
Sandra terlihat gugup begitu pula pria bertato tersebut. Saat Sandra melangkah, pintu kaca tersebut terbuka otomatis.
Sandra dan Vemo segera masuk meski terlihat ragu. Keduanya berjalan perlahan penuh kewaspadaan.
Sandra melihat jika pelindung besi di tangan Vemo mengeluarkan pisau-pisau tajam begitu pula pada bagian belakang sepatu robot yang dikenakannya.
Hingga akhirnya, mereka sampai ke sebuah pintu. Terlihat seseorang di dalam sana, sedang duduk seperti mengendalikan pergerakan hewan itu dengan sebuah setir kemudi mobil zaman dahulu.
“Masuklah, aku tahu kalian mengintip,” ucap seorang pria yang tak menunjukkan wajahnya karena memunggungi mereka berdua dan tetap fokus mengemudi.
Sandra dan Vemo terkejut, tetapi mereka pada akhirnya masuk. Keduanya melihat sekitar, di mana tempat itu seperti sebuah pusat kendali model kuno, dan tak ada orang lain di sana kecuali pria aneh yang mengisap rokok seraya mengenakan kacamata hitam.
“Robotmu keren. Kau berasal dari mana? Cryzen? Russ-King? Negara Bintang?” tanya pria itu duduk di sebuah kursi seraya mengemudi. Seakan-akan cacing raksasa itu sebuah truk.
“Great Ruler, Sir,” jawab Sandra gugup.
Seketika, pria itu menghentikan laju cacing robotnya. Sandra dan Vemo terkejut. Vemo sampai terjatuh karena laju cacing itu seperti direm mendadak.
Pria itu berdiri dan mendekati robot Sandra seraya melepas kacamata hitam yang dipakainya lalu mematikan bara rokok di sebuah asbak. Ia menatap Vemo saksama yang kembali mengangkat buntalan kain di tangannya.
“Kau dari Great Ruler? Sungguh? Wah, ini hebat. Aku baru melihat robot sepertimu. Kenapa bentuknya aneh?” tanyanya bertolak pinggang seraya mengitari robot level A tersebut.
“Bentuk aslinya tak begini. Duri-duri ini muncul sebagai sistem perlindungan, termasuk lampu yang bersinar dari tubuhku. Hanya saja, aku tak bisa mengembalikan ke bentuk semula karena aku terputus oleh Rey, komputer simulatorku,” jawabnya menjelaskan.
“Ahh, pasti penghalang sinyal dari cacingku yang melakukannya. Namun sepertinya, penghalangku tak sempurna. Buktinya, kau masih terhubung dengan tubuhmu di dunia nyata. Jika tidak, robotmu pasti tak bisa bergerak,” ucap pria tua itu menilai.
“Ya. Aku juga merasa begitu, Tuan …,” jawab Sandra menggantung.
“Oh! Panggil aku Paman Gobi. Aku pelindung gurun ini selama beberapa puluh tahun lamanya. Salam kenal,” ucapnya mengajak berjabat tangan, dan Sandra menerimanya.
Vemo ikut mendekat dan mengajak bersalaman. Sandra merasa jika Gobi bukan ancaman mengingat ia terlihat santai dalam bersikap.
“Kalian mau ke mana?” tanyanya seraya melirik ke buntalan kain terlihat penasaran.
“Aku sedang dalam misi, Paman Gobi. Waktuku tinggal dua jam lagi untuk tiba di titik yang kuketahui berada di seberang gurun pasir ini. Jika sampai terlambat, Rey, komputer simulatorku akan memutus hubungan syaraf dengan tubuh asliku di Great Ruler. Aku dan 1000 User yang terperangkap akan tewas di tempat,” jawabnya terlihat gugup.
Gobi menatap robot Sandra saksama. Ia lalu menunjuk buntalan kain dan memberi kode pada Vemo untuk membukanya.
Vemo awalnya terlihat enggan, tetapi pada akhirnya membuka bungkusan itu di atas lantai. Praktis, mata Gobi terbelalak.
“Kau yang melakukannya? Kejam sekali,” ucapnya menunjuk Vemo, tetapi pria bertato itu menggeleng.
Ia menunjuk robot Sandra, dan pria tua itu kembali terkejut hingga kedua bahunya terangkat.
“Aku punya alasannya. Akan aku jelaskan,” ucap Sandra yang pada akhirnya bercerita cukup lama.
Vemo yang tak tahu tentang kisah awal dari misi Sandra, terlihat serius mendengarkan termasuk Gobi.
Pria tua itu menatap robot Sandra lekat entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba saja, Gobi berpaling dan mendekati kursi kemudinya.
“Waktumu tersisa 45 menit, Sandra Salvarian. Kita harus bergegas,” ucapnya kembali menggerakkan cacing monster robotnya. Sandra dan Vemo bingung. “Ayo, Wormy! Kita harus mengantarkan penumpang ke titik tujuan tepat waktu!” serunya riang.
Sandra dan Vemo terlihat senang, senyum keduanya merekah. Dua orang itu dipersilakan duduk di sebuah bangku dengan seat belt terpasang.
Sandra dan Vemo duduk di belakang Gobi dan melihat pergerakan cacing robot itu di dalam tanah. Sandra mengamati gerak-gerik Gobi saat mengendalikan cacing tersebut di mana sebuah radar digunakan sebagai penunjuk arah.
“Pegangan!” serunya lantang tiba-tiba.
Di Pusat Kendali Great Ruler.
“Sir! Sinyal robot level A kembali! Monster cacing robot itu keluar dari dalam tanah dan wujudnya terlihat di dekat perbatasan dengan negara Baatar,” ucap Xili melaporkan.
Matteo segera mendekat dan menyipitkan mata saat mulut monster itu terbuka lebar. Keningnya berkerut ketika mendapati robot level A keluar bersama dengan sosok pria yang dikenal.
“Vemo?” ucap Xili saat kamera robot level A kembali tersambung.
“Wah! Misi Sandra berhasil! Ia bertemu Vemo!” sahut Imo senang, dan semua orang bersorak.
“Wait. Jika berhasil, seharusnya Rey memberikan informasi tentang itu. Namun, di mana dia? Kenapa tak muncul sampai sekarang?” tanya Matteo heran, dan sorak-sorai itu menjadi hening seketika.
__ADS_1
“Terima kasih, Gobi. Aku berutang budi padamu. Aku harap bisa membalasnya nanti ketika misi ini berhasil,” ucap Sandra seraya mengajak pria tua yang kembali memakai kacamata hitam itu bersalaman.
“Ya. Aku akan menagihmu di Great Ruler nanti. Hehehe,” kekehnya, dan membuat Sandra tersenyum di ruang simulasinya. “Good luck, Salvarian. Jaga dia, Vemo. Wanita ini sampai melakukan banyak tindak kejahatan hanya untuk menyelamatkanmu,” ucap Gobi seraya menunjuk robot Sandra.
“Tentu saja. Dia isteriku,” jawab Vemo bangga seraya mengikat buntalan kain di punggungnya.
“Apa dia bilang? Isteri? Hei! Pernikahan kalian itu palsu! Aku sudah tahu!” pekik Matteo kesal, dan semua petugas diam meliriknya tanpa berkomentar.
“Baiklah. Aku pergi dulu. Aku … tak terbiasa berada di permukaan. Sepertinya, dunia belum berubah. Sampai jumpa,” ucap Gobi sembari melambaikan tangan.
Sandra dan Vemo balas melambai saat Gobi melangkah masuk ke mulut besar cacing robotnya. Hewan besi itu kembali masuk ke tanah dan sekejap, sosoknya tak terlihat lagi.
“Rey?” panggil Sandra seraya melihat penunjuk waktu jika ia masih memiliki sekitar tiga puluh menit untuk sampai di lokasi penukaran. “Rey?!” panggilnya mulai menaikkan intonasi, tetapi tak ada jawaban.
“Sebaiknya kita cepat. Kau tahu ‘kan, jika kemampuanku layaknya manusia normal. Sedang kau, dalam robot,” ucap Vemo mengingatkan dan Sandra mengangguk paham.
Saat mereka akan mulai berlari, tiba-tiba saja terdengar suara erangan dari balik bukit dengan jarak 200 meter dari tempat mereka berada.
“Apa itu?” tanya Vemo curiga dan langsung mengaktifkan senjata di lengan serta sepatu robotnya.
Sandra bergegas bergerak dengan Vemo mengikuti di belakang. Mereka mengendap dan mendapati empat buah WolfBot dari Great Ruler sedang bertarung dengan para mutan Morlan. Mata Sandra dan Vemo terbelalak.
“Sial! Rey belum terhubung denganku,” gerutunya.
“Berikan senapan lasermu. Aku bisa menembak,” pinta Vemo.
Sandra menyerahkan senapan itu padanya. Wanita cantik itu masih berusaha menghubungi Rey yang belum tersambung olehnya.
Sandra melihat jika ia tak bisa mengalahkan para mutan itu tanpa pedang laser. Namun seketika, Sandra teringat sesuatu.
“Seven! Fire!” teriak Sandra lantang.
Seketika, WolfBot dengan seri tersebut melakukan tembakan laser ke arah mutan terbang yang berdiri di atas sebuah batu.
“Oaakkk!” Mutan itu merintih saat salah satu tangannya putus karena tembakan laser yang menyakitkan layaknya pedang laser miliknya. Sandra melihat kesempatan dan segera berlari mengambil tangan mutan itu.
“Vemo! Lindungi aku!” perintah Sandra.
Vemo dengan berani menembaki para mutan yang berusaha menghentikan aksi robot level A untuk melakukan aksi balas.
“Arrghh!” erang Sandra saat ia berhasil mengambil salah satu tangan mutan burung dan menyabetkan cakarnya ke dada makhluk tersebut.
“Oaakkkk!” erang burung itu saat dadanya terluka karena cakarnya sendiri. Sandra dengan cepat menarik tangan mutan tersebut dan menggunakan punggungnya yang berduri sebagai senjata. “Oaaakkk!”
“Vemo!” teriak Sandra lantang saat tubuh mutan telah tertancap besi-besi tajam tersebut dan terperangkap.
Mutan itu mengerang saat tangannya ditarik kuat oleh Sandra. Vemo yang melihat kode dari Sandra berdiri tegap dan membidik.
“Oaakkk!” rintih mutan tersebut saat Vemo menembakkan senapan laser dan berhasil memutus lengan mutan burung itu.
Mutan itu dilempar oleh Sandra ke samping. Ia lalu menggunakan dua tangan dari mutan tersebut sebagai senjata.
Sandra membunuh mutan tersebut dengan terus menyabet tubuhnya hingga makhluk terbang itu tak lagi bergerak dengan cairan lengket berwarna hijau muncul dari balik lukanya.
Sedang dua mutan terbang yang tersisa masih melakukan perlawanan dengan empat WolfBot yang kesulitan menangkap mereka karena tiga hewan itu menggunakan sayap untuk menghindar.
Saat Vemo fokus menembak, tiba-tiba, “Argghhhh! Otka!” teriaknya lantang ketika tubuhnya dicengkeram oleh salah satu mutan terbang yang telah mengincarnya.
“Vemo!” teriak Sandra lantang ketika menyadari Vemo kembali ditangkap dan kini dirinya dibawa oleh mutan terbang tersebut.
“Seven! Fire!” seru Sandra lantang, dan WolfBot tersebut kembali menembakkan laser pembunuh ke arah mutan terbang yang membawa Vemo.
“Oaakkk!”
“Arrghh!”
Mata Sandra melebar saat tembakan itu tepat sasaran dan menjatuhkan mutan terbang itu. Sayangnya, Vemo ikut jatuh bersamanya.
Sandra tak ingin membuang waktu. Ia teringat jika satu WolfBot hanya bisa menembak sebanyak tiga kali dan hal itu akan menghabiskan dayanya.
“Seven! Fire!” perintahnya lagi menunjuk seekor mutan terbang terakhir yang telah terluka parah, tetapi belum mati. Dengan segera, tembakan terakhir tersebut mengakhiri nyawa makhluk bersayap besar tersebut.
__ADS_1
Seketika, WolfBot seri 7 langsung duduk tak bergerak lagi. Sandra tersenyum seraya mendekat ke arah robot itu. Ia mengelus kepalanya lembut dan membiarkan robot tersebut mengisi dayanya sampai penuh.
“Ayo!” ajak Sandra ke tiga WolfBot yang tersisa dengan seri 5, 6 dan 8.
Mereka berempat berlari kencang ke arah Vemo terjatuh. Namun seketika, langkah Sandra terhenti saat melihat dua lelaki bertubuh besar dan berotot, bermata sipit, berambut hitam, hanya mengenakan celana dallam terbuat dari lapisan besi, memiliki senjata mirip dengan Vemo di kedua lengan dan sepatu robotnya.
Dua orang itu mengelilingi Vemo yang ketakutan seraya memeluk kotak kaca berisi tiga kepala itu.
“Rey! Lihat saja, jika kau tak kembali online, akan kuhancurkan nisanmu,” pekik Sandra kesal, dan membuat semua orang di pusat kendali terkejut.
“Sepertinya … dia mulai tak waras. Dia melakukan ancaman kepada suaminya yang sudah tiada,” ucap Bablo dan semua orang di ruangan itu mengangguk dengan wajah lugu.
Seketika, “Welcome back, Otka Oskova,” sapa Rey yang mengejutkan semua orang karena komputer pintar pengendali simulasi itu kembali online. Semua orang bernapas lega, termasuk Sandra.
“Kau telah tiba di tempat pertukaran. Teridentifikasi Vermendis Vemo dan kotak kaca dalam dekapannya berisi tiga kepala para penjahat,” ucap Rey yang membuat semua orang berdebar menunggu hasil misi.
“Selamat. Kau berhasil menyelesaikan misi level 8,” ucap Rey yang membuat semua orang bersorak gembira.
“Oke. Matikan sinar dan pelindung duri,” pinta Sandra dengan posisi tegap dan sorot mata tajam pada salah satu pria yang membawa senapan laser miliknya.
Pria satunya membawa dua buah pedang seraya mengelilingi Vemo yang duduk di atas pasir dengan wajah pucat.
“Pelindung dinonaktifkan,” ucap Rey.
Sandra mengembuskan napas pelan dan terlihat lega karena robotnya tak terlihat menyeramkan lagi.
“Oke, kalian bertiga tunggu di sini,” perintah Sandra kepada tiga WolfBot yang melindunginya. Tiga robot itu duduk dengan tenang saat Rhyz memberikan perintah dari pusat kendali.
“Hei, halo,” sapa Sandra saat keluar dari tempat persembunyian seraya mengangkat kedua tangan.
Dua pria yang hampir telanjang itu langsung mengarahkan senjata ke tubuh robot Sandra. Langkah Sandra terhenti dan terlihat waspada akan gerak-gerik di sekitarnya.
“Rey, pindai sekitar,” pinta Sandra.
“Ditemukan banyak manusia yang bersembunyi di bawah tanah. Mereka mengawasi pergerakanmu. Orang-orang itu bersenjata dan bisa merusak robot,” jawab Rey yang membuat suasana tegang kembali terasa.
“Aku Sandra Salvarian. Great Ruler. Pria di sana, Vermendis Vemo. Dia kawanku,” ucap Sandra dari tempatnya berdiri dengan kedua tangan tetap terangkat ke atas.
“Pergilah,” ucap salah satu pria dengan sebuah tato bergambar mulut monster bergigi tajam di salah satu dadanya.
“Wait. Apakah itu … Robot cacing? Gobi?” tanya Sandra menunjuk tato pria tersebut.
“Ya. Kau sudah bertemu pemimpin kami. Kau juga telah memberikan hadiahnya. Pergilah, dan bawa kawanmu ini,” ucap pria itu yang mengejutkan semua orang. Kening Sandra berkerut.
“Kalian—”
“Ya. Kami melakukan kesepakatan dengan Morlan. Senjata, sepatu robot, dan senjata di tangan kami, dia yang memberikannya. Sebagai balasan, kami berikan hewan-hewan kami padanya,” ucap salah satu pria itu yang membuat mulut Sandra menganga lebar termasuk orang-orang di pusat kendali.
“Oh! Pantas saja! Orang-orang Morlan memaksaku untuk membuat senjata seperti yang kugunakan, ternyata diberikan pada kalian? Dan kalian … kalian sama saja membantu Morlan untuk menghancurkan Great Ruler!” teriak Vemo marah dan langsung berdiri dari tempatnya merangkak.
“Ya. Sebagai imbalannya, kami akan hidup di Great Ruler. Burung mutan yang kalian bunuh, hem, mereka penjaga kami. Kalian pikir sudah menghabisi semua makhluk itu? Heh, itu hanya seperempat dari mereka. Dan aku rasa … misi yang diberikan Morlan, tak bisa membuat kalian berdua kembali tepat waktu, karena … penyerangan sebenarnya, baru akan terjadi,” ucap pria itu dengan seringainya.
Vemo dan Sandra ditinggalkan begitu saja. Napas Sandra terasa tercekik. Ia terhuyung ke belakang saat menoleh ke arah gurun dan menyadari sesuatu.
“GOBI!” teriaknya lantang saat ia merasa dipermainkan oleh pria tua tersebut.
Sandra yakin, jika Gobi menggunakan cacing robotnya untuk menyerang Great Ruler. Sandra jatuh berlutut dan menangis di ruang simulasi. Matteo dan lainnya yang baru menyadari hal itu pucat seketika.
Sandra terkulai lesu. Vemo beranjak dari tempatnya dan mendekati robot Sandra yang tak bergerak duduk di atas pasir.
Tiga WolfBot mendekatinya dan memindai orang-orang yang bersembunyi di dalam tanah menghilang seperti memiliki penghalang sinyal agar jejak mereka tak diketahui.
“Vemo … mereka akan mati. Aku tak mungkin menyelesaikan misi ini tepat waktu. Hiks, orang-orang itu … mereka akan tewas,” ucapnya sedih. Vemo memeluk robot Sandra erat seperti memiliki perasaan yang sama.
Matteo segera berdiri tegap dan meminta agar Xili meneruskan pesannya ke seluruh pusat kendali di 10 Distrik. Para pemimpin di tempat itu terlihat serius menyimak.
“Sebuah robot cacing akan datang menyerang Great Ruler dari bawah tanah. Bersiaplah, dan … pasang jebakan,” ucapnya tegas.
“Yes, Jenderal!” ucap semua orang lantang termasuk Presiden Roman yang menjawab dengan anggukan kepala.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE