
Hari itu, Sandra kembali ke rumahnya untuk mengemasi barang setelah Otka membukakan pintu rumah untuknya.
"Aku harus berangkat kerja dulu, Sandra. Oh, aku sangat senang sekali karena kau lulus seleksi dan akan menjadi seorang User seperti mimpimu. Dan ... aku minta maaf dengan drama yang harus melibatkanmu dan Vemo," ucap Otka terlihat bersalah.
"Tak masalah. Semoga, Eliz tak menyulitkanmu. Kuharap, kau betah dengan pekerjaan barumu di Restoran," ucap Sandra dengan senyuman mengantarkan kawannya ke pintu rumah.
"Terima kasih, Sandra," jawabnya seraya memeluk Sandra erat. "Ngomong-ngomong, aku suka potongan rambutmu yang baru. Kau ... terlihat keren," ucapnya memuji karena Sandra menggunting rambutnya dengan potongan pendek.
Sandra tersenyum dan berterima kasih. Otka pamit sembari melambaikan tangan saat pergi meninggalkan Apartemen.
Sandra bergegas merapikan barang-barang yang ia masukkan dalam sebuah koper untuk dibawa ke sarana pelatihan selama tinggal di sana.
Wanita cantik itu terlihat terburu-buru karena ia harus segera menyiapkan makan malam untuk menyambut Tony sebagai permohonan maaf.
Namun, "Nyonya, Sandra. Tuan Tony datang berkunjung. Haruskah aku membukanya?" tanya Rey—asisten ruangan.
Seketika, mata Sandra melebar. "Kenapa dia datang sekarang?!" pekiknya panik.
"Nyonya, tuan Tony mengatakan jika pintunya tak dibuka, ia akan pergi."
Sandra panik, ia pun meminta Rey untuk membuka pintu untuk tamunya. Sandra segera bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian dengan gaun yang ia miliki, di mana Otka masih menyimpan semua perlengkapannya dengan rapi di almari.
"Jadi ... begini caramu menyambutku? Aku pulang saja," jawabnya kesal karena tak mendapati Sandra di hadapannya.
"Tony, wait! Agh," rintih Sandra saat ia hampir jatuh tersungkur karena berlari sembari memakai sepatu berhak.
Tony segera membalik tubuhnya dan mendekati Sandra. Beruntung, wanita berambut pirang itu tak jauh karena tangannya dengan sigap menopang tubuhnya di atas sandaran sofa.
"Kau tak apa?" tanya Tony cemas menatap Sandra lekat.
"Yah," jawabnya seraya menyelipkan tumit kanannya yang masih sulit untuk dimasukkan ke sepatu.
Tony berjongkok dan membantunya memakaikan sepatu berwarna putih yang senada dengan gaun yang dipakainya.
Sandra terlihat gugup karena perlakukan Tony yang sudah tak dingin seperti kemarin. Hari ini, senyumnya terpancar.
"Hem, aku suka gaya rambutmu yang baru. Tapi, kenapa seperti tidak simetris?" tanya Tony bersamaan menyelipkan rambut ke celah telinga Sandra karena masih ada bagian yang lebih panjang dari sisi lainnya.
Sandra tersentak, tapi Tony terlihat santai dengan sikapnya. Sandra tertunduk terlihat gugup. Sedang, pria tampan itu tetap bertahan dengan senyumannya.
"Apa ... penampilanku berlebihan? Aku tak menyangka jika gaun ini masih muat. Sudah lama sekali aku tak memakainya," ucapnya gugup.
"Kau cantik," jawab Tony seraya berdiri. "Hem, biar kutebak. Aku tak mencium aroma makanan apapun, jadi aku menyimpulkan, kau belum masak." Sandra meringis dengan pandangan tertunduk. Tony tersenyum. "Kita makan di luar saja."
__ADS_1
"Aku yang bayar," sahut Sandra cepat.
"Kau ingin menjatuhkan wibawaku dengan kau yang membayar? Apa Roman sudah memberikanmu gaji?" tanya Tony menatapnya tajam, dan Sandra memiringkan bibirnya sampai ke sudut. Tony terkekeh. "Aku yang bayar, dan kau bisa menggantinya nanti ketika kau sudah diterima secara resmi menjadi User," tegasnya.
Sandra akhirnya pasrah dan menerima rangkulan lengan Tony untuk mengajaknya makan di luar. Terlihat, keduanya seperti sepasang kekasih.
Banyak para penghuni Apartemen yang melirik dan memandangi keduanya karena terlihat seperti gaya para petinggi Great Ruler.
"Mm, kita mau makan di mana?" tanya Sandra gugup saat keduanya telah masuk ke mobil otomatis.
"Restoran Eliz," jawabnya cuek.
Praktis, Sandra terkekeh. Ia tak menyangka jika ia akan pergi ke restoran cepat saji. Namun, Sandra menerimanya dengan hati gembira.
Sepanjang perjalanan, keduanya berbincang akrab, tak terlihat canggung lagi. Namun, Sandra tahu jika ia berhutang maaf pada Tony.
"Aku minta maaf karena memberikan peralatan latihan itu pada Vemo. Aku ... tak berpikir panjang. Aku lalai," ucap Sandra dengan pandangan tertunduk.
"Hem. Aku sungguh marah padamu tentang hal itu, Sandra. Perlengkapan itu tak bisa dimiliki oleh semua orang, bahkan sipil. Itu milik militer," jawab Tony menunjukkan ketegasannya. Sandra mengangguk.
"Aku akan mengambilnya lagi dari Vemo. Aku berjanji."
Seketika, mata Tony melebar. "Tidak, tak perlu. Aku sudah merelakannya," jawabnya kilat.
"Aku bisa mengatasinya. Aku sudah siapkan alasan, walaupun pasti tetap terkena hukuman," jawabnya dengan helaan nafas.
Sandra spontan memegang punggung tangan Tony dan menatap pria di sampingnya seksama. Tony melirik Sandra penuh tanda tanya.
"Kau sudah melakukan banyak hal untukku, Tony. Aku tak mau memiliki hutang budi padamu," ucapnya sendu.
"Apa kauingin memutus hubungan yang sudah lama terjalin? Apa aku mengganggu hidupmu hingga kauingin menyingkirkanku?" tanya Tony memasang wajah dingin.
Sandra tertegun. Ia merasa jika Tony sangat sensitif sejak ia mengungkapkan perasaannya kala itu. Sandra ditatap lekat oleh Tony, dan hal itu membuat Sandra merasa tidak nyaman dengan sikapnya.
"Aku akan jujur padamu, Tony. Aku tak bisa mencintaimu. Aku masih mencintai Rey. Kenanganku bersamanya, membuatku tak bisa membiarkan pria manapun singgah di hatiku. Aku minta maaf. Kau selama ini berperan cukup banyak sebagai sahabat, dan aku ingin agar hal itu terus terjalin sampai kita tua nanti," ucap Sandra pada akhirnya.
Tony langsung memundurkan tubuhnya. Ia memalingkan wajah dan menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan.
Sandra terlihat sedih akan hal ini, tapi ia merasa jika ucapan jujur yang mungkin menyakitkan hati pria di sampingnya harus diungkapkan.
Lama keduanya saling diam hingga mereka tiba di Distrik 1, Kota Zalama tempat usaha Eliz berada.
"Kita sudah sampai. Bersikap wajarlah, meski aku tahu ini akan sangat canggung," ucap Tony seraya membuka pintu tak menatap wanita di sebelahnya yang memandanginya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Sandra keluar dari mobil dan sosoknya yang anggun langsung mendapat perhatian dari banyak orang.
Tony tetap memberikan lengannya, dan Sandra menyambutnya. Keduanya berjalan berdampingan menuju ke restoran cepat saji milik Eliz.
"Oke. Aku bisa menerima keputusanmu. Namun, akan akan mengawasimu, Sandra. Kau bilang sendiri tak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun. Jika sampai aku tahu kau memiliki kekasih, jangan salahkan aku jika kekasihmu nanti akan mendapatkan perlakuan buruk dariku. Kau belum tahu saja, jika seorang lelaki sakit hati, hal buruk bisa terjadi tanpa kau duga," ucapnya ketus dengan pandangan lurus ke depan.
Sandra terkejut dan menatap Tony lekat, tapi ia merasa jika ucapan kawan Rey tersebut ada benarnya. Sandra mengangguk dan setuju akan kesepakatan tak tertulis itu.
"Kau harus konsisten dengan keputusanmu," sambungnya yang makin membuat Sandra semakin tertekan dalam tiap langkahnya.
Akhirnya, mereka tiba di restoran milik Eliz yang baru saja buka. Eliz dan Otka menyambut pelanggan pertama mereka yang datang dengan pakaian formal layaknya menikmati hidangan di restoran mewah.
"Oh! Aku iri dengan penampilan barumu," ucap Eliz mendesis.
Sandra tersenyum dan memilih tak menjawab. Otka mengantarkan dua pelanggannya ke meja khusus yang berada di lantai dua dengan pemandangan kota Zalama bernuansa putih, serasi dengan gaun yang Sandra kenakan.
"Karena kalian berdua pelanggan special, Eliz Fast Food akan menyuguhkan semua menu. Dan, ada catatan khusus dari nona Eliz jika semua biaya ditanggung oleh tuan Tony," ucap Otka seraya meringis.
"What?! Hei! Diskriminasi!" pekiknya lantang dari meja tempat ia duduk.
Namun, Eliz yang berdiri di kejauhan menunjukkan sikap Bos-nya. Tony terlihat kesal, dan Eliz mengabaikannya.
Sandra menatap Tony seksama yang menggerutu saat ia dipaksa membayar sebuah tagihan padahal makanan belum tersaji.
"Benar-benar, awas kau ya," ucap Tony menggertakkan gigi saat ia sudah selesai melakukan scan barcode pada alat pemindai yang Otka sodorkan.
"Terima kasih, Captain Tony. Semoga pelayanan kami memuaskan. Makanan akan segera disajikan," ucap Otka ramah lalu pergi meninggalkan keduanya.
Tony masih memasang wajah masam, dan Sandra hanya bisa tersenyum. Tak lama, robot pelayan datang untuk mengantarkan banyak pesanan. Sandra terlihat kagum akan jenis sajian makanan cepat saji yang tampak menggiurkan.
"Selamat makan, Tony. Dan, terima kasih atas traktirannya," ucap Sandra mengajak bersulang gelas crystal berisi soda berwarna pelangi, dan Tony menyambutnya dengan ketukan pelan saat dua gelas itu saling bersinggungan.
Tony tersenyum melihat Sandra yang terlihat tetap bersikap ramah padanya, padahal ia tahu jika Sandra tertekan akan ucapannya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
wahhh ada yang ngetips. makasih ya. lele padamu😍besok lagi ya. kwkwkwkw😆