
Malam itu, jamuan makan besar diadakan di sebuah ruangan seperti kantin di pusat pelatihan Great Ruler gedung Green Eco.
Terlihat jelas, Matteo seperti enggan untuk menikmati sajian-sajian yang dihidangkan. Ia trauma karena terakhir kali makan di kantin, dirinya hampir tewas. Meskipun ia tahu jika bukan makanan-makanan itu penyebabnya.
Matteo melirik orang-orang di sekitarnya yang makan dengan lahap termasuk Sandra yang duduk di paling ujung.
"Kenapa, Jenderal? Kau sepertinya tidak berselera," tanya Colonel Brego menatap Matteo saksama yang duduk di sebelahnya.
"Oh, tidak. Hanya saja ...," jawabnya menggantung terlihat sungkan karena ditatap semua orang. Sandra tak ikut melihat dan tetap menikmati makan malamnya. "Nanti saja. Aku ... sedang diet," jawabnya asal.
"Diet? Tubuhmu sudah sempurna. Bahkan aku yakin jika kau memiliki otot perut yang indah, tak sepertiku yang memiliki lipatan menggemaskan," ucap Brego seraya mencubit perut buncitnya.
Semua kandidat terkekeh termasuk Sandra yang tersenyum tipis di tempatnya duduk. Matteo hanya meminum air mineral meski matanya tetap sibuk berpatroli melihat orang-orang yang menyantap hidangan terlihat berselera.
Tiba-tiba, Sandra meninggalkan meja makan usai menyantap makan malamnya. Gantian, mata semua orang kini terfokus padanya.
"Oh. Aku hanya ... ingin ke toilet. Tak usah ikut," ucapnya memasang wajah dingin ke hadapan para pria itu.
Brego dan semua pria kembali tertawa. Mereka tak menyangka jika Sandra bisa membuat sebuah lelucon. Matteo terlihat murung karena Sandra meninggalkannya.
Cukup lama Sandra pergi hampir 30 menit, hingga tiba-tiba seorang pelayan dapur datang membawa semangkuk sup yang ditujukan kepada sang Jenderal.
"Apa ini?" tanya Matteo bingung.
"Brokoli cream soup dengan tambahan buah beri dan juga roti krispi," jawab pelayan yang membuat semua orang ikut melirik makanan yang terlihat pelit itu.
"Siapa yang membuatnya?" tanya Jenderal.
Pelayan itu terlihat ragu untuk menjawab. Ia lalu berbisik di telinga sang Jenderal, dan praktis, mata Matteo melebar.
"Sungguh?" tanyanya seperti ragu dan pelayan itu mengangguk.
"Katanya, jika Anda menghabiskan ini, makannya lainnya akan segera datang," sambung pelayan itu.
Dengan sigap, Matteo langsung mengambil sebuah sendok lalu menyuapi mulutnya meski terlihat ragu. Semua orang menatap sang Jenderal saksama.
"Woah! Ini enak," jawabnya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Kenapa kita tak mendapatkan makanan aneh itu?" tanya Retro merasa sebuah diskriminasi terjadi.
Matteo melirik Retro dengan gugup. "Aku diet. Kau lupa?" jawabnya.
Retro mengangguk paham dengan wajah polos. Dengan cepat, Matteo menghabiskan makanan itu dan hanya menyisakan daun dari buah beri tersebut.
"Next," pintanya senang seraya memberikan mangkuk kosong itu pada pelayan yang masih menunggunya.
Pelayan itu segera pergi meninggalkan kumpulan orang-orang yang terheran-heran dengan menu makan malam sang Jenderal.
Senyum Matteo merekah. Ia terlihat senang karena akhirnya bisa menikmati makan malam. Tak lama, makanan lain datang. Kembali, makanan aneh muncul dan membuat semua orang terheran-heran.
"Aku akan diet setelah ini. Aku penasaran rasanya. Boleh kuincip, Jenderal?" tanya Brego menelan ludah.
"Emph, maaf, Colonel. Ini masakan khusus hanya untukku. Belum tentu cocok denganmu," jawab Matteo dengan mulut penuh berisi makanan.
"Itu ... selai buah yang dicampur?" tanya Sam berpendapat karena tercium aroma segar buah-buahan.
"Hem. Seperti itulah. Bubur sereal yang dicampur buah-buahan. Segar sekali," jawab Matteo yang makan dengan lahap bahkan hanya dalam hitungan detik makanan itu ludes. Semua orang melongo dan merasa air liur menggenangi mulut mereka.
Pelayan tersebut segera membawa piring kosong tersebut dan bergegas kembali ke dapur.
Orang-orang sampai menghentikan makan karena makanan yang dinikmati oleh sang Jenderal sangat jauh berbeda. Matteo terlihat puas dan senyumnya terkembang.
"Jenderal, maaf. Ini yang terakhir," ucap pelayan seraya meletakkan piring terakhir yang membuat Matteo diam seketika, tapi perlahan senyumnya terukir.
"Ah, aku tahu ini. Sushi!" seru Cendric dan diangguki oleh Matteo.
Akhirnya, orang-orang kembali menikmati makan malam mereka karena sudah pernah mencicipi makanan Jepang tersebut.
Pelayan itu mengambil beberapa piring yang sudah selesai digunakan oleh para kandidat User menggunakan rak dorong stainles. Matteo makan dengan lahap dan tenang. Tak lama, semua orang telah selesai menikmati makan malam.
"Oke. Setelah ini, kita berkumpul di dekat Oasis. Anggap saja seperti ... malam api unggun. Kalian boleh menanyakan apapun padaku," ucap Brego.
Para kandidat dan Matteo terlihat senang. Akhirnya, Brego beranjak dari ruang makan ditemani oleh Matteo yang berjalan di sampingnya, diikuti oleh para kandidat.
__ADS_1
Di dapur. Sandra terlihat begitu letih karena menjadi koki dadakan karena tak ingin Matteo kelaparan. Ia duduk lemas di sebuah kursi usai memasak untuk sang Jenderal.
"Otka. Bagaimana kau tahu jika Jenderal menyukai makanan-makanan itu?" tanya petugas dapur menatapnya heran.
Sandra terlihat gugup karena dipandangi para petugas. Sandra berdiri tegap dan mencoba untuk tenang seraya membuat alibi.
"Oh. Kalian ... tahu, tentang kasus saat Jenderal diracuni?" Orang-orang itu mengangguk. "Aku menjenguknya saat itu. Aku melihat para petugas memberikan Jenderal makanan-makanan seperti itu, dan ... Jenderal menyukainya. Jadi aku berpikir jika aku memasak makanan serupa, Jenderal mau makan. Hehe, lucky me," jawabnya kaku.
"Oh, syukurlah. Karena kau tahu, wakil presiden Lala tadi menelepon. Dia sempat khawatir jika keponakannya tidak mau makan. Hampir saja ia mengirimkan Purple, tapi aku mengatakan jika Jenderal sudah mau makan karena dimasakkan olehmu," jawab petugas dapur dengan senyum terkembang, tapi membuat Sandra terpaku seketika.
"Ka-kau mengatakan apa?" tanya Sandra dengan mata melotot.
"Memang kenapa?" tanya petugas itu heran.
Sandra meringis seraya menggeleng pelan. Ia lalu pamit untuk menyusul kandidat lainnya ke Oasis untuk mendengarkan kisah dari Brego.
Sandra bergegas menuju ke Oasis yang sudah penuh dengan orang. Sandra ikut duduk dan ternyata, ia harus berseberangan dengan Matteo meski api unggun kecil memisahkan mereka.
Sandra tertunduk terlihat sungkan karena ditatap Matteo saksama dengan senyum tipis.
"Wah, kau terlambat, Otka. Aku baru saja mengajarkan cara membuat api unggun," ucap Brego yang membuat Sandra mengucapkan maaf. "Jadi ... apa kalian memiliki pertanyaan tentangku?" tanya Brego menawarkan.
Tiba-tiba, Ben mengangkat tangan. Semua orang lalu menatap Ben saksama yang terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Kami sempat mendengar sedikit kisahmu dari Jenderal Matteo saat datang kemari. Jika boleh tahu, apakah ... perang saat itu sungguh mengerikan hingga kau harus mengungsi? Maaf jika pertanyaanku menyinggung, Colonel. Hanya saja, aku lahir di Great Ruler, jadi ... aku tak tahu apa yang terjadi di luar sana," tanya Ben sungkan.
"Ya, aku juga. Kami semua lahir di Great Ruler," sambung Baden.
Brego tersenyum dengan anggukan pelan. Semua mata kini terfokus padanya.
"Ya, sangat mengerikan. Aku dulunya juga orang militer, prajurit seperti kalian. Aku tak masalah dipanggil seperti singa karena warna rambutku yang mencolok. Namun, aku bangga karena ini adalah warisan dari leluhurku di mana kaum kami sudah hampir terancam punah. Ya, aku salah satu jenis manusia langka. Keturunan dari Somalia, meski sebenarnya warna rambutku ini tak asli. Aku mengecetnya dengan sebuah teknik tradisional agar aku tak lupa dari mana aku berasal," jawabnya yang membuat semua orang kagum.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Tengkiyuw tipsnya😍 Lele padamu💋Good nite, ngantuk uyy~
__ADS_1