SIMULATION

SIMULATION
I'M BACK*


__ADS_3

Sora panik karena bayi Alva kini berada di tangan musuh, terlebih orang itu adalah Xivovo. Empat WolfBot mengerang karena merasakan bahaya dari pria yang kini membawa bayi dari tuannya.


Praktis, Pusat Komando tempat WolfBot dioperasikan ikut cemas mengingat bayi tak bersalah itu terlibat dalam peperangan yang sedang terjadi di negaranya.


"Sambungan aku kepada pria itu! Aku yakin, dia adalah pemimpin New-US, Xivovo!" titah Matteo geram.


"No, please ...," ucap Sandra sedih saat ia melihat dari mata empat WolfBot ketika anaknya kini berada di tangan pemimpin New-US.


"Yes, Sir," jawab Qimi gugup.


PIP!


"Oh, lihatlah, siapa yang muncul. Apakah ... itu ayahmu, Bayi bermata biru? Hem, mata kalian sama. Sudah pasti, kau adalah puterinya. Baiklah, kita lihat apa yang akan dikatakan oleh ayahmu," ucap Xivovo mendekap kapsul transparan itu dalam gendongannya.


"Aku adalah Matteo Corza, pemimpin Great Ruler. Kembalikan bayi itu kepada Sekretaris Negara kami, Sora. Tindakan yang kaulakukan tak mencerminkan sisi kemanusiaan, Presiden Xivovo," ucap Matteo tegas dengan sorot mata tajam tertuju pada pria yang masih menyembunyikan wajahnya dengan masker gas.


"Jadi, kalian sudah mengenaliku? Baguslah. Apakah ... gadis kecil ini adalah anakmu, Tuan Presiden?" tanya Xivovo tenang.


"Ya. Dan namanya adalah Salvarian Corva," jawab Matteo mantap.


"Ah ... lalu panggilannya?"


"Alva."


"Hem, Alva. Nama yang bagus. Alva berarti pertama. Namun, sepertinya kau menyalahi satu hal. Alva ditujukan untuk seorang laki-laki, sedang anakmu adalah perempuan. Apakah kau tak bisa membedakan jenis kelamiin?" tanya Xivovo berkesan menyindir.


"Aku berharap, anak perempuanku setangguh kaum lelaki. Memang kenapa jika dia menjadi Alva pada jenisnya? Ia bisa menjadi pemimpin dua kaum, perempuan dan laki-laki. Aku ingin anak perempuanku yang kuberikan nama Alva, menjadi pemimpin suatu saat nanti. Menyamakan derajat seluruh kaum. Menjadi wanita tangguh seperti ibunya dan dominan dalam kekuasaannya sehingga tak ada yang meremehkan kemampuannya," jawab Matteo tegas dengan pemikirannya.


"Wow, luar biasa. Hem, aku tak pernah berpikir demikian misal pun aku memiliki anak," jawab Xivovo seraya menatap wajah lucu bayi manis itu.


"Perang ini tak melibatkan sipil. Hanya kemampuan tempur militer masing-masing negara. Alva dan Sora tak terlibat dalam hal ini. Tinggalkan mereka dan tunggu kedatanganku jika kau memang lelaki sejati serta seorang pemimpin agung," ucap Matteo serius.


"Menunggumu? Oh, pantas saja Great Ruler tak bertenaga. Ternyata kau sedang berlibur di luar negeri? Biar kutebak, untuk mengobarkan perdamaian ke seluruh dunia? Siapa yang mencetuskannya? Kau?" tanya Xivovo dengan satu alis terangkat.


"Aku," ucap Sandra yang tiba-tiba saja muncul dari lubang yang dibuat oleh pesawat tempur milik Xivovo.


DUAKK!! BRUKK!!


"Sora! Amankan Alva!" teriak Sandra lantang yang berhasil memukul kepala Xivovo dari tempat ia berdiri.


Sora segera berdiri dan mengambil kapsul berisi bayi Alva yang terjatuh dari dekapan Xivovo.


Beruntung, dalam kapsul terdapat gaya gravitasi sehingga badan Alva mengambang tak terbentur ketika terkena goncangan hebat.


Sora berlari kencang menuju ke terowongan evakuasi dan dijaga oleh dua WolfBot yang mengikutinya.

__ADS_1


Xivovo yang tak menyadari kedatangan Sandra di belakangnya terkejut dan terkena pukulan kuat itu hingga ia jatuh berlutut.


"Hajar dia, Wakil Presiden!" seru Letkol Kisa yang menjemput Sandra saat cacing robot telah memasuki wilayah Great Mazepita.


Sandra mengangguk mantap ke arah celah pesawat di mana pesawat Kisa terbang melayang di sana.


Cacing robot terpaksa naik ke permukaan dan menurunkan Sandra. Jiwa Ibu dalam diri wanita berambut pirang itu memberontak.


Ia tak ingin buah hatinya terluka dan memutuskan untuk pergi dengan menumpang pada pesawat tempur milik Russ-King yang akan membawanya terbang sampai ke Distrik 9 tempat Alva berada.


Sandra memanfaatkan sepatu dan sarung tangan magnet untuk menempel pada badan pesawat.


Letkol Kisa berusaha agar tetap terbang seimbang agar tak menjatuhkan penumpangnya yang seperti cicak saat pesawatnya mengudara.


Kisa memundurkan pesawatnya dan membidik pesawat milik Xivovo yang tetap terbang melayang dengan auto pilot.


"Boom," ucapnya pelan seraya menekan tombol untuk meluncurkan misil.


Seketika, SWOSH! BLUARRR!!


Xivovo terpental begitupula Sandra. Namun beruntung, dua WolfBot melindungi tubuh Wakil Presiden Great Ruler sehingga Sandra tak terkena gelombang ledakan secara langsung. Getaran hebat terjadi di dalam gedung tempat tinggal para User tersebut.


Sandra dengan sigap berdiri dan mendatangi Xivovo yang tiarap di atas lantai. Sandra mencengkeram baju di bagian punggungnya kuat dan menariknya. Xivovo terkejut dan dengan segera membalik tubuhnya.


DUAKK!


"Beraninya kau memukul perempuan. Rasakan!" seru Sandra geram dan kembali mendekat.


Xivovo terkejut saat Sandra menangkap kedua kakinya dan menariknya kuat. Xivovo melawan dengan menggerakkan kedua kakinya secara kuat. Namun dengan sigap, Sandra merapatkan kedua kaki lawannya dan mengapitnya diketiak.


Xivovo berusaha bangkit saat melihat dirinya diseret menuju ke lubang tempat pesawatnya tadi berada, tapi kini telah hancur menjadi puing.


BRUKK!


"Agh!" erang Sandra saat Xivovo menekuk kakinya dan membuat tubuhnya kini berada di bawah kedua kaki sang Wakil Presiden.


Xivovo menangkap kedua kaki Sandra dengan kedua tangannya lalu menariknya kuat. Sandra jatuh tersungkur dengan Xivovo bersamanya.


Namun, gerakan itu membuat cengkeramannya terlepas dari dua kaki pemimpin New-US tersebut.


Xivovo dan Sandra saling bertatapan tajam dalam posisi berjongkok. Dua WolfBot masih menyaksikan keduanya sedang bersitegang tak ikut campur karena Sandra ingin berduel satu lawan satu dengan pria tersebut.


"Kau pria tak memiliki hati nurani. Biar kutebak, kau tak memiliki keluarga. Kau tak memiliki isteri bahkan anak. Apa tebakanku benar, Presiden Xivovo?" tanya Sandra tajam terlihat siap menerima serangan.


"Pintar. Keluarga penghambat kejayaan, seperti bayimu. Dia membuatmu lemah. Akan kutunjukkan kekuatan sejati seorang pemimpin. Hargh!" jawab Xivovo dengan teriakan lantang.

__ADS_1


Sandra menyambut serangan itu saat Xivovo berdiri dan berlari ke arahnya. Namun dengan sigap, Sandra menjatuhkan dirinya dan meluncur di atas lantai yang licin.


Sayangnya, Xivovo lawan yang gesit. Ia melihat Sandra mengincar kakinya. Dengan sigap, Xivovo melakukan salto dan berhasil menghindari serangan di kakinya karena tubuhnya terangkat.


"Hem, tukang pamer," gerutu Sandra yang langsung berdiri begitu melihat Xivovo melompatinya.


Sandra segera berlari ke arah Xivovo dan langsung meluncurkan tendangan samping saat pria itu masih memunggunginya.


Xivovo terkejut, tapi berhasil mengelak saat melihat sepatu magnet Sandra berada di samping kepalanya.


Xivovo menangkis semua tendangan dan pukulan yang Sandra lontarkan padanya. Semua penonton di Pusat Komando yang melihat dari mata WolfBot ikut tegang dan malah terpaku.


Mereka sampai tak menyadari jika para penumpang di cacing robot telah berhasil mendarat dan kini berada di Distrik 4 untuk bergabung dalam pertempuran.


Robot cacing tiba lebih cepat 2 jam setelah Brego memaksimalkan kecepatan kendaraan tersebut mengingat Great Ruler terancam.


Beruntung, mesin cacing robot tidak meledak meskipun suhu ruangan meningkat dan bagian kulit terluar mengeluarkan asap seperti kepanasan.


"Bibi! Bibi!" teriak Matteo lantang yang suaranya tiba-tiba saja terdengar di Pusat Komando.


"Matteo?" jawab Lala bingung.


"Aktifkan robot kami!" seru Matteo seraya berlari kencang di terowongan menuju ke tempat mobil otomatis di parkirkan.


"Laksanakan!" jawab Lala cepat.


Segera, pusat kendali ruang simulator Distrik 9 tempat robot level B generasi terbaru berada di aktifkan.


Matteo dan lainnya menggunakan mobil otomatis yang berada di terowongan khusus untuk membawa mereka menuju ke Distrik 9 tempat ruang simulasi berada.


Orang-orang di Pusat Kendali seluruh Distrik bernapas lega karena pemimpin mereka telah kembali bersama seluruh pejuang yang ikut di dalamnya.


"Mungkin Anda belum bisa mengoperasikan robot level B untuk sekarang. Namun, aku memiliki robot bagus untuk Anda gunakan dalam pertempuran, Presiden Khan," ucap Matteo dengan Khan yang duduk di sebelahnya di mobil otomatis.


"Aku tak sabar menggunakannya," jawab Khan dengan senyum terkembang.


Pemimpin negara Baatar tersebut terlihat kagum dengan kecanggihan mobil otomatis yang sedang ia kendarai dalam terowongan panjang bercahaya lampu warna biru di bawah tanah.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2