SIMULATION

SIMULATION
POISON*


__ADS_3


Sandra segera bergegas mendatangi kamar sang Jenderal. Ia terkejut begitu mendapati tim medis dengan Wakil Presiden Lala di sana. Sungguh, pria bermanik biru itu tak bercanda dengan keluhannya jika ia sakit.


"Oh, Otka. Kau datang kemari? Apakah ingin menjenguk Matteo?" tanya Wapres Lala mendekat dengan setelan warna putih yang membuatnya terlihat awet muda meski telah menua.


"Yes, Mam," jawab Sandra gugup langsung berdiri dalam siap sempurna.


"Dia sepertinya ... keracunan makanan. Entah apa yang dia makan, tapi Matteo tak mau mengatakannya. Spectra juga enggan menjawab. Ini aneh, aku khawatir jika ada yang berniat buruk padanya," ucap Lala berbisik seraya melihat para petugas medis yang keluar satu persatu dari kamar sang Jenderal.


Sandra diam sejenak memikirkan hal tersebut, tapi ia merasa jika makanan yang dikonsumsi sang Jenderal sama dengan para User lainnya.


"Mam," panggil asisten Lala—Vega—seraya memberikan tablet padanya.


Vega melirik Sandra tajam seperti memiliki maksud lain dari pandangannya. Tak lama, senyum Lala sirna dan digantikan dengan tatapan serupa ke wajah Sandra.


"Kau ingin memberikan penjelasan padaku? Karena video rekaman di kantin, menunjukkan kau dan beberapa User duduk bersamanya menikmati makan siang beberapa waktu yang lalu," tanyanya seraya memberikan tablet ke asistennya lagi dengan pandangan terkunci pada wanita berambut pirang di depannya.


Sandra terkejut, ia merasa dituduh sebagai penyebab sakit yang diderita oleh sang Jenderal.


"Mam, saya bisa jelaskan," jawab Sandra gugup.


Lala menyilangkan kedua tangan di depan dada. Saat Sandra akan bicara, Spectra mendekat dan berdiri di sampingnya. Lala dan Vega meliriknya.


"Mungkin Anda ingin melihat rekaman kegiatan Tuan Matteo dari database-ku, Wakil Presiden Lala?" tanya Spectra mengajukan diri.


"Oh, yes. Please," pintanya tegas.


Spectra membawa Lala ke RC di mana robot pintar itu memperlihatkan rekaman kejadian saat ia bersama sang Jenderal sebelum ke kantin.


Kening Lala, Vega, Sandra dan tim medis berkerut. Dalam tayangan tersebut, kamera Spectra melihat Matteo pergi ke bengkel suku cadang dan meminum sebuah minuman kaleng yang ia ambil di sampingnya.


Namun, ada kejanggalan di sana. Kaleng yang diambil oleh Matteo bukan miliknya, melainkan milik pelanggan lain yang tertukar karena wujudnya yang serupa.


"Siapa orang itu?" tanya Lala meminta Vega untuk mencari tahu dari database kependudukan sosok pria tersebut.


Namun, hal aneh terjadi. Identitas pria itu tak ditemukan. Dia bukan salah satu warga Great Ruler. Kecurigaan semakin menguat.


Lala memerintahkan asistennya untuk menelusuri lebih jauh keterlibatan pria itu karena dikhawatirkan jika ia sengaja meracuni Matteo karena motif tertentu.


Lala meminta Sandra untuk ikut dengannya bersama Vega, sedang Spectra, tetap diminta untuk berada di samping Matteo untuk melindunginya.


Sang Jenderal dipindahkan ke Rumah Sakit khusus militer untuk menjalani observasi lanjutan karena wajah Matteo sampai pucat dan bibirnya berkerut.


Sandra terkejut saat ia dibawa ke Ruang Kendali Distrik 9 di ruang simulasi. Lala meminta kepada operator bernama Xili, untuk mencari tahu tentang pria yang tak dikenal itu.


Xili segera melakukan penelusuran di seluruh kamera pengawas Distrik 4 tempat Matteo berada sebelum ia kembali ke Distrik 9.


"Oh! Pria itu! Bukankah itu pria yang meletakkan kaleng di samping Matteo?" tanya Sandra menunjuk sosok pria gemuk berambut ikal yang datang menggunakan topi dan kacamata sehingga sosoknya tersamarkan.


Pria itu terlihat berbeda ketika ia berdiri di samping Matteo yang sedang membelakanginya.


"Kau benar. Bagaimana bisa pria itu berubah penampilan dalam sekejap?" tanya Vega heran karena sosok yang berdiri di samping Matteo bertubuh kurus, tanpa topi dan kacamata. Pakaian mereka saja yang mirip.


"Lihat! Lihat! Ia berubah saat berjalan mendekati Matteo!" seru Sandra menunjuk gerak-gerik pria gemuk itu yang perlahan tubuhnya mengempis.


Mata semua orang terbelalak. Xili mendekatkan kamera untuk mencari tahu teknik tersebut.


"Dia ... sepertinya, pakaian yang ia kenakan mirip sebuah balon. Lihat, ia menggerakkan jam di pergelangan tangannya saat mendekat. Kaleng soda itu ia masukkan dalam jas. Ia tak meminumnya saat di dekat Matteo. Ia hanya membukanya lalu meletakkannya dan ... menukarnya. Benar, ia sengaja!" pekik Xili dengan mata melotot setelah menganalisis kecurangan itu.


"Temukan pria itu! Tutup seluruh akses perbatasan antar gerbang di semua Distrik. Lakukan!" perintah Lala lantang.


"Yes, Mam!" jawab semua orang di ruangan itu cepat.

__ADS_1


Sandra mendekati Lala yang terlihat panik karena keponakannya diracuni. "Mam. Izinkan aku menggunakan robot level C untuk membantu melakukan penyelidikan," pintanya memohon.


"Kenapa?"


"Aku rasa, dia akan pergi ke Distrik 10. Kau ingat, ada jalan rahasia di sana. Entah bagaimana dia bisa mengelabuhi barcode, tapi jika ia bisa menyusup, kemungkinan besar, ada manusia lain yang juga melakukannya," jawabnya tegas.


Praktis, mata Lala melebar. Ia mengangguk memberikan izin. Xili dan operator lainnya segera bersiap untuk melakukan simulasi.


Sandra dengan sigap mengganti pakaiannya dengan seragam khusus simulator berwarna abu-abu. Pin-pin dipasang oleh para petugas. Sandra terlihat siap di ruang simulasi.


"I'm ready."


"Oke! Dalam hitungan mundur. 5 ... 4 ... 3 ... 2 ...1, start!" seru Xili lantang.


BIB!


"Hallo, Otka Oskova. Aku Mola. Simulasi dipusatkan berada di Distrik 10. Target untuk dimata-matai telah direkam. Siap menjalankan misi?"


"Yes, let's move!" jawab Sandra mantap.


Segera robot level C tersebut menjelajahi Distrik 10. Kawasan tersebut masih dalam tahap pemulihan pasca serangan mutan beberapa waktu silam.


Beberapa User yang ditugaskan di tempat tersebut, melindungi robot level C yang hanya dipersenjatai oleh tembakan laser.


Robot yang dikendalikan Sandra, tak bisa membawa beban terlalu banyak karena memang ditugaskan sebagai robot mata-mata. Sandra melihat menara pengawas di Distrik tersebut.


"Mola. Aktifkan magnet pendaki," perintahnya.


"Magnet diaktifkan."


BIB!


Tanda lampu biru menyala di telapak tangan robot begitupula di kaki serta lutut. Sandra meletakkan telapak tangannya di dinding menara. Ia mulai memanjat perlahan.


"Aku suka gadis itu. Ia tak kenal takut," ucap Colonel Brego ikut mengawasi dari Distrik 10 di Pusat Kendali.


"Gadis? Bukankah ... dia sudah menikah dengan Vemo?" tanya seorang petugas bernama Neo.


Brego menghela nafas pelan. "Bagiku, dia masih terlihat seperti gadis," tegasnya memasang wajah malas.


Sandra berhasil memanjat sampai setinggi tembok pembatas antar Distrik. "Mola, pindai sekitar."


"Pemindaian dilakukan. Mencari buronan," ucapnya dari kamera yang tersambung dengan penglihatan robot Sandra.


TET! TET! TET!


"Ditemukan! Ditemukan! Target menuju ke sebuah bangunan yang telah runtuh dan terbakar."


"Oh! Itu kediaman Vemo! Dia pasti mengincar sesuatu!" seru Sandra yang mengejutkan semua orang.


"Pasti dia kiriman Morlan!" sahut Brego ikut melebarkan mata.


"Mola. Kirimkan HeliBug!" perintah Sandra saat matanya mengunci buronan yang pandai menyelinap. Pria itu terlihat waspada terhadap sekitar saat mencari sesuatu di reruntuhan.


"HeliBug dikirimkan dan akan tiba dalam hitungan mundur. 10 ... 9 ... 8 ...," ucap Mola menginformasikan. Mata Sandra masih terkunci pada sosok pria tersebut di mana Distrik 10 sengaja di kosongkan untuk menetralisir lingkungan karena dikhawatirkan terkontaminasi oleh darah mutan. "2 ... 1, magnet di non-aktifkan."


"Ha!" teriak Sandra lantang saat ia melompat dari menara tersebut ketika HeliBug telah berada di hadapannya.


Tubuh Sandra ditangkap oleh tangan HeliBug. Robot level C tersebut terbang melintasi Distrik 10. Sandra menyiapkan senapan laser yang muncul dari punggung tangannya.


"Membidik sasaran."


SHUW!

__ADS_1


"Agh!" erang pria itu saat Sandra menembakkan sebuah peluru laser dan mengenai punggung pria tersebut.


Baju buronan itu berlubang. Ia menoleh dan mendapati sebuah robot datang ke arahnya. Pria itu terkejut dan langsung berlari dengan cepat meninggalkan reruntuhan kediaman Vemo.


"HeliBug, lepaskan!"


"Melepaskan muatan."


BRUKK!


"Stop!" seru Sandra lantang langsung berlari mengejar dengan kecepatan penuh. Robot level C mampu berlari dua kali lipat dari User yang berada di ruang simulasi.


Mata semua orang yang melihat pergerakan Sandra melebar seketika. HeliBug dikendalikan oleh Wego—salah satu operator di Pusat Kendali Distrik 9—untuk mengikuti robot Sandra.


"Wego, bersiap. Jangan biarkan dia lolos. Kita akan menginterogasinya," perintah Lala.


"Yes, Mam."


Seketika, SHUW! SHUW! BRUKK!


Sandra terkejut saat helikopter mirip serangga itu menembakkan peluru laser seperti miliknya. Buronan itu jatuh tersungkur karena kedua kakinya terluka. Sandra segera mendatangi pria itu dan membalik tubuhnya hingga ia terlentang.


"Agh! Aggg!" erangnya memberontak saat Sandra berusaha untuk menangkapnya.


Tiba-tiba, KLEK!


Mata Sandra terfokus pada sebuah botol berwarna bening yang jatuh dari saku jaket pria itu. Mata Sandra melebar. Ia segera mengambil benda tersebut, tapi pria itu dengan cepat merebutnya.


Aksi saling dorong pun terjadi. Sandra semakin yakin jika cairan dalam botol kecil seukuran kelingkingnya itu pasti bernilai tinggi hingga pria itu berusaha untuk merebutnya.


DUAKK!! KRAKK!


"ARRGGHHH!!"


"Oh! Apa dia mematahkan tangan pria itu? Dia menerapkan ilmu bela diri? Mengerikan!" pekik Xili sampai matanya melebar.


Sandra kesal karena buronan itu tak melepaskan botol tersebut. Sandra terpaksa menarik tangan kanannya, lalu menjatuhkan tubuh pria itu hingga tengkurap di tanah, lalu memelintirnya dengan kedua tangan.


Praktis, suara retakan tulang terdengar berikut erangan kesakitan. Sandra akhirnya berhasil mengambil botol itu. Ia menggenggamnya kuat lalu memasukkan dalam saku di dada robotnya yang terbuka layaknya sebuah laci.


Saat Sandra berbalik, tiba-tiba, Mola memberikan peringatan yang mengejutkannya.


TET! TET! TET!


"Bahaya! Mutan terdeteksi. Serangan akan terjadi dalam hitungan mundur. 5 ... 4 ... 3 ...."


"Oh, shitt! Mola! Putuskan hubungan. Now!" perintah Sandra lantang saat ia mendengar raungan di belakangnya.


"Pemutusan jaringan syaraf diterima."


"HARRGHHH!"


"OTKA!" teriak Lala lantang saat pria buronan tersebut tiba-tiba berubah menjadi manusia mutan dan menerkam robot level C tersebut.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy tengkiyuw tipsnya. jangan lupa boom like audio book novel lele ya. eh iya. novel 4YM cover biru di dubbing sama bang Sin loh. Diintip ya. Lele ketawa pas dia bersuara Vesper. Hahahaha aku ngakak dong. Komen2 ya. Tengkiyuw😍

__ADS_1



__ADS_2