SIMULATION

SIMULATION
ROBOT LEVEL A WEAPONS*


__ADS_3

Robot Sandra berlari kencang menyusuri terowongan khusus menuju ke Distrik 3. Membutuhkan waktu bagi robot level A sekitar 30 menit jika terus berlari.


Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, robot canggih tersebut keluar dari terowongan khusus.


Sandra telah tiba di Distrik 3 siang hari. Titik misi mulai terlihat semakin dekat. Penglihatan robot level A mampu melakukan zoom in dan zoom out.


Gedung Colosseum sudah nampak di kejauhan dan telah ada beberapa User robot level E untuk mengamankan lokasi.


Sandra mulai memperlambat laju larinya saat robotnya telah tiba di depan gerbang utama kawasan Colosseum. Para User robot level E memberikan semangat kepada Sandra agar bisa menyelesaikan misi dengan lancar.


Sandra melangkah perlahan saat memasuki gerbang dan kini masuk ke arena Colosseum. Sandra terlihat kagum dengan bangunan megah tersebut. Ia teringat dengan beberapa kenangan bersama orang-orang di tempat itu.


"Selamat datang, Otka Oskova. Kamu berhasil tiba di Distrik 3 tepat waktu," ucap Mola memberikan pujian.


Sandra mengangguk pelan berterima kasih meski napasnya masih tersengal dan ia mulai merasakan kakinya pegal karena terus-terusan berlari.


Beruntung, robot level A yang berada di lapangan memiliki kecepatan berlari tiga kali lipat. Jika tidak, ia akan menghabiskan waktu seharian dengan terus berlari hanya untuk tiba di 1 Distrik.


"Jadi, apa misiku di tempat ini?" tanya Sandra penasaran.


"Kau akan mengetes seluruh persenjataan dari robot level A. Tempat ini sudah diamankan sehingga tak ada korban dari warga sipil saat kau melakukan uji coba," jawab Mola.


"Apakah ... aku akan melawan mutan?" tanya Sandra gugup karena ia ingat betul saat robot B-One melakukan pertarungan di tempat ini.


"Tidak. Semua musuhmu adalah robot buatan Great Ruler. Misi dimulai dalam hitungan mundur," ucap Mola yang membuat Sandra langsung sigap padahal ia sedang mengatur napasnya yang mulai tersengal. "10 … 9 … 8 … 7 … 6 … 5 … 4 … 3 … 2 … 1, go!"


Seketika, atap Colosseum tertutup dan tempat itu menjadi gelap walaupun tak lama setelahnya, lampu di dalam arena menyala terang. Sandra terlihat gugup karena hanya ada ia seorang di tempat besar tersebut.


"Mola! Berapa daya yang tersisa dari robotku?' tanya Sandra cemas.


"Daya maksimal 100%."


Sandra bernapas lega. Ia yakin jika baterai pada robot, mengisi secara otomatis saat terkena sinar matahari ketika berlari, meski selama beberapa menit ia berada di dalam terowongan khusus bawah tanah.


"Otka. Kini saatnya kau mencari tahu kemampuan dari robotmu. Mola akan memandumu. Good luck!" seru Matteo dari pusat kendali.


Semua pejabat pemerintah kembali fokus menyimak karena kali ini Sandra akan menunjukkan kemampuan dari robot level A secara menyeluruh.


"Serangan! Serangan! Terdeteksi adanya ancaman dari arah Barat!" seru Mola memberikan peringatan.


"Identifikasi musuh!" perintah Sandra dengan sigap memposisikan tubuh robotnya ke arah Barat.


"Tiga buah robot jenis samurai berlari dengan kecepatan 50 km/jam bersenjata pedang."


"Aktifkan pedang laser!" seru Sandra seraya memasang kuda-kuda dalam posisi siap untuk bertempur.


"Pedang laser diaktifkan."


Mata Sandra menajam ketika melihat tiga buah robot warna hitam datang padanya dalam posisi siap menyerang.


Robot-robot itu seperti saat ia berlatih dengan Matteo di Dojo tentang ilmu pedang. Tiga robot tersebut mulai melayangkan pedang terlihat siap untuk menebas robot level A.


"Xili, bersiap. Pastikan kau memutuskan hubungan jika terlihat Otka mulai tak bisa melawan robot tersebut. Jangan sampai, kepala robot Otka terpenggal. Kau mengerti?!" tegas Matteo menunjuknya dan pemuda itu mengangguk paham meski terlihat ketakutan di wajahnya.


Semua orang nampak tegang karena tiga robot samurai itu sangat lincah dan tangguh. Namun, Sandra menyadari sesuatu.


Gerakan yang dilakukan oleh para robot sama persis ketika ia berlatih dulu. Ia hapal semua gerakannya. Sandra tersenyum miring saat ia melihat salah satu robot mulai melakukan gerakan yang membuat kakinya keseleo saat itu.


"Kau pasti akan memutar tubuhmu," ucapnya dengan pedang laser warna ungu menyala terang di punggung kanan dan kirinya.


Matteo menyipitkan mata karena tak menyangka jika tebakan Sandra benar. Ternyata, dugaan Sandra tak meleset.


Robot itu melakukan putaran. Sandra terlihat bersiap di mana ia tahu kapan saatnya untuk menyerang robot tersebut.


"Now!" serunya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sandra segera merunduk ketika robot samurai melakukan putaran pertamanya di mana tujuan dari sabetan pedangnya itu mengarah ke tubuh bagian atas.


"Nonaktifkan!"


"Menonaktifkan pedang laser."


"Apa yang dia lakukan?" tanya Matteo bingung karena robot Sandra kini tak bersenjata. Sandra berjongkok dan dengan sigap, SHUW! SHUW!


Para penonton terkejut ketika Sandra mengganti senjatanya dengan pistol laser. Sandra menembaki robot tersebut tepat di tubuh bagian bawahnya saat robot itu siap untuk menebasnya.


Gerakan Sandra lebih cepat dan berhasil membuat kaki robot itu rusak. Pistol laser kini membidik kepala robot.


Peluru-peluru laser itu tepat mengenai kepala robot hingga robot samurai tersebut terjatuh karena mengalami konsleting.


Sandra segera bergulung karena ia kini dikepung dari sisi kiri dan kanan oleh robot yang masih bertahan.


Napas semua orang seakan berhenti. Mereka khawatir jika pertarungan uji coba tersebut akan melukai User nantinya meski robot yang berada di lapangan.


Sandra teringat akan kemampuan B-One ketika melawan mutan di Colosseum. Sandra penasaran, apakah fiture tersebut juga diterapkan pada robotnya atau tidak mengingat Matteo salah satu penciptanya.


"Mola! Pelindung duri!"


"Pelindung duri diaktifkan."


"Sial! Kenapa dia bisa tahu ada kemampuan itu di tubuh robotnya? Apakah ada yang membocorkan hal ini? Paman?!" seru Matteo protes langsung menuduh sang Presiden.


"Kau menunjukku? Singkirkan telunjukmu! Dasar tidak sopan!" sahut Roman langsung menampik telunjuk keponakannya dengan wajah garang.


Matteo terkejut karena Pamannya marah. Semua orang menahan senyum, sedang Matteo terlihat bingung karena Sandra bisa mengetahui kemampuan robot level A tersebut. Matteo bertolak pinggang berwajah masam.


Seketika, duri-duri tajam muncul di tubuh bagian belakang robot level A seperti landak. Sandra terkejut karena dugaannya tepat. Ia memposisikan diri dengan membungkuk.


KLANG!!


Sandra terkejut karena pedang robot musuh patah. Ia tak menyangka jika pelindung durinya lebih tajam dan kuat ketimbang pedang tersebut.


Dua robot samurai tersebut kembali menyerang dengan pedang cadangan. Sandra melakukan aksi balas dengan pelindung duri masih ia aktifkan.


Tangan kanannya siap dengan pedang laser dan tangan kiri menggenggam pistol. Sandra menggunakan dua senjata itu secara bergantian untuk menyerang.


Semua orang terlihat serius menonton saat Sandra menembaki tubuh robot Samurai di depannya hingga membuat robot itu berasap.


Sedang robot samurai lainnya menyerang dari belakang. Sandra kembali teringat akan kemampuan dari robot B-One.


"Nonaktifkan pedang laser!"


"Pedang laser dinonaktifkan."


"Aktifkan sengatan!"


"Sengatan diaktifkan."


Dengan sigap, Sandra membalik badannya dan menangkap tangan robot samurai saat ingin menebasnya.


CREETTT!!


Robot tersebut terkena sengatan listrik hingga tubuhnya berasap. Sandra melepaskan kedua tangannya di tangan robot dan kini mengincar kepalanya. Seketika, robot itu seperti mengalami kegagalan mesin.


"Aktifkan pedang laser!"


"Pedang laser diaktifkan."


KRASS!! KRASS!!


Semua orang terdiam saat Sandra menebas robot yang mengalami kejang karena sirkuit dalam tubuhnya telah terbakar dalam posisi menyilang. Seketika, bagian atas robot itu terpotong dan roboh di lantai arena.

__ADS_1


Sandra kembali berdiri dan melihat dua robot sebelumnya sudah tak bergerak lagi. Sandra melihat kedua tangannya dan juga duri tajam yang masih muncul di punggung.


"Nonaktifkan pelindung duri dan sengatan."


"Menonaktifkan pelindung duri dan sengatan," ucap Mola memproses permintaan.


Orang-orang yang menonton di pusat kendali kali ini tak ada yang bertepuk tangan. Mereka melihat Sandra seperti mengidentifikasi kemampuan dari robotnya.


"Apa yang kauketahui dari persenjataan robotmu, Otka Oskova?" tanya Roman melalui sambungan komunikasi.


"Robotku memiliki pelindung duri. Mm, Presiden. Bolehkah aku bertanya?" tanya Sandra terlihat serius.


"Ya, tentu saja."


"Apakah ... sengatanku ini menjalar keseluruh tubuh? Maksudku ... apakah listrik itu juga mengalir di duriku jika aku mengaktifkannya?" tanya Sandra penasaran.


"Ya. Sengatan itu mengalir ke seluruh tubuhmu. Berbeda jika kau hanya mengintruksikan sengatan tangan. Maka, sengatan itu hanya terfokus pada kedua tanganmu saja," terang Roman dan Sandra mengangguk paham.


"Aku merasa betis kanan kiriku sedikit berat. Apakah ada senjata lain?" tanya Sandra seraya mengangkat kakinya bergantian seperti melakukan perenggangan.


"Ya. Ada senapan laser satu buah di betis kanan sebagai senjata tambahan dan juga pedang laser portabel di betis sebelah kiri. Ukuran keduanya lebih kecil dan ramping dari standar yang biasanya digunakan. Apakah ... masih terasa berat?" tanya Roman penasaran.


"Ya. Aku seperti memakai gelang pemberat," jawab Sandra lugu seraya menggerakkan kedua kakinya seperti dilemaskan.


Roman melirik Matteo, tapi keponakannya itu menunjukkan wajah jengkel.


"Dia tidak menghargai jerih payahku. Aku sengaja meletakkannya di sana sebagai senjata cadangan jikalau tiba-tiba saja senjata yang terhubung dengan Mola tak bisa diaktifkan. Menyebalkan, tukang protes!" gerutunya kesal.


Sandra yang mendengar sang Jenderal marah-marah karena merasa usahanya tak mendapatkan pujian langsung diam tak ingin membahasnya lebih detail lagi.


Semua orang di ruangan menahan senyum. Sandra merasa tak enak hati. Padahal, awalnya ia hanya ingin memastikan persenjataan di robotnya, tapi malah menyinggung sang Jenderal.


"Aku rasa senjata cadangan sangat bermanfaat. Sepertinya ... aku akan sangat membutuhkannya. Terkadang, jika harus terus menghubungi Mola, membuatku sedikit kesulitan dalam membagi konsenterasi," ucap Sandra yang membuat wajah cemberut itu sirna seketika.


"Oh. Otka tak keberatan, Matteo sayang. Hem, idemu bagus juga tentang senjata cadangan," sahut Lala dan sang Jenderal langsung salah tingkah.


"Aku sudah memikirkan semuanya," jawabnya membela diri meski masih terlihat jengkel.



Melihat Sandra seperti sudah mampu untuk mengatasi kesulitan tiap level yang akan dihadapinya, beberapa pejabat pamit undur diri.


Mereka mengatakan akan kembali esok hari untuk melihat User tersebut memulai level 6 dan berharap hari ini ia mampu menyelesaikan hingga level 5.


Para pejabat yang memiliki ciri khas dalam penampilan dan terlihat nyentrik meski sudah berumur 50 tahun ke atas, tak membuat mereka kehilangan gaya di usia tua.


"Saya mohon maaf, Presiden. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan langsung di kantor," ucap Mayor Kyel tak enak hati saat akan pamit dari ruang kendali.


"Saya mengerti, Mayor Kyel. Aku percayakan Distrik 1 padamu. Terima kasih atas kedatangannya," ucap Roman seraya mengajak berjabat tangan.


Kyel bersama para asistennya keluar dari ruangan. RC mulai dikembalikan ke ruang penyimpanan karena para pejabat yang bertanggungjawab di beberapa Distrik memutuskan untuk kembali ke tempatnya.


Namun, Colonel Brego terlihat masih betah di ruangan tersebut dan memilih untuk tetap melihat pertunjukkan itu hingga Sandra dinyatakan berhasil melewati level 5.


Roman, Lala dan Matteo pun merasa terhormat. Mereka merasa jika Brego menaruh kekaguman sendiri pada sosok Otka Oskova.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy tengiyuw tipsnya💋lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2