SIMULATION

SIMULATION
BIG WORM*


__ADS_3

Sedang di tempat Sandra berada. Mendiang isteri Rey tersebut terus berlari seakan-akan energinya tak habis agar misi mustahil tersebut bisa segera diselesaikan.


Saat Sandra melintasi sebuah padang rumput di mana tanaman hijau telah mengering, dan hanya angin yang membawa butiran debu di sekitar kawasan itu, tiba-tiba saja ….


“Oaakkkk!”


Seketika, langkah Sandra terhenti. Ia melihat ke atas langit ada sosok manusia yang dikenal karena wajahnya memiliki barcode. Tergolek lunglai tak bergerak seperti dibawa ke suatu tempat oleh seekor burung mutan.


“Vemo? Vemo!” panggil Sandra lantang, tetapi pria tersebut tak mendengarnya karena jarak yang jauh.


Orang-orang di pusat kendali ruang simulasi terkejut. Xili segera mengunci pergerakan burung mutan itu yang membawa Sandra menuju ke sebuah gurun pasir.


Konon katanya, lautan pasir itu terdapat monster buatan yang mengerikan untuk menghalau siapa pun yang memasuki wilayah tersebut. Dulunya, tempat itu disebut, Gurun Gobi yang berada di Mongolia.


“Bahaya! Bahaya! Terdeteksi gerakan dari bawah tanah dan siap terjadi benturan dalam hitungan mundur mulai dari 10!”ucap Rey yang praktis, membuat langkah Sandra terhenti seketika di atas tumpukan pasir itu.


“Makhluk apa itu, Rey?!” tanya Sandra memekik di mana kacamata sensornya tak mendeteksi apa pun.


Namun Rey, tak menjawab pertanyaannya. Semua orang dalam pusat kendali panik seketika.


“Gunakan sensor panas! Pindai!” perintah Matteo.


“Tidak bisa, Sir. Suhu di wilayah itu mengaburkan sensor panas kita,” jawab Xili seraya menunjukkan hasil tampilan dari pantauan satelit.


Sandra bersiaga dengan menyalakan perisai duri dan pedang laser ungu muncul di punggung lengan tangan kanannya. Ia menenteng kain yang membungkus kotak kaca berisi kepala tersebut di tangan kirinya.


Tiba-tiba, “HOARRRGGG!!”


“Oh my God!” pekik Xili lantang yang membuat semua orang di pusat kendali termasuk Sandra melebarkan mata.


“Sandra!” teriak Matteo lantang ketika melihat sebuah mulut terbuka lebar dengan gigi tajam seperti seekor ular besar bersisik besi yang muncul tiba-tiba dari bawah pasir.


Sandra terkejut dan tak bisa mengelak karena mulut hewan itu berdiameter hampir 10 meter. Sandra tertelan, begitupula kotak kaca berisi kepala tersebut.



Jantung semua orang yang melihat seakan-akan berhenti berdetak. Ular pasir itu kembali masuk ke dalam tanah dan tampilan dalam layar berubah menjadi gelap gulita.


“Aktifkan sinar!” perintah Sandra saat merasakan tubuhnya tergulung-gulung di dalam sebuah lorong di mana ia merasakan jika makhluk yang menelannya itu bergerak dengan sangat cepat.


“Sinar diaktifkan.”


Seketika, tubuh Sandra menyala cahaya putih. Ia mematikan fungsi dari pedang laser agar bisa memeluk buntalan itu supaya tak lepas darinya.


Perisai duri yang kini menyala sinar terang di sekujur tubuh robot level A, membuatnya seperti cahaya indah dalam kegelapan.

__ADS_1


“Ke mana perginya makhluk itu?” tanya Matteo sampai tubuhnya terpepet ke layar di depannya karena satelit tak bisa melihat pergerakan makhluk tersebut yang menyelam di dalam tanah.


“Sir! Sinyal robot level A juga tak ditemukan! Kita kehilangan jejak!” sahut Bablo yang membuat semua orang kembali panik.


Semua petugas di Ruang Kendali termasuk Matteo berusaha keras agar bisa menemukan keberadaan robot Sandra. Mereka khawatir jika robot tersebut rusak dan pada akhirnya hubungan syaraf terputus.


Sandra yang masih terus bergerak di ruang simulasi dalam keadaan seperti terpontang-panting membuat Matteo memilih mendekati wanita cantik itu untuk melakukan analisis langsung.


“Sepertinya Sandra masih berada di dalam perut hewan itu. Aku cukup yakin, jika makhluk tersebut adalah mesin. Yang aku khawatirkan, jika ada benda penghancur di dalam makhluk itu,” selidik Matteo karena tampilan layar Sandra di ruang simulasi gelap gulita padahal ia mengaktifkan sinar.


Selain itu, Rey yang telah mengalami pembaharuan data, seakan membelot dari Great Ruler dan tidak bisa diajak bekerja sama.


Hingga akhirnya, tubuh Sandra mulai tenang. Ia dalam posisi merebahkan diri seraya memeluk kotak kaca tersebut. Matteo berdiri di depan lingkaran simulasi menatap gerak-gerik Sandra saksama.


Di tempat Sandra berada.


“Oh, sudah tak bergerak,” ucapnya dengan napas tersengal dan jantung berdebar.


Sandra bangun perlahan dan melihat sekitar. Tempat itu gelap dan hal itu membuatnya sedikit cemas.


“Rey?” panggil Sandra seraya memeluk kotak berisi kepala itu erat, tetapi Rey tak menjawab panggilannya. “Aku benar-benar akan menghajarmu, Morlan. Kau sungguh keterlaluan. Beruntung aku masih terhubung, tapi … bagaimana bisa? Aku saja tak terkoneksi dengan pusat kendali simulator di Great Ruler,” tanya Sandra heran.


“Ya. Teruslah bicara, Sandra. Aku akan membantumu dari sini,” ucap Matteo menatap Sandra lekat yang mulai berjalan perlahan dan tak berani memegang dinding dari monster tersebut karena makhluk itu masih bergerak.


Sandra terus berjalan hingga langkahnya terhenti saat mendengar suara erangan seperti orang berkelahi beberapa meter di depannya.


Sandra menyiagakan pistol laser dalam genggaman tangan kanan dan tangan kiri memegang buntalan. Saat Sandra berjalan mendekati asal suara, tiba-tiba ….


“Oh!” pekiknya yang membuat dirinya mundur beberapa langkah. “Vemo?”


“Kau … siapa?” tanya pria yang selama ini Sandra cari.


“Aku Sandra. Mm, maksudku … Otka. Otka kawan kecilmu saat kita pertama kali bertemu di Distrik 9 Great Ruler. Kau ingat? Kita pernah membuat janji di sana, tapi … kau tak menepatinya. Kau tak datang lagi.”


Mata Vemo bergerak tak beraturan. Ia mendekati Sandra dan tiba-tiba memegang kepala robotnya. Sandra mematung dengan mata melebar saat Vemo mencium wajah robotnya itu. Kening Matteo berkerut.


“Apa yang Vemo lakukan? Kenapa Sandra berwajah seperti itu?” tanya Matteo gelisah seketika.


Semua orang di pusat kendali yang masih mencoba mencari sinyal robot memilih tak berkomentar.


“Bagaimana kau bisa berada di sini? Kau menjadi seorang User?” tanya Vemo berdiri di hadapan robot level A dengan tubuh penuh dengan cairan hijau dan kedua tangan memiliki pelapis besi, begitu pula sepatunya sampai di atas lutut.


“Menyelamatkanmu, apalagi? Kau diculik, dan aku berusaha mati-matian untuk bisa membebaskanmu. Namun … aku senang, kau baik-baik saja,” jawab Sandra dengan senyum terkembang.


Vemo terlihat bahagia meski berantakan. Ia lalu melirik ke arah bungkusan yang Sandra bawa. Sandra terkejut saat Vemo dengan cepat merebut dan langsung membukanya.

__ADS_1


“Woah!” teriak Vemo kaget dan jatuh di atas pasir ketika melihat isi bungkusan itu adalah kotak kaca berisi kepala manusia. Vemo sampai merangkak mundur terlihat ketakutan.


“Tiga kepala itu, dijanjikan oleh Morlan untuk ditukar denganmu,” ucap Sandra lirih dengan kepala tertunduk. Mata Vemo terbelalak.


“Morlan?” tanya Vemo mengulang, Sandra mengangguk. “Apakah … kau diberikan sebuah misi?” Kening Sandra berkerut, ia terlihat curiga.


“Kau tahu tentang misi itu?”


“Kau bertanya padaku?” tanyanya menunjuk.


“Vemo! Kita sedang tak berada di rumahmu. Peraturan aku tak boleh bertanya padamu tentang apa pun, tak berlaku di sini. Kita berada di perut monster!” pekik Sandra terlihat kesal. Vemo tersenyum miring. Sandra langsung berjongkok dan menatap kawan masa kecilnya itu saksama. “Katakan, Vemo.”


Pria dengan wajah yang memiliki tato berupa barcode itu menghela napas.


“Aku hanya pernah melihat Morlan membuat sebuah program komputer dengan misi di dalamnya. Namun apa tujuannya, aku tak tahu. Maaf,” jawabnya lesu. Sandra mengangguk pelan. “Sekarang yang terpenting, kita harus keluar dari tubuh makhluk ini. Sial, aku terbangun saat ikut di makan olehnya. Kau mungkin tak tahu, tapi monster cacing ini memiliki dua kepala dalam satu tubuh,” ucap Vemo menjelaskan seraya berdiri.


“Cacing?” tanya Sandra berkerut kening, dan Vemo mengangguk.


“Oh, cacing, bukan ular,” ucap Matteo ke para operator santai, dan orang-orang itu mengangguk paham.


“Bentuk robotmu aneh. Kau seperti landak, tapi … menyala bagaikan kunang-kunang,” ucap Vemo mengejek.


Sandra terlihat malas meladeni pria di hadapannya. Ia memintanya membawa buntalan itu, meski awalnya Vemo enggan.


“Alat apa di kedua tanganmu itu?” tanya Sandra melirik curiga.


“Keren bukan? Ini senjata buatanku. Beruntung, koper yang ditemukan oleh Akira dan Tony adalah senjataku, bukan teknologi barcode-ku,” jawabnya santai seraya berjalan mengikuti Sandra di belakangnya meski terlihat was-was.


“Kau … membunuh mutan burung itu dengan alat itu?” tanya Sandra menebak dan terus berjalan di depan dengan senapan laser dalam genggaman.


“Yup. Monster itu telah terluka saat ditelan cacing raksasa ini. Gigi tajamnya merobek kedua sayapnya. Aku terlepas dari cengkeramannya dan terperosot sampai di tempat kau menemukanku,” jawabnya santai.


Saat keduanya mengikuti lorong dalam perut hewan itu, mereka menemukan sebuah pintu kaca dan terlihat lorong besi sejauh mata memandang.


Langkah Vemo dan Sandra terhenti. Keduanya saling berpandangan karena baru menyadari jika cacing tersebut adalah sebuah robot.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Makasih tipsnya tante Aju. Berkah selalu. Sayangnya udah abis stoknya. Gagal crazy up dan😩

__ADS_1


__ADS_2