
Sandra terlihat gugup saat sang Presiden seperti ingin memberikan sebuah kejutan dari rahasia Matteo dan Blue. Wanita berambut cepak itu menatap Roman seksama.
"Jawab dengan jujur. Diantara Matteo dan Blue, kau lebih nyaman bersama siapa?"
"Colosseum Blue," jawab Sandra cepat, dan Roman mengangguk tanpa ekspresi.
"Bagaimana jika ... Blue tak pernah kembali lagi?"
Kening Sandra berkerut. "Apa maksud Anda? Jangan katakan jika Blue tewas karena sebuah insiden," tanyanya langsung melebarkan mata.
Roman tertunduk. "Aku tak pernah memberitahukan hal ini pada siapapun. Rahasia ini tersimpan rapat, dan hanya aku, Lala, dan Morlan saja yang tahu. Semua orang mengira mereka kembar, tapi sebenarnya, mereka orang yang sama. Hem, aku lebih suka menyebutnya, dua kepribadian dalam satu tubuh manusia."
Sontak, mata Sandra melebar. "What?!"
Roman menarik nafas dalam. "Oleh karena itu, wajah Blue dan Matteo mirip bukan? Apa kau pernah memperhatikan dengan teliti, perbedaan keduanya?" Sandra mengangguk. "Katakan."
"Mm, Blue memakai kacamata dan Matteo tidak. Blue ... pribadi yang baik dan menyenangkan, sedang Matteo ... hempf, intinya aku membencinya," jawab Sandra terlihat malas jika menyebut nama Jenderal muda itu.
"Semua ... ada penyebabnya. Terkadang, pria bermata biru itu bisa menjadi Matteo dan bisa menjadi Blue. Semua ada pemicunya, dan awal mula terjadi belasan tahun silam. Sebuah dasar dari sebuah pemikiran yang menyebabkan perselisihan dalam cara mendidik anak antara Morlan dan Aurora," ucap Roman dengan pandangan tertunduk.
"Tolong ceritakan," pinta Sandra memohon.
"Nama asli Jenderal muda kita memang Matteo Corza. Nama Colosseum Blue tercipta karena pembentukan karakter yang dibuat oleh Aurora, ibu kandung Matteo," ucap Roman mulai berkisah. Sandra menatap sang Presiden lekat terlihat tegang. "Morlan, membentuk pribadi Matteo seperti anak lelaki yang diidamkannya. Kuat, tegas, keras kepala, idealis, dan perfeksionis. Semua itu Morlan siapkan karena ia berharap Matteo bisa menggantikan posisinya menjadi pemimpin Great Ruler kelak."
"Maksud Anda ... Matteo menjadi calon Presiden? Menggantikan Morlan?" Roman mengangguk.
"Tak ada yang salah dengan hal itu. Aku tahu tujuannya baik. Hanya saja, Aurora tak berpikir demikian. Matteo menjadi angkuh dan kehilangan rasa kemanusiaannya. Aurora tak ingin hal itu terjadi. Lalu ... dia membuat sebuah pemikiran yang sangat kuat di alam bawah sadar Matteo ketika mereka berdua bersama. Untuk hal ini, aku tak tahu praktek apa yang Aurora lakukan pada anaknya. Namun, usahanya berhasil. Saat Matteo bersamanya, sikap Blue muncul. Kau ... pasti tahu, seperti apa perilakunya."
"Maksud Anda ... karakter Colosseum Blue muncul saat bersama ibunya? Aurora Dimensia?" tanya Sandra memastikan.
"Kau pernah datang ke rumah Blue?" Sandra mengangguk pelan. "Itulah, tempat di mana Aurora membentuk kepribadian Colosseum Blue. Aurora memanfaatkan kesibukan Morlan dengan menghabiskan waktu bersama Matteo. Bisa dibilang, menjalin hubungan antara ibu dan anak. Lala yang memberitahukan hal ini padaku. Ia datang ke rumah Aurora dan melihat sendiri perubahan sikap pada keponakanku itu. Akhirnya, aku ikut melihatnya. Aku bisa merasakan hal baik dari diri Blue yang tak pernah Matteo tunjukkan," ucap Roman dengan senyuman.
"Lalu ... bagaimana mereka berdua bisa berubah? Maksudku ... aku pernah membaca tentang jenis perilaku seperti itu, dan setahuku ... tak ada obatnya. Benar kata Anda, semua bisa terjadi karena ada pemicunya," jawab Sandra yang kini serius menanggapi pengakuan Presiden Roman.
"Morlan menyadari perubahan sikap anaknya saat ia datang ke rumah Aurora dan menemukan Blue. Morlan marah, dan keduanya bertengkar hebat. Matteo, ada di sana. Ia melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Ia lalu menelepon Lala saat itu. Namun, saat Lala tiba, Blue sudah tak ada, begitupula dengan Morlan. Aurora ditemukan tewas di rumahnya seorang diri. Lala tak ingin tragedi ini tersebar di Great Ruler karena akan menimbulkan kerusuhan. Warga Great Ruler mencintai Aurora. Lala memintaku menyembunyikan kenyataan pahit ini, dan ... aku setuju," ucapnya terlihat sedih.
__ADS_1
"Lalu ... apa yang terjadi pada Blue?" tanya Sandra ikut terbawa kesedihan.
"Sikap Blue ternyata mendominasi. Blue begitu menyayangi ibunya, dan kematian Aurora membekas di pikirannya. Hanya saja, sepengetahuan Blue jika ibunya meninggal karena sakit. Kami ... terpaksa berbohong. Kami tak ingin Matteo membenci ayahnya, meski tak ada bukti yang menunjukkan jika Morlan pelaku pembunuhan itu."
Sandra terpaku akan fakta mengejutkan yang tak diketahuinya itu. Bahkan catatan sejarah di Perpustakaan juga dimanipulasi dari kejadian sesungguhnya.
Sandra shock dan terlihat seperti orang kebingungan. Roman menyadari jika calon relawan di depannya ini ikut terguncang akan kabar tersebut.
"Sampai sekarang, kami tak tahu rahasia dari perubahan antara Blue dan Matteo. Namun, aku dan Lala menyadari jika Morlan melakukan sesuatu. Kejadian sebenarnya ketika Matteo tak bisa maju berperang, dua kepribadian itu datang dalam waktu bersamaan. Matteo mengurung dirinya di kamar dan tak memperbolehkan siapapun masuk. Keduanya bertengkar hebat. Aku melihat kejadian unik itu dari kamera mata-mata yang berhasil aku sisipkan ke celah pintu, saat Matteo sibuk dengan dirinya. Kau ingin lihat rekamannya?"
Sandra mengangguk cepat dengan mata terbelalak. Roman mengeluarkan sebuah benda berwarna silver pipih dan tampak sebuah kaca di bagian tengahnya.
Roman meletakkan benda berbentuk persegi panjang tersebut seukuran telunjuk orang dewasa di atas meja. Dan seketika, PIP!
"Sudah tugasmu untuk maju bertempur, Matteo! Kau seorang Jenderal dan calon Presiden! Warga kita ketakutan di luar sana dan mereka butuh kau untuk mengusir para penyerang itu!" teriak Matteo berdiri di sebuah cermin seperti bicara pada seseorang di sana. Mata Sandra menyipit, dan Roman menatap Sandra seksama.
"Kau bilang sendiri jika aku calon Presiden. Jika aku tewas, seluruh warga Great Ruler akan berduka karena kehilangan calon pemimpin mereka. Kita memiliki banyak pasukan robot dan User dengan para perwira hebat. Untuk apa aku harus terjun ke lapangan dan bertaruh nyawa untuk hal tak berguna seperti itu? Aku tidak mau!" balas Matteo yang membalik tubuhnya dengan bertolak pinggang, seakan dia berbicara pada seseorang memunggunginya.
"Wow, wow, wait, apa itu tadi? Dia ... bicara pada dirinya sendiri?" tanya Sandra melotot dengan wajah kaku.
"Ya. Itulah yang terjadi ketika Blue dan Matteo bertemu. Miris bukan?" jawab Roman saat jendela pada kamar Sandra berubah menjadi tampilan seperti layar televisi ketika cahaya pada alat pipih itu menyorotnya.
Matteo tiba-tiba membenturkan dahinya ke dinding, dan tubuhnya terdorong begitu saja hingga ia jatuh bergulung-gulung dengan keras di lantai.
Bahkan, ia tak segan menabrakkan dirinya ke benda-benda hingga membuat ruangan itu kacau seketika.
Sandra membungkam mulutnya rapat. Ia shock dengan apa yang dilihat. Lalu pada akhirnya, Matteo tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Pintu yang dikunci dari dalam itu akhirnya bisa dibuka setelah Roman membobol tempat tersebut. Matteo segera dibaringkan di ranjang dan ditemani beberapa perawat wanita.
"Mirisnya, kabar yang sampai di telingamu tidak demikian. Kau dendam pada Matteo yang mengatakan jika dirinya mabuk bersama para gadis-gadis. Namun, kau lihat yang sebenarnya terjadi bukan?"
Sandra meletakkan dahinya ke atas meja. Roman malah terkejut akan sikap aneh Sandra yang baginya unik dalam menyikapi sebuah insiden.
Roman ikut membungkuk karena Sandra menutupi wajahnya dengan kedua tangan seperti orang meringkuk dalam keadaan duduk.
"Kau ... tidak apa?" tanya Roman cemas.
__ADS_1
Tiba-tiba, Sandra bangun dengan mata berlinang. Roman kaget dan mengedipkan mata terlihat bingung dengan wanita di depannya.
"Selama ini ... hiks, aku menaruh dendam pada Matteo, Sir. Aku ... tak menyangka jika ternyata ...," ucapnya menggantung. Terlihat, Sandra seperti berusaha untuk mengatur nafasnya. Roman sabar menunggu. "Hanya saja, pria yang muncul di hadapanku adalah Matteo, bukan Blue yang kukenal. Aku berharap, Blue yang bisa hadir di sini, Presiden Roman. Maaf, hanya saja ... Blue ...," ucapnya terputus lagi. Roman tersenyum.
"Oleh karena itu, aku mengatakan semua hal ini padamu, karena aku tak ingin kesalahpahaman berlanjut. Setelah mengetahui kebenarannya, kau harus ingat, Blue dan Matteo orang yang sama. Hanya saja, kini Matteo yang mengambil alih peran. Distrik 2 ditinggalkan oleh Blue, dan Lala yang kini bertanggungjawab akan tempat itu. Cepat atau lambat, hal ini pasti akan terbongkar, dan ... jabatanku akan dipertaruhkan," ucap Roman yang membuat Sandra terkejut.
"Apa maksudnya, Presiden?"
"Aku menyetujui untuk menyembunyikan tragedi tewasnya Aurora. Aku membohongi seluruh penduduk Great Ruler selama puluhan tahun dengan mengatakan Blue dan Matteo saudara kembar. Pengadilan Great Ruler menungguku, Sandra. Yang membuatku khawatir bukan kecemasanku jika terusir dari Great Ruler, tapi serangan Morlan dan para mutannya terhadap negara ini. Aku siap untuk diasingkan, tapi aku tak siap melihat orang-orang yang kusayangi menderita saat kutinggalkan."
Roman terlihat sedih hingga wajahnya berkerut. Sandra tergagap seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi terasa sulit.
"Jadi ... lupakanlah dendammu pada Matteo, dan jadilah User sesungguhnya. Karena ... kemurnian hati, adalah kunci kesuksesan dari robot level A. Pikiranmu harus bersih. Tak ada dendam, tak ada kesedihan, seperti seorang anak kecil yang selalu dipenuhi oleh kebahagiaan. Dan aku berharap, kau bisa menjadi User robot level A untuk pertama kali dalam sejarah Great Ruler, Sandra," ucap Roman penuh penekanan menatapnya lekat.
Mulut Sandra menganga. Ia merasa sebuah tekanan berat langsung dipikulnya. Sandra langsung berdiri dan memegangi kepalanya. Permintaan sang Presiden terasa sedikit mustahil baginya.
"Matteo, tak seburuk yang kau kira, tapi aku setuju jika Blue lebih menyenangkan. Jadi aku harap, kau bisa membawa Blue kembali entah bagaimana caranya. Maaf, Presiden-mu ini tak bisa membantu lebih banyak lagi. Aku mulai kehilangan kemampuanku, Sandra. Dan memang sudah waktunya, aku digantikan," ucap Roman lesu, dan hal itu makin membuat Sandra tersudut.
"Mm, maaf, Presiden Roman. Hanya saja, bisakah kita bicarakan hal ini lain kali? Saya merasa ... sedikit pusing," pintanya terlihat seperti orang mengalami sakit kepala.
Roman tersenyum seraya beranjak dan mengambil benda pipih tersebut dalam genggamannya.
"Sayangnya, tidak ada lain kali. Pertemuan untuk membahas Matteo dan Blue berakhir hari ini. Terima kasih atas pengertianmu, dan ... aku berharap banyak padamu, Sandra. Sampai jumpa minggu depan. Aku rasa, kau tahu apa yang harus kaulakukan untuk persiapan uji coba robot level A. Good luck," ucap Presiden Roman seraya mendekati tempat sampah di ruangan Sandra lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam sana.
Mata Sandra melebar saat rekaman tersebut hancur menjadi kepingan kecil karena tergiling mesin tersebut.
Sandra terkejut karena sang Presiden memilih untuk menghancurkan barang bukti, padahal benda itu bisa membantunya saat persidangan nanti.
Roman keluar dari kamar Sandra dengan langkah tegap layaknya seorang pemimpin besar, dan menyapa para calon User yang berpapasan dengannya.
Sandra yang ikut keluar dari kamar dan melihat kepergian sang Presiden, hanya bisa diam di depan pintu berwajah murung.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍 panjang nih epsnya