SIMULATION

SIMULATION
SPY


__ADS_3

Sandra menghembuskan nafas panjang di depan pintu kamarnya. Wanita cantik itu memijat dahinya yang terasa berat setelah melihat dan mendengar pengakuan dari bukti rekaman Roman. Sandra memejamkan matanya sejenak yang mendadak terasa lelah.


"Ehem."


Seketika, mata Sandra melebar. Ia melihat pria yang baru dibicarakan bersama sang Presiden, kini berdiri di depannya.


Mata Sandra kemudian menyipit. Ia bisa menebak jika pria di depannya adalah Matteo Corza, dan bukan Blue karena ada Spectra di sampingnya. Sandra memasang wajah dingin.


"Boleh kutahu? Apa yang dilakukan pamanku di kamarmu tadi?" tanya Matteo penuh selidik.


Sandra menatap tajam mata biru Matteo. "Oh, dia mengatakan jika minggu depan aku akan di hadapkan dengan uji coba robot level A. Dan katanya ... ada beberapa hal yang harus aku lakukan agar berhasil saat percobaan itu. Namun, aku tak yakin jika bisa melakukannya," jawab Sandra berdalih dengan pandangan teralih ke sudut lain.


"Oh. Boleh kutahu itu apa?" tanya Matteo terlihat betah menginterogasi. Sandra memasang wajah masam, tapi Matteo malah menunjukkan senyum lebar.


"Apakah Anda memiliki gelang pemberat, detektor oksigen berikut pengendalinya?"


"Ya, punya. Banyak," jawabnya bangga.


"Bisa berikan padaku, benda-benda yang banyak itu? Aku ingin memilikinya, jadi ... bukan Anda pinjamkan, tapi diberikan kepadaku," jawab Sandra mempertegas jawabannya.


"Wow, aku diperas. Hem, boleh saja, asal ... ada syaratnya," jawab Matteo dengan senyum licik.


"Katakan."


"Makan malam denganku?" tanyanya berwajah ramah.


Sandra menghembuskan nafas panjang. Matteo sungguh pantang menyerah.


Benar kata Presiden Roman. Orang ini keras kepala. Dia tak akan pergi sampai keinginannya terpenuhi, batin Sandra kesal menatap wajah Matteo dengan kaku.


"Oke. Kita barter saat makan malam. Terima kasih, dan ... selamat beristirahat," ucap Sandra dengan senyum paksa dan kembali ke kamar.


"Yeah! Kau dengar itu, Spectra. Akhirnya dia mau makan malam denganku. Hah, siapa yang bisa menolak pesona sang Malaikat Langit? Kau tahu 'kan itu siapa? Yep, aku," jawab Matteo bangga dan berjalan meninggalkan fasilitas tersebut dengan senyum terkembang.


Di dalam kamar.


Video yang dilihat oleh Sandra berikut ucapan yang dikatakan oleh Presiden Roman, terekam jelas dalam pikirannya.


Sandra memikirkan perubahan dalam diri Matteo saat ia menjadi Blue, begitupula sebaliknya.

__ADS_1


"Pasti ada pemicunya. Bagaimana caranya dari seorang Blue menjadi seorang Matteo? Lalu, apakah perilaku Blue bisa kembali di mana ia sekarang menjadi Matteo? Ah, ya Tuhan. Ini sungguh gila dan rumit ketimbang tes menjadi User," ucap Sandra pusing memijat dahinya.


Saat Sandra dirundung kebimbangan akan permintaan sang Presiden agar tak membenci keponakannya lagi, asisten ruangan kembali menghubungi jika Tony datang berkunjung. Sandra panik seketika.


"Oh, kali ini apa lagi?" tanyanya gugup langsung beranjak dari ranjang. "Oke, diizinkan," jawab Sandra pada akhirnya.


Sandra memasang senyum menawan saat pintu kamarnya terbuka, tapi ia mendapati wajah angker Tony saat memasuki ruang privasinya.


"Kau," ucap Tony geram menunjuk Sandra dengan mata melotot seraya berjalan mendekat.


"What?" tanya Sandra panik.


"Kau mendaftar sebagai relawan User robot level A? Kau gila! Kau tahu, sikapmu akhir-akhir ini membuatku sakit kepala! Oh, aku sangat bersyukur Rey sudah tiada. Ia bisa bunuh diri jika tahu kenekatanmu selama ini," ucap Tony memekik.


Sandra menghembuskan nafas panjang. Ia sudah bisa menduga jika Tony akan mengamuk dengan pilihannya.


"Duduklah. Kau ingin minum apa? Ternyata, fasilitas di tempat pelatihan ini cukup bagus, hanya saja ruangannya tak seluas di rumah," tanya Sandra mengalihkan perhatian, tapi Tony masih memasang wajah masam.


Sandra mencoba untuk bersikap tenang, meski jantungnya berdebar karena ditatap tajam oleh kawan mendiang sang suami.


"Minumlah. Air biru ini enak," ucap Sandra seraya menyodorkan gelas kepada tamunya.


Tony menerima gelas itu dan langsung meminumnya hingga habis dalam posisi berdiri. Sandra meringis dan segera meletakkan kembali gas itu di wastafel.


Sandra terlihat pucat seketika. Ia meminta Tony duduk di sebelahnya dan pria tampan itu akhirnya menurut, meski matanya terkunci pada Sandra seorang.


"Jangan sia-siakan pengorbanan yang telah kulakukan, Tony. Kau tak setega itu padaku 'kan? Kau senang jika aku diusir dari Great Ruler dan menjadi gelandangan di luar sana?" tanya Sandra memelas, Tony mengerutkan kening.


"Kenapa sikapmu jadi aneh begini? Apa karena minuman biru yang kau berikan tadi?" tanya Tony heran. Sandra tersenyum.


"Dengar, Tony. Aku sudah melakukan banyak kecurangan untuk menjadi User, dan aku tak mau semua sia-sia. Jadi, kau cukup doakan aku agar percobaan minggu depan berjalan lancar. Jujur, Tony. Aku sangat penasaran seperti apa menjadi User robot level A. Aku merasa tertantang," ucapnya dengan mata berbinar.


Tony menghembuskan nafas terlihat pusing dengan lawan bicaranya. Sandra menatap Tony seksama.


"Kau akan kulatih secara khusus. Aku sudah melakukan pengajuan untuk menjadi mentor pribadimu sampai waktu uji coba tiba. Dan berita buruknya, pengajuanku diterima oleh pejabat militer," ucapnya dengan seringai. Sandra pucat seketika. "Dan kau, murid nakal. Kau tak bisa menolak apalagi bolos di kelasku," tegasnya menunjuk dahi Sandra hingga wajah wanita cantik itu terdorong ke belakang.


Sandra mendesis dan mencoba menyingkirkan telunjuk Tony di dahinya, tapi pria tampan itu bisa membaca gerakannya.


Sandra kesal dan terkekeh dalam waktu bersamaan karena tiap ia mencoba menampik telunjuk Tony, pria itu berhasil mendorong dahinya lagi hingga pada akhirnya Sandra roboh dan tertawa terbahak.

__ADS_1


Diam-diam, Tony ikut tersenyum karena Sandra terlihat gembira.


"Baiklah, sampai jumpa besok pagi. Dan, selamat. Tapi, jangan terlalu senang. Itu bukan pujian yang patut kau banggakan," ucapnya tegas menunjuk seraya berdiri.


"Yes, Capt," jawab Sandra tersenyum lebar.


Sandra mengantarkan Tony keluar dari kamar lalu melambaikan tangan. Tony pergi meninggalkan senyuman manis untuk wanita yang selalu menolak cintanya. Sandra kembali masuk ke kamar untuk beristirahat.


Tanpa sepengetahuan siapapun, bola mata-mata yang ditinggalkan Matteo di koridor tersembunyi dengan warna senada dengan ruangan sekitar, mengawasi pergerakan Sandra.


"Cari keterlibatan Captain Tony dengan Otka Oskova," pinta Matteo dari ruang kerjanya memasang wajah masam.


"Mengidentifikasi hubungan," ucap Asisten ruangan—Green—di kamar fasilitas pelatihan militer Great Ruler.


PIP!


Mata Matteo menyipit. Ia melihat banyak rekaman saat Tony bersama Sandra di beberapa tempat di waktu yang berbeda. Matteo mempelajari pergerakan keduanya yang terlihat ramah.


"Apartmen Distrik 7? Otka Oskova tinggal dengan Sandra Salvarian?" ucapnya dengan kening berkerut saat menemukan kejanggalan dari sebuah data dan video. "Wait ... wait ... Sandra Salvarian? Aku ... aku kenal nama itu. Blue pernah mengatakan padaku agar jangan mengusik Sandra. Apakah ... wanita gemuk itu adalah Sandra? Wah, selera Blue jelek sekali," ucap Matteo bergidik ngeri.


"Anda ingin saya menyelidiki tentang Sandra Salvarian, Tuan Matteo?" tanya Spectra.


"Heh, tak usah, hanya buang waktu. Selain itu, Blue sedang tidur nyenyak di alamnya. Aku tak ada niatan untuk membangunkannya lagi untuk selama, lama, lamanya, hehehe," kekehnya tersenyum licik seraya mengelus layar jam tangannya perlahan.


"Anda ingin saya memata-matai pergerakan Otka Oskova dengan Captain Tony?" tanya Spectra lagi.


"Yes. Jika ketahuan, katakan saja Matteo Corza ingin memastikan pelatihan berjalan sempurna," jawabnya santai lalu beranjak dari RC menuju ke ranjang.


"Menerima misi baru. Perintah diterima. Perintah disimpan. Siap eksekusi," ucap Spectra seraya mendatangi Matteo dan melayang di samping ranjang.


Tiba-tiba, TING!


"Jenderal Matteo. Clara, Vanessa dan Margaretha menghubungi Anda. Apakah Anda ingin menerimanya?" tanya Green.


Matteo diam sejenak. "Jadwalkan Clara besok, lalu hari berikutnya Vanessa, dan setelahnya Margaretha. Temui aku di rumah pukul 9 malam," jawabnya malas.


"Baik. Pesan diproses. Pesan dikirimkan. Pesan diterima dan dibaca. Tiga akun mengatakan 'Yes, Babe'," ucap Green yang membuat Matteo tersenyum dalam posisi tidurnya.


***

__ADS_1


uhuy! Tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍



__ADS_2