
Presiden Xivovo mendatangi Pusat Kendali seluruh armada tempur yang berperang di wilayah Great Ruler.
Ia melihat para operator yang bertugas tampak sibuk termasuk para pejabat militer negara yang diberikan tugas khusus sebagai komandan pasukan di lapangan.
"Seluruh kapal perang kita telah hancur! Mega-US memblokade jalur air dengan kapal selam miliknya! Kapal selam kita tersisa 3 buah dan terus digempur oleh Mega-US!" ucap salah seorang petugas penyambung komunikasi dengan para nahkoda kapal selam New-US di Laut Cina Timur.
Mata Xivovo melotot. Ia terlihat kaget dengan ucapan operator tersebut saat menyadari jika jumlah armada tempurnya berkurang drastis.
"Sir! Para ABK yang selamat dari kapal induk ditahan oleh pasukan dari angkatan laut Mega-US. Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah seorang petugas panik yang mendapatkan visual dari satelit jika kapsul-kapsul penyelamat yang terapung di permukaan laut dikumpulkan oleh para tentara Mega-US.
Xivovo mengepalkan kedua tangan. Ia terlihat geram, tapi masih berdiri diam di tempatnya mendengarkan seluruh laporan di ruangan tersebut.
"Sir! Pesawat tempur kita dipukul mundur oleh pesawat dari Mega-US dan Russ-King. Kita tak bisa mendekati wilayah Great Ruler lagi karena mereka menjaga luar benteng. Mega-US dan Russ-King benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengusir kita!" sahut salah seorang petugas dari informasi yang didapat melalui sambungan radio para pilot pesawat tempur di lapangan.
Napas Xivovo menderu mendengar laporan yang berkesan gagal atas serangannya ke Great Ruler.
Sang Presiden melangkah keluar dari ruangan dengan wajah merah padam seperti menahan marah.
Orang-orang yang berpapasan dengannya diabaikan olehnya seolah mereka sebuah patung tak memiliki perasaan.
"Presiden! Presiden! Anda mau ke mana?!" panggil Wakil Presiden New-US yang bertemu dengan pemimpin negaranya di koridor, tapi dilewatinya begitu saja.
Wakil Presiden Geros segera bertindak. Ia mengikuti Xivovo yang mengabaikan keberadaannya dengan menangkap lengannya cepat.
"Anda mau ke mana? Semua orang membutuhkan Anda saat ini. Bukankah, semua hal gila ini adalah ide Anda yang sudah direncanakan bertahun-tahun lamanya?" tanya Geros menatap pemimpinnya saksama.
Xivovo melangkah dengan sorot mata tajam ke arah wakilnya. Para pejabat dan ajudan yang berada di sekitar Wakil Presiden tersebut tampak gugup ketika Xivovo mencengkeram kuat leher Geros dengan satu tangan.
"Pre-Presiden," ucap Geros tergagap seraya mencoba melepaskan tangan Xivovo di leher yang mulai mencekik.
"Jangan halangi aku. Akan kutunjukkan bagaimana penyerangan sebenarnya itu terjadi. Great Ruler akan menjadi milikku dan tak akan kubiarkan seluruh negara di dunia ini berdamai. Perdamaian hanyalah mitos dan aku akan ada di sana sebagai saksi hidup," tegasnya lalu melepaskan cengkeraman di leher orang nomor dua di negaranya itu.
Napas Geros tersengal. Ia dipegangi oleh beberapa pria karena hampir roboh. Xivovo berjalan dengan gusar meninggalkan orang-orang itu menuju ke suatu tempat.
Ternyata, Sang Presiden mendatangi hanggar penyimpanan pesawat tempur miliknya. Xivovo dulunya seorang pilot pesawat tempur kebanggaan Amerika saat perang saudara yang terjadi antara Amerika Utara dan Selatan kala itu.
Sayangnya, karena terjadinya konflik antara dua kubu setelah terbelahnya dua benua tersebut, Xivovo memilih untuk ikut ke kubu New-US dengan presiden yang saat itu menjabat adalah Morago.
Namun naas, saat perang antara New-US dan Mega-US, Presiden Morago tewas di samping Xivovo ketika pesawat yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh Mega-US di perbatasan.
Morago yang menaruh kepercayaan pada Xivovo saat itu memberikan jabatannya kepada sang pilot untuk meneruskan kejayaan New-US.
Xivovo mampu melakukan tugasnya dengan baik bahkan ia menggunakan Morago sebagai nama belakangnya atas balas jasa karena ia dipilih sebagai pengganti pemimpin negara tersebut.
Namun, hanya dendam yang menyelimuti hati Xivovo karena menganggap perang adalah satu-satunya jalan hidup yang harus ditempuh sampai Bumi hancur sepenuhnya.
Xivovo ingin menaklukkan seluruh kehidupan yang tersisa di Bumi dengan menjadikan New-US sebagai negara tunggal dan ialah pemimpinnya.
__ADS_1
Xivovo percaya, dengan adanya satu penguasa, maka kedamaian sejati akan tercipta karena mereka takluk pada satu kekuasaan yakni Presiden Dunia.
"Sir! Pesawat tempur Presiden Xivovo meninggalkan hanggar! Sepertinya, Presiden berniat untuk melakukan eksekusi langsung ke negara musuh!" ucap salah satu operator yang membuat mata semua orang melebar seketika.
"Lindungi, Presiden! Jangan biarkan armada musuh menembak jatuh pesawatnya! Kerjakan!" titah seorang Jenderal angkatan darat yang memimpin pasukan manusia robot di Distrik 4.
"Yes, Sir!" jawab operator tersebut yang dengan sigap menginformasikan kepada seluruh armada pesawat tempur untuk melindungi pesawat Presiden mereka.
Tentu saja, hal itu mengejutkan para pilot di lapangan. Mereka yang awalnya sudah menarik diri terpaksa kembali ke medan pertempuran dan berhadapan langsung dengan pesawat-pesawat tempur milik Russ-King dan Mega-US.
Di Pusat Komando Distrik 9, Great Ruler.
Satelit luar angkasa Great Ruler menangkap pergerakan besar dari arah Laut Cina Timur di mana skuadron pesawat tempur New-US menuju dengan cepat ke arah Distrik 10.
"Tak ada jeranya! Pukul mundur mereka semua!" seru Letkol Kisa dari Russ-King mulai kesal karena ketegangan kembali terasa.
"Yes, Mam!" jawab seluruh pasukan di bawah komando Kisa.
Pesawat tempur dari Russ-King mengamankan helikopter yang membawa muatan pasukan dan juga robot medis saat memasuki wilayah Great Ruler.
Helikopter berhasil mendarat dengan sempurna di Distrik 8 yang telah porak-poranda karena serangan drone dan juga pasukan militer berseragam robot milik New-US.
Namun, wilayah itu berhasil diamankan oleh pasukan wanita kawan-kawan Sandra di pertambangan.
Bom terkejut karena lima robot level D yang masih bertahan dipiloti oleh para wanita perkasa.
Qiyo, Gora, Nega, Woly, dan Zua turun dari robot level D seri G2 tersebut. Mereka mendatangi helikopter yang menurunkan pasukan Russ-King dan juga robot medis.
Terlihat, orang-orang itu menyusuri reruntuhan dengan robot medis di belakang mereka sedang melakukan pemindaian sekitar untuk menolong tentara yang terluka karena perang.
"Selamat datang di Distrik 8, Presiden Bom," ucap Nega mendatangi Bom lalu mengajak berjabat tangan.
Bom tampak kagum saat menerima jabat tangan itu. Nega dan lainnya terlihat letih karena pertempuran yang hampir membunuh mereka tersebut.
"Ini belum berakhir," ucap Bom menjelaskan dan kelima wanita itu mengangguk setuju. "Hanya tinggal kalian berlima saja?" tanya Bom dengan kening berkerut.
"Lima wanita saja bisa memukul mundur puluhan tentara dan drone New-US. Jangan remehkan kami, Presiden Bom. Atau Anda juga ingin merasakan pukulan dari robot kami, hem?" tanya Gora kesal bertolak pinggang.
"Gora," panggil Zua melotot dengan intonasi penuh penekanan.
"Dia seharusnya datang lebih cepat," sahut Gora seraya mengangkat kedua tangan dan membalik tubuh.
"Maaf jika kami tak sopan. Kami ... tak pernah setakut ini sebelumnya. Sungguh, kami tak pernah menyangka jika dinding kami akan runtuh," ucap Zua seperti akan menangis saat melihat seluruh bangunan di tempat itu hancur di mana banyak kenangan yang mereka miliki di sana, termasuk kantor pertambangan.
"Ya, itulah yang kubenci dari perang. Oleh karena itu, kuputuskan untuk memihak Great Ruler. Aku rasa, kedatangan Russ-King belum terlambat," jawab Bom dan diangguki oleh kelima wanita tersebut dengan senyuman.
"Sir! Banyak tentara terluka di wilayah pertambangan!" seru salah satu petugas di kejauhan.
__ADS_1
"Amankan mereka! Pasukan sisanya, kita akan sisir sekitar untuk memastikan tak ada musuh yang menyelinap di wilayah ini!" jawab Bom lantang dari tempatnya berdiri.
"Yes, Sir!" jawab semua orang serempak.
Saat Bom akan melangkah, tiba-tiba saja, SHOOSH!! BLUARRR!!
"ARRRGHHH!!"
Orang-orang yang sedang berkumpul di wilayah tersebut dijatuhi bom dari atas langit oleh pesawat tempur New-US di bawah komando Xivovo.
Sang Presiden New-US berhasil kabur dari kejaran pilot pesawat tempur Mega-US dan Russ-King. Xivovo membombardir seluruh wilayah Distrik yang dilewati oleh pesawatnya tanpa ampun.
Dentuman demi dentuman menggetarkan permukaan karena bom-bom tersebut meledak dan meruntuhkan bangunan.
"Alva!" seru Sora saat melihat sebuah pesawat terbang dengan cepat menuju ke gedung Eco-Green tempat bayi Alva berlindung di Distrik 9.
SWOOSH! BLUARRR!!
TET! TET! TET!
"Bahaya! Bahaya! Segera lakukan protokol evakuasi. Gunakan lorong darurat untuk meninggalkan gedung," ucap Eco—asisten ruangan—memberikan peringatan.
Namun, getaran sungguh terasa saat Sora berdiri seraya mendekap kapsul yang menjaga bayi Alva di dalamnya dengan kuat.
Sora segera berlari dengan tergesa menuju ke lorong evakuasi bersama para WolfBot yang melindunginya.
Saat Sora sudah berhasil keluar dari pintu ruangan dan akan masuk ke lorong, tiba-tiba saja, PRANGG!!
"AAAA!" teriak Sora lantang saat sisi bangunan berlapis kaca tersebut hancur seperti sengaja ditabrak oleh badan pesawat tempur tersebut.
Sora jatuh tersungkur dan kapsul bayi Alva terlempar jauh darinya. Empat WolfBot menggonggong di sekitar Sora saat wanita berambut toska itu berusaha bangkit.
Seketika, mata Sora melebar saat melihat pesawat tersebut terbang melayang di luar gedung yang telah kehilangan dindingnya.
Sora melihat sosok pria dengan pakaian berwarna abu-abu turun dari pesawat menutup wajahnya dengan masker gas.
"Lepaskan! Jangan!" teriak Sora lantang saat pria itu mengambil kapsul berisi bayi Alva yang terbangun dari tidurnya karena keributan yang terjadi di sekitar.
"Hem, bayi yang cantik. Matamu indah. Biru seperti lautan. Sepertinya kau aset berharga, Gadis cantik. Kau dilindungi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan juga empat serigala robot. Kau pasti bukan bayi sembarangan," ucap Xivovo menatap wajah lugu bayi Alva yang mata birunya bersinar terang tak seperti biasanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tips dari lele habis😩 Huwaaa ... ada yg mau gantiin? Tinggal dikit lagi tamat ini. Kuy kuy biar semangat crazy up nya!! Aku gemes sumpah!