
Satu per satu, negara besar yang tersisa di Bumi memihak Great Ruler untuk mempertahankan negara demi terciptanya perdamaian dunia.
Pesawat tempur dari negara Russ-King kali ini ikut serta dalam bertempur di mana sebelumnya, negara itu merupakan salah satu musuh bebuyutan Great Ruler dan memiliki ambisi sama dengan New-US untuk menaklukannya.
Sayangnya, Bom tak sudi jika kejayaan itu jatuh pada New-US. Lebih baik ia berpihak pada Great Ruler ketimbang New-US merebut negara yang selama ini ia impikan.
Pasukan Russ-King dengan seragam tempur berwarna hitam, siap untuk bergerak menuju Great Ruler. Para pilot pesawat tempur mulai memasuki landasan dan siap terbang untuk ikut berperang.
Helikoper-helikopter cargo bersenjata telah terisi penuh dengan muatan para pasukan hitam bersenjata lengkap.
Bom juga ikut maju bertempur karena ia ingin melihat hasil dari keputusannya untuk memihak Great Ruler.
"Let's go!" serunya mantap yang telah duduk sebagai salah satu penumpang dalam helikopter kargo tersebut.
Bom juga membawa robot medis untuk membantu tentara negara lain yang terluka saat mempertahankan benteng Great Ruler.
Seluruh armada udara Russ-King bergerak sore itu menuju Great Ruler. Namun, siapa sangka jika pergerakan mereka juga terpantau oleh New-US.
Xivovo Morago, selaku Presiden New-US merasakan jika Russ-King akan ikut membantu Great Ruler di mana seharusnya negara itu ikut melenyapkannya.
"Sambungkan aku pada Bom! Aku yakin jika pria itu ada di antara pesawat-pesawat itu!" titah Xivovo ke salah satu petugas komunikasi di Pusat Komando-nya.
"Yes, Sir!" jawab operator tersebut sigap.
Benar saja, Bom terkejut saat co-pilot menginformasikan jika pemimpin New-US menghubunginya. Semua mata mengarah ke sang Presiden di mana keputusannya kini menjadi diragukan.
KLIK!
"Apa yang Anda inginkan, Presiden Xivovo?" tanya Bom to the point dari earphone yang terpasang di salah satu telinganya.
"Pihak mana yang Anda pilih, Presiden Bom?" tanyanya serius.
"Great Ruler," jawab Bom tegas.
"Apa kau sudah lupa tujuanmu bertahan dalam peperangan ini, Presiden Bom? Great Ruler sebentar lagi kalah dan kau malah berpihak untuk melindunginya? Apa kau—"
KLIK!
"Cerewet," ucap Bom kesal seraya memutus panggilan komunikasi itu begitu saja saat Xivovo sedang berbicara.
Semua orang tersenyum dan memilih diam karena keputusan Presiden mereka kali ini dirasa tepat.
"Bersiap dan waspada. Kita pasti akan dicegat oleh armada tempur New-US. Biarkan mereka tahu jika New-US sendirian dalam pertempuran kali ini. Russ-King memihak Great Ruler! Kabarkan ke sekutu kita!" seru Bom lantang ke hadapan orang-orangnya.
"Yes, Sir!" jawab petugas komunikasi dalam helikopter tersebut.
Tentu saja, Lala dan lainnya yang berada di Pusat Komando kaget bukan main. Bom menyatakan ingin membantu mereka memenangkan pertempuran.
"Halo, Presiden Bom. Aku Menteri Lala. Apakah Anda bermaksud untuk bersekutu dengan kami? Maaf, jika pertanyaanku lancang. Hanya saja, selama ini Russ-King—"
"Kita lihat saja apakah Russ-King mampu memenuhi janjinya. Jika Great Ruler mampu bertahan, apa yang ditawarkan negaramu padaku?" tanya Bom menatap hologram Lala yang dipancarkan oleh petugas komunikasi yang duduk di hadapannya.
"Saya tak bisa memutuskan. Negara kami adalah negara demokrat. Namun, aku bisa menyambungkan Anda pada pemimpin kami, Presiden Matteo Corza. Harap menunggu," jawab Lala sopan dan Bom mengangguk pelan.
Qimi segera meneruskan panggilan itu. Matteo dan Sandra mengangguk pelan terlihat siap untuk berbicara dengan Bom dari kursi robot cacing mereka.
__ADS_1
Semua orang di dalam robot cacing tampak tegang menunggu hasil dari kesepakatan yang nantinya akan terjalin.
PIP!
"Halo, Presiden Bom. Saya Matteo Corza selaku pemimpin negara Great Ruler. Di sebelah saya ada Wakil Presiden Great Ruler sekaligus isteri saya, Sandra Salvarian," ucap Matteo memperkenalkan.
Bom mengangguk pelan, dan dibalas anggukan oleh Matteo dan Sandra.
Wajah tegang tampak begitu jelas diraut semua orang dalam pembicaraan penting penentuan nasib suatu bangsa itu.
"Great Ruler kini telah berdamai dengan negara Bintang, kota Titan, dan juga Baatar. Bahkan, Presiden Khan duduk bersama kami di sini," ucap Matteo yang membuat Bom terkejut saat wajah Khan muncul di sana.
"Lama tak berjumpa, Presiden Bom. Apa yang membuat Anda kini beralih pihak? Apakah sama sepertiku jika kita menginginkan perdamaian dunia dan mengakhiri perang?" tanya Khan yang kini ikut dalam pembicaraan.
"Masih belum kuputuskan," jawab Bom tenang.
"Mega-US sepertinya berpikiran sama denganku. Hal ini sungguh bagaikan mimpi dan terasa mustahil karena kita tak pernah terpikirkan untuk berdamai. Yang kita inginkan selama ini adalah kejatuhan Great Ruler sehingga bisa kita kuasai. Namun, melihat jika Great Ruler jatuh bukan karena tanganku, entah kenapa aku tak mengharapkannya. Lebih baik aku jatuh bersamanya ketimbang melihat Great Ruler direbut dariku," ucap Khan yang membuat orang-orang dari Great Ruler saling melirik karena mereka baru tahu isi pikiran Khan.
"Hem, sepemikiran. Aku tak sudi New-US mendapatkan Great Ruler. Aku juga tak sudi ketika New-US datang ke Russ-King dan memintaku berlutut di bawah kekuasaan barunya nanti," tegas Bom yang membuat semua orang tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih atas kemuliaan hati Anda, Presiden Bom. Great Ruler berhutang besar pada Russ-King. Namun, mengingat posisi Great Ruler sedang terancam, hal yang pasti ingin kami tawarkan adalah perdamaian. Untuk selanjutnya mengenai hubungan bilateral kita nantinya, Wakil Presiden kami yang akan menindaklanjuti hal tersebut," ucap Matteo sopan.
"Hem. Biar kutebak. Apakah Anda pencetus perdamaian ini, Wakil Presiden Sandra Salvarian?" tanya Bom menatap Sandra saksama.
Sandra mengangguk pelan. "Saya telah mempelajari negara Russ-King meski dari permukaan saja. Jika yang saya dan para ahli ketahui benar, Russ-King mengalami masalah polusi udara yang cukup mengancam kesehatan. Pekatnya limbah hasil produksi senjata, membuat beberapa sumber kehidupan terancam. Kami bisa membantu. Jika tanah negara Bintang yang terkontaminasi bisa kami pulihkan, pasti polusi udara di Russ-King juga bisa kita atasi bersama. Semua akan terwujud jika peperangan ini berakhir, Presiden Bom," jawab Sandra tenang.
Bom tersenyum tipis. Ia melirik anak buahnya yang ikut tersenyum di balik helm yang mereka kenakan di mana terdapat masker oksigen karena polusi adalah masalah utama di negara tempat mereka tinggali.
"Hem, kesepakatan ini aku terima. Aku tagih janji Great Ruler jika peperangan ini berhasil kita menangkan," tegas Bom dan diangguki semua orang dari kubu Great Ruler.
"Sampai bertemu di Great Ruler dan pastikan kalian menyambut kami dengan hidangan yang tak pernah kujumpai di Russ-King," pinta Bom dan membuat Sandra tersenyum tipis.
"Makan malam di Great Ruler? Wow, selera Anda cukup bagus, Tuan Presiden," ucap salah satu pria yang menjadi tangan kanan Bom.
Pria berambut gondrong dan terlihat garang itu tersenyum tipis. Impiannya untuk bisa memasuki Great Ruler dan menikmati keindahan alamnya sebentar lagi akan terwujud.
Selama ini, Bom begitu merindukan kemakmuran yang disajikan oleh Great Ruler.
Namun, saat hati semua orang terasa hangat dalam helikopter kargo tersebut, tiba-tiba saja ....
SHUW! BLARR!!
"Sir! Kita diserang! Armada didepan ditembak jatuh oleh pesawat tempur New-US!" seru co-pilot melaporkan.
"Kita balas mereka! Russ-King, bersiap!" seru Bom lantang dan disoraki oleh semua prajurit di seluruh armada yang terhubung dengan komunikasi sang Presiden.
Letkol Kiya tak tinggal diam. Ia segera memerintahkan skuadron di bawah komandonya untuk menembak jatuh pesawat tempur milik New-US yang kini mengincar helikopter kargo bermuatan tentara Russ-King pembela Great Ruler.
"Lindungi muatan! Jangan biarkan mereka menjatuhkan helikopter-helikopter kita!" seru Kiya mengomandoi pasukan pesawat tempurnya.
"Yes, Mam!" jawab seluruh pilot serempak.
Pertempuran sengit di atas permukaan gurun tak terhindarkan. Tembakan laser, misil, dan peluru tembus baja saling digelontorkan untuk menjatuhkan pesawat musuh.
Ledakan demi ledakan terdengar santer di langit menuju ke wilayah Great Ruler. Ternyata, bantuan dari Russ-King memberikan dampak yang signifikan terhadap pertempuran.
"Aku menangkapmu, ngengat," ucap salah satu pilot Russ-King telah membidik pesawat lawan yang terbang di depannya.
SHUW! BLARR!
__ADS_1
"Kerja bagus, Ladies," ucap Kiya memuji para pilot pesawat tempurnya yang berhasil menembak jatuh pesawat lawan.
Bom terlihat bangga akan kemampuan para tentaranya yang tak gentar menghadapi New-US yang dikenal brutal dalam memberikan serangan.
Ditambah, Mega-US juga ikut menghalau bantuan yang coba dikirimkan oleh kapal induk New-US. Kapal induk New-US di perairan Laut Cina Timur mulai kehilangan kemampuannya.
Bangunan runtuh dalam kobaran api besar dan asap pekat. Satu per satu, bagian demi bagian di atas kapal induk mulai tenggelam setelah bom-bom penghancur merobek struktur fondasi utama.
"Kita kehilangan mesin utama, Sir! Kapal akan tenggelam!" seru salah satu ABK panik karena ruang kendali mesin telah dibanjiri dengan air laut yang meluap di ruang mesin.
Laksamana kapal perang tersebut memejamkan mata. Para ABK yang masih selamat diminta untuk menyelamatkan diri menggunakan kapsul sebelum kapal tenggelam sepenuhnya.
"Tinggalkan kapal! Nyawa kalian lebih berharga!" seru Laksamana tersebut mengeluarkan perintah agar seluruh petugas meninggalkan kapal.
"Jangan jadi pengecut! Hadapi Mega-US!" titah Xivovo berdaulat dari sambungan komunikasi.
Para petugas dan pemimpin tertinggi di kapal tersebut terdiam. Mereka tak percaya jika Presiden mereka masih berambisi untuk mempertahankan kapal di mana hal itu sudah tak mungkin terjadi.
"Aku mengerti, Presiden. Serahkan hal ini padaku," jawab Laksamana tersebut pelan.
Pria tua tersebut lalu mematikan sambungan komunikasi kepada pusat. Wajah takut dan panik tampak di semua paras para petugas yang merasa jika mereka akan mati sia-sia dalam pertempuran.
"Pergilah. Kapten tak akan meninggalkan kapal. Ia akan tenggelam bersamanya. Aku sudah bersumpah setia pada Presiden untuk mengabdi padanya. Sayangnya, pilihanku salah. Seharusnya, aku bersumpah setia pada negaraku bukan pemimpinnya. Selamatkan diri kalian, dan hiduplah dalam kedamaian jika Great Ruler mampu bertahan," ucap Laksamana tersebut menatap para ABK.
"Sir," panggil salah satu petugas tampak sedih.
"Pergi! Tak ada waktu untuk meratapi diri. Hiduplah dan berpihaklah pada siapa pun yang menginginkan perdamaian! Laksanakan!" serunya tegas.
"Ai-ai, Captain!" jawab para petugas serempak dengan hormat.
Orang-orang itu terlihat menahan duka yang mendalam karena harus meninggalkan pemimpin mereka agar tetap hidup. Kapsul penyelamat digunakan dan terlihat beberapa mengapung di permukaan.
"Sir! Mereka meninggalkan kapal. Apa yang harus kami lakukan kepada para ABK New-US?" tanya salah satu pilot pesawat tempur Mega-US.
"Kalian teruskan misi ke Great Ruler. Serahkan pada Laksamana. Dia yang akan mengurus mereka," titah Birova tegas.
"Yes, Sir!" jawab Kapten pasukan tersebut melanjutkan misi menuju Great Ruler. "Dalam hitungan tiga! Kita selesaikan misi kita di sini! Satu, dua, tiga!"
KLIK! BLUARR! DOOM! DOOM! DOOM!
Captain dari New-US yang tetap berdiri pada anjungan memejamkan mata saat melihat ledakan demi ledakan datang menghampirinya untuk merenggut nyawa.
DUWARRR!!
Para ABK New-US meneteskan air mata saat mereka melihat kapal induk tenggelam dalam kobaran api karena ledakan besar.
Pemimpin mereka ikut tewas dan tenggelam bersama kapal kebanggan New-US, tapi kini semua tinggal sejarah yang menyakitkan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih tipsnya❤ Semoga bisa tamat pas akhir bulan dan kita lanjut Red Lips! uhuy😍
__ADS_1