
"Selamat, Otka Oskova. Kau berhasil menyelesaikan misi level 3. Siap untuk melanjutkan misi level 4?" tanya Mola begitu robot Sandra telah berhasil melumpuhkan tiga robot samurai.
"Aku siap," jawab Sandra kembali berdiri siap.
"Level 4. Kau akan pergi ke Distrik 4. Kau akan mendapatkan misimu saat tiba di Distrik tersebut. Selamat berjuang," ucap Mola seperti saat ia menjalani misi level 1 sampai dengan 3.
"Otka," panggil Roman dari sambungan komunikasi.
"Yes, Mr. President," jawab Sandra fokus.
"Robot level A juga dilengkapi parasut darurat. Namun, parasut hanya bisa digunakan sekali saja. Jadi, pastikan kau gunakan dalam keadaan terdesak. Untuk mengaktifkannya, tak perlu bantuan Mola. Kau cukup menekan dua pundakmu secara bersamaan, maka parasut tersebut akan mengembang."
"Oh, terima kasih banyak, Presiden," jawab Sandra merasa sedikit lega karena tambahan fitur keamanan dalam kondisi darurat.
Sandra kembali menguatkan fisik dan mentalnya. Ia kini sudah tahu kemampuan dari robotnya. Sandra kembali fokus pada tujuannya untuk segera menyelesaikan misi.
"Misi dimulai dalam hitungan mundur. 10 … 9 … 8 … 7 … 6 … 5 … 4 … 3 … 2 … 1, go!”
Sandra segera berlari keluar dari Colosseum. Tujuannya kini ke Distrik 4 meski ia belum tahu dengan jelas di mana letak misi itu berada.
Namun, Roman yang menyusun strategi dan rute dalam simulasi uji coba ini berkerut kening merasakan hal janggal.
"Kenapa Mola tak menyebutkan perpustakaan? Aku meminta agar misi dilakukan di tempat itu," ucap Roman yang membuat semua orang langsung meliriknya.
"Oh ya? Kau yakin, Paman? Apa kaulupa menginputkan datanya?" tanya Matteo yang kini menatap sang Presiden lekat.
"Hem, aku yakin. Aku belum sepikun itu. Aku melakukan pengujian dan pengecekan progam berulang kali sebelum diimplementasikan. Ini aneh," jawab Roman curiga.
"Namun, tujuannya benar ke Distrik 4 'kan?" tanya Lala memastikan dan Roman mengangguk.
"Jika nanti ada hal yang tak beres, kita akan hentikan. Sepertinya, kita harus kerja lembur jika memang ada kesalahan dalam pemrograman," sahut Matteo disusul dengan embusan napas panjang.
Lala tersenyum. Tak lama, Sora datang dengan setumpuk berkas dalam dekapannya. Praktis, wajah Matteo langsung berubah jelek.
"Sungguh? Di saat seperti ini kau bahkan ingin memberikanku pekerjaan dengan dokumen-dokumen itu? Kau keterlaluan, Sora," gerutu Matteo langsung menebak.
"Oh, kautahu? Wah, kau sungguh jeli. Jadi ... kauingin aku meletakkannya di RC saja?" tanya Sora menawarkan.
Matteo terlihat malas. Ia meminta agar dokumen itu diberikan pada Spectra. Robot pintar itu segera menerima setumpuk berkas tersebut dari Sora dan membawanya ke ruang kerja sang Jenderal.
Sora duduk di kursi untuk menikmati sajian yang disediakan. Makanan dan minuman tersebut sengaja dipersiapkan karena banyak para pejabat yang berkumpul di ruang kendali untuk menyaksikan secara langsung uji coba robot level A. Namun, ruangan itu kini terasa lega.
"Mana Tony?" tanya Lala seraya mendekat lalu menuang teh seduh ke cangkir keramik.
Namun, hal itu malah membuat Sora tersedak. Semua orang menahan senyum karena mereka telah mendengar gosip kedekatan Sora dengan sang Captain.
"Aku tak tahu, Wakil Presiden Lala. Aku ... sibuk mengagendakan semua jadwal pekerjaan di negara ini," jawab Sora spontan, tapi membuat Lala menatapnya saksama.
"Ambilah cuti, Sora. Aku rasa, Great Ruler akan baik-baik saja jika kautinggal selama seminggu. Mungkin setelah itu, kauhanya akan kerja lembur," ucap Lala menasehati, tapi Sora malah menunjukkan senyum paksa.
Semua orang memilih diam. Sora yang dikenal jutek dan galak, membuat orang-orang menjaga jarak dengannya.
Sora dikenal pilih lawan bicara dan angkuh. Hanya beberapa orang yang bersedia bertegur sapa dengannya atau mengajak bercengkrama.
Orang-orang mulai menikmati sajian karena Sandra terlihat baik-baik saja saat menjalankan misi ke level 4.
Sandra terlihat masih mampu berlari melewati terowongan khusus menuju ke Distrik 4. Dibutuhkan waktu selama 30 menit untuk tiba ke Distrik tersebut.
Para petugas terlihat santai bahkan mengobrol ringan meski mata mereka terus mengawasi pergerakan Sandra di mana sistem otomatis bekerja dengan sendirinya.
Akhirnya, robot Sandra tiba di Distrik 4 dengan selamat tanpa kendala. Saat suasana hangat menyelimuti ruang kendali, tiba-tiba ....
TET! TET! TET!
"Bahaya! Bahaya! Terdeteksi ancaman dari arah langit. Mutan burung terdeteksi memasuki wilayah Distrik 4," ucap Eco dari sistem keamanan Distrik 4 yang terhubung ke seluruh pusat kendali.
Praktis, ancaman serangan itu membuat mata semua orang melebar seketika dan langsung menghentikan aktivitas dalam hitungan detik.
Segera, orang-orang yang tadinya mematung, langsung berkumpul di ruang kontrol. Bahkan, kelima operator yang masih mengunyah makanan sampai meninggalkan meja sajian dan kembali ke kursi kerja masing-masing.
Sandra menghentikan laju larinya secara mendadak. Kepalanya langsung mendongak ke atas karena Mola mengidentifikasi ancaman dari udara.
Mata robotnya yang tersambung dengan Mola menangkap segerombolan mutan jenis burung yang terbang ke arahnya.
"Bukankah tadi katanya ... semua musuhku adalah robot? Kenapa ada mutan? Selain itu ... mereka nampak asli. Apakah ini sungguhan?" tanya Sandra yang mendadak jantungnya berdebar seketika.
Tiba-tiba, CRATTT!!
BRAKKK!!
Mata Sandra melebar. Mutan burung itu ternyata sungguhan. Mereka menyemprotkan cairan asam dari mulut ke mobil-mobil yang melintas di sekitar robotnya berada.
Beruntung, tempat itu telah diamankan oleh User robot level E karena robotnya akan melakukan uji coba.
__ADS_1
"Otka! Menghindar! Jangan sampai robotmu rusak oleh zat asam dari mutan-mutan itu! Amankan robot! Bersembunyi!" seru Matteo lantang.
Sandra terkejut. Dengan sigap, ia segera berlari menjauh dari jalan raya. Sandra terlihat bingung dalam melangkah karena ia seperti terkepung oleh sekumpulan mobil yang mulai kehilangan kendali karena dikemudikan manual oleh para pengemudi.
Para pengendara yang panik karena kemunculan mutan yang tiba-tiba memasuki wilayah Great Ruler, membuat mereka menonaktifkan auto pilot dan mengemudikan sendiri.
"Aku akan ke Pusat Komando. Pastikan robot Otka Oskova aman," ucap Roman memerintahkan orang-orang di pusat kendali untuk bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Yes, Sir!" jawab semua orang mantap.
Pusat kendali ruang simulasi robot level A menjadi tegang seketika. Semua orang nampak bekerja keras.
Matteo memerintahkan agar robot Sandra pergi ke perpustakaan. Xili segera mengirimkan rute kepada Sandra melalui sambungan komunikasi. Sandra menerima pesan itu dan segera menjauh dari kekacauan.
Pusat Komando Distrik 9 Gedung Green Eco-03 sebagai pusat dari seluruh pusat kendali yang berada di seluruh Distrik.
"Lakukan protokol D-4-1!" seru Roman begitu memasuki ruangan.
"Protokol D-4-1 diaktifkan," ucap sistem keamanan Eco yang terhubung ke seluruh jaringan otomatis di Distrik tersebut.
Seketika, Distrik 4 tertutup oleh barikade. Terowongan akses khusus dan jalanan yang menuju ke Distrik 4 ditutup.
Semua mobil yang akan memasuki wilayah tersebut berhenti seketika karena tanda larangan muncul di seluruh papan iklan digital.
Langit di Distrik 4 perlahan menjadi gelap karena ditutup oleh lapisan pelindung. Roman seperti sengaja ingin memperangkap burung mutan tersebut agar tak kabur dan menghabisinya di dalam Distrik.
"Apakah kita perlu mengerahkan User robot level B, Sir?" tanya petugas bernama Celo.
"Tidak perlu. Aku ingin menguji coba meriam laser kita. Persiapkan," tegas Roman dan semua operator di pusat komando mengangguk siap.
Namun, siapa sangka. Robot Sandra ternyata telah diincar oleh para mutan burung itu. Para User level E yang bertugas, berusaha menembak jatuh burung-burung mutan tersebut.
Akan tetapi, mutan-mutan tersebut begitu agresif. Mereka terus menyemburkan zat asam dan membuat beberapa bangunan yang terbuat dari bahan dasar logam meleleh.
Orang-orang segera dievakuasi ke dalam gedung dengan penjagaan ketat. Matteo curiga karena mutan-mutan itu tak mengincar para warganya.
Mereka seperti sengaja membuat kerusuhan. Mutan-mutan terbang itu tak mendarat di permukaan, tapi terus terbang melayang.
Saat robot Sandra hampir tiba di perpustakaan seperti yang diinstruksikan, tiba-tiba ....
"Oakkk!"
Praktis, langkah Sandra terhenti. Seekor mutan burung terbang menukik ke arahnya.
"Mola! Pedang laser!" seru Sandra menatap tajam burung mutan yang membidiknya.
Saat Sandra mengarahkan pistol itu ke mutan tersebut, dari belakang, GRAB!
"OTKA!" teriak Matteo lantang karena ada burung mutan yang muncul dengan cepat dan langsung mencengkeram kuat tubuh robot Sandra. Mata semua orang terbelalak lebar seketika. Namun, Matteo menyadari satu hal.
"Mereka mengincar robot level A! Jangan biarkan robot keluar dari Great Ruler!" seru Matteo memerintahkan semua orang di pusat kendali.
Segera, Xili menginformasikan hal tersebut ke pusat komando. Roman telah bersiap dengan meriam laser untuk menjatuhkan mutan tersebut jika berhasil kabur dari barikade penutup langit.
Sandra berusaha membebaskan diri, tapi cengkeraman kaki burung mutan itu sungguh kuat. Sandra bisa melihat jelas saat mutan-mutan itu terbang menuju ke langit Great Ruler yang telah tertutup oleh barikade sepenuhnya.
Sandra yang masih menggenggam pistol, ia arahkan ke tubuh mutan yang membawanya. Sandra membidik sayap burung itu dan seketika, SHUW! SHUW!
"Oakkkk!" erang burung mutan tersebut saat sayapnya mulai berlubang dan terbang tak terkendali.
Burung mutan lainnya sibuk menyemprotkan zat asam untuk melubangi barikade. Matteo terlihat panik karena robot Sandra akan menghantam daratan dengan keras dan hal itu bisa membuatnya tewas jika jaringan syaraf dengan simulator terputus.
"Xili! Siapkan pemutusan jaringan!" perintah Matteo.
Saat Xili sedang bersiap, tiba-tiba robot Sandra yang sudah hampir menyentuh permukaan ditangkap oleh mutan burung lainnya dan membawanya terbang kembali.
Mutan burung yang terluka tetap berusaha terbang meski terlihat susah payah.
"Fire!" seru Roman lantang.
Dengan sigap, SHUW! SHUW! CRATT!!
"Oakkkk!"
BRUKK!!
Seekor mutan burung berhasil dilumpuhkan setelah terkena tembakan laser dari User robot level E penjaga dan menewaskan burung tersebut.
"Singkirkan bangkainya! Kumpulkan di Distrik 5 Gerbang Kermogal!" perintah Roman.
"Yes, Sir!" jawab para User yang bertugas di lapangan.
Robot level D membawa bangkai mutan tersebut agar tak membuat kepanikan warga yang sedang berlindung di dalam gedung. Jalan raya dikosongkan karena menjadi medan pertempuran.
__ADS_1
Sandra masih berusaha untuk membebaskan dirinya di mana para mutan burung berhasil membuat lubang dari lelehan zat asam.
Sandra terus menembaki mutan burung yang membawanya terbang semakin tinggi. Namun, burung-burung mutan lainnya seperti melindungi muatan itu. Robot Sandra disenggol dengan kepala mereka.
Sandra kesal bukan main karena Mola tak tersambung dengannya entah apa yang terjadi. Kedua lengan robot Sandra dicengkeram kuat sehingga membuatnya tak bisa bergerak banyak.
Tiap Sandra ingin melakukan serangan balasan, mutan burung lainnya menyerangnya. Sandra yang tak ingin robotnya rusak memilih untuk menunggu peluang.
"Paman! Robot itu akan keluar dari Great Ruler!" seru Matteo lantang.
Xili yang ingin memutus hubungan jaringan antara robot dengan User tak bisa memproses perintah karena komputer seperti mengalami kerusakan dalam pemrograman.
"Xili!" panggil Matteo menatap salah satu operatornya itu tajam.
"Tidak bisa, Jenderal! Lihat! Semua jenis perintah yang kuinputkan tak diproses, seperti ... dibekukan oleh sistem. Aku tak tahu apa yang terjadi," jawab Xili panik begitupula semua operator yang mencoba melakukan hal yang sama.
Lala dan Sora mendekati Sandra yang melayang di ruang simulasi di mana ruangan itu menjadi seperti kehilangan gravitasi.
Tubuh Sandra melayang, meski penopang tangan robot ikut bertugas menggantikan posisi cengkraman mutan dikedua lengannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Wakil Presiden? Apakah ini salah satu uji coba? Jika ya, ini sedikit berlebihan," ucap Sora dan Lala menggeleng.
Hingga akhirnya, robot Sandra berhasil dibawa keluar dari celah yang dibuat oleh para mutan burung. Matteo panik karena khawatir jika Sandra tewas di luar sana.
"Bersiap ...," perintah Roman kepada seluruh operator di Pusat Komando. Kedua tangan para operator siap pada joystick dalam genggaman. "FIRE!"
Seketika, SHUW! SHUW!
"OAKKKK!"
Matteo terkejut saat melihat meriam laser yang terpasang di luar dinding Distrik 4 mulai menembaki para mutan terbang. Satu persatu, para mutan itu berhasil dijatuhkan.
Namun, mutan yang membawa Sandra berhasil lolos. Sandra kembali melakukan aksi balas di mana sudah tak ada yang mengganggu aksinya untuk melawan. Ia menembaki mutan yang membawa tubuh robotnya dengan pistol laser.
Hingga akhirnya, SHUW!
"OAKKK!"
Oh!" Sandra terkejut saat mutan yang membawanya berhasil terkena meriam laser dan membuatnya terbang rendah.
Sandra kini mengarahkan pistol lasernya ke kaki burung itu dengan susah payah karena tangannya sulit untuk digerakkan.
SHUW! SHUW!
"OAKKK!!"
"Oh! Otka!" pekik Lala panik karena tubuh Sandra di ruang simulasi jadi terbalik.
Kini kaki kanannya yang dicengkeram oleh mutan burung yang telah terluka parah. Sandra hampir saja terjatuh dari ketinggian, tapi mutan itu berhasil menangkapnya lagi.
Namun, robot Sandra menjadi semakin jauh dari kawasan Great Ruler. Matteo cemas setengah mati, meski sinyal dari robot level A masih terkoneksi.
Sandra bisa melihat dengan jelas dari kamera robotnya untuk pertama kali, wujud Great Ruler dari atas langit.
Sandra teringat kejadian saat di Oasis. Ia tak ingin berakhir seperti saat itu. Sandra menekuk tubuhnya dan menarik pedang laser cadangan dari betisnya.
SRING!!
"ARGHHH!"
KRASS!
"OAKKKK!"
Mata semua orang melebar saat robot Sandra jatuh dari ketinggian hampir 20 meter. Sandra bisa merasakan gravitasi yang menarik tubuh robotnya kuat.
Sandra melihat hamparan gunung pasir di dekat titik jatuhnya. Ia ingat jika terdapat Oasis di dekat gurun tersebut yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Sandra bermaksud untuk jatuh di sekitar kawasan tersebut dan berlari sampai ke Oasis. Ia yakin, jika bantuan pasti akan segera datang karena jarak dengan Great Ruler tak terlalu jauh.
Sandra segera memasukkan kembali senjatanya. Wanita cantik itu teringat dengan ucapan sang Presiden tentang parasut di tubuh robotnya.
Dengan sigap, KLEK! WHOOM!
"Gadis pintar," ucap Roman bangga ketika melihat pergerakan Sandra saat menekan dua pundaknya bersamaan dari kamera meriam laser di dinding terluar.
Sandra melayang dengan parasut yang berhasil menggembung dan membuat robotnya tak langsung menghantam daratan dengan keras. Saat robotnya sudah hampir mendarat kurang lebih 10 meter dari permukaan tanah, tiba-tiba ....
"Aghhh!" erangnya karena angin kencang dari gurun menghempaskan parasutnya.
Robot Sandra terbawa angin hingga ia semakin jauh dari Great Ruler dan malah membumbung tinggi. Mata Matteo dan lainnya yang melihat pergerakan Sandra melotot seketika.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya mbak aju💋