih meski tak ada air mata yang tampak di sana.


"Colonel Brego berhasil membawa 37 orang ke Great Ruler. Sebuah keberuntungan baginya karena saat itu, Roman baru saja menjabat menggantikan ayahnya, kakekku maksudnya. Colonel beserta rombongannya dipersilakan tinggal di luar benteng. Mereka mendirikan tenda di sana. Yah, begitulah kisah yang kudengar dari pamanku. Apakah itu benar, Colonel?" tanya Matteo menatapnya saksama.


Brego mengangguk dengan senyuman.


"Ya. Roman lalu tertarik dengan aktivitas yang kami kerjakan di luar benteng. Ia penasaran dengan warna rambutku yang tak memudar sejak aku menginjakkan kaki di wilayah Great Ruler. Diam-diam, Roman memata-mataiku. Ia melihatku bisa beradaptasi dan bertempur saat ada hewan liar yang berusaha memakan orang-orang di luar benteng. Para pengungsi lainnya lalu menjadikanku sebagai ketua mereka. Aku sebenarnya keberatan, tapi mereka percaya padaku. Jadi ... aku menerima kehormatan itu menjadi semacam ... kepala suku," jawabnya dengan candaan.


Semua orang tersenyum karena Brego bisa menerima kehidupannya yang sulit dengan baik.


"Lalu ... bagaimana Anda bisa masuk ke Great Ruler?" tanya Baden penasaran.


"Seperti yang kubilang tadi. Roman mengawasiku. Lalu saat semakin banyak pengungsi memenuhi luar benteng Great Ruler, Roman memanggilku. Aku panik saat itu. Aku khawatir jika kelompokku akan diusir, sedang kami sudah merasa nyaman tinggal di luar benteng. Untuk pertama kalinya, dari 300 orang yang hidup di luar benteng, aku satu-satunya yang diizinkan masuk ke Great Ruler. Aku menangis. Jangan menertawaiku," ucapnya mengancam, tapi semua orang sudah terlanjur terkekeh bahkan Sandra.


"Wow! Itu pasti ... sangat mengharukan," ucap Sandra dan Brego mengangguk membenarkan.


"Aku hidup selama dua tahun di luar benteng. Lalu tiba-tiba, aku dibawa masuk. Aku seperti orang kampungan ketika melihat Distrik 9. Aku sampai melepas alas sepatu dan membiarkan kakiku yang bau berlarian menginjak rerumputan hijau. Aku bahkan bergulung-gulung di padang savana dengan gembira. Aku sudah seperti orang gila," jawabnya semangat.


Kembali, orang-orang tertawa dan malah membayangkan kegembiraan Brego saat itu. Matteo bahkan tertawa kencang. Brego terlihat tak malu menceritakan kebodohannya.


"Di sanalah, aku bertemu Roman dan Lala untuk pertama kali. Mereka menyambutku dengan baik. Aku diajak ke sebuah gedung yang saat itu masih dalam tahap pengembangan. Hem, gedung Green Eco. Saat itu, baru ada 1 gedung yang berhasil dibuat, tapi sudah membuatku melongo karena tak pernah melihat bangunan begitu indah dan canggih seumur hidupku. Aku kembali menangis."


"Hahahaha!" Kembali, semua orang tertawa karena ekspresi Brego sungguh lucu dan begitu mahir bercerita hingga semua orang ikut terbawa suasana.


"Lalu ... aku diajak duduk di sebuah ruangan yang sangat modern. Aku benar-benar tak bisa melupakan kejadian itu. Pertama kalinya, aku merasa seperti orang berguna dan diharapkan. Kalian tahu, selama bertahun-tahun aku dan rombonganku berjalan menyusuri dua benua demi bisa mendapatkan tempat tinggal. Kami ditolak karena dianggap gelandangan, pembawa penyakit, pembawa kesialan dan hujatan buruk lainnya. Namun, Roman mengatakan jika ... Great Ruler membutuhkan orang sepertiku. Katanya, aku membawa hal baik untuk kemajuan negara ini. Aku ... menangis."

__ADS_1


Kini, tak ada tawa. Brego berlinang air mata saat mengutarakan perasaannya. Semua orang terharu dan serasa ikut merasakan kebahagiaan yang Brego rasakan.


"Aku sangat berterima kasih atas kesempatan itu. Namun, ada sebuah kesepakatan untuk hal tersebut. Aku diminta untuk menjadi penanggungjawab Distrik 10, tempat berkumpulnya para pengungsi. Roman mengatakan akan membuat sebuah benteng untuk melindungi kami. Distrik 10, akan menjadi salah satu bagian dari Great Ruler, hanya saja tidak resmi. Bagiku, hal itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya, aku mengerahkan semua penduduk di luar benteng untuk membantu membuat dinding. Semua orang bekerja keras dan senang. Akhirnya, Distrik 10 terbentuk dan ... kami merasakan keamanan selama hidup di dalam sana tanpa serangan makhluk buas yang mengincar nyawa kami setiap harinya," ucap Brego menjelaskan asal mula terbentuknya Distrik 10.


"Pasti kau tak bisa tidur nyenyak selama 2 tahun hidup di luar benteng, Colonel," ucap Cendric sedih.


"Ya. Namun, itulah hidup. Di masa sulit ini, kita tak memiliki banyak pilihan. Yang kuat bertahan, yang lemah akan berakhir dengan mengenaskan," jawabnya serius. Semua orang terdiam.


"Lalu ... Anda menjadi pemimpin Distrik 10?" tanya Sandra menatap Brego lekat.


"Ya. Aku diberikan jabatan sebagai Colonel. Aku diberikan sebuah tempat tinggal. Kalian tahu 'kan, gedung tempat seleksi calon pengungsi yang akan masuk ke Great Ruler?" tanya Brego menatap semua orang.


Para kandidat itu mengangguk. Sandra teringat saat ia pertama kali melihat Vemo yang telah dewasa ketika pria itu mengamuk karena gagal seleksi.


"Aku tinggal di sana bersama 10 orang yang dianggap layak dan mampu bekerja untuk mengelola Distrik. Namun ... maaf Jenderal Matteo jika ini menyinggungmu," ucap Brego melirik sang Jenderal.


Matteo mempersilakan dan terlihat tak masalah dengan pembicaraan selanjutnya.


"Yah. Sayangnya, Morlan tidak setuju dengan semua rencana Roman. Akhirnya, aku mengajukan beberapa penawaran dan kesepakatan dengan Morlan yang pada akhirnya disetujui oleh ayah dari Jenderal kita, Matteo," sambungnya.


"Apa itu?" tanya Matteo penasaran hingga keningnya berkerut.


Matteo tertunduk terlihat tertekan karena sikap ayahnya yang mempersulit keadaan. Semua kandidat terdiam.


"Namun, tak semua keputusan itu buruk. Lihatlah, warga Distrik 10 mampu bertahan hingga puluhan tahun dengan sistem yang diterapkan oleh Morlan. Melihat sulitnya hidup di zaman peperangan ini, bagiku ... keputusan Morlan tepat. Tak semua orang bisa tinggal di Great Ruler agar orang-orang baru tak menghancurkan sistem yang sudah dibentuk dengan susah payah dari para pendahulu. Kita harus menghormatinya. Oleh karena itu, aku sangat menyayangkan ketika Morlan diusir dari Great Ruler. Ia hebat, hanya saja ... keputusannya memang sangat beresiko karena bisa menimbulkan kematian," ucap Brego menambahkan.


"Maksud Anda ... karena Morlan menciptakan mutan?" tanya Ben dan Brego mengangguk pelan.


"Aku tahu maksud Morlan baik. Hanya saja, dia terlalu terburu-buru dan melakukannya tanpa melibatkan banyak pihak sehingga usahanya dianggap ilegal. Jika saja Morlan lebih terbuka, aku cukup yakin, tak akan berakhir buruk seperti ini," ucap Brego mengutarakan pendapatnya.


Matteo termenung dengan pandangan kosong menatap bara api di hadapannya. Ternyata, semua orang menyadari tingkah laku sang Jenderal yang terlihat murung. Suasana hening seketika.


"Hoampf. Aduh. Aku sudah lama sekali tak begadang. Maaf, bagaimana jika obrolan ini, kita lanjutkan lain kali saja? Tak baik bagi kita berlama-lama di luar. Aku kembali merasa takut jika teringat ada hewan buas yang bisa saja datang untuk menikmati kenikmatan tubuhku," ucap Brego seraya melihat sekitar dengan gugup.


Praktis, senyum semua orang kembali terkembang karena tingkah lucu sang Colonel. Akhirnya, semua orang meninggalkan area api unggun.


Brego menyiram bara itu hingga padam dengan air kolam. Para kandidat kembali masuk ke dalam bangunan dan menuju kamar masing-masing.


"Oh! Anda mau ke mana, Jenderal? Kamarmu denganku," tanya Brego karena Matteo malah mengikuti Sandra di belakangnya.


"Oh. Oke," jawabnya malu lalu membalik tubuhnya dan masuk ke kamar Brego dengan cepat.

__ADS_1


Sandra tersenyum tipis karena tingkah Matteo yang baginya cukup lucu hari itu. Sandra tidur di sebuah kamar untuk dirinya sendiri.


Empat kawan pria lainnya sudah tidur dengan kasur bertingkat. Kasur Sandra lebih lebar dan muat untuk dua orang, tapi ia memakainya sendirian.


"Selamat malam," sapa Sandra saat mematikan lampu.


"Malam, Otka," jawab para pria yang sudah berbaring di kasur.


Sandra segera merebahkan tubuhnya yang letih. Tak lama, ia tertidur pulas termasuk para kandidat pria lainnya yang satu kelompok dengannya.


Di kamar Brego.


Matteo tak bisa tidur dengan nyenyak meski kasur mereka terpisah. Ternyata, Colonel Brego mendengkur cukup keras hingga Matteo menutup kedua telinganya dengan bantal.


"Ya Tuhan. Dengkurannya lebih mengerikan ketimbang mutan-mutan ciptaan ayahku," gerutu Matteo yang memposisikan tubuhnya tengkurap agar tak mendengar auman manusia singa itu.


Namun, Matteo tak tahan. Ia akhirnya keluar dari kamar tanpa Spectra yang sedang mengisi daya di kamar Brego.


Matteo keluar mengendap seraya membawa bantal, bertelanjang kaki dan mengenakan celana panjang serta kaos putih sebagai piyama tidurnya. Diam-diam, Matteo masuk ke kamar tempat Sandra dan timnya beristirahat.


Sang Jenderal melongok ke dalam di mana pintu ruangan itu tak dikunci. Matteo tersenyum lebar karena kawan-kawan Sandra tidur dengan tenang tak ada suara dengkuran. Matteo mencoba mencari tempat yang nyaman untuknya tidur, tapi tak ada.


Hingga akhirnya, ia mendapati Sandra tidur sendirian dalam posisi memunggunginya. Matteo terlihat ragu, tapi hanya ranjang Sandra satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk tidur.


Pria bermanik biru itu memberanikan diri untuk merebahkan tubuhnya perlahan agar tak membangunkan Sandra.


Matteo memeluk bantalnya sebagai guling. Ia tidur memunggungi Sandra, tapi malah membuat jantungnya berdebar.


Akhirnya, Matteo mengubah posisinya. Ia kini tidur dengan menatap punggung Sandra sebagai pengantar tidurnya. Senyum tipis terukir di wajah sang Jenderal.


"Selamat malam, Otka, dan terima kasih makan malamnya," ucap Matteo lirih dan perlahan memejamkan mata.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ Lele padamu😘 Rehat dulu dan semoga gak ada typo🤭 Amin💋 Btw udh eps 100 nih. Horeee🎉


__ADS_1


__ADS_2