
Sandra terkekeh melihat suaminya malah memperlakukan pemimpin dari kota lain dengan kasar. Sandra mendekati sang suami dan memberikan sambutan sebuah kecupan manis di bibir.
"Kenapa lama sekali? Aku hampir menjadi monster laut," keluh Matteo seraya merangkul pinggul sang isteri.
"Yah. Para teknisi melakukan perbaikan dan modifikasi pada cacing robot. Hasilnya, sangat memuaskan. Aku sempat khawatir jika terjadi hal buruk seperti kejadian yang menimpamu," jawab Sandra terlihat sedih menatap suaminya lekat.
"Aku baik-baik saja. Lihatlah, tak ada yang terluka," ucap Matteo dan Sandra mengangguk dengan senyuman lalu memeluk kekasih hatinya lagi.
"Cepat masuk. Panas sekali di sini," keluh Brego yang keluar dari mulut cacing robot seraya menyipitkan mata.
"Colonel ikut serta? Jangan bilang dia yang mengemudikan cacing robotku," tanya Matteo menunjuk sang pria singa.
"Maaf, Presiden. Namun sepertinya, aku lebih mahir ketimbang kau," sindirnya dan Matteo mendesis kesal.
Curva mendekati Sandra dengan jalan berjinjit karena kepanasan. Sandra menatap pria itu saksama.
"Ah, ternyata benar kau. Aku ... hanya ingin meminta maaf, Ibu Wakil Presiden," ucap Curva seraya menahan panas di kakinya.
Sandra mengulurkan tangan mengajak berjabat. Curva dengan segera menyambutnya dengan mantap. Matteo menatap Curva dengan kening berkerut.
"Perkenalkan. Aku Curva Titan. Pemimpin kota Titan yang berada di bawah air berbatasan dengan negara Bintang," ucapnya sopan memperkenalkan diri.
"Oh, suatu kehormatan bisa berjabat dan bertemu dengan pemimpin Titan. Aku, Sandra Salvarian. Wakil Presiden Great Ruler. Hanya saja, sepertinya Anda sudah mengenalku sebelumnya, tapi di mana?" tanya Sandra penasaran.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini saat sudah di dalam. Ayo, tak aman di luar," pinta Benyamin seraya mendekat. Orang-orang itu mengangguk setuju.
Sayangnya, robot cacing yang dikendarai oleh Brego tak bisa memuat banyak orang karena benda itu masih generasi pertama.
Akhirnya, Sandra, Akira, Tony dan Ego memilih untuk menggunakan HeliBot sampai negara Bintang. Namun, Curva yang penasaran dengan helikopter terbang portabel itu ingin ikut mencobanya.
"Wahahaha! Ini keren sekali! Aku seperti burung!" serunya tak bisa menutupi kebahagiaannya saat tubuhnya melayang di atas permukaan tanah.
"WolfBot! Lindungi kami!" titah Sandra kepada empat WolfBot yang ikut bersamanya dalam cacing robot.
"Purple. Kau bisa membawaku 'kan?" tanya Matteo melihat robotnya.
"Yes, Sir. Sayap diaktifkan," jawab Purple yang memisahkan tubuhnya.
Orang-orang dari negara Bintang dan juga kota Titan dibuat kagum oleh teknologi robot dari Purple. Punggung dan dada Matteo berlapis tubuh robot Purple.
Kini, ada dua buah sayap dengan mesin pendorong untuk membawanya terbang meski tak bisa lebih dari 10 meter. Matteo terbang melayang mendampingi sang isteri.
Orang-orang dari negara Bintang datang menjemput dengan mobil kuno dan juga helikopter yang dulu digunakan oleh Sandra-Matteo saat berkunjung ke Great Mazepita.
__ADS_1
Iring-iringan besar terlihat menuju ke negara Bintang. Cacing robot yang dikemudikan Colonel Brego membawa Roman, Benyamin, Siren dan Xili di dalam tanah.
Terlihat jelas jika Siren dan Benyamin mengagumi teknologi yang mirip seperti cacing robot Gobi tersebut.
Lalu, mobil dan WolfBot melaju di permukaan tanah. Empat WolfBot ditunggangi oleh dua orang dari kota Titan yakni Verosa dan Atlanta si kulit pucat.
Tampak dua orang itu seperti panik, tapi kagum dengan kemampuan serigala robot yang berlari kencang.
"Pegangan yang kuat! Kalian akan baik-baik saja!" seru Vemo menemani kekasihnya dan Verosa mengangguk mantap.
Sedang satu WolfBot yang tersisa dikendarai oleh Morlan. Mobil-mobil penjemput model kuno membawa orang-orang dari kota Titan, negara Bintang dan juga negara Great Ruler.
Namun, dibalik kebahagiaan itu, ada kelompok lain yang mengintai dengan teknologi mata-mata mereka berupa robot tikus tanah.
"Teknologi Gobi dicuri oleh orang-orang Great Ruler. Ini tak bisa dibiarkan!" geram salah seorang pria dari negara Baatar. "Kita balas Great Ruler!" seru pria itu seraya mengangkat pedang ke atas dan disambut sorak-sorai dari orang-orang yang memihaknya.
"Kita balaskan kematian Gobi dan kawan-kawan kita yang gugur saat menyerang Great Ruler. Kali ini, kita serbu negara Bintang karena bersekutu dengan Great Ruler. Malam ini, kita binasakan mereka semua!" seru seorang pria berwajah Asia bermata sipit terlihat gagah seperti pemimpin kelompok tersebut.
"Hoi!" jawab orang-orang bersenjata tajam itu serempak.
Ternyata, Benyamin membohongi Matteo yang mengatakan jika membutuhkan waktu setengah hari untuk tiba di negaranya. Namun, hanya dibutuhkan 15 menit untuk sampai di sana.
Salah satu mobil sebagai pemimpin jalan mengajak konvoi tersebut mendekati sebuah gunung yang tampak tandus.
Sandra terus terbang dan terlihat waspada saat HeliBot miliknya berbelok-belok agar tak menabrak dinding gunung.
Hingga akhirnya, mereka tiba di suatu wilayah dengan beberapa orang berjaga di balik gua kecil dalam dinding batu seperti gunung tandus di Great Mazepita.
Sandra menoleh ke arah Tony, Ego dan Akira. Para pria itu tampak siaga dengan pistol laser yang telah disarungkan di samping paha seragam tempur mereka.
Ternyata, semua armada harus berhenti di tempat itu. Cacing robot keluar dari dalam tanah dan membuka mulutnya.
Terlihat, Benyamin bersama orang-orang dari konvoinya berkumpul di sebuah kawasan berpenjagaan ketat.
Terlihat sebuah benteng batu dan juga pintu menuju ke suatu tempat. Wilayah itu terasa teduh dengan angin bertiup semilir. Rasa sejuk menerpa tubuh para manusia yang kepanasan saat menuju ke wilayah gersang tersebut.
"Apakah ini negara Bintang? Inikah ... pintu masuk utama ke negaramu, Tuan Benyamin?" tanya Sandra saat ia turun dari HeliBot bersama yang lain.
"Bukan. Ini bukan pintu utama. Saat kami datang, tidak melalui jalur ini. Sebenarnya, ini di mana?" tanya Morlan curiga seraya mendongak ke atas melihat bentuk dari benteng tersebut.
"Masuklah," ajak Benyamin.
__ADS_1
Segera, para penjaga tempat itu membuka pintu gerbang utama. Praktis, mata orang-orang itu terbelalak lebar.
Mereka dibuat kagum saat memasuki wilayah dalam benteng karena banyak pepohonan rindang terlihat.
Sedang Benyamin, hanya tersenyum. "Ini adalah kawasan hijau satu-satunya yang tersisa dari negara Bintang. Wilayah ini, sengaja tak disentuh oleh kami agar tetap lestari. Aku menunjukkan kawasan ini sebagai bukti, bahwa tak ada lagi yang ditutupi oleh negara Bintang kepada kalian semua," ucap Benyamin menatap sekumpulan orang-orang yang berdiri di hadapannya.
"Apakah ini wilayah Timur yang berdekatan dengan laut?" tanya Matteo menduga. Benyamin mengangguk. "Apakah ... Anda berbohong saat itu yang mengatakan jika wilayah tersebut dihuni oleh para lansia dan bayi?"
"Aku minta maaf. Hanya saja, untuk mengembalikan kesuburan tanah sangat sulit. Jika tempat ini sampai hancur, musnah sudah harapan kami untuk bertahan hidup. Hanya wilayah ini ladang oksigen kami saat cuaca ekstrim datang dan berusaha merenggut nyawa penduduk," jawab Benyamin merasa bersalah.
Curva berjalan mendekat ke wilayah tersebut lalu menyentuh sebuah batang pohon.
"Tempat ini ... mirip seperti yang digambarkan oleh mendiang kakekku. Beliau mengatakan, jika jalan menuju ke terowongan rahasia, berada di bawah tumbuhan hidup. Apakah ... itu berada di sini?" tanya Curva menebak.
"Ya, itu benar. Namun, sebuah konsekuensi beresiko jika kami memaksa untuk menjebol pintu yang sudah ditutup oleh kakekmu itu. Wilayah ini bisa runtuh dan ambles tertelan lautan. Jadi, kami memutuskan untuk tak mengusik terowongan itu agar tumbuhan hijau tetap subur dan penopang hidup kami," jawab Benyamin menjelaskan.
"Jika tanah ini subur, kenapa Anda tak mengembangkannya?" tanya Roman heran.
"Kami sudah mencobanya, tapi ... entahlah. Setiap bibit pohon yang kami ambil dari tanah ini untuk ditanam ke pusat negara Bintang, selalu mati. Seperti yang telah diteliti oleh para ilmuwanmu, tanah kami terkontaminasi dari limbah senjata yang dibuat sebelumnya. Menurut penelitian orang-orang dari Great Ruler, limbah-limbah itu dulunya sudah ditampung dalam tong-tong besi. Namun, saat serangan terjadi, tong-tong itu bocor dan limbahnya meracuni tanah. Hal itu ditemukan oleh Morlan saat ia menjelajah ke wilayah pembuangan tempat sisa peperangan dan ditemukan kecocokan," jawab Benyamin.
"Itulah balasan karena merampas yang bukan milik kalian," sindir Curva tajam.
Sandra menarik napas dalam.
"Ya. Negara Bintang sudah menerima balasannya. Namun, apakah Anda akan terus menyalahkan? Lihatlah, Titan sendiri harus berkorban dengan hidup di lautan karena terusir. Jika boleh tahu, Tuan Curva. Kenapa Titan tak merebut Bintang kembali? Apakah ... kalian sengaja membiarkan Bintang menerima hukumannya setelah Anda tahu jika wilayah tersebut terkontaminasi? Apakah leluhur Anda sengaja meracuni tanah itu?" tanya Sandra menatap Curva tajam. Praktis, suasana tegang seketika.
Curva tersenyum miring. "Apakah tebakan itu hanya sebuah kebetulan, ataukah Anda memang cerdas, Wakil Presiden Sandra Salvarian?" tanya Curva menatap isteri Matteo tajam.
"Anggap saja keduanya," jawab Sandra menatap Curva lekat.
"Hem, begitulah. Sebenarnya, itu bukan sisa peperangan. Catatan kakekku menuliskan. Saat mereka terpaksa pergi meninggalkan tanah kelahirannya karena terdesak, kakekku beserta orang-orangnya sengaja merusak tong-tong limbah itu. Tong-tong itu adalah limbah dari pembangunan kota Titan di bawah laut. Beruntung, saat Bintang menyerang, kota Titan sudah bisa dihuni. Kakekku tak sudi jika Bintang merasakan semua kemakmuran yang tersisa dari negaranya yang berada di daratan. Oleh karena itu, meski Bintang berhasil mendapatkan negara Titan, yang mereka rasakan adalah penderitaan, bukan kemaslahatan," jawab Curva tajam.
Napas Benyamin dan orang-orang dari negara Bintang memburu. Sandra dan orang-orang dari Great Ruler tampak tegang karena pertikaian seperti akan timbul kembali dari dua kubu yang saling menyalahkan tersebut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ Lele padamu mbk aju😍