SIMULATION

SIMULATION
MEET ZUA*


__ADS_3

Sandra menaiki kereta cepat untuk tiba ke Distrik 7 tempat ia tinggal dulu. Sandra terlihat sedih selama perjalanan di kereta. Beruntung, penumpang hari itu sepi karena mereka berkumpul di tempat sanak saudara menikmati cuti bersama.


"Dia mempermainkanku," ucap Sandra sedih, tapi dengan cepat menghapus air matanya.


Sandra yang melamun, tak menyadari jika ia telah tiba di Stasiun Distrik 7. Beruntung, pintu kereta terbuka dan membuat lamunan Sandra buyar. Wanita cantik itu melangkah dengan wajah sendu terlihat bersedih dan terus melangkah.


BRUKK!


"Oh!" kejutnya saat ia tak sengaja menabrak seorang pria di hadapannya.


"Apa yang kau cari di trotoar ini, Sandra?" tanya Tony menatapnya dengan wajah dingin.


"Oh, hai, Tony," jawabnya gugup. Tony diam saja menatap Sandra yang terlihat enggan menatapnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Tony seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Oh, aku ... ingin pulang," jawabnya lesu.


"Pulang? Apa kau punya rumah?"


Praktis, kepala Sandra terangkat ke atas dan kini menatap Tony tajam.


"Kau tahu, Tony. Bercandamu sangat tidak lucu. Ucapanmu ... sungguh menyakitiku," jawab Sandra terlihat begitu kecewa sampai kesulitan untuk berkata-kata.


Tony terkejut. Ia tak menyangka jika Sandra sakit hati dengan ucapannya. Sandra langsung berpaling pergi dan berjalan dengan gusar.


"Sandra! Sandra!" teriak Tony panik berusaha mengejar, tapi Sandra malah berlari kencang tak ingin diikuti apalagi di tangkap oleh salah satu Captain robot level B Great Ruler tersebut. "Sandra!" panggil Tony semakin kencang berlari mengikutinya, tapi Sandra juga berusaha menjauh dari pria yang pernah menyatakan cintanya.


"Mereka semua sama saja, sama saja," ucap Sandra kembali menangis seraya terus berlari tak melihat ke belakang.


Sandra kembali menuju ke stasiun, dan beruntung, sebuah kereta siap untuk berangkat. Sandra segera melompat ke dalam peron dan akhirnya, langkahnya terhenti saat pintu kereta itu tertutup.


"SANDRA!" panggil Tony di balik pintu dan terus memukulnya kuat, berharap agar terbuka. Namun, sistem komputerisasi kereta cepat itu tak mengizinkan.


Kereta melaju meninggalkan Tony yang diliputi perasaan bersalah karena bercandanya sedang tak tepat di mana wanita berambut pirang itu sedang dilanda kesedihan.


Sandra masih berdiri memunggungi pintu. Ia meneteskan air mata terlihat sedih. Ia tak bisa berhenti menangis.

__ADS_1


Entah kenapa, ucapan Tony terasa begitu menyesakkan baginya dan melengkapi kepedihannya hari ini.


"Hiks, cuma kau yang berbeda, Rey," ucap Sandra seraya menghapus air matanya yang tak berhenti menetes.


"Kau ... Sandra Salvarian 'kan?" tanya seorang wanita yang duduk di bangku kereta tersebut. Praktis, panggilan itu membuat Sandra langsung menoleh.


"You?" kejutnya dengan kening berkerut.


"Hei, masih mengingatku?" tanya wanita berkulit hitam dengan rambut panjang dikepang.


"Yes. Zua," jawab Sandra dengan senyuman tak menangis lagi.


"Oh, Sandra. Kemarilah," pinta Zua merentangkan tangan.


Sandra menahan air matanya agar tak menetes lagi. Ia mengangguk dan berjalan perlahan mendekati Zua.


Wanita itu langsung memeluk Sandra erat dan wanita berambut pirang tersebut membalas pelukannya.


"Kau sepertinya mengalami hari yang berat." Sandra tak menjawab dan hanya mengangguk. Zua tersenyum seraya mengelus lembut punggung Sandra. "Kau mau ke mana?" tanyanya seraya melepaskan pelukan.


"Aku ... aku tidak tahu," jawabnya tertunduk lesu.



Apartemen Kediaman Eliz.


"You, what?!" pekik wanita berambut panjang dikepang melotot tajam pada kakaknya yang akhirnya menceritakan kronologi kejadian yang tak disangkanya.


"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau mengatakan hal kejam begitu padanya!" teriak Eliz marah besar dan dua pria di ruangan itu terlihat bingung menenangkan sahabat Sandra tersebut.


"Aku sungguh tak tahu jika dia akan semarah itu. Terakhir kulihat, ia bersama Jenderal keparatt itu. Tanya Akira jika tak percaya," jawab Tony membela diri seraya menunjuk Akira yang duduk dengan wajah polosnya.


"Mm, ya, itu benar. Mereka terlihat akrab dan bergandengan tangan saat di Rumah Sakit," jawab Akira gugup karena ini pertama kalinya ia melihat Eliz mengamuk.


"Bergandengan tangan? Dengan Matteo Corza? Begitu maksudmu?" tanya Eliz memastikan dan dua pria itu mengangguk membenarkan.


Eliz terlihat bingung seraya memegangi dahinya yang mendadak terasa berat.

__ADS_1


"Bisa saja dia datang kemari setelah Matteo membuatnya sedih, dan sialnya, dia bertemu denganku dan menganggap candaanku sebagai hal serius," sambung Tony terlihat pucat.


"Hem. Nasib sialmu. Kerja bagus, Kak. Sekarang, kita harus mencarinya," tegas Eliz dengan mata melotot.


"Mm, entah kenapa ... aku tak ingin mencarinya," jawab Tony dengan dagu bergoyang.


"Why?" tanya Eliz heran.


"Entahlah, Eliz. Aku merasa ... dia ... sudah berubah. Maksudku ... Sandra sudah tak seperti dulu lagi semenjak ia bertemu Matteo dan dekat dengannya. Aku bisa merasakan perbedaannya. Dendamnya pada Jenderal itu memudar," jawabnya dengan pandangan tertunduk.


"Kau yakin?" tanya Eliz menyipitkan mata dan Tony mengangguk membenarkan. Akira memilih diam daripada salah bicara.


"Sebaiknya ... kita biarkan saja Sandra untuk menenangkan dirinya. Ia ... tak mungkin keluar dari Great Ruler. Jika ya, sama saja ia bunuh diri," tegas Tony dan membuat Eliz jadi sedih karenanya.


"Mm ... waktunya aku minum obat, Sayang," ucap Akira pelan dengan senyum tipis, meski terlihat kaku.


"Ah, ya, waktunya minum obat. Sebentar," jawab Eliz terlihat seperti orang kebingungan ketika akan bertindak.


Tony dan Akira saling memandang lalu menghembuskan napas panjang. Tony khawatir, tapi ia merasa jika membiarkan Sandra menenangkan hati dan pikirannya akan lebih baik dari pada mengejarnya dan memaksanya untuk kembali.


Disisi lain.


Sandra tiba di Distrik 4 di mana Zua mengajaknya ke tempat keluarganya sedang berkumpul. Sandra terlihat enggan awalnya, tapi Zua memaksanya. Sandra akhirnya bersedia ikut karena tak enak hati dengan ajakan baik Zua.


"Dulu aku tinggal di sini sebelum pindah ke Distrik 7. Orang tuaku menetap di sini bersama beberapa keluargaku. Aku menyusul karena mengambil beberapa kebutuhan anakku yang menginap di rumah neneknya sejak malam perayaan pergantian tahun," jawab Zua seraya melirik koper otomatis yang mengikutinya. Sandra mengangguk dengan senyuman.


"Oh, biar kutebak. Rumah dengan banyak hiasan lampu, terlihat begitu meriah diantara rumah yang lain adalah kediaman orang tuamu?" tanya Sandra dan Zua mengangguk membenarkan dengan senyum terkembang.


"Dulu ... memiliki rumah masih hal mudah, tapi kini ... sudah tidak lagi. Untuk memiliki sebuah hunian pribadi, membutuhkan uang sangat banyak, Sandra. Beruntung, leluhurku sudah tinggal di sini dalam waktu yang cukup lama sehingga kami tak terusir," jawab Zua terlihat serius.


"Ya. Kau harus berterima kasih pada leluhurmu, Zua," jawab Sandra di mana kakinya kini telah berhenti di depan sebuah rumah dengan pintu kayu berwarna cokelat dan hiasan lampu berwarna-warni menyilaukan mata layaknya Natal.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya😍 lele ngetik non-stop ini buset. mau tidur gak bisa padahal ngantuk berat. oke good nite😘



__ADS_2