
Sandra terlihat gelisah dan mohon pamit kepada kawan-kawannya dengan beralasan ingin segera kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Kenapa terburu-buru? Ini malam pergantian tahun. Wakil Presiden Lala mengizinkan kita begadang semalaman. Ini cuti serempak di seluruh Great Ruler," tanya Sora keheranan.
"Aku tahu, hanya saja ... aku ... aku lelah. Aku butuh istirahat. Kau tahu 'kan, latihan secara terus-menerus, dilanjutkan ujian, semua hal itu ... menguras energiku," jawab Sandra berdalih, tapi tetap berusaha terlihat meyakinkan.
"Oke, baiklah. Hati-hati," jawab Sora yang terlihat ramah malam itu, tak seperti biasanya yang menunjukkan wajah garang.
Sandra pamit dan mengatakan ia bisa pulang sendiri dengan kereta cepat ke Distrik 9 tanpa Tony.
Pria tampan itu ingin menemani Sandra, tapi ia ditahan oleh kawan-kawannya yang mengajaknya minum bersama menghabiskan malam. Tony merasa tak enak hati jika menolak, dan ia pun menerima tawaran kawan-kawannya itu.
Sandra bergegas menuju ke Stasiun yang dibuka 24 jam setiap harinya. Orang-orang yang kini telah mengenalnya terlihat kagum karena bisa satu gerbong dengannya. Sandra bagaikan artis, ia menyalami beberapa orang yang bangga dengan kemampuannya.
"Sampai jumpa," sapanya ramah kepada orang-orang yang masih harus melanjutkan perjalanan.
Orang-orang itu melambaikan tangan dengan senyum terkembang. Sandra bergegas menuju ke lantai kamar Matteo Corza berada. Ia khawatir jika terlambat karena malam sudah menunjukkan pukul 1.30 dini hari.
Sandra terlihat bingung ketika sudah berada di depan pintu kamar sang Jenderal. Ia malah mondar-mandir karena takut jika pria bermanik biru itu telah tidur.
"Tuan Matteo. Nona Otka Oskova berada di depan pintu, tapi ia tak memindai barcode-nya," ucap Spectra mengabarkan.
Praktis, sang Jenderal terkejut karena ia masih fokus dan sibuk dengan tanggung jawabnya untuk memastikan Great Ruler tak diserang karena pesta kembang api yang menghebohkan.
"Dia sudah di sini? Oh, shitt!" pekiknya panik dan segera turun dari RC.
Ia menugaskan Spectra untuk mengawasi perkembangan keamanan Great Ruler dari kamera pengawas dan laporan dari para operator. Spectra diusir dan diminta mengawasi di ruang kerja Matteo. Robot pintar itu pun melaksanakan perintah Tuannya.
Matteo kembali berakting jika dirinya sakit. Ia meminta Purple menyiapkan makan malam romantis di lantai 2. Robot ungu itu pun segera pergi meninggalkan kamar Matteo didampingi Roboto.
"Ehem. Eco, buka pintu utama. Izinkan Otka Oskova masuk."
"Yes, Sir."
"Ah, bagaimana jika aku mengganggu istirahatnya? Tapi ... aku sudah berjanji. Kalau—"
PIP!
"Selamat datang, Otka Oskova. Silakan masuk," ucap Eco seraya membuka pintu untuknya.
Sandra terkejut karena Eco malah mempersilakan dirinya masuk. Wanita cantik itu berasumsi jika Matteo masih terjaga dan menunggu kedatangannya.
"Terima kasih, Eco," ucap Sandra gugup dan segera melangkah masuk.
Saat dirinya berjalan dengan gugup karena ruangan itu gelap, tiba-tiba saja, langit-langit koridor berubah dengan gemerlap bintang berkilauan di langit berikut dengan komet melintas yang terlihat begitu nyata meski ia tahu jika semua itu hanya visual. Ruangan yang tadinya gelap kini bersinar dengan cahaya lembut.
Sandra melangkah dengan ragu saat melongok ke kamar Matteo yang tak dikunci. Ia terkejut saat mendapati sang Jenderal sedang disuapi oleh robot koki.
Kening Sandra berkerut saat ia merasa bagaikan dejavu karena ingat dengan bentuk robot itu yang pernah memasak pizza untuknya.
"Matilah aku," ucapnya seraya menelan ludah ketika ingatannya kembali dan menyadari jika dirinya pernah menerobos masuk rumah sang Jenderal saat dirinya kelelahan.
"Oh, kau sudah datang? Kenapa lama sekali?" tanya Matteo lesu.
"Maaf. Aku ... tak bisa meninggalkan acara begitu saja. Anda ... baru makan malam?" tanya Sandra seraya mendekat saat melihat Matteo menikmati cream soup.
"Hem. Lidahku terasa pahit. Bahkan sup ini rasanya hambar," jawab Matteo pucat.
__ADS_1
Sandra memberanikan diri duduk di samping sang Jenderal. Ia meletakkan tangannya di dahi pria tampan itu. Sikapnya, malah membuat Matteo gugup.
"Makanlah yang banyak, Jenderal. Mungkin terasa hambar, tapi Anda akan segera pulih jika terus memakannya. Ingin kusuapi?" tanya Sandra menawarkan dengan senyum tipis.
Matteo gugup, tapi mengangguk. Sandra mengambil mangkok dari robot koki itu dan menggantikan tugasnya.
"Hei, bisa buatkan makanan lain? Apa yang biasanya Jenderal suka?" tanya Sandra kepada robot koki itu.
"Ada banyak. Anda ingin aku memasak semua menu itu sekarang?"
"Ya. Terima kasih," jawab Sandra dengan senyuman.
"Baik."
Praktis, mata Matteo membulat penuh. Ia melihat robotnya pergi dari ruangan untuk memasak. Namun, ia tak bisa menolak karena khawatir jika Sandra akan curiga.
"Aaa," pinta Sandra dengan mulut terbuka lebar dan Matteo tersenyum.
"Kau yang buka mulut, jadi kau yang makan."
Seketika, Sandra menutup mulutnya rapat dengan wajah cemberut. Matteo tersenyum tipis. Entah kenapa, jantungnya berdebar kencang dengan perlakuan Sandra yang begitu perhatian padanya. Matteo membuka mulutnya dan menerima suapan itu hingga soup tersebut habis.
"Ada apa, Jenderal?" tanya Sandra seraya meletakkan mangkok kotor itu di meja samping ranjang.
"Sikapmu ... mengingatkanku pada ibuku," jawabnya lesu.
Sandra menatap Matteo seksama. "Ceritakan, Jenderal. Aku ingin tahu tentang Aurora Dimensia," pintanya.
Matteo menarik nafas dalam. Ia terlihat gugup seraya memainkan jemarinya dengan pandangan tertunduk. Sandra terlihat sabar menunggu.
Sandra terkejut. "Kembang api? Seperti yang terjadi malam tadi?" Matteo mengangguk. Sandra menyipitkan mata terlihat berpikir serius. "Apakah Anda ingin mengatakan, jika pesta kembang api barusan sebagai perwujudan dari Aurora Dimensia?"
Matteo tersenyum lebar. Ia menatap Sandra dan mengangguk pelan. Sandra terhenyak untuk sesaat. Ia melihat Matteo seperti sedih. Ia bisa merasakan jika pria tampan di depannya itu pasti sedang merindukan ibunya.
"Aku memang tak pernah bertemu dengan Aurora sebelumnya. Aku hanya tahu kisah tentangnya dari Perpustakaan di Great Ruler dan juga ... Blue."
"Blue?" tanya Matteo menatap Sandra lekat dan Sandra mengangguk pelan.
"Aku pernah berkunjung ke rumah Blue. Kau tahu 'kan, rumah yang ada ikan lumba-lumba di toilet? Itu hal terkonyol yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Jangan katakan hal ini pada Blue," ucap Sandra seolah ia tak tahu rahasia besar dari pria di depannya.
"Ceritakan," pinta Matteo seperti tertarik.
"Ya. Saat itu ... Oh! Terima kasih," ucap Sandra terpotong ketika robot koki datang seraya membawakan semangkuk potongan buah segar untuk Matteo.
Mau tidak mau, Matteo memakannya sembari mendengarkan Sandra bercerita, tentu saja disuapi.
"Jadi saat itu ... Blue menunjukkan padaku sebuah buku yang katanya, itu adalah rancangan dari Aurora Dimensia. Beberapa ada yang belum terealisasi. Aku melihat, design itu sangat bagus. Terlihat modern dan indah," ucap Sandra mengungkapkan seraya memasukkan potongan buah semangka ke mulut Matteo.
"Sepertinya ... aku akan minta buku itu kepada Blue saat bertemu dengannya," ucap Matteo dengan pandangan tersorot ke depan seperti bicara dengan seseorang yang tak ada di sana. Sandra diam menatap Matteo seksama.
"Apa yang Anda ingat tentang Aurora, Jenderal? Sebagai calon User, aku harus tahu tentang sejarah salah satu wanita paling berjasa di Great Ruler dalam hal pembangunan dan infrastruktur," pintanya seraya memasukkan potongan buah melon ke mulut sang Jenderal.
Matteo tersenyum sembari mengunyah buah tersebut.
"Em, ibuku ... dia sangat cantik. Dia pintar dan baik hati. Semua orang menyukainya. Dia sangat perasa, dan teliti. Ia tak suka jika aku mengambil sebuah benda dan tak dikembalikan ke tempat semula. Ia ingat betul semua barang-barang yang ia letakkan. Aku dan ayahku sering terkena teguran jika benda tersebut tersesat dari tempatnya," jawabnya malas, tapi Sandra malah tertawa.
Matteo ikut tersenyum lebar karena tak menyangka jika ceritanya bisa membuat wanita cantik di sampingnya terhibur.
__ADS_1
"Ya, aku bisa mengerti kenapa nyonya Aurora mengomel. Kalian berdua pembuat onar," ucap Sandra menilai seraya menyuapi sang Jenderal lagi. "Aku ... ingin meniru sifat dan sikapnya yang barusan Anda ceritakan. Sepertinya itu bagus agar kita menjadi orang yang disiplin dan ... teliti."
"Menurutmu begitu? Bagiku sikap ibuku itu sangat berlebihan," tanya Matteo terdengar tak sependapat seraya menerima suapan potongan buah apel.
"Tapi karena hal berlebihan itu, kau mengingatnya dengan baik, Jenderal Matteo Corza," sahut Sandra yang membuat Matteo langsung terdiam. Ucapan Sandra begitu mengena di hatinya.
"Apa lagi yang Anda ingat tentang dirinya? Aku sangat yakin, jika Aurora wanita yang mengagumkan," tanya Sandra mendesak seolah tiap ucapannya memiliki maksud terselubung.
Matteo diam sejenak seraya menelan kunyahan di mulutnya.
"Ibuku ... dia jago memasak. Dia bisa menilai masakannya sendiri apakah enak atau tidak. Aku ingat saat ibu memasak sebuah menu ... mm, entah apa namanya. Makanan itu aneh, seperti spons, berwarna putih, dan jika dimakan akan mengempis. Seperti ada suara 'pess'. Saat aku mencicipinya, rasanya aku seperti memakan spons cuci piring."
"Hahahahahaha!" tawa Sandra meledak begitu saja. Kening Matteo berkerut, tapi ikut tersenyum.
"Sungguh. Aku sampai tak bisa berkomentar. Dipotongnya pun sulit. Makanan itu seperti bergoyang-goyang."
"Hahahahaha!" tawa Sandra untuk kesekian kalinya sampai ia mengeluarkan air mata karena geli. "Oh! Biar kutebak. Apakah ... makanan itu mirip dengan yang Purple buat kala itu?"
Praktis, mata Matteo melebar. Ia terlihat kaget dengan pernyataan Sandra barusan. Wanita cantik itu menatap wajah Matteo dalam yang terlihat berpikir keras.
Senyum Sandra perlahan meredup, tapi masih tersisa guratan keramahan di wajahnya. Wanita cantik itu meletakkan mangkok yang sudah habis ke dalam mangkok sup.
"Ceritakan lainnya lagi, Jenderal Matteo. Aku rasa, kau dan Blue memiliki banyak kemiripan. Kalian kembar dan pastinya tumbuh bersama walau mungkin ... hidup kalian terpisah pada akhirnya. Namun, masa kecil adalah masa paling indah ketika bersama keluarga," ucap Sandra kembali tersenyum dan kali ini memberanikan diri menyentuh tangan sang Jenderal yang terasa dingin dan berkeringat.
Matteo terkejut. Ia menatap Sandra yang tersenyum manis padanya.
"Mm ... ibuku ... ah, apa kau tak penasaran, bagaimana lumba-lumba itu bisa berada di toilet?"
Sandra spontan mengangguk cepat dengan mata berbinar.
"Well, jadi begini. Di perbatasan Distrik ada laut yang terbentang luas sebagai batas dari Great Ruler," ucapnya mulai bercerita.
Sandra menebak dalam hati, jika laut yang dimaksud oleh Matteo adalah saat ia belajar menyelam bersama dengan Tony kala itu dengan gelang pemberat.
"Ya, aku tahu laut itu dari ... Perpustakaan dan ... pelajaran geografis saat Captain Tony menunjukkan padaku pemetaan wilayah di benua Asia. Batas-batasnya, kota-kota di sekitar Great Ruler, dan ... semacamnya," jawab Sandra menimpali.
Matteo mengangguk terlihat bangga dengan ingatan dan pengetahuan anak didiknya.
"Nah, sebelum laut itu masuk dalam wilayah Great Ruler, para ilmuwan dan polisi air mencoba mengamankan laut tersebut. Lalu ... mereka menemukan ikan lumba-lumba. Saat itu, lumba-lumba sudah dinyatakan punah, tapi mereka berhasil mendapatkannya. Sayangnya, kondisi ikan itu sakit terkena limbah pabrik. Lalu ... ibuku meminta agar hewan itu dirawat dan direhabilitasi."
"Wow! Jadi ... hewan di toilet itu sudah puluhan tahun lamanya?" tanya Sandra dengan mata melebar.
"Itu anak dari lumba-lumba yang berhasil diselamatkan oleh ibuku. Saat itu, ibuku masih remaja, tapi ia sudah masuk dalam jajaran pemerintahan Great Ruler karena dianggap cerdas. Ibuku, satu-satunya wanita di Great Ruler yang memiliki jabatan di usia 15 tahun. Jadi, kau bisa menebak 'kan, dari mana kejeniusanku berasal?"
Sandra spontan terkekeh karena lagi-lagi sikap penuh percaya diri dari seorang Matteo Corza muncul.
"Ya, Anda benar. Kini aku tahu jika itu semua berasal dari gen," jawabnya pasrah tak ingin mengecewakan sang Jenderal. Matteo mengangguk senang.
"Alasan kenapa toilet? Jadi ... saat pembangunan rumah itu, entah bagaimana para pekerja membuat struktur bangunan, tempat itu bocor. Air meluap, tapi bukan air tawar, melainkan air laut. Tentu saja semua orang panik. Lalu ibuku mengakalinya dengan membuat dinding kaca layaknya akuarium. Kebocoran itu ditutup untuk sementara waktu sampai proses pembuatan akuarium selesai. Dan ya, begitulah ... lumba-lumba tersebut tinggal di rumah. Namun lebih tepatnya, tinggal di toilet."
Sandra terkekeh. Ia akhirnya tahu bagaimana bisa lumba-lumba itu terkurung di sana.
***
maap khilaf ngetiknya, eman mau di-cut😅 uhuy tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu❤️sering2 yaa. oia buku simulation udah bs PO dg harga 80k belum ongkir ya. DM Ig lele atau wa utk masuk list ya krn kl harga normal 90k😵
__ADS_1