
Sore itu, Sandra kembali ke kamarnya ditemani oleh Tony. Saat keduanya terlihat asyik berbincang, seketika senyum keduanya sirna begitu mendapati Matteo Corza berdiri di depan pintu kamar Sandra dengan Spectra dan Purple melayang mengapitnya.
Sandra terlihat gugup, dan Tony tetap tenang saat mendatangi sang Jenderal.
"Selamat sore, Jenderal," sapa Tony dengan salam hormat.
Matteo membalas dengan salam hormat yang sama dan tetap menunjukkan wajah dingin.
"Di mana kalian setelah dari kelas teori?"
"Oh. Kami ... pergi ke Geo-Room. Aku mengajarkan Sa—" kening sang Jenderal langsung berkerut. Sandra melebarkan mata karena nama aslinya hampir disebut. "Maksudku ... aku mengajarkan sampai Otka bisa. Dunia telah berubah, Jenderal. Ada beberapa daerah yang tak dipetakan karena mereka memiliki penghalang sinyal. Sehingga satelit kita tak bisa memantau kawasan itu," sambung Tony mencoba untuk tetap tenang.
Matteo mengangguk.
"Wilayah di dekat Great Ruler atau keseluruhan dalam satu benua? Atau mungkin satu dunia?"
"Baru sebatas satu benua, Sir," sahut Sandra menimpali.
"Besok lanjutkan lagi dengan pengetahuan itu hingga Otka bisa memahami keseluruhan wilayah di penjuru dunia, dan itu tugasmu, Captain Tony," tegas Matteo menunjuk sang Captain.
"Yes, Sir."
"Aku masih ada urusan hingga akhir minggu ini. Otka akan kembali dalam bimbinganku minggu depan," sambungnya. Sandra dan Tony mengangguk paham.
Matteo berpaling begitu saja diikuti oleh Spectra. Purple melayang di depan kamar Sandra menunggu pintu di tempat itu terbuka. Sandra dan Tony memilih untuk tak melakukan pembicaraan apapun karena khawatir akan diawasi.
"Oke. Aku ... pergi dulu. Sampai jumpa," ucap Tony dan Sandra mengangguk.
Saat Sandra membuka pintu, matanya melotot seketika. Tony yang melihat ekspresi kaget Sandra kembali mendekat dan ikut terkejut.
"Jangan katakan Matteo yang melakukannya," ucap Sandra mematung di tempatnya duduk di kursi roda.
"Ya, itu benar, Nona Otka Oskova. Jenderal Matteo memberikan semua bunga ini untukmu dan berharap kau segera pulih. Aku juga telah menyiapkan hidangan di mana Jenderal telah melakukan pembaruan. Kini, aku bisa memasak berbagai jenis menu agar kau tak bosan dengan hidangan lama," ucap Purple dengan suara ramah.
"Kau ... mirip Roboto. Suaramu menyenangkan," ucap Sandra, dan mata Purple berubah melengkung. Sandra terkekeh karena baginya Purple sekarang lebih menggemaskan.
Sedang Tony, menunjukkan wajah masam. Sandra masuk dan mengambil sebuket bunga dengan senyum terkembang. Ia kembali keluar dan memberikannya pada Tony berikut tas stainless makanan yang dibawakan oleh Eliz.
"Sebagai ucapan terima kasih," ucap Sandra sembari memberikan sebuket bunga dengan berbagai jenis dan warna dalam ikatan itu.
Tony tak menjawab. Ia menerima tas tersebut berikut bunga pemberian Sandra. Tony pamit dan pergi meninggalkan kamar Sandra.
Namun, begitu Tony tiba di tempat ia memarkirkan mobil, bunga pemberian Sandra ia cabik-cabik hingga kelopaknya berjatuhan di lantai.
Tony menambahnya dengan menginjak bunga-bunga malang itu. Tony membuang tangkai bunga yang telah kehilangan mahkotanya ke tempat sampah dan masuk ke mobil.
Sedang Sandra, ia terlihat senang karena kamarnya kini terlihat lebih hidup dan cantik. Bunga-bunga itu serasa memberikan warna di kamarnya yang sunyi.
"Kau suka?" tanya Purple.
"Ini indah sekali, Purple. Aku menyukainya," jawab Sandra dengan senyum terkembang seraya mengambil sebuket bunga warna putih dan menghirup aromanya.
Di kamar. Matteo terlihat senang, senyumnya terkembang dengan kacamata fiber ia kenakan untuk mengawasi pergerakan Sandra selama Purple bersamanya.
__ADS_1
"Anda yakin ingin memakan sajian ini, Jenderal?" tanya Spectra saat Matteo bersiap untuk menikmati makan malam dengan menu yang pernah disajikan oleh Purple kala itu.
"Ya. Setelah aku rasakan, lumayan," jawabnya sembari mengiris sebuah makanan berwarna putih dan lembut bagaikan spons.
Matteo memakannya dengan lahap dan menghabiskan semua sajian buatan Purple tersebut.
Usai membersihkan diri, Sandra jalan tertatih menuju ke mejanya untuk menikmati makan malam buatan Purple yang kini terlihat lain dan menggiurkan.
Sandra menghabiskan seluruh makanan yang tersaji itu dengan lahap. Matteo terlihat menikmati pertunjukkan di kamarnya dari kamera pengawas yakni mata Purple.
Kini, mata robot tersebut terkoneksi langsung dengan kacamata fibernya di mana Matteo bisa memantau dari mana pun dirinya berada.
Di tempat Vemo berada.
Gelang pemberat yang selama ini membatasi pergerakannya dilepas. Vemo dibuat mati penasaran saat seekor kucing dan anjiing mutan dipindahkan dari kurungan kaca sebelah ruangannya berada.
Sebuah monitor besar ditampilkan di ruang penelitian dengan banyak ilmuwan ikut menyaksikan mengenakan seragam lab.
"Lepaskan," perintah Morlan ketika dua hewan tersebut telah berada di sebuah permukaan tanah dengan wilayah seperti kota mati yang ditinggalkan karena bencana perang.
Jantung Vemo berdebar. Ia terlihat serius menyaksikan tampilan di layar besar saat pintu kaca yang mengurung dua mutan baru tersebut di buka.
"Anggg," suara kucing mutan mengerang terdengar mengerikan karena tak biasa. Begitupula anjiing mutan yang mengeluarkan suara menyeramkan ketika melangkah keluar dari kotak kaca itu.
"Identifikasi," perintah Morlan kepada salah satu operator di meja pengendali. Vemo melihat pria itu seperti menginputkan sesuatu dari papan tombol di hadapannya.
"Dua makhluk itu mampu beradaptasi dengan lingkungan radioaktif radiasi nuklir di permukaan, Sir," jawab operator tersebut.
"Hem ... bagus ... bagus. Pastikan barikade tak membuat para mutan kita kabur. Kita masih harus melakukan observasi perkembangan mereka selama di luar. Semua butuh kesabaran, jangan gegabah. Aku tak mau seperti kejadian di Great Ruler terulang," tegas Morlan dengan seringainya saat melihat kucing dan anjiing mutan tersebut terlihat bisa berbaur dengan lingkungan barunya.
Pandangan Vemo masih terfokus menyaksikan dua mutan itu menyusuri sekitar seperti mencari sesuatu.
Hingga tiba-tiba, dua makhluk itu mengerang ketika mendekati sebuah bangunan terbengkalai. Kening Vemo berkerut saat ia melihat pergerakan di balik sebuah kabut yang menghalangi sosok tersebut.
Tiba-tiba saja, "Piiiikkk!"
"Oh!" kejut Vemo ketika mendapati mutan jenis Derga muncul. Mutan yang sama seperti kejadian di Colosseum beberapa waktu silam.
Para ilmuwan terlihat sibuk melakukan sesuatu di meja tempat mereka bekerja. Morlan berdiri di depan monitor besar tersebut terlihat serius.
"Piiikkk!"
"Anggg!"
Tiba-tiba saja, mutan jenis Derga yang memiliki kepala hiu melompat dari atas bangunan yang memiliki 4 lantai. Mutan itu berlari dengan cepat.
Mutan kucing dan anjiing ikut berlari mendatanginya. Mata Vemo melebar karena ia merasa, mutan-mutan itu akan berkelahi. Dan benar saja ....
"Oh!" kejut Vemo ketika mutan Derga menggunakan salah satu tangan besarnya untuk menghempaskan mutan kucing.
Mutan berkaki empat berbulu hitam itu terlempar dan tubuhnya menghantam dinding dengan kuat. Sedang mutan anjiing dengan sigap melompat dan menggigit pundak mutan bertangan 8 tersebut.
Derga menggunakan tangan lainnya untuk melakukan serangan. Mutan berkepala hiu itu mengerang saat pundaknya robek karena gigitan mutan anjiing yang ternyata sangat menyakitkan. Mulutnya bisa melebar dengan elastis seperti akan menelan lengan Derga.
__ADS_1
Semua orang masih menyaksikan pertarungan antar mutan itu dengan serius. Sedang Vemo, terlihat ketakutan hingga wajahnya pucat karena tak menyangka akan melihat kejadian horor seperti ini.
JLEB!!
"Haaggg!" erang mutan anjiing saat kedua tangan kecil Derga di bagian depan perutnya menusuk-nusuk dada lawannya.
Mutan anjiing itu mempertahankan gigitannya yang semakin lebar, dan seketika ....
"Iiikkk!"
CRAT!
Vemo terkejut. Lengan kiri Derga terputus karena gigitan tajam dari gigi mutan anjiing yang tubuhnya dipenuhi lendir tersebut.
Anjiing itu melepaskan cengkeramannya di tubuh Derga dan mendarat di atas tanah. Tangan Derga yang terputus tak tumbuh lagi.
"Hem, Derga tak bisa menyembuhkan diri?" tanya Morlan melirik salah satu operator.
"Yes, Sir. Lendir yang dihasilkan mutan anjiing ternyata membuat luka di tubuh Derga tak bisa memulihkan diri. Organ Derga tak bisa meregenerasi jaringannya," jawab operator dari hasil pemindaian tubuh mutan berkaki dua tersebut.
Mutan anjiing terus menelan lengan Derga seperti tak mengunyahnya. Vemo serasa ingin muntah melihat hal tersebut. Mutan kucing kembali mendekat dan mengerang.
Derga kembali melengking kencang dan hal itu membuat dua mutan berkaki empat itu terlihat kesakitan termasuk para manusia karena suaranya sampai tertembus ke ruang bawah tanah.
"Matikan pengeras suara atau kita akan mati!" perintah Morlan lantang menutup kedua telinganya.
Operator bagian pengendali segera menekan sebuah tombol merah di dinding. Seketika, suara peperangan di luar tak lagi terdengar. Mereka hanya bisa melihat jika tiga mutan itu saling mengeluarkan suaranya.
Mutan kucing berlari kencang mencoba untuk menjatuhkan Derga. Hewan berkaki empat itu dengan cepat mengeluarkan kuku runcingnya dan tubuhnya menempel di dada Derga.
Namun kali ini, Derga terlihat tak mau kalah. Kepala hiunya yang bisa terjulur dengan elastis kini menangkap tubuh kucing tersebut.
Kucing itu mengerang saat Derga menggunakan satu tangan kanannya untuk menarik kuku si kucing yang menancap di dadanya.
Seketika, "Agh! Shitt!" keluh Vemo langsung memejamkan mata dengan memalingkan wajah.
Mutan kucing itu dimakan oleh Derga dan mengunyahnya hidup-hidup. Mutan anjiing dengan sigap melakukan serangan balasan. Ia berlari dengan cepat ke arah Derga. Mutan berkepala hiu itu dengan sigap merunduk.
CRATTT!!
Mutan anjiing merintih kesakitan dengan tubuh bergerak-gerak ketika empat lengan di punggung Derga menusuk tubuhnya dengan kuku-kuku tajam. Mata semua orang melebar saat Derga melengking dan KRAKK!!
"Shitt! Shitt!" pekik Vemo memegangi kepalanya saat melihat Derga merobek tubuh mutan anjing tersebut hingga organ dalamnya tercecer di atas tanah.
Derga melengking nyaring mendongak ke atas langit seperti menunjukkan kekuasaannya. Para ilmuwan dan petugas operator di tempat itu tersenyum seperti mendapatkan hasil jika Derga adalah salah satu mutan terkuat belum tertandingi.
"Oke, cukup uji coba untuk hari ini. Kita harus mencari relawan baru untuk jenis mutan terbaru yang bisa mengalahkan Derga," ucap Morlan seraya membalik tubuhnya dan melirik Vemo tajam.
Mata Vemo terbelalak saat semua mata manusia di ruangan itu menatapnya seksama. Vemo menelan ludah dengan jantung berdebar.
"Oh, shitt," gumannya mengumpat.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya💋 adeh capek sangat. met malam minggu. lele padamu❤