
BIB!
“Welcome back, Otka Oskova. Siap melanjutkan misi?” tanya Rey saat Sandra kembali dibangunkan usai tiga puluh menit permintaannya untuk di-pause.
“Yes, Rey. Satu kepala lagi,” jawabnya dengan wajah sayu terlihat tak bersemangat.
“Kenapa dengannya?” tanya Matteo menatap Sandra saksama yang terlihat sendu seperti memikirkan sesuatu. “Check!” perintah Matteo kepada Bablo yang bertugas untuk mengecek kondisi organ vital User selama dalam simulasi.
“Semua normal, Jenderal,” jawab Bablo mantap, dan Matteo membalasnya dengan anggukan.
Sandra kembali berlari bersama WolfBot menuju ke kota Pipemo dengan pemimpin mereka bernama Bebelo Mokoka. Bablo, operator di pusat kendali terlihat gelisah, dan Matteo menyadarinya.
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir. Napas Sandra tersengal ketika ia berhenti dengan jarak 300 meter dari benteng yang tampak lain.
Tempat itu terlihat kuno dengan pagar tembok terbuat dari kayu-kayu besar yang disusun dengan ujung berbentuk runcing.
“Ini … batang pohon?” tanya Sandra saat mendekati benteng terluar dan menyentuh sebuah tabung berwarna cokelat dan bertekstur seperti dugaannya.
Sandra malah terlihat kagum dan berjalan perlahan menyusuri pinggir benteng itu.
“Grrr …,” erang WolfBot tiba-tiba, dan membuat langkah Sandra berhenti seketika.
“Rey, pindai,” pintanya dalam posisi siaga dan waspada.
“Menganalisis sekitar. Tak ditemukan logam atau senjata mesin yang bisa menghancurkan robot,” jawabnya yang mengejutkan Sandra.
Wanita itu tak percaya begitu saja. Ia melihat dua WolfBot miliknya seperti merasakan ancaman di hadapannya. Matteo segera meminta kepada Bablo untuk menganalisis dari pantauan WolfBot.
“Apa yang kautemukan, Bablo?” tanya Matteo menatap operator itu saksama karena sedari tadi, Bablo menunjukkan kesan aneh dari gerak-geriknya. “Bablo?” tanya Matteo menekan.
“Aku minta maaf, Jenderal. Hanya saja, jika Sandra membunuh pemimpin kota Pipemo, apakah … Presiden Roman akan menjanjikan kehidupan layak bagi penduduknya?” tanyanya terlihat seperti akan menangis.
Roman yang berada di ruangan itu mengangguk. “Tentu saja. Jujur, aku tak pernah tahu tentang kota itu, Bablo. Katakan padaku, apa yang kausembunyikan?” tanya Roman mendesak.
Saat Bablo akan menjawab, tiba-tiba saja, dua WolfBot berlari dan melakukan serangan terhadap sesuatu yang tak Sandra lihat bahkan dari tampilan sensor di kacamatanya.
Sandra mengaktifkan pelindung duri dan pedang laser di kedua punggung tangan.
“Dua serigala itu menyerang sesuatu yang tak terlihat?” tanya Matteo menganalisis dari pergerakan dua serigala yang menggigit dan menerkam sesuatu ke satu titik.
“Bablo!” teriak Roman menatap operatornya itu tajam.
Operator berambut pirang itu menarik napas dalam. Ia berdiri lalu menaikkan salah satu kakinya ke atas bangku. Semua orang menatap gerak-gerik Bablo saksama yang mengangkat kain celana sampai pergelangan kaki.
__ADS_1
Mata semua orang menyipit saat mendapati sebuah gelang yang terbuat seperti dari kayu berwarna cokelat, persis tembok di kota tersebut.
Bablo memutar gelang itu, dan seketika, “Woah! Dia … menghilang?” pekik Xili sampai matanya membeliak.
“Aku masih di sini. Aku … terkamuflase dengan lingkungan sekitar menjadi tak terlihat,” jawabnya dengan suara terdengar dari sisi lain.
“Hah?!” pekik Rhyz terkejut saat Bablo tiba-tiba muncul di sebelahnya seraya menyentuh pundaknya.
“Wow. Ada teknologi semacam itu?” tanya Roman terlihat kagum, tetapi juga ngeri.
“Yes, Mr. President. Jujur, aku tak pernah menggunakannya selama hidup di Great Ruler. Aku sudah berjanji kepada leluhurku. Hanya saja perbedaannya, leluhurku tak mematuhi larangan itu. Mereka terus menggunakannya hingga pada akhirnya, alat itu tak terkendali dan rusak. Pipemo tak terdeteksi dan dianggap hilang dari bumi. Selama ini orang-orang menganggap Pipemo dan para penduduknya telah musnah, tapi sebenarnya, tidak demikian,” jawabnya menjelaskan.
“Maksudmu … orang-orang itu masih hidup? Hanya saja, karena alat itu, mereka terperangkap dan jadi tak terlihat? Begitu?” tanya Matteo menebak dan Bablo mengangguk.
“Visual yang ditunjukkan Rey adalah, sosok dari tetua kami. Aku tak yakin jika beliau masih hidup. Sepertinya, misi Sandra akan gagal di level ini,” jawabnya sedih.
Praktis, wajah semua orang tegang seketika. Mereka bingung memikirkan bagaimana Sandra akan melewati misi dengan membawa kepala Bebelo Mokoka. Menurut Bablo, pemimpin kota itu telah meninggal puluhan tahun lamanya.
“Bagaimana sekarang?” tanya Imo panik, di mana dua serigala itu masih melakukan aksi serang entah apa yang dilawannya. Sandra tak bisa membantu karena ia tak tahu lokasi musuh.
Tiba-tiba saja, kotak yang dibawa oleh salah satu serigala robot itu jatuh dan membuat dua kepala tersebut terlihat karena kain penutup terbuka.
Seketika, “Hah!” pekik Sandra terkejut, saat melihat sebuah kepala melayang di hadapannya.
Sosok seorang manusia berkulit hitam, tetapi memiliki rambut berwarna pirang muncul, tanpa badan. Dua serigala itu masih mengerang dalam posisi siap menyerang.
Bablo dengan sigap kembali ke kursinya dan mengendalikan dua serigala itu agar tak melakukan serangan. WolfBot tersebut duduk diam seraya menjaga kotak kaca berisi dua kepala.
“Kau siapa?” tanya pria itu dengan suara menggema seperti berbicara di dalam gua.
“A-aku …,” Sandra diam sejenak. “Aku Sandra Salvarian. Aku utusan dari Great Ruler. Aku datang kemari karena sebuah misi yang menjebakku dalam simulasi karena kecurangan Morlan,” jawabnya mantap.
Semua orang di Ruang Kendali tertegun, tetapi memilih diam.
“Morlan? Presiden Morlan?” tanyanya dengan kening berkerut, dan Sandra mengangguk membenarkan. “Dia berkhianat?” Sandra kembali mengangguk. “Lalu … siapa Presiden Great Ruler sekarang?”
“Presiden Roman, saudara kembar dari Morlan,” jawab Sandra mulai tenang.
Pria itu diam sejenak menatap robot Sandra lekat seperti memikirkan sesuatu.
“Roman. Apa aku bisa bicara denganmu?” pinta pria itu.
Roman dengan segera ke ruang khusus. Seketika, wajahnya muncul di layar pipih jam tangan di punggung pergelangan tangan robot Sandra. Pria itu menatap Roman tajam.
“Halo, perkenalkan. Aku … Roman, Presiden Great Ruler. Salam kenal,” ucapnya sungkan.
__ADS_1
“Kau mengirim utusanmu padaku. Apa yang kalian inginkan? Jika ingin merebut Pipemo, sampai mati, tak akan kuberikan,” jawabnya tegas.
Tiba-tiba saja, Bablo muncul di samping Roman, dan hal itu membuat semua orang terkejut. Mata pria itu menyipit saat pemuda itu tersenyum seperti akan menangis.
“Tetua? Kau ‘kah itu? Kau masih hidup?” tanya Bablo cepat.
“Kau …,” tanyanya dengan kening berkerut.
“Aku Bablo. Cucumu, Kakek Mokoka.”
Praktis, mata semua orang melebar mendengar pengakuan Bablo yang tak pernah mereka duga. Mokoka terlihat kaget dan langsung mendekat ke arah tampilan hologram itu dengan kening berkerut.
“Kau … hidup? Di Great Ruler?” tanyanya memastikan dan Bablo mengangguk.
“Ya. Aku … sekarang tinggal sendiri. Ayah, ibu, dan lainnya telah tiada, Kakek Mokoka,” jawabnya terlihat sedih. “Kau … panjang umur,” sambung Bablo terlihat senang.
Mokoka menatap Roman, robot Sandra dan dua serigala itu tajam.
“Aku mengenali dua kepala itu. Kalian mendatangi saudara-saudaraku. Apa tujuan kalian datang kemari? Menginginkan kepalaku?” tanya Mokoka menegaskan.
Akhirnya, Roman menceritakan tragedi yang menimpa negaranya. Mokoka mendengarkan dengan serius tiap kata yang diucapkan oleh sang Presiden.
“Hem. Sayangnya, aku tak bisa menyerahkan kepalaku,” jawabnya tegas. “Mungkin, Bablo bisa menjelaskannya.”
Kini, mata semua orang tertuju pada operator berambut pirang dan berkulit hitam tersebut. Bablo menarik napas dalam lalu berdiri tegap.
“Jika kepala tetua kami terpenggal, kota yang selama ini dinyatakan hilang, akan muncul di permukaan. Sistem syaraf di otak tetua kami terkoneksi dengan server utama yang mengaburkan kota Pipemo dari satelit
dan mata manusia. Jika didatangi langsung, kota Pipemo seperti tak memiliki apa pun, dan kosong. Jika sampai Pipemo diketahui masih ada, orang-orang kami akan terancam. Kami tak memiliki persenjataan canggih seperti Great Ruler dan negara lain. Alasan kami menyembunyikan diri, karena …,” ucapnya menggantung. Semua orang terlihat penasaran dengan lanjutan penjelasan Bablo.
“Kupersilakan kalian melihat isi dari Pipemo dari luar gerbang,” sambung Mokoka seraya membalik kepalanya. “Setelah itu, pikirkan apa yang baru saja kukatakan,” ucapnya dengan kepala melayang di udara, dan hal itu membuat kesan mengerikan bagi yang melihatnya.
Sandra mengikuti Mokoka di belakangnya. Seketika, matanya melebar saat gerbang yang terbuat dari batang kayu itu terbuka lebar.
Sebuah keajaiban alam di mana selama ini seluruh orang di dunia mengira jika hewan-hewan di dunia telah binasa. Namun, di dalam gerbang itu, terlihat jelas hewan-hewan tersebut hidup dengan damai dan terawat.
“Kalian pikir, hanya Great Ruler saja yang memiliki hewan, hem? Tidak. Di sinilah, semua satwa yang tersisa di bumi dikumpulkan. Jika kau penggal kepalaku, mereka akan menjadi fosil dan sejarah,” ucap Mokoka yang membuat semua orang di pusat kendali membisu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Makasih tipsnya mbak Aju. Oia mau info aja, berlaku untuk semua novel. Bagi yg novel kesukaanmu pengen di crazy up, lele menunggu tips koin yg masuk ya. Jumlah tips akan menentukan jumlah eps yg bakal lele up di hari itu atau esok harinya.