SIMULATION

SIMULATION
LEVEL 9*


__ADS_3

Saat suasana pilu menyelimuti hati semua orang, tiba-tiba ….


TET! TET!


“Peringatan! Terjadi getaran hebat berpotensi gempa bumi di Distrik 8 kawasan Pertambangan Batu Bara,” ucap alarm dari sistem pertahanan Great Ruler.


“Gobi,” ucap Matteo teringat akan ucapan Sandra saat ia berbicara dengan dua pria dari Negara Baatar.


“Hoarrgghh!!”


“Sir! Cacing monster itu muncul!” pekik Xili dari kamera pengawas di Distrik 8 kawasan batu bara.


Matteo segera turun dari RC dan berjalan mendekat untuk melihat pergerakan cacing buas yang memporak-porandakan wilayah tersebut.


Beruntung, tak ada pekerja di sana. Ia melihat cacing itu merusak beberapa kendaraan proyek.


“Serahkan padaku,” sahut Laksamana Joe yang mengambil alih untuk berhadapan dengan Gobi bersama pasukannya.


“Kami serahkan padamu, Laksamana,” ucap Matteo tegas dan Joe mengangguk mantap dari sambungan video.


“Semuanya, bersiap! Kita serang dia dari atas! Jangan ada satu pun yang menginjak permukaan karena tanah adalah wilayah kekuasaannya!” ucapnya lantang mengomandoi pasukan robot.


“Yes, Sir!” jawab para User level E berjumlah 200 orang dengan HeliBot siap untuk membawa orang-orang itu untuk bertempur. Suasana tegang seketika.


Di sisi lain tempat Sandra berada.


“Welcome back, Otka Oskova. Sepuluh menit tujuanmu ke titik misi akan segera tiba,” ucap Rey menginformasikan.


Sandra kembali online. Ia melihat ke samping kiri di mana Vemo terlihat fokus saat mengendarai WolfBot yang membawanya berlari selama tiga puluh menit.


Sandra terlihat bersiap. Ia ingin segera menyelesaikan misi dan kembali ke Great Ruler untuk membantu kawan-kawannya yang berusaha mati-matian untuk mempertahankan negara dari kehancuran.



Hingga akhirnya, perjalanan melelahkan mereka berakhir. Sebuah sungai yang mengeluarkan asap di permukaan air hitam pekat seperti limbah terlihat di hadapan keduanya.


Sandra dan Vemo turun dari WolfBot, menatap sungai besar berliku entah berujung sampai ke mana.


“Rey, identifikasi,” pinta Sandra menyipitkan mata karena ia mencurigai sungai tersebut.


“Teridentifikasi. Sungai tersebut mengandung limbah beracun dari pembuangan sisa pembuatan senjata nuklir dan biologis pemusnah masal. Cairan tersebut mampu melelehkan logam. Bau menyengat yang dihasilkan dari air tersebut bisa merusak fungsi pernapasan makhluk hidup. Sangat berbahaya dan berisiko kematian,” jawab Rey yang membuat jantung semua orang berdebar.


“Vemo. Tetaplah di sini. Aku tak tahu misi seperti apa dengan sungai kematian di depan kita. Menjauhlah, dan jika kau melihat robotku tak bisa bertahan, pergilah bersama WolfBot. Carilah tempat perlindungan. Kau, memiliki kemampuan bertahan hidup dan aku yakin—”


“Diam! Aku yang menentukan nasib dari hidupku. Kau, jangan mengaturku!” tegas Vemo menunjuk robot di hadapannya.


Sandra hanya menggelengkan kepala dengan embusan napas.


“Rey! Instruksi misi,” pinta Sandra terlihat waspada karena hari mulai gelap dan sungai di depannya membuat pandangan dari sensornya terganggu.


“Ikuti aliran sungai sampai bertemu dengan sebuah kota yang ditinggalkan karena perang dunia keempat bernama B-L. Berhasil tiba di kota tersebut dengan selamat, kau lulus level 9.”


“Ha? Hanya begitu saja?” tanya Sandra heran karena kali ini tak ada pembunuhan dan semacamnya.


“Memulai misi?” tanya Rey tak menjawab pertanyaan Sandra.


Wanita itu menatap Vemo saksama dan pria itu mengangguk siap. Vemo dengan sigap menaiki WolfBot seri 5 begitu pula Sandra yang akan menunggangi WolfBot 6.


“Aku siap,” ucap Sandra mantap.


“Dalam hitungan mundur. 10 … 9 … 8 ….” Sandra dan Vemo memegang dua telinga WolfBot dengan kuat. “1, go!”


Sandra segera memacu serigala robotnya bagaikan menaiki kuda. Tak lama, WolfBot 7 yang tadi mengisi daya ikut bergabung dalam tim.


Senyum Sandra merekah karena kini keempat serigalanya telah berkumpul dan mereka siap untuk menyelesaikan misi.


Sandra meminta kepada Vemo untuk menjauh dari bibir sungai dan pria bertato itu mengangguk.


Vemo menggunakan kain yang digunakan untuk mengikat kotak kaca berisi kepala tiga pemimpin sebuah kota sebagai penutup kepala dan sebagian wajahnya agar tak terkena dampak langsung dari gas mematikan sungai beracun tersebut.


Ternyata, perjalanan tersebut memakan waktu semalaman. Vemo bahkan terlihat mulai letih, tetapi pria itu berusaha untuk bertahan agar tetap bisa melanjutkan perjalanan panjang agar misi Sandra cepat diselesaikan.

__ADS_1


“Bertahanlah, Vemo. Aku minta maaf, tapi kita harus cepat dan terus bergerak,” ucap Sandra yang tetap fokus dan waspada dengan sekitar karena hari mulai gelap dan hanya cahaya bulan serta bintang sebagai penerang jalan. Sandra menggunakan penglihatan malam untuk menembus kegelapan.


Sedang di Great Ruler.


Serangan dari robot cacing mulai menghancurkan kawasan Distrik 8. Tempat itu seakan-akan sengaja digerus agar ambles dan mengakibatkan bangunan di sekitar Distrik terkena dampak.


Getaran hebat bak gempa bumi membuat semua warga di tempat evakuasi panik karena generator cadangan belum menyala. User robot level E terpaksa menggunakan lampu portabel sebagai penerangan.


“Kenapa bencana ini belum usai?” tanya salah satu warga ketakutan karena sudah beberapa hari mereka di dalam bunker dan suasana mencekam tak kunjung reda.


“Berdoalah. Hanya doa kalian yang bisa menghentikan malapetaka di negeri kita ini,” jawab Eliz yang kini ditunjuk sebagai salah satu penghubung antara pusat kendali dengan para warga di bunker Distrik 5 melalui sambungan radio.


Orang-orang itu pun mengindahkan perintah Eliz. Mereka mengepalkan tangan di depan dada dan terlihat khusyuk dalam berdoa.


Eliz terlihat tetap tegar demi warganya dan berharap agar Sandra cepat kembali dan membangunkan para User yang terkena hypersleep.


Serangan terus dilakukan untuk mengalahkan monster cacing, tetapi perisai luar robot tersebut sungguh kuat dan sulit ditembus.


Orang-orang dalam kubu Laksamana Joe mulai kewalahan karena serangan laser mereka hanya memberikan dampak tipis.


“Dia terus bergerak dan membuat rongga di dalam tanah. Ia ingin menenggelamkan kita!” ucap Laksamana Joe mulai kehabisan ide.


“Argh! Sial! Segala jenis senjata kita tak bisa membunuhnya. Gobi sialan! Dia bisa membuat robot mengerikan semacam itu!” pekik Matteo kesal.


“Sir! Sandra menghubungi kita. Dia menanyakan keadaan Great Ruler. Apa yang harus kita katakan? Jujur?” tanya Xili terlihat panik.


Sang Jenderal mengembuskan napas panjang. “Tak ada gunanya berbohong. Katakan kondisi kita,” jawab Matteo pasrah.


Xili mengangguk dan segera melaporkan hal tersebut. Praktis, mata Sandra melebar di mana ia masih mengendarai WolfBot.


Ia menoleh ke arah Vemo yang tertidur di atas punggung WolfBot dengan mengikat tubuhnya menggunakan kain yang tadi digunakan untuk melindungi dampak gas, tetapi kini tak lagi.


Sandra terpaksa menjauh dari sungai untuk mengamankan Vemo yang tak memiliki pelindung sepertinya.


“Apa … kau punya solusi, Sandra?” tanya Xili terdengar seperti putus harapan.


“Aku pernah masuk ke dalam cacing itu. Aku melihat seluruh tubuhnya terbuat dari besi, mirip barikade luar Great Ruler. Dan, satu-satunya cara untuk menembusnya dengan …,” ucapnya menggantung saat melihat aliran sungai limbah beracun di kejauhan. “Oh! Asam! Gunakan asam dari para mutan terbang itu! Itu bisa melubanginya!” serunya lantang mengejutkan semua orang.


“Yes! Aku yakin! Walaupun mutan itu telah mati, tapi cairan asam itu masih ada di dalam tubuh mereka. Bedah! Lalu tumpahkan cairan itu di tubuh cacing jelek!”


“Kalian dengar yang Sandra katakan? Siarkan! Bawa bangkai mutan terbang itu ke dalam Great Ruler!” perintah Matteo lantang.


“Yes, Sir!” jawab semua petugas operator.


Seketika, semua pemimpin yang bertugas di pusat kendali terkejut mendengar ide tersebut. Roves segera memerintahkan pasukan wanitanya untuk mengambil bangkai-bangkai mutan tersebut.


Mereka menggunakan robot level D bagian konstruksi untuk mengumpulkan makhluk-makhluk itu.


Dengan sigap, Roves melakukan pembedahan. Ia memasukkan cairan asam tersebut ke sebuah tabung khusus yang nantinya akan dijadikan bom oleh Laksamana Joe.


Terlihat, Roves bekerja keras bersama pasukan wanitanya. Yaz membantu dengan mengantarkan tabung-tabung tersebut menggunakan truk dikawal oleh para User robot level E.


“Gunakan HeliBot dan pasang peledak kendali di semua tabung! Cepat!” perintah Joe.


Dengan cekatan, tabung-tabung tersebut diterbangkan dan dikendalikan dari Pusat Kendali Menara Distrik 8.


Semua orang dibuat tegang, termasuk Sandra yang menunggu hasil dari idenya. Semua orang berharap agar serangan itu berhasil.


“Dia muncul ke permukaan!” pekik petugas yang mengawasi pergerakan robot cacing tersebut di Distrik 8.


“Hoorrghhh!” erang robot tersebut saat mulut besarnya menjulur ke permukaan tanah dan memakan para HeliBot yang membawa cairan besar itu.


Jantung semua orang di pusat kendali yang melihat tayangan seakan berhenti sejenak. Monster cacing itu menelan 15 HeliBot dan kembali masuk ke tanah.


“Ledakkan!” seru Laksamana Joe lantang.


“Bom,” ucap operator berambut kuning saat menekan tombol detonator yang terhubung ke seluruh tabung.


Namun, ledakan itu tak terjadi. Semua orang di pusat kendali bingung.


“Bagaimana? Apakah berhasil?” tanya Sandra cemas menunggu hasil laporan dari pusat kendali.

__ADS_1


“Mm, bomnya tidak meledak,” jawab Xili bingung.


“Oh! Penghalang sinyal! Cacing itu memiliki penghalang sinyal! Kalian ingat saat kita putus hubungan selama beberapa jam karena aku berada di dalam monster cacing itu?”


“Ya! Ya!” jawab Xili cepat.


“Buat dia naik ke permukaan lalu ledakkan! Jangan biarkan dia masuk ke dalam tanah! Pancing dia keluar!”


“Agh! Sial! Benar-benar monster yang merepotkan!” gerutu Joe kesal. “Baiklah! Aku tahu yang harus kulakukan!” sahutnya mantap. Semua orang terlihat serius menunggu. “Roves! Aku butuh semua bangkai mutanmu! Jadikan mereka umpan!”


“Aku mengerti. Bersiaplah, Laksamana,” jawab Roves dari sambungan radio.


Segera, para wanita tangguh andalannya membawa bangkai mutan itu menggunakan sebuah robot level D.


Kelima wanita itu memasangkan HeliBot yang dikendalikan dari Pusat Kendali Menara Distrik 8 untuk menerbangkan bangkai-bangkai itu kembali.


“Terbangkan!” perintah Joe lantang.


Lima belas HeliBot melayang di atas kawasan tambang batu bara dengan membawa mutan burung tersebut sebagai umpan.


Namun, cacing monster itu tak muncul. Joe menambah umpan dengan melemparkan bom ke permukaan tanah yang telah berlubang untuk memancing cacing itu keluar. Ternyata, usahanya berhasil.


“Hoorrghhh!”


“Now!” perintahnya lantang saat dua kepala cacing besar itu muncul ke permukaan dan kepalanya terjulur untuk menangkap HeliBot yang membawa mutan terbang.


Seketika, BOOM! BOOM! BOOM!


“Hooorrrghhh!” erang cacing monster saat dua kepala tersebut meleleh dari dalam disertai ledakan besar yang membuat beberapa bagian tubuhnya tercerai-berai di permukaan tanah.


“Yeeahhh!” seru kegembiraan karena usaha mereka untuk melumpuhkan cacing tersebut berhasil.


Ternyata, dari dalam perut monster itu, muncul para mutan yang sengaja dipersiapkan sebagai penyerang yang akan menjebol pertahanan Great Ruler dari dalam.


“Jangan beri ampun! Habisi makhluk itu!” perintah Joe dari tempatnya berdiri di dalam menara pusat kendali.


“Serang!” teriak para User robot level E saat menjatuhkan bom dari atas langit menggunakan HeliBot.


“Piiikkkk!” lengking para mutan jenis Derga yang membuat telinga para manusia yang mendengarnya merasakan sakit luar biasa.


“Gunakan cara yang diajarkan oleh Sandra! Gunakan kuku tajam mutan untuk mengalahkannya! Kerjakan!” perintah Matteo yang instruksinya terdengar di seluruh pusat kendali.


“Yes, Sir!” jawab para pemimpin pasukan mantap.


Para User robot level E menebas kaki dan lengan para mutan yang memiliki kuku tajam tersebut. Mereka menggunakan cara yang diajarkan oleh Sandra saat ia melewati tiap level dalam misi.


Para mutan itu kini berhasil dikalahkan dengan cepat, meski banyak User level E yang terluka karena serangan ganas makhluk buas itu.


Para mutan tersebar dan berpencar ke seluruh Distrik. Para User dan pemimpin di pusat kendali dibuat kerepotan karena para mutan bersembunyi agar tak dibunuh oleh pasukan Great Ruler.


Sedang di tempat Sandra berada. WolfBot yang ditungganginya mulai melemah karena kehabisan daya termasuk serigala robot yang ditunggangi oleh Vemo.


Hanya tersisa satu WolfBot yang masih bisa melanjutkan perjalanan karena daya yang dimilikinya masih 70 persen.


“Pergilah, aku akan menyusul. Kau harus segera menyelesaikan misi. Sungguh, aku tak apa. Seperti katamu, aku bisa bertahan. Percaya padaku,” ucap Vemo seraya memegangi kepala robot Sandra dan mencium wajahnya. Matteo memutar bola mata karena api cemburu kembali berkobar di hatinya.


“Aku minta maaf, Vemo. Segeralah kembali ke Great Ruler. Kau tak perlu menyusulku ke kota mati itu. Kita tak pernah tahu bahaya apa yang bisa melukai atau membunuhmu. Aku masih bisa bertahan karena robotku ini, sedang kau, tak berpelindung,” ucap Sandra menasehati dan Vemo mengangguk pelan.


“Hati-hati dan aku doakan kau berhasil,” ucap Vemo seraya berjalan mundur dan Sandra mengangguk pelan.


Robot level A kini menaiki WolfBot seri 7. Dengan sigap, serigala robot itu melaju cepat agar Sandra bisa segera tiba di titik misi dari level 9.


Sandra terlihat sedih karena harus meninggalkan Vemo sendirian bersama tiga robot yang mulai kehabisan energi dan harus menunggu sampai matahari terbit untuk pengisian daya.


“Jangan khawatir, Sandra. Vemo akan kami awasi. Kau fokuslah pada tujuanmu,”ucap Xili dan Sandra hanya bisa mengangguk.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2