SIMULATION

SIMULATION
KEEPING PROMISES


__ADS_3

Ternyata, niat baik Morlan untuk menebus dosa leluhurnya menggerakkan hati para cendikiawan Great Ruler.


Banyak para ahli yang menjadi sukarelawan untuk membantu sang mantan Presiden menyuburkan kembali wilayah yang tandus akibat peperangan di negara Bintang.


"Kenapa wajahmu jelek begitu? Lihatlah, aku sama seperti mereka, berwujud manusia mutan. Mungkin, ini sudah takdirku, Matteo. Jika Ayah berhasil mengembalikan kesuburan wilayah tandus di negara Bintang, bukankah ... kau akan bangga kepada Ayah?" tanya Morlan seraya menyiapkan banyak perlengkapan sebagai bekal untuk memulai tugasnya menggantikan janji ayahnya, Rodega.


"Terus hubungi aku, Ayah. Jujur, aku sangat cemas," jawab Matteo sedih saat membantu sang ayah menyiapkan keperluan.


"Heh. Pengalamanku di luar sana seribu kali lebih banyak darimu. Menurutku, kau bahkan kalah dengan Sandra Salvarian. Dia sudah menjelajah sekitar Great Ruler. Bahkan, nyalinya sebagai petarung dan petualang lebih besar ketimbang kau. Jangan jadi pengecut dan lelaki lemah, Matteo. Kau adalah seorang Presiden. Tanggungjawabmu bukan hanya sebagai kepala keluarga, tapi juga kepala negara. Ingat itu," tegas Morlan dan Matteo mengangguk paham meski berwajah sendu.


Keesokan harinya, untuk pertama kalinya, Benyamin mengaku bisa tidur dengan pulas selama ia hidup di dunia dan menjadi pemimpin suatu negara padahal ia berada di wilayah musuh.


"Aku tak pernah merasakan kedamaian seperti ini sepanjang hidupku. Aku berharap, bisa merasakannya hingga akhir hayatku ketika berada di negara Bintang," ucap Benyamin saat ia menikmati sarapan bersama di kediaman Matteo, Gedung Eco-Green Distrik 9.


"Jika Great Mazepita yang tandus saja bisa dihidupkan kembali, pastinya negara Bintang juga bisa, Tuan Benyamin. Hanya saja, membutuhkan banyak waktu dan kesabaran," ucap Matteo menemani tamunya yang tinggal semalam di rumah dinasnya.


"Aku siap selama hal itu membawa perubahan yang bisa mensejahterakan rakyatku," jawab Benyamin terlihat senang tinggal bersama sang Presiden dan Wakil Presiden Great Ruler serta dilayani oleh tiga robot milik Matteo Corza.


"Maaf, Tuan Benyamin. Jika boleh tahu, bagaimana bisa penduduk Anda berubah menjadi mutan?" tanya Sandra memancing.


Matteo melirik isterinya yang tetap terlihat tenang seperti tak mengetahui kisah sebelumnya.


"Empat ilmuwan milik Morlan mendatangi kami. Mereka mengatakan jika Great Ruler melebarkan wilayah kekuasaan. Mereka mengatakan jika Great Ruler berhasil mengalahkan Russ-King dan Batar. Great Ruler juga berhasil menghasut Cryzen, Pipemo, Magenta dan Zezeta untuk menjadi sekutu. Bodohnya, kami percaya karena sebelumnya, dendam telah menyelimuti jiwa kami. Namun, aku sadar jika negaraku kalah dalam segala hal untuk melawan Great Ruler," jawab Benyamin berwajah serius.


Sandra dan Matteo terlihat marah hingga menghentikan makan mereka. Sedang Benyamin, tetap tenang duduk di kursi otomatis.


"Mereka lalu menunjukkan sebuah cara dengan menyuntikkan diri menggunakan DNA mutan. Kami perlu bukti, jadi empat orang itu menjadikan diri mereka sebagai pembuktian tersebut. Awalnya, aku merasa jika hal itu sangat beresiko dan tak bernaluri karena melihat empat orang itu menjadi mengerikan serta tak terkendali. Namun, hasutan mereka seperti mencuci otak kami."


"Keterlaluan. Kita diperalat. Mereka memutarbalikkan fakta," gerutu Matteo yang langsung meneguk habis air birunya.


Sandra menelus punggung suaminya lembut yang terlihat marah. Benyamin menarik napas dalam.


"Hingga akhirnya, para wargaku sepakat dan ikut menjadi mutan. Hanya aku, para wanita, orang tua dan anak-anak yang tetap berwujud manusia karena aku tak mengizinkan mereka berubah menjadi mutan. Lalu ... untuk memastikan kemenangan berpihak pada negaraku, aku ikut. Jujur, aku juga tak percaya pada empat orang itu," ucap Benyamin menjelaskan.


Sandra dan Matteo terlihat kesal. Benyamin tersenyum karena ia seperti mengetahui sesuatu.


"Kita diadu domba oleh orang yang membenci kedamaian, Tuan Matteo, Nyonya Sandra. Beruntung, kita masih memiliki hati nurani. Aku bersyukur karena masih bisa hidup sampai sekarang dan bertemu kalian. Semoga, kita panjang umur dan mimpi untuk mengembalikan kedamaian Bumi terwujud," ucap Benyamin seraya mengajak bersulang minuman biru.


"Demi kedamaian Bumi," sahut Matteo dan Sandra menyambut ajakan bersulang pemimpin negara Bintang dengan senyuman.


Akhirnya, siang itu. Kelompok yang telah bersiap untuk membantu negara Bintang berkumpul di pintu keluar Distrik 5.


Para cendikiawan Great Ruler terlihat siap untuk bertugas meninggalkan negara mereka untuk sementara waktu. Bagi mereka, misi ini adalah tugas mulia.


"Kami akan mengunjungi kalian tiap tiga bulan sekali. Terus kirimkan laporan agar kami bisa memantau perkembangan kalian dalam memperbaiki lingkungan," tegas Roman kepada 20 orang ahli dalam bidang masing-masing yang dibutuhkan oleh negara Bintang usai mendengar penjelasan dari para manusia mutan yang menceritakan kesulitan mereka di tanah itu.


"Jangan sungkan untuk meminta bantuan baik perlengkapan dan sebagainya untuk membantu mempercepat proses pemulihan," sahut Lala dan diangguki oleh para ahli tersebut.

__ADS_1


"Aku akan sangat merindukanmu, Ayah," ucap Matteo terlihat sedih seraya memeluk sang ayah seperti tak peduli dengan tubuh mutan Morlan yang bisa menyakiti tubuh manusia sang Presiden.


Morlan terharu karena putera tunggalnya terlihat seperti tak ingin berpisah dengannya.


"Hati-hati dan ... selamat berjuang. Ingatlah, Great Ruler dan Great Mazepita adalah rumah kalian. Pintu kami akan selalu terbuka untuk para penduduk sah negeri ini," ucap Sandra dan diangguki kedua puluh orang tersebut.


Para manusia mutan mengendarai mobil berbahan bakar bensin. Namun, karena jumlah yang tak memadahi, beberapa dari orang-orang Great Ruler menggunakan helikopter seperti yang Sandra dan Matteo gunakan kala itu.


Sandra dan orang-orangnya yang mengantarkan kepergian para penduduk Great Ruler ke gerbang terluar, melambaikan tangan terlihat bangga dan sedih karena harus berpisah.


Perlahan, kelompok besar itu tak terlihat setelah melintasi gurun tandus dan gersang tak seperti lahan hijau dalam benteng Great Ruler.


"Ayah akan baik-baik saja, Sayang. Kita bisa menjenguknya setalah bayi kita lahir," ucap Sandra seraya meraih tangan sang Presiden dan meletakkan di perutnya yang masih rata.


Mata Matteo terpaku pada tubuh sang isteri yang disentuhnya. Matteo masih terlihat gugup dan kaku. Kali ini, Sandra tak sakit hati karena ia tahu jika suaminya butuh penyesuaian.


Karena kehamilannya, Sandra terpaksa cuti tak mengajar para kandidat dalam praktek. Tentu saja, hal ini mengecewakan para kandidat calon User.


Namun, Sandra menggantinya dengan latihan simulasi sampai ia sudah tak sanggup lagi untuk mengajar.


Matteo kerja lembur setiap hari agar cacing robotnya cepat selesai. Sandra menyertakan Vemo untuk membantu suaminya.


Bagi Sandra, Vemo sangat mampu dipekerjakan melihat prestasinya cukup mengesankan meski sikapnya masih seperti berandalan.


Walau demikian, dua pria yang kini bekerja sebagai satu tim, lebih banyak berdebat dari pada bekerja karena beda pemikiran.


"Kenapa harus mirip seperti Gobi jika kau bisa membuatnya lebih baik? Kenapa cacingmu harus berkepala dua? Kenapa tak membuat dua cacing saja? Satu cacing untuk menjaga Pipemo, satu cacing untuk mengawasi negara Bintang!" seru Vemo bertolak pinggang di hadapan Presidennya.


"Kau berani membentakku?!" pekik Matteo melotot karena merasa Vemo tak menaruh hormat padanya.


"Aku akan terus membentakmu karena kebodohanmu itu. Apanya yang jenius? Semua ciptaanmu mampu kuakali. HeliBot, WolfBot, bahkan robot level A kebangganmu itu!" jawab Vemo tak mau kalah seraya melotot tajam pada pria bermanik biru di hadapannya.


"Kenapa aku harus menempatkan orang gila sepertimu untuk menjadi timku?!" pekik Matteo kesal setengah mati.


"Itu karena kau sudah putus harapan. Jika bukan karena Sandra, aku juga tak sudi membantumu! Cepat realisasikan permintaanku agar aku bisa segera pulang dari tempat sempit ini!" pekik Vemo kesal seraya menendang sebuah kotak perkakas dekat kaki kanannya.


Xili, Imo dan tiga kawannya memilih diam menyaksikan dua pria yang berseteru mempertahankan pemikirannya.


Roman memilih tak terlibat dan terus memantau pergerakan cacing robot yang kini sedang mencoba bergerak di dalam tanah dari alat kendali dalam genggaman tangan.


"Matteo! Vemo! Cacing buatan kalian sudah bisa berbelok tanpa terkendala, tapi masih terlalu lambat. Sepertinya, jenis struktur tanah mempengaruhi pergerakan dan kecepatannya. Jika tanahnya basah dan liat, ia seperti terjebak dan sulit untuk bergerak. Berbeda jika tanah itu gembur atau dari pasir. Tanah yang masuk dalam penggilingan juga tak bisa dikeluarkan dan tersangkut dirongga pembuangan. Jika begini, robot kita benar-benar akan menjadi cacing karena terpendam dalam tanah," ucap Roman menganalisis dari pengamatannya.


"Hahaha! Kau akan terjebak dalam tanah selamanya, Matteo!" seru Vemo malah menganggap hal tersebut lucu.


Matteo menyipitkan mata terlihat kesal. Ia mendekati sang paman dan melihat hasil analisis Spectra yang berada dalam perut cacing tersebut.


"Kalau begitu, kita membutuhkan pemanas. Maksudku, ketika tanah basah itu menghambat pergerakan cacing kita karena elemennya tersangkut dalam rongga, kita harus memanaskan tanah yang masuk dalam penggiling agar menjadi padat dan gembur. Bagaimana?" tanya Matteo menoleh ke arah pria berwajah Asia di depannya.

__ADS_1


"Hem. Ide bagus. Segera siapkan design tambahannya lalu kita realisasikan. Sebentar lagi isterimu akan melahirkan, Matteo," ucap Roman mengingatkan dan Matteo mengangguk paham.


"Kau berjanji mengajaknya berwisata ke negara Bintang dan Pipemo, Presiden. Aku tahu dari Sandra yang mengatakannya padaku ketika ia memintaku membantumu," ucap Vemo seraya memakan jatah makan siang Matteo buatan Sandra untuknya.


"Hei! Tidak sopan, itu makananku! Letakkan dan muntahkan!" pekik Matteo langsung menunjuk rival terbesarnya.


Bagaimanapun, bagi Matteo, Vemo adalah pria yang pernah dekat dengan Sandra meski saat mereka masih kecil.


"Muntahkan? Kau sungguh menjijikkan. Tidak mau!" jawab Vemo yang langsung pergi membawa kotak makan itu.


Orang-orang yang melihat tingkah keduanya terkekeh geli. Siapa sangka, dari perbedaan pemikiran itu malah menghasilkan banyak ide jenius dalam pengembangan senjata.


Modifikasi pada HeliBot, WolfBot dan sistem asupan makanan kepada para User di simulator pun mengalami peningkatan atas saran dari Vemo.


Matteo merealisasikan ide yang awalnya dirasa gila tersebut. Namun, setelah diterapkan, perubahan itu membuat sistem persenjataan lebih efektif dan efisien.


Matteo dan Vemo menjadi kawan akrab. Ternyata, keduanya memiliki banyak persamaan tanpa mereka sadari. Vemo kini memanggil sang Presiden dengan panggilan akrab 'Teo', dan terlihat, Matteo Corza tak keberatan dengan hal itu.


Bulan ke sembilan.


"Hahaha! Ini lebih seru ketimbang cacing milik Gobi si tua itu. Cacingmu memiliki fasilitas modern, Teo!" ucap Vemo senang yang duduk bersama sang Presiden saat menguji coba cacing robot di luar Great Ruler.


"Tentu saja. Milik Gobi sudah kuno dan usang. Cacingku adalah kelas President Suite!" jawab Matteo bangga yang duduk di bangku kemudi berkesan mewah, bahkan memiliki pendingin dan pemanas ruangan menyesuaikan suhu ruangan.


Matteo menggerakkan kendali cacing robot buatannya dengan sensor sidik jari menggunakan papan layar sentuh di sisi kiri dan kanan samping ia duduk.


Vemo menaikkan kedua kaki seraya menikmati popcorn dalam wadah dekapannya ketika perjalanan di dalam tanah dari Great Ruler menuju ke Great Mazepita sebagai awal percobaan.


"Peringatan. Ada pengalang berupa batuan besar berukuran 10 meter dengan jarak 20 meter dari titik pergerakan robot cacing. Rubah haluan ke sisi Barat atau Timur sejauh 30 meter menghindari benturan," ucap sistem pendeteksi.


"Hem. Belum bisa menghancurkan batu ya? Sayang sekali," ucap Vemo seraya memegang sebuah popcorn dalam apitan jari telunjuk dan ibu jari seraya memonyongkan bibir mencari solusi yang belum terpecahkan.


"Jika itu batuan keras, akan sangat sulit. Berbeda jika batu itu dari elemen tanah atau pasir yang mengeras. Di bawah sini, banyak sekali batuan besar dan sulit untuk digiling. Itu akan merusak gigi besi," jawab Matteo yang memilih menghindar daripada robot cacingnya rusak.


"Kita tetap harus pikirkan cara menggiling batu itu, Teo. Kita harus membuat robot cacing super keren dan tak terkalahkan," ucap Vemo bangga dan Matteo mengangguk antusias terlihat satu pemikiran dengan kawan barunya.


Saat keduanya terlihat gembira, tiba-tiba robot cacing tersebut berhenti. Sedangkan, robot cacing tersebut masih berada di bawah tanah dengan jarak 1 kilometer untuk tiba di Great Mazepita.


"Oh! Apa yang terjadi? Kenapa berhenti?" tanya Matteo bingung karena papan pengendali masih aktif dan menyala.


Seketika, Matteo dan Vemo saling bertatapan seperti menyadari sesuatu.


"Kita belum memasang detektor daya baterai! Sial! Bagaimana sekarang? Kita 100 meter di bawah permukaan tanah! Kita akan terkubur hidup-hidup!" pekik Vemo histeris dan langsung melemparkan wadah popcorn-nya begitu saja hingga butir-butir makanan lezat itu berhamburan di lantai.


Matteo yang baru menyadari keteledorannya, segera beranjak dari kursi dan berlari menuju ke ruang mesin diikuti oleh Vemo.


Spectra yang diam-diam mengirimkan sinyal darurat ke Pusat Kendali di Great Ruler, memilih diam dan sibuk melihat dua pria di depannya yang sedang panik agar bisa keluar dari cacing robot buatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2