
Robot level E G2 terlihat begitu fokus dalam membidik para mutan yang mencoba untuk menerobos pertahanan mereka.
Robot level D juga berusaha keras menghalau semua mutan agar tak masuk ke dalam bangunan.
Sedang Sandra dan timnya yang berada di luar Oasis, menggunakan pedang laser untuk melakukan serangan langsung.
Para mutan yang berhasil lolos dari bidikan Brego, membuat Sandra dan seluruh anggota timnya serta Cendric harus berhadapan langsung dengan para mutan ganas itu.
Kali ini, Matteo tak tinggal diam.
DUAKK!!
"Ieekkk!!
BRUKK!
Sandra terkejut saat kaki robot yang dikendalikan oleh Matteo menendang para mutan hingga makhluk-makhluk yang bernapsu untuk mengeroyoknya terlempar jauh.
KREKK!!
"Ieekkkk ...." rintih dua mutan yang terkena injakan kaki robot dari Matteo.
"Hah, thank you, Jenderal," ucap Sandra terengah karena pakaian robot tersebut membuatnya gerah dan ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyerang. Matteo tersenyum di dalam robotnya.
Sang Jenderal melihat beberapa mutan berhasil di kalahkan oleh anak buahnya. Ternyata, semua jenis mutan yang dikerahkan serupa, tak beragam seperti saat penyerangan di Distrik 10.
"Ayahku benar-benar tak waras. Ia malah menciptakan mutan lainnya untuk menyerang negaranya sendiri," geram Matteo melihat sekitar dari atas robot karena mutan-mutan itu begitu agresif dan berhasil melukai beberapa kandidat User yang mengenakan seragam robot level E G2.
Tiba-tiba, "Agh!"
BRUKK!
"Otka!" teriak Sam saat melihat Sandra terkena sabetan dari salah satu lengan mutan berduri hingga tubuhnya terhempas di atas daratan tandus.
"Ieekkk!" lengking mutan tersebut karena berhasil melukai salah satu kandidat.
Mutan itu berlari kencang dengan mulut berliur menunjukkan jika ia kelaparan. Gigi-gigi tajamnya siap untuk mencabik lawannya yang terlihat kesulitan untuk bangkit karena salah satu kaki Sandra terjepit pada celah retakan tanah.
"Agh! Sial!" erang Sandra karena tak bisa membebaskan salah satu kakinya yang tersangkut.
"Otka!" teriak Matteo lantang yang berusaha untuk mendatangi Sandra yang didatangi mutan tersebut. Namun, "Agh! Menyingkir dariku!" teriak Matteo geram karena robotnya dinaiki oleh tiga ekor mutan yang berusaha menjatuhkannya. "SPECTRA!" panggil Matteo lantang karena mutan-mutan itu sulit disingkirkan dan malah semakin agresif untuk menyerang.
Spectra dengan sigap terbang rendah dan kini berada di dekat robot tuannya.
"Tembakan laser!" seru Matteo dari bangku kemudi yang masih berusaha menyingkirkan makhluk-makhluk itu.
"Tembakan laser diaktifkan."
SHUW! SHUW!
"Ieekkk!" lengking para mutan yang terkena tembakan dari dua tangan Spectra dan berhasil melukai tubuh mereka meski tak membunuh.
Mutan-mutan itu berusaha untuk menyerang Spectra yang mampu menghindar dengan terbang ke sana kemari menghindari tangan dari makhluk-makhluk buas itu.
"Ieekkk!"
__ADS_1
DUAKKK! BRUKK!
"SPECTRA!" panggil Matteo lantang karena salah satu mutan berhasil menjatuhkan robot pintar itu dengan salah satu tangannya yang memiliki duri tajam pada ujungnya.
Matteo tak rela jika robot asistennya rusak. Matteo melakukan aksi balas dengan nekat membuka pelindung kaca pada robot yang melindunginya.
"Apa yang dia lakukan?!" pekik Roman panik karena melihat Matteo malah keluar dari robot level D lalu menembaki para mutan dengan pistol dalam genggaman tak terlihat takut.
Spectra kembali bangkit dan melayang, meski terlihat ada percikan api di tangannya. Spectra mendatangi mutan yang menyerangnya dengan mengarahkan kedua tangannya ke depan. Matteo melihat dari kejauhan akan aksi Spectra tersebut.
"No! Spectra!" teriak Matteo dengan mata melotot saat berhasil menjatuhkan dua mutan yang menaiki robotnya dengan terus menembaki mereka.
"Permintaan sengatan listrik," ucap Spectra.
Matteo memejamkan mata sejenak. "Sengatan listrik!" ucapnya lantang.
CRETTT!!
"Ieeekkkk!" rintih mutan tersebut saat Spectra menggunakan dua tangannya untuk menyetrum tubuh mutan yang telah terluka sebelumnya hingga makhluk itu mengering dan ambruk di tanah.
PIP!
BRUKK!
"Spectra!" panggil Matteo lantang dan bergegas turun dengan tergesa mendatangi robotnya. Spectra seperti kehabisan daya. Matteo menggendong Spectra dan membawanya masuk ke dalam robot yang digunakannya tadi. "Kita akan pergi dari sini. Kau akan baik-baik saja," ucap Matteo cemas dan membawa pergi robot level D tersebut meninggalkan peperangan di mana Sandra dalam keadaan kritis, dan Matteo, melupakan keberadaannya.
"Ieeekkk!" lengking seekor mutan yang serangannya masih berhasil ditangkis oleh Sandra dengan melakukan kombinasi menembak serta menyabetkan pedang laser.
Tangan kanannya ia gunakan untuk mengayunkan pedang dan tangan kirinya menembaki mutan yang berusaha untuk membunuhnya.
Sandra terlihat kualahan. Ia tak bisa bergerak dengan leluasa karena satu kakinya masih tersangkut.
Sandra terlihat kesal. Hal itu mengingatkannya kembali akan keteledoran Matteo hingga suaminya tewas.
"Agghhh!" erangnya marah saat akan menusukkan ujung pedang ke arah mutan, tapi, DUAKKK!!
KLANGG!!
Pedang laser tersebut padam setelah salah satu lengan mutan berhasil menampiknya.
"Aaaa!" teriak Sandra mengerang karena dua pergelangan tangannya kini ditangkap oleh dua tangan mutan hingga menjatuhkan pistol lasernya.
"Otka!" panggil Brego yang sudah kehabisan amunisi.
Sang Colonel melihat Sandra sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi di mana mutan yang menyerangnya melengking kencang dengan kepala mendongak menantang langit.
"Otka!" panggil Baden dengan napas tersengal saat melihat mulut mutan itu terbuka lebar, siap untuk memakan kepala robot Sandra.
Tiba-tiba, "Harrghhh!"
KRASS!!
BRUKK!
"Oh!" seru Brego lega karena kedatangan robot level B tepat waktu.
"Hei, kau tak apa?" tanya Tony yang berhasil mendarat dengan sempurna tepat di atas mutan yang menyerang Sandra. Pedang laser Tony membelah tubuh mutan tersebut menjadi dua dan menewaskannya.
__ADS_1
"Kakiku, agh," erang Sandra memegangi bagian lutut ke bawahnya yang tersangkut.
Saat Tony akan menolong Sandra, robot yang dikendalikan oleh Brego datang. Tony menyingkir saat Brego meletakkan salah satu kaki robotnya di hadapan tubuh Sandra. Dengan sigap, wanita itu memeluk kaki robot tersebut kuat.
"Arrrghhh!!"
KREEKK! BRUKK!
"Agh! Agh!" erang Sandra memegangi kakinya yang sudah tak terbungkus sepatu robot karena benda itu tersangkut di celah retakan. Sandra memegangi pergelangan kakinya yang seperti terkilir.
NGEKKK!
"Otka! Kau sebaiknya segera pergi dari sini. Gunakan HeliBug. Kau sudah melakukan pekerjaan bagus hari ini. Pergilah," ucap Brego keluar dari robot yang melindunginya usai berhasil mengeluarkan Sandra dari celah yang menjepit kakinya.
"Ya. Serahkan pada kami. Kau terluka, jangan memaksakan diri," ucap Tony dan Sandra akhirnya mengangguk.
Sebuah HeliBug datang dan Sandra dengan sigap merentangkan kedua tangannya. Tubuh robot Sandra melayang di atas permukaan tanah perlahan menjauh dari pertempuran.
Kaki Sandra yang tak berpelindung itu nampak jelas. Sandra terlihat lemas dan perlahan, ia tak sadarkan diri saat HeliBug membawanya.
"Ayo! Kita selesaikan ini, Tony!" ucap Brego lantang dari atas robot dan Tony mengangguk siap.
Brego membantu menuntaskan dengan menginjak para mutan yang sudah terluka, tapi masih bertahan. Satu persatu, para mutan yang mencoba untuk mengusik kehidupan di Oasis berhasil dilumpuhkan.
Banyak kandidat User yang terluka, tapi sebuah kemenangan karena orang-orang itu tak ada yang tewas. Dengan siap, para User robot level B menuntaskan peperangan.
Akira, Ego, Tony dan para User robot level B lainnya menebas para mutan di sekitar Oasis di mana makhluk-makhluk itu tak ada yang berniat untuk kabur.
Para User yang terluka segera dibawa ke dalam gedung atas permintaan Tony. Robot level D berjaga di depan gedung seperti sebuah barikade agar para mutan tak menerobos.
Hingga akhirnya, setelah pertempuran selama kurang lebih 2 jam itu, kemenangan berpihak pada Great Ruler.
Sorakan kegembiraan terdengar di Pusat Kendali Great Ruler dan Oasis. Meski demikian, semua orang yakin jika tempat itu telah ditandai oleh Morlan. Orang-orang semakin waspada.
Di tempat Morlan berada.
"Heh, dasar pengecut. Kau lebih mementingkan Spectra ketimbang anak buahmu. Kau sangat tidak pantas menjadi Presiden Great Ruler, Matteo Corza. Kau mempermalukanku," ucap Morlan yang ternyata memata-matai serangannya selama di Oasis dengan memasang kamera mini di tubuh para mutan ciptaannya yang terhubung dengan markas rahasia.
"Jadi ... bagaimana, Tuan?" tanya salah satu ilmuwan yang menganalisis serangan mutan jenis baru tersebut.
"Cukup gesit, tapi ... masih kalah jauh dengan Derga. Tak perlu memperbanyak jenis mereka. Kita fokus saja pada mutan-mutan sebelumnya. Selain itu, kita tak memiliki jenis hewan untuk membuat mutan berduri itu," jawab Morlan seraya mematikan tampilan layar monitor di mana semua mutannya tewas karena serangan dari para robot Roman.
"Baik, Tuan," jawab ilmuwan tersebut lalu menginformasikan kepada ilmuwan lainnya. Morlan pergi meninggalkan ruangan besar tersebut entah ke mana.
Vemo yang mendengar hal itu dari balik dinding tempatnya bekerja, hanya bisa diam dan terus fokus menyelesaikan permintaan Morlan.
Vemo terlihat tegang dan beberapa kali terperanjat karena mutan-mutan yang dikurung dalam dinding kaca seperti bernapsu ingin mencabiknya.
"Jangan harap bisa menikmati kelezatan tubuhku. Tak akan pernah terjadi. Tak akan pernah," ucapnya garang di depan salah satu mutan jenis Derga.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
Biar gak lupa jenis mutannya. Uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Lele padamu❤️ Rehat dulu, laper, ngantuk, pegel uyy😩
__ADS_1