
Sandra tiba malam hari di kota Cryzen. Terlihat, kota tersebut lebih modern ketimbang kota Magenta yang didatangi sebelumnya. Saat HeliBot yang membawa Sandra berjarak 300 meter lagi tiba di gerbang terluar, tiba-tiba ….
SHUW! DAR!
“Oh!” pekik Sandra ketika HeliBot miliknya mulai terbang tak terkendali karena sebuah tembakan laser mengenai baling-baling, bahkan serangan tersebut tak terdeteksi oleh alarm peringatan robot.
Sandra berusaha melepaskan HeliBot karena besi pengamannya tersangkut akibat konsleting.
Benda terbang itu berasap dan beberapa kali mengeluarkan ledakan kecil yang membuat Sandra panik jika meledak.
Helibot membawanya ke sebuah kolam dengan genangan cairan warna hijau yang mengeluarkan asap di permukaan.
“Rey! Identifikasi cairan itu!” perintah Sandra yang berusaha melepaskan pengait HeliBot.
“Terindentifikasi. Cairan tersebut memiliki kandungan sebagai zat pelarut logam.”
Praktis, mata Sandra melebar. Semua orang di ruang kendali ikut cemas. Jika Sandra sampai tercebur ke dalam sana, tubuh robotnya akan meleleh, dan hal itu bisa membuat User di simulator tewas apabila robot mengalami kerusakan yang mengakibatkan pemutusan hubungan syaraf.
“Lakukan sesu—“ pekik Matteo, tetapi perintahnya terputus saat melihat Sandra memotong lengan HeliBot menggunakan pedang laser.
KRAS! BRUKK!
“Hah, hah,” engah Sandra saat dirinya berhasil meloloskan diri dari HeliBot yang mengalami kegagalan mesin.
Benda terbang itu tercebur ke kolam dan perlahan, melebur dalam cairan hijau tersebut.
“Oh, hampir saja,” ucap Matteo memegangi dadanya serasa ingin pingsan.
“Hati-hati, Guys. Tempat ini memiliki banyak perangkap,” ucap Sandra saat Rey mengidentifikasi banyak jebakan di luar benteng, tetapi bagian dalam kota tersebut tak terdeteksi karena memiliki penghalang sinyal.
Sandra berhasil mendarat tanpa mengalami luka. Wanita cantik itu melangkah dengan mantap bersama dua WolfBot yang berjalan mengapitnya. Serigala robot seri 3 membawa muatan yang ditutupi oleh kain di punggungnya.
“Kau pasti robot utusan dari Great Ruler! Berhenti dan angkat tangan!” perintah seseorang dari dalam benteng dengan pengeras suara terdengar jelas.
Sandra menghormati perintah itu dan berdiri dengan kedua tangan terangkat ke atas di depan gerbang biru. Banyak moncong senjata laser diarahkan ke robotnya dan dua WolfBot yang melindunginya.
Mata Sandra melebar saat melihat seorang remaja pria keluar dengan banyak pasukan bersenjata di belakangnya. Sandra memperkirakan jika pemuda itu seumuran Yaz—adik Otka Oskova.
__ADS_1
Remaja itu menunjukkan wajah dingin. Ia mengenakan pakaian putih lapis baja seperti sebuah perisai. Ia bahkan memiliki dua hewan buas—Hyena—yang ikut dipersenjatai dengan pakaian tempur di sisi kiri kanannya.
“Benda apa yang kaubawa itu? Senjata pemusnah masal?” tanya pemuda yang memiliki mata biru terang dan rambut putih berkilau serta aksen tegas dalam berucap.
“Bukan. Kepala Yofalen,” jawab Sandra cepat dengan kedua tangan terangkat ke atas. Praktis, mata pemuda itu terbelalak.
“Buka. Aku tak menerima omong kosong,” perintahnya. Sandra menarik kain hitam yang menutup kotak kaca itu. Seketika, semua moncong senjata di arahkan ke tiga robot utusan Great Ruler. ”Apakah itu hadiah untukku? Jika ya, aku tak tertarik.”
“No. Aku datang kemari mencari pemimpin kalian, Ceros Cromoson,” jawab Sandra langsung ke titik utama.
Pemuda yang memiliki alis dengan warna serupa dengan rambutnya menatap Sandra tajam. Semua orang di pusat kendali gugup.
“Ah … apakah … Ceros akan berakhir seperti Yofalen dalam kotak kaca itu?” tanyanya seperti menebak, tetapi benar adanya.
Kembali, pasukan dari pemuda itu mulai bergerak dan membentuk sebuah lingkaran untuk mengepung Sandra yang berada di luar gerbang.
Tiba-tiba saja, pemuda itu mengulurkan tangannya dengan menengadah. Sandra terlihat bingung begitu pula semua orang.
“Paman Yofalen adalah orang tua yang bijak. Meski dia lemah dan sakit, tapi ia tak mungkin menyerah begitu saja dengan memberikan kepalanya padamu. Tunjukkan padaku alasannya memilih mati. Aku tak menerima omong kosong,” ucapnya sama seperti yang diucapkan tadi.
Sandra menunjukkan rekaman dari papan pipih jam tangan di punggung pergelangan tangannya.
“Hidup rakyatku makmur dan sejahtera tanpa pertikaian hampir 100 tahun lamanya. Jangan mengacau. Jika Alolo dan Yofalen setuju, tidak denganku,” jawab pemuda yang tak diketahui siapa jati diri sebenarnya, meski Rey mengidentifikasi jika remaja tersebut adalah Ceros Cromoson.
Sandra menatap pemuda itu lekat. “Aku merasa kau orang yang bijak dan berilmu tinggi, Tuan Ceros. Menurut Anda, apa yang harus aku lakukan agar bisa pergi dari kotamu dengan kepala Anda sebagai jaminannya?”
Tiba-tiba saja, semua pasukan di sekitar Sandra melangkah mendekat karena mereka merasa jika pemuda yang disinyalir bernama Ceros dalam bahaya. Hyena tersebut mengerang, terlihat siap untuk menyerang dua serigala robot milik Sandra.
“Kau, ikut aku. Dua serigalamu tetap di sini,” ucapnya yang membuat semua orang terkejut karena Sandra seperti mendapatkan sebuah akses, meski rasa cemas menghampiri hati semua orang.
Sandra menurut dan mengikuti Ceros di belakangnya dengan kedua tangan tetap terangkat ke atas. Jantung orang-orang berdebar ketika yang dilihat oleh Sandra ikut dilihat oleh semua orang di pusat kendali.
Sayangnya, begitu Sandra memasuki gerbang, sinyal pada robot tersebut hilang. Orang-orang di pusat kendali panik seketika.
“Apa yang terjadi? Apakah hubungan syaraf terputus? Rey?!” tanya Roman panik.
“No. Mr. President. Look!” jawab Xili menunjuk Sandra yang masih bergerak di ruang simulasi, tetapi apa yang dilihatnya tak tampak di layar, bahkan Rey tak bisa dihubungi.
__ADS_1
Di tempat robot Sandra berada, ia bisa melihat semuanya. Kota Cryzen ternyata dipenuhi oleh manusia setengah robot.
Entah apa yang terjadi kepada para manusia itu sebelumnya hingga mereka menggabungkan teknologi robot ke tubuh. Sandra menelan ludah terlihat ngeri.
Kehadiran robotnya di tengah-tengah penduduk, membuatnya menjadi sorotan. Jantung Sandra berdebar tak karuan melihat para manusia itu menatapnya tajam.
Kota tersebut cukup ramai dan aktivitas di dalamnya mirip di Distrik 2—Sentra Video Games.
Banyak lampu berwarna-warni di sepanjang jalan yang ia lewati, meski kota tersebut tertutup dan hampir tak terdeteksi di satelit. Langkah Sandra terhenti di depan sebuah gedung tinggi berwarna seperti pelangi.
“Ikut aku dan tetap angkat tanganmu ke atas,” perintah pemuda itu dan Sandra mengangguk.
Keduanya memasuki gedung dan menaiki lift sampai ke lantai tertinggi. Sandra bisa melihat hiruk-pikuk kota Cryzen dari dalam lift yang berbentuk tabung dengan pelindung kaca di sekelilingnya. Tanpa Sandra sadari, senyumnya merekah.
“Apa yang ia lihat dan tak kita lihat? Aku bisa menebak, kota Cryzen telah berkembang pesat. Bahkan aku yakin, teknologi yang mereka miliki selangkah lebih maju dari kita,” ucap Roman terlihat kagum.
“Kenapa kau malah memuji kota lain, Paman?” tanya Matteo melirik sang Presiden yang tak menjawab pertanyaannya dan terlihat tetap tenang menunggu sinyal kembali pulih ke pusat kendali.
Sandra melangkah masuk ke sebuah ruangan seperti ruang kerja. Ceros memintanya duduk dan Sandra pun melakukannya. Kini, ia diperbolehkan menurunkan tangan dan meletakkannya di sandaran.
Namun seketika, kedua tangan robotnya terbelenggu oleh besi, begitu pula kedua pergelangan kaki serta perutnya. Sandra panik seketika.
“Apa yang terjadi? Sepertinya ada hal buruk,” tanya Matteo ketika melihat perubahan dalam ekspresi Sandra yang kini dalam posisi duduk dan ditopang oleh mesin.
“Aku ingin menawarimu minum, tapi kau tak bisa meneguknya. Jadi, kita langsung saja. Sebuah kesepakatan untuk kepalaku. Menolak, kau tak bisa keluar dari kota ini untuk selamanya,” ucapnya dengan wajah datar, tetapi membuat Sandra terkejut.
“Oke, tapi aku harus memastikan permintaanmu dari barter ini tak merugikanku,” tegas Sandra.
“Deal,” jawab Ceros dengan anggukan dan kedua tangan saling menggenggam di atas meja logam.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya mbak aju subohay sehat selalu. Lele padamu❤️