SIMULATION

SIMULATION
I HIT HIM


__ADS_3

Sandra terkejut saat Matteo berhasil mengenainya dan terlihat puas dengan aksinya.


"Kau yang memintanya, Otka Oskova. Permintaanmu untuk melawanku tak bisa ditarik. Ayo," ajaknya dengan pedang kayu telah siap dalam genggaman tangan kanan dan masih berdiri dengan posisi miring.


Sandra menarik nafas dalam dengan mata terpejam sejenak. Matteo menatap gerak-gerik Sandra tajam dari tempatnya berdiri.


Dan seketika, "Arrrghh!" erang Sandra saat ia menarik pedang kayu dari sarung dan memulai melakukan sabetan.


Mata Matteo terbelalak. Ia dengan sigap menangkis serangan Sandra yang menggunakan kedua tangannya. Matteo bisa merasakan kekuatan dalam tiap serangan dan saat pedang kayu mereka beradu.


BUKK!


"Ahh!" rintih Sandra saat pantatnya terkena tendangan dari kaki kanan sang Jenderal ketika mengayunkan pedang kayunya ke samping kanan dan membuat tubuhnya berputar.


Matteo tiba-tiba membungkuk dan membuat pedang kayunya itu berada di atas kepalanya. Pria itu dengan cepat kembali berdiri dan menggeser langkahnya ke samping.


Ia menyelinap ke balik tubuh Sandra hingga kedua punggung mereka hampir bersentuhan. Keduanya bagaikan berdansa tapi saling memunggungi, lalu seketika, Sandra merasakan tubuhnya terdorong ke depan dengan kuat.


"Oh, kau merasakan getaran itu Sandra? Asal kau tahu, gerakan itu baru pertama kali kulakukan. Menurutku, itu sangat sensual," ucap Matteo seraya menunjuknya dengan mata berbinar.


"What?" tanya Sandra dengan kening berkerut karena baginya sang Jenderal mulai tak waras dengan imajinasinya.


Sandra melihat kesempatan. Ia segera melangkah maju dan sentakan dari kaki kanannya membuat Matteo terkejut.


Sang Jenderal segera menangkis serangan itu dengan kedua tangan menggenggam kuat gagang pedangnya.


Matteo berputar dengan kedua tangan berada di atas kepalanya. Pedang kayunya kini berada di belakang punggungnya dan posisi sang Jenderal memunggungi Sandra.


KLAK!


Wanita cantik itu terkejut karena pria bermanik biru itu mampu menangis serangannya dan membuat pedangnya jatuh karena kaget dengan gerakan cepat itu, ditambah kekuatan tangan Matteo melebihi dirinya.


"Jangan sampai pedangmu terlepas. Kau bisa tewas dalam sekali tebas jika aku musuhmu," ucap Matteo saat ia kembali berdiri tegak dan menarik pedang ke hadapannya.


Jantung Sandra berdebar. Ia tak menyangka jika berlatih tanding dengan sang Jenderal akan membuatnya gugup dan tegang.


Sandra mengambil pedangnya lagi. Ia kini terlihat bersiap dengan kuda-kuda seperti yang ia pelajari. Matteo mengangguk tanda siap beradu. Ia masih dengan posisi berdiri terlihat santai, tapi waspada.


Sandra tiba-tiba melakukan putaran dengan kaki melayang sembari mengayunkan pedangnya. Matteo terkejut karena Sandra tiba-tiba mendatanginya.


KLAK!


Dua pedang kayu itu saling beradu saat pedang Sandra dan Matteo saling bertemu dengan kekuatan masing-masing mempertahankan posisi.


Tiba-tiba, Sandra melakukan injakan dengan kaki kanan saat dua pedang mereka saling mendorong. Matteo menghindari serangan kaki Sandra yang berusaha menginjak punggung kakinya.


Fokus Matteo teralih, dan seketika, DUK!


"Agh!" rintih Matteo ketika Sandra mengantukkan dahinya dan mengenai wajah sang Jenderal saat matanya sibuk mengikuti pola kaki Sandra.


Matteo spontan mundur dan melepaskan dorongan kuat di pedangnya. Sandra tersenyum lebar.


"Hei! Kau curang!" pekiknya kesal.


"Hem, kau tak tahu saja, Jenderal. Aku mendapatkan skor tinggi dalam permainan menginjak tikus tanah," ucapnya bangga seraya meletakkan punggung pedang kayu di salah satu pundaknya.


"What?" tanya Matteo bingung.


"Yah, Blue yang tahu tentang hal itu, dan Roboto," sambungnya dengan senyum terkembang.


Kening Matteo berkerut dengan mata menyipit. "Adu tarung denganku selesai. Kau lanjutkan sampai lulus level 10. Seharusnya kau bisa menyelesaikan latihan ini hari ini," ucapnya terlihat sebal seraya berjalan ke arah meja tempat ia menikmati teh hijau tadi.


"What? Sudah selesai?" tanya Sandra heran.

__ADS_1


"Hem, aku lapar. Aku mau makan sushi," jawabnya tanpa memandang Sandra seraya meletakkan pedang kayu di sampingnya.


Matteo bertepuk tangan dua kali, dan robot mentor kembali muncul. Sandra menatap Matteo seksama yang duduk bersimpuh seraya menuang teh hijau ke cangkir keramiknya.


"Melanjutkan ke level 4. Bersiap," ucap Eco memulai instruksi dalam latihan pedang.


Sandra menghembuskan nafas pelan, ia terlihat kecewa. Matteo menikmati sushi dan sesekali melirik ke arah Sandra yang kini lebih sigap dan hampir tak melakukan kesalahan saat melewati ujian tiap level.


"Kecepatanmu dalam melakukan sabetan perlu ditambahkan," ucap Eco karena Sandra tak lulus di level 7 saat ia melakukan gerakan kombinasi berupa sabetan pedang dalam posisi melintang dengan ayunan tangan kanan sembari membungkuk.


"Oke. Ulangi," pinta Sandra yang terlihat lebih siap dengan sorot mata tajam memperhatikan gerakan robot di depannya yang akan mengulangi gerakan tersebut bersamaan dengannya.


Sandra tak menyerah. Meski terlihat lelah dan harus mengulang gerakan itu berulang kali, Sandra serius dengan pelatihannya dan tak mengeluh.


Matteo terlihat kagum, dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore dan masih tersisa 1 level bagi Sandra agar lulus.


"Putaranmu tidak sempurna. Pijakan kakimu tidak stabil. Kau bisa kehilangan keseimbangan dan berakibat jatuh atau terkilir," ucap Eco saat Sandra mencoba melakukan gerakan berputar sembari menyabetkan pedang sebanyak dua kali.


"Oke. Kau bisa lanjutkan nanti, Otka. Kau sudah mencapai batas maksimum untuk hari ini. Jangan dipaksakan," ucap Matteo tegas dari tempatnya duduk.


"Hah, tidak, Jenderal. Satu kali lagi dan aku pasti akan berhasil. Aku ... hanya perlu mengatur nafas dan fokusku saja," jawabnya berdalih.


Matteo menghembuskan nafas panjang. "Dasar keras kepala," gerutunya kesal, tapi Sandra hanya tersenyum tipis.


"Oke. Aku siap," ucapnya mantap.


"Mengulangi gerakan di level 10. Dalam hitungan mundur. 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1, go!"


"Agh!"


"Otka!" seru Matteo lantang saat Sandra malah jatuh ketika melakukan putaran pertama.


Sandra mengerang memegangi pergelangan kakinya dengan mata terpejam rapat. Matteo segera mendatangi Sandra dan membopongnya.


"Wow, apa yang kita lakukan di sini, Jenderal? Ruang medis ada di—"


"Diam," tegasnya dan Sandra langsung membungkam mulutnya.


Matteo mendudukkan Sandra di sofa ruang tamunya. Tak lama, Spectra tiba. Matteo memberikan kode dengan telunjuknya ke arah pergelangan kaki Sandra yang terkilir.


Seketika, tangan bulat Spectra berubah menjadi jari tangan mirip manusia. Sandra memperhatikan gerakan jari Spectra dengan seksama.


Tiba-tiba, dari telapak tangan robot itu mengeluarkan sebuah cairan seperti minyak yang terasa hangat di kakinya.


"Agh!" rintih Sandra saat luka tersebut tersentuh oleh Spectra.


"Bersiap," ucap Spectra terlihat fokus saat meraba luka tersebut dengan lembut. Kening Sandra berkerut, tapi tiba-tiba ....


"AAAAA!" teriaknya lantang ketika Spectra melakukan sebuah gerakan kuat untuk meluruskan kembali kaki Sandra yang terlihat bengkok.


Mulut Sandra sampai menganga lebar. Ia terlihat shock bahkan matanya melotot. Matteo langsung mendekati Sandra dan malah memeluknya. Sandra bingung dan kaget dalam waktu bersamaan.


"Kau akan baik-baik saja. Itu hanya luka ringan. Kau akan berjalan lagi," ucap Matteo menenangkan.


Sandra balas menepuk pundak sang Jenderal di mana kini jantungnya yang malah berdebar. Ia bingung menyikapi hal ini. Matteo tersenyum manis saat melepaskan pelukannya.


"Istirahatlah sebentar. Biarkan darahmu mengalir dengan lancar," ucap Matteo seraya memberikan sebuah bantal sofa di bawah betisnya agar posisi kakinya yang terkilir lebih tinggi. Sandra hanya bisa diam dan membiarkan sang Jenderal melakukan hal itu untuknya.


"Dan, selama tiga hari, kau tak boleh melakukan aktivitas fisik agar segera pulih. Beruntung, cideramu ringan dan tak perlu di bawa ke rumah sakit. Berterima kasihlah pada Spectra," ucap Matteo seraya memberikan segelas air pada Sandra dan wanita cantik itu menerimanya dengan sungkan.


"Terima kasih, Jenderal," ucap Sandra gugup.


"Selama masa penyembuhan, aku akan mengirimkan Purple padamu. Kau ... tahu dia 'kan? Asisten Blue?" tanya Matteo melirik Sandra sekilas saat ia meminum air biru dalam gelas crystal.

__ADS_1


"Purple?" tanyanya mengulang dan Matteo mengangguk. "Ya, aku mengenalnya," sambung Sandra dengan anggukan.


"Good. Jadi, istirahatkan dirimu. Aku sudah meminta Purple datang kemari. Jangan ke mana-mana. Aku mau mandi," ucapnya menegaskan dengan telunjuk seperti perintah, dan Sandra kembali mengangguk.


Sandra terbengong melihat Matteo berjalan meninggalkannya seraya melepaskan seragam Perwira-nya.


Sebuah robot laundry mendatanginya. Ia memasukkan pakaiannya ke dalam mulut robot tersebut dan membiarkan tubuh bagian atasnya terlihat jelas oleh Sandra.


Wanita cantik itu langsung menundukkan wajah, padahal jarak keduanya cukup jauh, tapi Sandra masih bisa melihat sosok sang Jenderal dari balik dinding kaca.


"Entahlah. Aku rasa ... minuman biru ini memang memberikan dampak aneh. Sebaiknya aku tidur saja sampai Purple datang menjemputku," ucap Sandra lirih seraya merebahkan punggungnya yang terasa lelah.


Sandra menangkan hatinya di mana sosok Matteo tak bisa lepas dari pikirannya apalagi saat ia hanya menyisakan boxer saja ketika berjalan menuju ke sebuah ruangan yang ia yakini adalah kamar mandi.


Hehe, dia begitu indah. Ah, manusia langit. Sangat cocok julukan itu untuknya, ucap Sandra dalam hati dengan mata terpejam dan senyuman.


Hingga akhirnya, Sandra merasa terusik saat ia mendengar suara orang berbicara. Ia mengenali gaya bicara orang tersebut.


Sandra menoleh dan mendapati Matteo berbicara dengan Purple yang berdiri di hadapannya.


"Hei," sapa Sandra seraya bangun perlahan, meski terlihat masih mengantuk.


"Oh, kau sudah bangun? Maaf jika berisik. Lapar? Purple memasak untukmu, tapi ... kau sebaiknya mandi dulu lalu makan malam bersamaku," ucap Matteo yang berdiri di hadapannya.


Sandra mengangguk pelan. Ia bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Matteo yang membuat jantungnya berdebar.


Wajah Matteo terlihat berseri dengan kaos warna hitam yang ukurannya pas dengan tubuhnya.


Ia mengenakan celana jeans biru dan ikat pinggang mengkilat seperti terbuat dari kulit binatang.


Sandara melirik sepatunya yang terlihat berkilau seperti habis dipoles. Sandra gugup seketika hanya dengan melihat penampilan pelatihnya.


"Ayo, aku bantu ke kamar mandi," ucap Matteo yang kembali membopongnya, dan Sandra kembali terkejut.


"Mm, Jenderal. Aku yakin sudah bisa berjalan meski pincang. Anda tak perlu—"


"Diam. Kau muridku. Jika sampai kau terluka, itu tanggungjawabku," ucapnya galak menunjukkan wajah serius dan Sandra kembali bungkam.


Matteo mendudukkan Sandra ke pinggir bath up lalu berdiri dan menatapnya seksama.


"Jangan mandi dengan air panas atau merendam lukamu dalam air hangat. Mandilah pakai air biasa. Jika sudah selesai, tekan tombol warna biru di wastafel. Kau mengerti?" tanya Matteo menunjuknya dan Sandra mengangguk.


"Tak usah terburu-buru. Jangan sampai terpeleset atau cidera lagi. Aku tak mau disalahkan dan tak dianggap profesional oleh perwira lainnya karena muridku yang bandel tak menuruti perintahku," ucapnya terdengar garang dengan wajah serius seperti marah.


"Aku ... minta maaf, Jenderal. Aku akan menuruti semua nasehatmu lain kali. Jika kau memintaku berhenti, aku akan berhenti. Aku tak akan membantah dan ngotot lagi," ucapnya tertunduk meski sesekali melirik terlihat bersalah dengan sikap keras kepalanya.


"Good," jawabnya singkat lalu keluar dari kamar mandi.


Pintu kamar mandi otomatis tertutup. Sandra menghembuskan nafas panjang. Ia baru sadar jika Matteo bermaksud baik ketika ia menegurnya agar tak memaksakan diri, tapi ia malah mengabaikan teguran itu. Kini, ia terluka dan semakin merepotkan sang Jenderal.


Ditambah, ia kehilangan waktu berlatihnya selama tiga hari karena tak bisa melakukan latihan fisik. Sandra menghembuskan nafas panjang dengan rasa kecewa di hatinya.


"Matteo baik padaku, tapi aku menganggapnya ia mempermainkanku. Dasar bodoh," gumannya menyalahkan diri sendiri.


***


Akhirnya nulis naskah buat simulation cetak selesai gaes. Ya ampun pinggang rasanya udah kaya lego, bongkar pasang. Doakan semoga ceritanya lebih seru ketimbang series di apk mangatoon. Amin~


Tapi lele ngetik itu tegang mulu dari awal eps sampai akhir. Baca per epsnya deg-degan gitu. Hahaha, jadi ya to, siapin jantung dan minum. Pastiin pengambilan nafas tepat takutnya pingsan pas baca. kan gak lucu kalo ditemuin orang kalian terkapar dengan novel dalam pelukan ya to. Kwkwkw.



Dan tengkiyuw tipsnya💋 Lele padamu😘 Jangan lupa boom like audio book lele ya❤️

__ADS_1


__ADS_2